
Axel dan Lenny saat ini berada di dalam mobil. Tujuan keduanya adalah pulang ke rumah Lenny.
"Katanya kamu mau nungguin aku di lobi kampus. Kenapa justru mendatangiku ke perpustakaan?" tanya Lenny.
"Rencana awalnya iya. Tapi kamu lama banget nongolnya. Ya, udah! Aku berinisiatif mendatangi kamu langsung ke perpustakaan. Dan sampai disana aku malah menonton pertunjukan." Axel menjawab pertanyaan dari Lenny.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Axel bahwa dirinya memang sudah berada di lobi kampus. Axel menunggu Lenny selama 10 menit.
Namun lewat dari 10 menit. Bisa dibilang sudan masuk menit ke 20 Axel menunggu. Lenny tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dan pada akhirnya, Axel pun memutuskan mendatangi Lenny ke perpustakaan.
"Tapi aku bersyukur kamu mendatangi aku ke perpustakaan. Kamu lihat kan bagaimana terkejutnya Wanda dan teman-temannya saat kamu bilang bahwa kita sudah saling kenal ketika sama-sama sekolah dulu," ucap Lenny sembari membayangkan wajah terkejut Wanda dan teman-temannya.
Axel menghentikan mobilnya sejenak. Setelah mobilnya berhenti. Axel melirik kearah Lenny. Dan dapat dilihat olehnya, Lenny yang sedang tersenyum sembari tengah memikirkan sesuatu.
Dan detik kemudian...
Axel tiba-tiba mencium bibir Lenny dan sedikit **********. Lenny yang mendapatkan ciuman mendadak dari Axel sontak terkejut. Matanya membelalak sempurna.
Axel melepaskan ciumannya dan matanya menatap wajah cantik Lenny. Tangannya mengusap lembut pipi Lenny.
"Aku mencintaimu," ucap Axel.
"Aku juga mencintaimu," jawab Lenny.
Axel kembali mencium bibir Lenny. Axel menghisap bibir atas dan bibir bawah Lenny.
Lenny yang mendapatkan perlakuan lembut di bibirnya membalas setiap permainan dari Axel. Ciuman keduanya makin dalam.
"Mmpptthh."
Setelah beberapa detik mereka berciuman. Axel pun menyudahi kegiatannya.
Setelah ciumannya terlepas. Lenny meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara Axel tersenyum melihat Lenny yang berusaha untuk bernafas.
Axel kembali menghidupkan mobilnya dan kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Lenny pulang.
***
Darren berada di ruang tengah. Saat ini dirinya tengah membuat desain gambar untuk mobil barunya. Desain gambar yang dibuat oleh Darren adalah desain gambar permintaan dari tiga rekan kerja sama perusahaan Accenture.
Tiga rekan kerja perusahaan Accenture itu meminta kepada Darren untuk dibuat mobil baru yang keren.
Ketika ketiga rekan kerjanya itu meminta dibuatkan mobil baru yang keren. Darren langsung membocorkan mobil baru yang akan dibuatnya beberapa minggu lagi bersama dengan ketiga sahabatnya.
Mendengar nama merek mobil yang disebutkan oleh Darren. Ketiga rekan kerjanya itu langsung suka. Ketiga rekan kerjanya itu langsung memesan mobil tersebut masing-masing dua mobil dengan warna yang berbeda.
Darren akan membuatkan mobil untuk ketiga rekan kerjanya sekaligus untuk dijual di Showroom adalah Hyundai CRETA.
Mobil merek Hyundai CRETA ini memiliki SPOTLIGH IN MOTION yaitu desain yang terbaik dalam segala tantangan.
Dilengkapi dengan KONEKTIVITAS Hyundai Bluelink. Bluelink adalah sebuah platform yang memudahkan pengecekan informasi penting di dalam mobil. Terhubung dengan call center Hyundai dan BMWX 7x24 jam saat terjadi kondisi darurat. Nama dari Bluelink adalah Build My Own CRETA.
Memiliki fasilitas OWNER ASSURANCE PROGRAM yaitu memberikan ketenangan bagi si pemilik mobil Hyundai melalui program purna jual.
Darren membuat sekitar 10 desain mobil Hyundai CRETA dengan 10 warna yang menarik.
Untuk Eterior, Darren menggunakan Parametric Jewel Pattern Grille dan Hidden-type LED DRL. Serta 17-inch Diamond Cut Alloy Wheel. Untuk Interior, Darren menggunakan The Ultimate Flexibility dan Comfort.
Mobil Hyundai CRETA berbekal mesin Smartstream 1.5L dengan sistem Intelligent Variable Transmission. Dan juga dilengkapi fitur Drive Mode.
Mobil Hyundai CRETA juga dilengkapi SAFETY seperti Forward Collision-avoidance Assist yaitu sistem yang mendeteksi adanya resiko benturan dari depan.
Ketika Darren tengah sibuk dengan desain-desain mobil terbarunya. Kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya dan kelima adik laki-lakinya datang menghampirinya.
Sementara Evan, Carissa dan ketiga putranya sedang berada di luar. Mereka menghadiri acara ulang tahun rekan kerja dari Evan.
"Lagi sibuk nih!" seru Erland.
Erland langsung menduduki pantatnya di sofa. Begitu juga dengan Agneta, keenam kakaknya dan kelima adiknya.
__ADS_1
Darren langsung melihat kearah ayahnya, ibunya, keenam kakaknya dan kelima adiknya yang kini telah duduk di sofa.
"Nggak kok, Papa! Ini aku lagi buat desain untuk mobil terbaru aku," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua menatap dengan senyuman kearah Darren.
Darka yang memang duduk di samping Darren langsung melihat kearah dimana kertas-kertas yang ada di atas meja.
Darka mengambil kertas-kertas itu. Dan seketika Darka tersenyum dengan bangganya ketika menatap satu persatu kertas-kertas yang ada di tangannya.
"Ren, ini gambar kamu bagus-bagus semua! Kakak bangga sama kamu!" seru Darka.
Mendengar seruan dari Darka membuat Erland, Agneta dan yang lainnya juga ingin melihat kertas-kertas itu.
"Darka, berikan kepada kakak. Kakak juga ingin melihatnya," sahut Davin.
Mendengar ucapan dari kakaknya itu, Darka langsung memberikan kertas-kertas itu.
Davin menerima kertas-kertas itu dan langsung melihatnya. Sama halnya seperti Darka. Davin juga menatap dengan penuh bangga dan kagum gambar-gambar itu.
"Kakak Davin, berikan padamu!" seru Andra.
Davin pun memberikannya kepada Andra. Dzaky, Adnan, Gilang dan kelima adiknya langsung mengerubungi Andra. Mereka juga ingin melihatnya gambar-gambar itu.
Tak jauh beda dengan Darka dan Davin. Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan kelima adiknya juga tersenyum penuh kebahagiaan, bangga dan kagum akan kepintaran dan kejeniusan adiknya/kakaknya itu.
"Darren, ini gambar mobilnya bagus-bagus semua!" seru Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang bersamaan.
"Iya, kakak Darren. Kakak Darren benar-benar hebat!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Kita bangga sama kamu, Ren!" seru mereka dengan kompak.
Sementara Darren hanya tersenyum melihat wajah bahagia dan mendengar pujian dari keenam kakaknya dan kelima adik laki-lakinya.
"Andra, berikan pada Papa. Papa dan Mama kalian juga ingin melihatnya," ucap Erland.
Ketika Erland melihat gambar-gambar mobil yang dibuat oleh putranya itu. Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Erland menangis karena Tuhan telah memberikan putra yang pintar dan juga berbakat seperti Darren. Erland juga mengucap banyak rasa syukur kepada Tuhan akan hadiah terindah yang diberikan kepadanya. Hadiah terindah itu adalah putranya Darren.
Erland kembali teringat kejadian dimana dirinya pernah melakukan kesalahan terhadap putranya itu. Saat itu dirinya tidak pernah ada untuk putranya. Bahkan dirinya tidak mengetahui apapun yang dilakukan oleh putranya di belakangnya.
Melihat ayahnya yang tiba-tiba menangis membuat Davin, Andra, Adnan, Gilang, Darka, Darren, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menjadi khawatir. Terutama Darren.
Darren tahu apa yang menyebabkan ayahnya itu menangis. Darren berpikir bahwa ayahnya itu kembali teringat akan kejadian itu.
Darren berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping ayahnya itu.
Setelah Darren duduk di samping ayahnya itu. Darren langsung memeluk erat tubuh ayahnya. Bahkan Darren membenamkan wajahnya di ceruk leher ayahnya.
Erland yang mendapatkan pelukan dari putranya merasakan kehangatan di hatinya. Erland pun membalas pelukan dari putranya itu.
"Aku menyayangi, Papa! Selamanya!"
Erland tersenyum mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Papa juga menyayangimu, Nak! Sehat terus, oke! Jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu lelah dalam bekerja," Erland lalu memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya.
"Baik, Papa! Papa juga jangan terlalu lelah bekerja. Papa juga jangan sampai jatuh sakit. Papa harus sehat-sehat terus." Darren berbicara sambil mengeratkan pelukannya.
"Pasti, sayang. Papa akan mengikuti semua keinginan kamu," jawab Erland.
Darren tersenyum mendengar perkataan dari ayahnya.
Ketika Darren tengah memeluk ayahnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Mendengar ponselnya berbunyi, Darren langsung melepaskan pelukannya.
Darren mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan melihat nama 'Axel' di layar ponselnya.
__ADS_1
Tanpa membuang-buang waktu. Darren pun menjawab panggilan dari Axel.
"Hallo, Xel!"
"Kamu dimana, Ren?"
"Di rumah. Kenapa?"
"Ach, gini! Aku dan Lenny saat ini berada di luar. Ketika di dalam perjalanan, aku nggak sengaja melihat gadis yang saat itu nemuin kamu di kampus nanya kakak Gilang. Kamu ingatkan?"
"Iya. Aku ingat. Kenapa dengan dia?"
"Aku lihat dia sama seorang laki-laki. Bahkan keduanya terlihat mesra. Awalnya aku nggak peduli. Tapi ketika dengar mereka menyebut nama kakak Gilang. Aku dan Lenny pun memutuskan menguping apa yang sedang mereka bicarakan."
"Mereka bicara apa?"
"Kurang jelas sih. Tapi aku sempat dengar perkataan terakhir mereka."
"Apa?"
"Mereka ingin menjebak kakak Gilang dengan cara membuat kakak Gilang tidur dengan gadis itu. Hanya itu saja yang aku dengar."
"Tidak apa-apa, Xel! Informasi ini saja aku sudah senang mendengarnya."
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."
"Eh, tunggu dulu."
"Ada apa, Ren?"
"Kamu ngapain sama Lenny di luar? Bukannya kamu bilang kemarin nggak akan pergi kemana-mana. Kamu juga bilang kalau kamu mau istirahat seharian di rumah?"
Mendengar pertanyaan dari Darren. Seketika Axel menelan ludahnya kasar. Dirinya bingung harus menjawab apa.
"Yonantan Axel Immanuel!"
"Ya, aku masih disini Darrendra Smith!
"Katakan padaku. Ngapain kamu diluar bersama Lenny? Apa kamu dan Lenny sedang kencan, hah?!"
"Hehehehe. Sorry, bos! Memang awalnya aku di rumah. Pas Lenny bilang dia ke kampus untuk meminjam buku bahasa mandarin di perpustakaan. Aku pun memutuskan untuk keluar menjemput dia. Sekalian kencan gitu."
"Kencan dadakan ceritanya."
"Begitulah. Kapan lagi jalan berduaan. Beberapa hari ini kita sibuk dengan pekerjaan kita. Ditambah lagi beberapa masalah yang harus kita selesaikan sehingga kita nggak punya waktu untuk kekasih-kekasih kita."
"Kamu benar, Xel! Beberapa hari ini kita jarang ada waktu untuk cewek-cewek kita."
"Maka dari itulah kenapa aku memutuskan untuk menjemput Lenny di kampus."
"Ya, udah. Sana pulang."
"Yey. Siapa lu?"
"Gue nyuruh lo pulang agar lo dan Lenny nggak lama-lama diuar."
"Emangnya kenapa?"
"Biar lo nggak ngapain-ngapain anak gadis orang."
"Sialan lu, Ren!"
"Hahahaha."
"Ya, udah. Aku tutup teleponnya."
"Oke."
Setelah mengatakan itu, baik Axel maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.
__ADS_1