
Erland seketika menangis ketika mendengar ucapan dari Axel. Dirinya benar-benar bahagia dan juga bersyukur putranya dikelilingi tujuh sahabat yang benar-benar peduli dan sayang pada putranya.
"Ketiga gedung itu beda-beda fungsinya. Jika Showroom milik Darren yang dulu menjadi satu dengan bengkel, peralatan dan perlengkapan untuk membuat mobil dan motor sport baru. Justru sekarang dibagi menjadi tiga bagian," ujar Dylan.
"Nanti ketika Showroom utama telah berdiri kembali. Showroom itu dikhususkan hanya untuk mobil mewah merek BMW saja. Tidak ada dicampur dengan mobil mereka lain," pungkas Jerry.
"Berarti dengan kata lain akan ada dua Showroom. Begitu?" ucap dan tanya Gilang.
Dylan, Axel dan Jerry menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Untuk rancangan dan gambarnya. Darren sudah menyelesaikan semuanya. Hanya tinggal dibuatkan dalam bentuk mobilnya," ucap Dylan.
Para orang tua dan para kakak-kakaknya semuanya menatap bangga dan kagum akan Darren, Jerry, Axel dan Dylan. Begitu juga dengan Willy, Qenan, Rehan dan Darel.
Mereka semua tersenyum bangga dan bahagia akan kecerdasan yang dimiliki oleh Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Kami bangga kepada kalian semua," ucap Aldez dengan menatap wajah putra bungsunya, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan, Darel dan terakhir menatap kearah Darren yang masih setia menutup matanya di tempat tidur.
"Kalian sudah berjuang dan bekerja keras selama 8 tahun bersama-sama," ucap Dellano yang mengingat bagaimana perjuangan putranya bersama ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Perjuangan dan kerja keras kalian membuahkan hasil," sahut Dario ayahnya Axel.
"Diusia kalian yang terbilang masih muda. Kalian sudah berhasil menjadi pengusaha-pengusaha hebat. Kami para orang tua salut dan bangga akan kegigihan dan kerja keras kalian selama 8 tahun ini," tutur Valeo dengan menatap wajah putra bungsunya dan ketujuh sahabatnya.
Mendengar pujian dan sanjungan yang diberikan oleh ayah-ayah mereka membuat Willy, Qenan, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry tersenyum.
Mereka kemudian menatap wajah Darren. Dan seketika air mata mereka jatuh membasahi wajah tampannya.
"Ini semua berawal dari Darren," sahut Axel dengan suara lirihnya.
"Awalnya Darren hanya iseng melukis dan juga menggambar. Ketika aku dan Darel memeriksa hasil dari lukisan dan gambar milik Darren. Aku dan Darel langsung berdecak kagum melihat hasilnya," ucap Rehan.
"Bahkan aku dan Rehan diam-diam mencuri semua hasil lukisan dan hasil gambar Darren. Kami menjual semuanya. Setelah semuanya terjual. Uangnya kami gunakan untuk membeli sebuah gedung. Dan gedung itulah yang sekarang menjadi pusat galeri lukisan Darren. Nama galeri lukisan Darren adalah Darren Galeri Of Art!" Darel berbicara sembari menatap wajah Darren.
"Sisa uangnya kami berikan kepada Darren. Awalnya Darren berpikir uang itu adalah uang milik kami, makanya Darren tidak mau menerimanya. Ketika Darel bilang jika uang itu adalah uang dari hasil penjualan semua lukisan dan juga gambarnya. Darren seketika terkejut." Rehan tersenyum kala mengingat bagaimana kesalnya Darren terhadap dirinya dan Darel.
"Apa yang terjadi ketika Darren tahu bahwa kalian diam-diam menjual semua lukisan dan gambar-gambarnya?" tanya Andra penasaran akan reaksi adik laki-lakinya.
"Tidak perlu dijelaskan secara detail. Yang jelas kami berdua habis menjadi bulanan-bulanan anak kelinci ini. Selama satu minggu aku dan Rehan menjadi kacungnya selama di sekolah," jawab Darel.
FLASHBACK ON
"Yak! Rehan, Darel! Sialan kalian berdua. Tanganku masih pegal melukis dan juga menggambar semua itu. Bahkan rasa pegalnya masih terasa sampai sekarang. Dan kalian dengan tanduk merah yang ada di kepala kalian itu menjual semua lukisanku dan gambar-gambarku!" teriak Darren melengking di dalam kelas. Dan jangan lupa tatapan horornya menatap Rehan dan Darel.
Mendengar teriakan dari Darren membuat semua penghuni kelas menutup telinganya. Termasuk ketujuh sahabatnya.
Melihat teman-teman sekelasnya dan juga sahabat-sahabatnya, termasuk dua sahabat laknatnya menutup telinga membuat Darren mendengus kesal.
"Kenapa kalian menutup mulut kalian?!" teriak Darren lagi.
Mendengar teriakan Darren yang kedua kalinya dan juga mendengar perkataan Darren membuat ketujuh sahabatnya dan juga penghuni kelas menatap bingung Darren.
__ADS_1
TAK!
Willy langsung memberikan jitakkan gratis di kening Darren sehingga membuat Darren meringis.
"Yak! Tiang listrik kampret! Kenapa kau menjitak kepalaku?!" Darren menatap horor Willy
"Sejak kapan ketika mendengar orang berteriak yang ditutup itu mulutnya bukan telinganya?"
"Dan sejak kapan seorang Darrendra Smith berubah menjadi pemuda bodoh?"
Willy bertanya kepada Darren dengan menatap tak kalah tajam kearah Darren.
"Jadi kau menyebutku bodoh?"tanya Darren.
"Tidak," jawab Willy.
Melihat Darren yang tengah beradu mulut dengan Willy. Rehan dan Darel saling melirik.
Setelah itu, keduanya pun mengendap-ngendap keluar berniat untuk meninggalkan kelas. Teman-teman sekelasnya yang melihatnya tersenyum gemas.
Namun baru beberapa langkah, keduanya pun ketahuan oleh Darren. Dan Darren pun langsung menarik kerah belakang Rehan dan Darel seperti menarik anak kucing.
"Mau kabur ya," ucap Darren.
"Hehehehe." Rehan dan Darel hanya memperlihatkan cengiran khasnya.
Sementara teman-teman sekelasnya tertawa.
"Tidak menerima penolakan," ucap Darren lagi ketika dirinya melihat Darel dan Rehan ingin mengajukan protes.
"Hah!" keduanya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Baiklah."
FLASHBACK OFF
Rehan dan Darel tersenyum ketika mengingat momen dimana dirinya diamuk habis-habisan oleh sahabat kelincinya.
"Ren," lirih Rehan dan Darel.
***
Samuel saat ini berada di rumah sakit menemani ibunya. Saat ini ibunya masih di rawat rumah sakit. Sama seperti Darren. Ibunya Samuel juga dinyatakan koma.
Sedangkan untuk kedua adik perempuannya berada di rumah. Adik perempuannya akan diizinkan ke rumah sakit setelah selesai dengan tugas-tugas sekolah mereka. Waktu yang diberikan oleh Samuel untuk kedua adik perempuannya hanya 2 jam di rumah sakit dan tidak lebih dari itu.
Dan untuk menemani adik perempuannya di rumah. Sudah jelas ada dua pelayan dan dua security yang berjaga. Dan tambah dengan 20 anggotanya. Kedua puluh anggotanya itu ahli dalam ilmu bela diri. Samuel tidak sembarangan merekrut orang untuk menjadi anggotanya.
Samuel benar-benar bahagia dan bersyukur, karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya. Dengan kata lain Tuhan masih menyayangi ibunya dengan tidak mengambil ibunya dari sisinya.
Hasil pemeriksaan, luka tembak yang dialami oleh ibunya tidak mengenai organ penting dalam tubuh ibunya sehingga tidak ada luka serius. Hanya saja akibat luka tembak itu, ibunya kehabisan banyak darah karena tidak segera dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Mendengar kabar tersebut membuat Samuel merutuki kebodohannya karena telah melukai ibunya dan juga membuat Samuel berucap syukur karena ibunya tidak mengalami luka yang serius akibat ulahnya.
"Mama, bangun dong. Sudah dua hari Mama tidur. Apa Mama tidak mau melihatku? Apa Mama marah padaku karena kelakuan burukku selama ini?" Samuel menggenggam tangan ibunya lalu mencium berulang kali punggung tangan ibunya. Samuel menangis.
"Maafkan aku yang tidak pernah ada di rumah. Maafkan aku yang jarang pulang ke rumah, maafkan aku yang tidak pernah memberikan pelukan untuk Mama, maafkan aku yang tidak pernah memberikan ciuman untuk Mama, maafkan aku yang tidak pernah memberikan perhatian pada Mama. Maafkan aku juga yang menjadi putra Mama yang buruk."
"Cepat bangun. Dan aku akan menggantikan semuanya," ucap Samuel, lalu memberikan ciuman di kening ibunya.
Ketika Samuel sedang mengobrol dengan ibunya, tiba-tiba pintu ruang rawat ibunya dibuka seseorang.
CKLEK!
Orang itu melangkah masuk ke dalam ruang rawat ibunya Samuel.
"Kakak Samuel," sapa orang itu.
Samuel melihat ke asal suara. Dan kemudian terukir senyuman manis di bibirnya.
"Jihan, Yelly!"
"Bagaimana Mama, kak?" tanya Yelly yang kini telah berdiri di samping ranjang ibunya bersama Jihan di sampingnya.
"Masih sama seperti kemarin," jawab Samuel dengan mengusap kepala belakang kedua adik perempuannya.
"Mama, kami datang lagi. Kapan Mama bangun," ucap Jihan dengan suara lirihnya.
Samuel mengusap lembut kepala kedua adiknya. Hatinya sakit ketika mendengar suara lirih adik perempuannya.
"Kakak Samuel," isak Jihan dan Yelly.
GREP!
Jihan dan Yelly membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh kakak laki-lakinya. Keduanya menangis di dalam pelukan kakak laki-lakinya.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke!"
"Jihan ingin Mama sembuh, kakak Samuel!"
"Yelly ingin Mama segera bangun, lalu pulang bersama kita. Yelly tidak mau Mama pergi. Papa sudah pergi ninggalin kita. Sekarang hanya Mama yang kita miliki. Yelly gak mau Mama pergi juga."
Samuel melepaskan pelukan kedua adik perempuannya, lalu menatap wajah cantik kedua adik perempuannya itu.
Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air mata Jihan dan Yelly secara bersamaan.
"Kita akan menjaga Mama sama-sama. Kita ajak Mama ngobrol agar Mama dengar dan mau buka matanya. Kalian mau bantu kakak?"
Jihan dan Yelly langsung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari kakak laki-lakinya.
"Pintar. Ya, sudah! Sekarang Jihan dan Yelly makan dulu. Tuh, kakak sudah siapkan makanan dan minuman kesukaan Jihan dan Yelly."
"Baik, kakak!"
__ADS_1
Setelah itu, Jihan dan Yelly langsung menuju meja yang ada di samping ranjang ibunya.