KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
21. Menceritakan


__ADS_3

[DARREN GALERY OF ART]


Rehan dan Darel berada di Galeri Lukisan milik Darren. Sama seperti Willy, Qenan, Dylan, Axel dan Jerry. Darel dan Rehan membantu Darren untuk mengelola Galeri Lukisan tersebut.


Awalnya Darren tidak memiliki semua usaha itu. Lebih tepatnya, Darren tidak ingin bersusah payah untuk memiliki semua itu. Karena saat itu yang ada dipikiran Darren adalah kuliah dan keluarga. Secara dirinya juga berasal keluarga yang mampu dan kaya. Serta keluarga yang terhormat. Kalau Darren butuh uang, dirinya bisa minta pada kedua orang tuanya atau keenam kakak-kakaknya.


Darren seorang pemuda yang tampan. Walau Darren itu seorang laki-laki, tapi wajahnya juga cantik seperti perempuan. Jika dilihat wajahnya itu sangat imut dan menggemaskan.


Darren juga seorang yang jenius. Pintar dalam segala hal. Darren memiliki beberapa bakat yang tidak pernah diperlihatkan pada orang lain. Bakat-bakat tersebut adalah melukis, hacker, bisnis, merakit mobil, membuat rancangan mobil mewah.


Para sahabatnya mengetahui semua itu. Dengan bujukan, rayuan serta kata-kata manis dari para sahabatnya itu, akhirnya Darren pun menurut. Menurut dan dengan satu persyaratan yang diberikan oleh Darren untuk para sahabat-sahabatnya. Dan dengan senang hati dan serta tulus, para sahabatnya menerima syarat tersebut.


Setelah melakukan perdebatan dan adu mulut antar mereka, Darren pun mulai membuka satu persatu usaha-usaha itu dengan bantuan para sahabatnya.


Di mulai dari pembukaan Perusahaan Accenture. Darren meminta Willy dan Qenan yang bertanggung jawab disana. Kedua pembukaan Shoowroom BMW. Darren meminta Jerry, Axel dan Dylan yang bertanggung jawab disana. Dan yang ketiga Galeri Lukisan. Darren meminta Rehan dan Darel yang mengelolanya.


Ketiga usaha-usaha itu dibangun oleh Darren bersama sahabat-sahabatnya setelah lulus dari SMP. Mereka mempergunakan waktu libur tersebut sebelum pendaftaran masuk SMA dibuka. Saat mendirikan tiga usaha tersebut. Anggota keluarganya tidak mengetahuinya. Darren sengaja merahasiakannya dan tidak ada niat untuk memberitahukan kepada anggota keluarganya.


"Han," panggil Darel


"Hm." Rehan hanya berdehem.


"Apa kau sudah menerima pesan dari Qenan dan Willy?"


"Sudah," jawab Rehan.


"Ya, sudah. Kalau begitu kita cek satu persatu semua lukisan-lukisannya. Setelah itu baru kita bawa ke Aula depan untuk dipajang. Kau perintahkan lima belas orang-orangmu untuk membawa lukisan-lukisan tersebut ke Aula depan," ujar Darel.


"Baiklah," jawab Rehan.


"Waktu kita sampai pukul 11 siang. Paling lambat pukul 1 siang, kita sudah berada di Kampus," ujar Darel lagi.


"Iya, ya bawel." Rehan menjawab dengan nada kesal. Sedangkan Darel hanya tersenyum mendengar jawaban Rehan.


"Oh iya, Han. Aku baru ingat. Dua hari lagi akan ada pameran lelang lukisan. Apa kau sudah memilih empat lukisan yang paling bagus untuk dibawa ke Pameran itu?"


"Astaga, Rel. Aku lupa," jawab Rehan sembari nepuk jidat.


"Yah, kau bagaimana sih. Bukannya ini sudah tugasmu," kesal Darel.

__ADS_1


"Heeii. Kenapa marahnya padaku?" Rehan menatap horor Darel. Begitu juga Darel. Dan terjadilah perang tatapan diantara keduanya.


Setelah lima menit memberikan tatapan horor masing-masing. Akhirnya, Rehan menyerah.


"Hah! Aku akan menghubungi siluman kelinci itu. Semoga saja sikelinci itu ingat dan sudah menyiapkan dua lukisan itu."


"Ya, sudah. Hubungi siluman kelinci itu sekarang," titah Rehan.


"Yak! Kenapa hari ini kau menjadi menyebalkan sekali, Rel!" Rehan berucap kesal, tapi tetap menuruti perkataan Darel.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Gilang, Darka dan anggota keluarga lainnya sudah berada di ruang tengah, kecuali Darren.


"Gilang, Darka. Kalau Mama boleh tahu. Apa yang akan dibicarakan oleh Darren pada kalian sayang?"


"Masalah kegiatan amal Kampus kita, Ma! Bakti Sosial! Dalam empat bulan sekali Kampus kita selalu mengadakan kegiatan Bakti Sosial. Kadang-kadang kegiatan itu dilakukan di halaman Kampus dan kadang-kadang juga diadakan diluar kota," jawab Gilang.


Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Jimin. Sedangkan Darka hanya diam mendengar penjelasan Gilang mengenai kegiatan Kampusnya.


Lagi-lagi mereka tersenyum bahagia mendengar. Bahkan senyuman mereka kali ini adalah senyuman kebanggaan untuk Darren. Terutama Erland. Selama ini dirinya tidak mengetahui apapun tentang putra bungsunya dari istri pertamanya Belva. Dirinya terlalu sibuk memikirkan masalah pekerjaannya sehingga melupakan putranya itu. Selama ini dirinya tidak mengetahui apa saja yang sudah dilalui oleh putra bungsunya. Kalau bukan adik iparnya Evan yang memberitahu semuanya. Dirinya benar-benar berdosa dan merasakan penyesalan dalam dirinya akan sikapnya selama ini sehingga membuat putranya itu salah paham dan berujung kebencian.


Saat mereka semua sedang memikirkan Darren. Mereka dikejutkan dengan suara langkah kaki menuruni anak tangga.


TAP!!


TAP!!


TAP!!


Mereka semua melihat kearah Darren. Semuanya tersenyum melihat wajah tampannya dan juga pakaian yang rapi membalut tubuh ramping dan kekarnya.


Darren melangkah menuju ruang tengah. Setelah berada disana, Darren langsung menduduki pantatnya di sofa. Dapat dilihat olehnya, Darka dan Gilang sudah mempersiapkan semua bahan di atas meja.


"Ren," panggil Carissa.


Darreb melihat kearah Bibinya itu. "Iya. Ada apa?" jawab Darren yang masih kesal akan sang Bibi.

__ADS_1


"Maafkan Bibi, ya sayang. Bibi tidak sengaja tadi."


"Iya. Lagian aku tidak benaran marah kok sama Bibi. Aku hanya kesal saja."


"Terima kasih ya, sayang."


"Hm."


"Ya, sudah. Aku langsung saja. Untuk keberangkatan kita keluar kota empat hari lagi dibatalkan!" seru Darren.


Gilang dan Darka yang mendengar ucapan dari Darren terkejut. Mereka berdua saling lirik, lalu kembali menatap Darren untuk meminta penjelasan.


"Kenapa, Ren?" tanya Gilang.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Darka.


"Ya," jawab Darren singkat.


"Ceritakan pada kami, Ren Apa yang terjadi? Jangan merahasiakan apapun dari kami," mohon Darka.


"Aku belum tahu pasti. Ini benar atau hanya dugaanku saja," kata Darren.


"Apa itu Ren?" tanya Gilang.


"Kejadian saat Adrian dan Mathew di fitnah atas tuduhan pencurian uang. Kejadian penusukan kak Darka dan Melvin. Dan kejadian penyerangan di rumah Axel. Pelakunya orang yang sama. Dan orang itu akan melakukannya lagi," jawab Darren.


Mereka yang mendengar penuturan dari Darren benar-benar terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa orang itu tega melakukan hal itu. Mereka semua berpikir, apa alasan orang itu melakukan semua itu.


"Darren, sayang." Erland memanggil putranya dengan lembut.


Darren dengan malasnya melihat ke arah sang Ayah. "Ada apa?" tanya Darren ketus.


"Papa ingin memberitahu sesuatu hal padamu, Nak?"


"Apa itu?" tanya Darren.


"Begini sayang. Dulu waktu Darren masih sekolah, Papa kan jarang ada di rumah. Bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Kalau pun Papa pulang. Itu pun Papa hanya mengambil pakaian-pakaian bersih. Setelah itu Papa pergi lagi."


Darren tiba-tiba teringat atas sikap Ayahnya selama ini. Ayahnya yang jarang di rumah. Ayahnya yang hanya sibuk dengan pekerjaannya saja. Bahkan Ayahnya selalu menghabiskan waktu antara pekerjaan dan kelima adik-adiknya. Yaahh! Itulah yang diingat olehnya.

__ADS_1


Seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih. Terlihat kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Anggota keluarga yang melihat hal itu pun merasakan sakit di hati mereka masing-masing. Mereka kembali teringat akan kejadian enam bulan yang lalu dimana mereka memberikan luka di hati Darren.


__ADS_2