
Samuel saat ini berada di rumah pamannya yaitu Gustavo Frederick. Keduanya saat ini berada di ruang kerja Gustavo.
Beberapa menit yang lalu, Samuel dan Gustavo mendapatkan sekitar 60 email. Isi email tersebut semuanya sama yaitu pemutusan kerja sama. Baik Perusahaan milik Samuel maupun Perusahaan milik Gustavo.
Ke 60 email itu tak lain adalah email milik 60 Perusahaan yang bekerja sama dengan Perusahaan Samuel dan perusahaan Gustavo.
Bukan itu saja, mereka juga mendapatkan email yang berisi bahwa 30 Perusahaan dari 60 Perusahaan telah memegang bukti kejahatan dan kecurangan mereka selama ini. Bukti-bukti itu sudah tersebar luas ke media dan luar negeri. Baik Perusahaan milik Samuel maupun Perusahaan milik Gustavo sudah masuk ke dalam daftar hitam di dunia bisnis.
Mendapatkan berita seperti itu membuat Samuel dan Gustavo murka. Mereka berdua tidak menyangka jika Perusahaan milik mereka akan hancur dengan cara seperti ini.
"Aarrgghh!" teriak Samuel. "Aku sangat yakin ini pasti ulah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka yang telah menyebarkan semua kecurangan kita kepada para pemegang saham dan juga kepada para pengusaha-pengusaha di luar sana." Samuel benar-benar marah.
"Tenanglah, Samuel! Kau tidak perlu khawatir. Kita belum kalah telak. Perusahaan kita masih berdiri dan belum benar-benar hancur. Kita hanya butuh perubahan."
Mendengar perkataan Pamannya. Samuel menatap wajah pamannya. Dirinya benar-benar tidak mengerti maksud perkataan dari pamannya itu.
"Apa maksud Paman?"
"Kita akan gunakan Perusahaan utama milik keluarga kita yang selama ini tidak diketahui oleh orang-orang diluar sana. Dengan perusahaan itu kita bisa membalaskan rasa sakit kita kepada mereka semua. Orang-orang diluar sana tidak tahu jika Perusahaan itu milik keluarga Frederick. Dan orang-orang diluar sana juga tidak tahu jika kita pemiliknya. Selama ini Dorris, orang kepercayaan kita yang memimpin Perusahaan itu. Sementara kita bekerja di balik layar."
Gustavo berbicara sembari dengan menatap wajah keponakannya itu. Dan jangan lupa senyuman iblisnya.
Mendengar perkataan dari pamannya. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya Samuel. Samuel membenarkan perkataan dari pamannya itu.
"Paman benar. Dengan kita menggunakan Perusahaan utama. Perusahaan yang dibangun oleh Papa. Orang-orang diluar sana tidak akan tahu jika Perusahaan itu milik kita."
***
Darren duduk termenung di ruang tengah. Pikiran masih tertuju saat kejadian tadi malam.
TES!
Setetes air mata jatuh membasahi wajahnya ketika mengingat kejadian itu. Darren saat ini benar-benar hancur. Showroom yang dibangun sejak dirinya duduk di kelas 1 SMP. Delapan tahun sudah Showroom itu berdiri dan sukses. Dan kini Showroom itu telah hangus terbakar. Terbakarnya Showroom, Darren mengalami kerugian yang begitu besar. Salah satunya adalah tiga puluh mobil mewah yang telah selesai dibuat dengan ketiga sahabatnya itu adalah pesanan dari dua puluh Perusahaan besar.
Dengan kejadian itu. Mau tidak mau Darren menarik semua uang pribadinya untuk mengembalikan uang yang sudah dibayarkan oleh dua puluh Perusahaan itu kepada Darren.
"Kau memang brengsek Samuel. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang ini," ucap Darren.
Erland, Agneta dan yang lainnya kini tengah berdiri tak jauh dari ruang tengah. Mereka menangis ketika melihat kondisi Darren dan juga mendengar ucapan dari Darren.
Agneta memberanikan diri untuk mendekati putranya. Dirinya sudah tidak tahan memendam kerinduannya terhadap putra sekaligus keponakannya itu. Agneta akui jika dirinya yang sudah membuat putranya itu kian menjauh dan makin sulit diraih.
Kini Agneta sudah bertekad jika dirinya akan meraih putranya kembali dan membawanya ke pelukannya.
Melihat Agneta melangkahkan kakinya menghampiri Darren. Semuanya pun mengikuti Agneta.
GREP!
Agneta langsung memeluk tubuh putranya dari belakang. Dan tak lupa memberikan ciuman di kepala putranya itu. Sementara Erland dan yang lainnya sudah duduk di sofa.
Darren yang merasakan pelukan dan mendengar isakan dari seseorang membuat hatinya nyaman sekaligus sesak. Nyaman merasakan pelukan orang yang begitu dirindukan dan sesak ketika mendengar isakan orang tersebut.
Ya! Agneta menangis terisak ketika memeluk putranya. Keinginannya untuk memeluk putranya terwujud.
"Mama merindukanmu sayang. Mama benar-benar merindukanmu. Jangan benci Mama terlalu lama. Mama sudah tidak sanggup. Kembalilah... Kembalilah pada Mama." Agneta berucap dengan berlinang air mata.
"Kakak Darren," ucap Melvin sembari terisak.
Agneta melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju sofa. Setelah itu, Agneta duduk di samping putranya.
Agneta mengelus lembut wajah tampan putranya. Dan detik kemudian, Agneta mencium pipi putranya itu sayang.
"Kembalilah sama Mama. Jangan terlalu lama menghukum Mama. Mama tahu kalau kamu tidak benar-benar benci Mama. Kamu hanya memberikan hukuman untuk Mama," ucap Agneta yang sudah menangis terisak.
Setetes air mata Darren jatuh membasahi wajahnya. Sejujurnya, Darren sangat merindukan ibunya. Merindukan pelukan ibunya. Darren merindukan semua dari Agneta.
__ADS_1
"Ma-mama," ucap Darren disela isakannya.
Agneta menangis ketika mendengar putranya memanggilnya dengan sebutan Mama lagi.
"Mama... Mama...," isak Darren.
GREP!
Agneta kembali memeluk tubuh putranya. Dan terdengar isakan keduanya. Ya! Agneta dan Darren sama-sama terisak.
"Mama, aku merindukan Mama."
"Mama juga merindukanmu sayang. Maafkan Mama yang telah bersikap buruk padamu. Kita mulai dari awal lagi ya? Kamu mau kan?"
"Baiklah. Tapi Mama harus janji tidak akan melakukan hal itu lagi padaku. Ini kesempatan kedua dan juga terakhir untuk Mama."
"Baik sayang. Mama janji. Mama sudah banyak belajar dari kesalahan Mama setahun ini."
Erland, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, Davian, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tersenyum bahagia melihat perdamaian antara Darren dan Agneta.
Melihat ibunya yang memeluk kakak laki-lakinya dan keduanya sudah berdamai. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung berdiri dan mendekati ibu dan kakak laki-lakinya itu.
"Kakak Darren," lirih Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Agneta langsung melepaskan pelukan dari putranya ketika mendengar nada lirih dari kelima putranya yang lain.
GREP!
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung menghambur ke dalam pelukan Darren. Dan detik kemudian, terdengar isakan dari kelimanya.
"Kakak Darren. Kembalilah pada kami," ucap Melvin terisak.
"Jangan lama-lama marahnya," isak Ivan.
"Kakak Darren, maafkan kami," isak Nathan dan Mathew bersamaan.
"Lepaskan," sahut Darren.
"Kakak Darren, jangan marah lagi." Melvin berucap lirih.
"Lepaskan," sahut Darren lagi.
"Kakak Darren!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin disela isakannya.
"Jika kalian tidak melepaskan pelukan kalian. Maka aku tidak akan memaafkan kalian seumur hidupku," sahut Darren.
Mendengar ucapan dan ancaman dari Darren. Seketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung melepaskan pelukan mereka dari Darren. Dapat mereka lihat wajah basah kelima. Bahkan mata dan hidungnya memerah.
Sementara Darren berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena merasa sesak dan sulit bernafas ketika mendapatkan pelukan dari kelima adiknya. Kelima adiknya begitu kencang memeluk tubuhnya.
"Apa kalian berencana ingin membunuhku, hah?!" tanya Darren dengan menatap horor kelima adiknya.
"Tidak," jawab Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sembari menggelengkan kepala.
"Kalian itu kekencangan memelukku. Sesak tahu. Gak niat banget minta maaf," ucap Darren dengan memanyunkan bibirnya.
"Niat kok kakak Darren," sahut Mathew dan diangguki oleh Adrian, Nathan, Ivan dan Melvin.
Mereka tersenyum geli ketika melihat wajah memelas dan wajah bersalah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Jangan percaya Darren. Palingan mereka hanya pura-pura minta maaf sama kamu," sahut Carissa yang sengaja menjahili kelima keponakannya itu.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menatap horor sang Bibi.
"Jangan suka jadi koruptor, bibi Carissa!" Adrian berucap kesal.
__ADS_1
Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menatap horor Adrian. Detik kemudian, Mathew melayangkan satu jitakan tepat di kening Adrian.
TAK!
"Yak! Kenapa kau menjitakku Mathew sialan?" Adrian menatap dengan mulut yang mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Aku menjitakmu karena kau itu terlalu bodoh. Barusan kau mengatakan koruptor. Seharusnya provokator," jawab Mathew.
Mendengar perkataan dari Mathew. Adrian hanya terkekeh. "Salah ya?"
Melihat perdebatan antara Mathew dan Adrian. Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kembali menatap Darren. Mereka berharap Darren mau memaafkan mereka.
"Kakak Darren," ucap Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Darren menatap kelima adiknya itu. Dapat Darren lihat ada ketulusan dari tatapan mata kelima adik-adiknya itu.
"Mau dimaafkan?" tanya Darren.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung menganggukkan kepalanya.
"Kalau mau aku maafkan. Lakukan sesuatu untukku," ucap Darren.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung duduk berjongkok di bawah tepat di hadapan Darren dengan lutut sebagai tumpuannya.
Melihat kelakuan Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka semua tersenyum geli. Begitu juga dengan Darren. Darren tersenyum melihat tingkah kelima adik laki-lakinya.
"Apa kakak Darren?" tanya Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Aku lapar. Tapi aku mau makan dari hasil masakan kalian. Bagaimana?"
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin saling lirik. Setelah itu, mereka kembali menatap Darren.
"Baiklah," jawab Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Setelah itu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju dapur. Setiba di dapur, mereka pun siap bertempur untuk memasak makanan special untuk kakak kesayangan mereka.
Melihat semangat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membuat mereka semua tersenyum.
Tanpa Darren sadari. Kelima adik laki-lakinya itu sudah banyak belajar memasak dari ibu mereka. Tujuan mereka belajar masak demi dirinya.
"Darren," panggil Davin dan Andra.
Darren melihat kearah kedua kakak laki-lakinya itu. Darren melihat ada kesedihan, penyesalan dan kerinduan di manik kedua kakaknya itu.
"Jika kalian ingin memelukku. Peluklah aku sekarang. Jika tidak kalian lakukan. Maka tidak akan ada kesempatan lagi untuk kalian berempat," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky dan Adnan terkejut. Mereka saling memberikan tatapan dan memberikan kode apakah telinga mereka tidak salah dengar.
Melihat tingkah keempat kakak laki-lakinya membuat Darren merengut kesal. Bagaimana bisa dirinya memiliki kakak aneh, gila dan bodoh seperti keempat Kakak laki-lakinya itu.
"Yak! Davin Aldan Smith, Diandra Smith, Dzaky Radhitya Smith, Lutfi Adnan Smith. Apa kalian tidak ingin memelukku, hah?!" teriak Darren melengking.
Mendengar teriakan dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky dan Adnan langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Darren.
Seketika tangis mereka semua pecah, termasuk Darren. Mereka melepaskan rasa rindu mereka selama ini.
"Darren," isak tangis Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.
"Kakak." Darren tak kalah terisak kalah mendapatkan pelukan hangat dari keempat kakak laki-lakinya.
Erland, Agneta, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, Davian, Gilang dan Darka tersenyum bahagia. Mereka ikut menangis ketika melihat Darren yang sudah memberikan maaf untuk keempat Kakak laki-lakinya.
Masalah interent mereka dengan Darren akhirnya selesai. Darren sudah memberikan maaf untuk ibunya, keempat kakak laki-lakinya dan kelima adik laki-lakinya. Masalah keluarga selesai. Kini tinggal masalah dari pihak luar.
__ADS_1