
[Kediaman Darren]
Keesokkan harinya semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan lengkap dengan pakaian mereka masing-masing seperti pakaian kantor, pakaian anak kuliahan dan pakaian anak sekolahan.
Mereka sarapan pagi dengan penuh candaan. Dan yang menjadi pelaku tersebut adalah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Kak Darren," panggil Ivan.
"Hm." Darren menjawab panggilan dari Ivan dengan deheman.
"Kakak Darren ada waktu untuk besok nggak?" tanya Ivan.
"Ada. Kenapa?" tanya Darren.
"Kalau besoknya, gimana?" tanya Nathan.
"Besok... Besok... Dan besoknya. Tiada hari dengan kata sibuk. Hari-hari kakak sudah terisi dengan semua tugas-tugas kakak." Darren menjawab pertanyaan dari Nathan sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Mendengar jawaban yang kurang memuaskan dari kakak kesayangannya itu membuat Nathan merengut kesal.
"Aish."
"Apa kakak Darren gak ada waktu sedikit pun?" tanya Mathew.
"Nggak," jawab Darren.
"Sekali pun untuk kakak Darren sendiri?" tanya Melvin.
Darren menghentikan kegiatan makannya, lalu menatap satu persatu wajah kelima adiknya.
Sedangkan anggota keluarga lainnya hanya diam sembari terus menyaksikan drama yang dimainkan oleh Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin dan yang menjadi korbannya adalah Darren.
"Pengecualian," jawab Darren.
"Pengecualian," jawab Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Maksud kak Darren apa?" tanya Adrian.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menatap Darren bingung.
"Waktu untuk kakak sendiri pasti ada. Tapi kalau untuk kalian berlima, nggak ada."
Darren menjawab pertanyaan dari Adrian dengan santainya dan tanpa bersalah sama sekali.
Setelah mengatakan itu, Darren kembali pada makanannya. Sementara Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menatap dengan tatapan tak percaya kearah Darren.
Bagaimana reaksi anggota keluarganya. Yang jelas pastinya, mereka semua tersenyum gemas melihat wajah syok Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin ketika mendengar jawaban dari kakak laki-laki kesayangannya.
"Kakak Darren benar-benar menyebalkan," ucap Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Ketika mereka sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba security datang menghampiri mereka semua.
"Maaf tuan, nyonya, tuan muda!"
Erland, Agneta dan yang lainnya langsung melihat kearah security itu.
"Ada apa, Jonathan?" tanya Erland.
"Itu tuan, di luar gerbang ada beberapa orang membuat keributan. Mereka berteriak sambil menyebut nama tuan muda Adrian dan tuan muda Mathew."
Mendengar jawaban dari security membuat Erland, Agneta dan yang lainnya terkejut. Begitu juga Adrian dan Mathew.
Gilang dan Darka melihat kearah kedua adiknya itu.
"Apa kalian berdua membuat masalah?" tanya Darka.
"Tidak, kak Darka." Adrian dan Mathew langsung menggelengkan kepalanya.
Erland berdiri dari duduknya dan diikuti oleh yang lainnya.
"Kalian tetap disini," ucap Andra.
"Baik, kak Andra!"
^^^
Kini Erland dan anggota keluarga lainnya sudah berada diluar rumah. Tepatnya berdiri di depan teras. Dapat mereka lihat ada sekitar sepuluh orang, lima laki dan lima perempuan yang berteriak sembari mendorong gerbang dengan kuat.
"Buka gerbangnya Paman Jonathan," perintah Davin.
"Baik, tuan muda Davin.
__ADS_1
Jonathan pun langsung pergi menuju gerbang tersebut untuk membukakannya.
Kini kesepuluh orang-orang itu sudah berdiri di hadapan Erland dan anggota keluarga lainnya.
"Mana anak yang bernama Adrian dan Mathew? Suruh mereka keluar!" teriak seorang pria.
"Hei, tuan. Kalau bertamu ke rumah orang itu yang sopan. Tidak teriak-teriak seperti ini," tegur Tristan.
"Diam kau. Aku tidak punya urusan denganmu!" bentak pria itu sembari menunjuk kearah Tristan.
"Yaelah! Gak usah pake bentak-bentak segala. Adik saya ngomong juga baik-baik sama anda," sahut Daffa.
"Aku tidak peduli. Sekarang panggil Adrian dan Mathew. Suruh mereka keluar!" teriak pria kedua.
"Kalau kita tidak mau. Kalian mau apa, hah?!" bentak Andra dengan menatap tajam kesepuluh orang itu.
"Kami akan paksa mereka berdua untuk keluar," jawab seorang wanita. Wanita tersebut adalah istri dari pria pertama.
"Apa urusan kalian ingin bertemu dengan kedua adikku?" tanya Dzaky.
"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas kami datang kesini ingin memberikan mereka berdua hukuman," jawab wanita kedua.
"Hahahahaha." Gilang dan Darka tertawa.
"Kalian ini lucu sekali. Kalian datang kesini ingin bertemu dengan kedua adikku dengan niat ingin memberikan hukuman. Sementara kami keluarganya tidak diberitahu apa masalahnya," ucap Darka dengan tatapan jijiknya menatap kesepuluh manusia di hadapannya.
Darren yang sedari tadi hanya diam dan terus memperhatikan kesepuluh manusia yang ada di hadapannya itu.
TING!
Seketika Darren terkejut mendengar suara notifikasi yang masuk ke ponselnya.
Darren mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya. Darren melihat ada sebuah pesan WhatsApp yang terlihat di layar ponselnya.
Darren kemudian membuka pesan WhatsApp tersebut. Dan dapat Darren lihat sebuah kiriman video disana. Darren langsung menekan video itu.
Ketika Darren melihat video itu, Darren benar-benar marah. Masih saja ada orang yang selalu mencari masalah dengan keluarganya dengan menyangkut pautkan ibu kandungnya dengan adik perempuan ibunya yang saat ini berstatus sebagai ibunya.
Darren berpikir dengan tobatnya Samuel, tertangkapnya Gustavo dan hancurnya Helena dan keluarga ayahnya kehidupan kedua orang tuanya akan membaik. Tidak akan ada lagi yang mengusik kedua orang tuanya itu.
Namun Darren salah. Ternyata masih ada orang yang mengusik kedua orang tuanya melalui kelima adiknya.
Setelah melihat video itu sampai akhir, Darren langsung mematikan ponselnya itu dan memasukkan kembali ponselnya itu ke saku celananya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis." Darren berbicara dengan wajah dingin.
"Kami tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kedua anak sialan itu. Dan juga memberikan hukuman kepada mereka," jawab wanita ketiga.
"Aku tidak akan membiarkan kalian untuk bertemu dengan kedua adikku. Sekarang pergi kalian dari disini. Ini rumahku. Dan jangan buat keributan di rumahku," ucap Darren.
"Kami tidak peduli. Kami tidak akan pergi sebelum bertemu dengan kedua anak sialan itu!" teriak pria ketiga.
"Ayo, masuk!" seru Darren kepada anggota keluarganya.
Erland, Agneta dan yang lainnya pun melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka juga sama seperti Darren tidak ingin berlama-lama punya urusan dengan kesepuluh orang-orang itu.
"Kalian benar-benar brengsek!" teriak pria keempat.
Pria keempat itu melangkah dengan cepat bertujuan ingin menyerang Darren dari belakang.
Darren yang mengetahui bahwa dirinya akan diserang dari arah belakang langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut pria itu.
DUAGH!
BRUKK!
Pria itu tersungkur dengan tubuhnya menghantam dinding dengan sangat keras. Dan disertai darah segar keluar dari mulutnya.
"Sayang!" teriak istri dari pria itu.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak wanita itu.
"Itu salah suamimu yang ingin menyerangku," jawab Darren.
"Kalian keluarga brengsek!" teriak wanita kelima.
"Kalau kami ini brengsek. Terus kalian pantasnya disebut apa? Kalian datang ke rumahku tanpa diundang. Kalian membuat keributan di rumahku. Bahkan kalian berteriak sembari memanggil kedua adikku. Keluargaku sudah sangat sopan bertanya kepada kalian apa yang telah dilakukan oleh kedua adikku sehingga membuat kalian marah. Tapi kalian tidak memberitahu keluargaku. Kalian terus memaksa keluargaku untuk membawa kedua adikku keluar agar kalian bisa memberikan hukuman kepada mereka berdua!" teriak Darren.
Kesembilan orang-orang itu menatap tajam Darren, terutama wanita yang suaminya disakiti oleh Darren.
"Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran," ucap Darren.
__ADS_1
"Hahahahaha." wanita ketiga tertawa keras.
"Setelah apa yang dilakukan oleh kedua anak sialan itu, kau seenaknya mengusir kami, hah!"
"Maaf nyonya. Putraku tidak bermaksud untuk mengusir kalian. Tapi sedari tadi kami sudah berusaha bersikap sopan kepada kalian. Dan kami juga bertanya apa yang telah dilakukan oleh kedua putranya saya. Tapi kalian tidak memberitahu kami," sela Agneta.
Ketika wanita itu ingin berbicara. Darren sudah terlebih bersuara.
"Kalian sakit hati dan juga dendam dengan kedua adikku karena kedua adikku telah menyakiti putra-putra kalian sehingga membuat putra-putra kalian terbaring di rumah sakit. Bukan begitu!"
Darren berbicara dengan penuh penekanan dan dengan tatapan mata tajamnya.
Erland, Agneta dan anggota keluarganya terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Dan kini mereka semua paham pokok permasalahannya.
Sementara kesepuluh orang-orang itu menatap Darren dengan wajah syoknya. Mereka semua tak menyangka jika Darren telah mengetahui sebelum mereka menunjukkan video dimana putra-putranya dihajar oleh Adrian dan Mathew.
"Kenapa? Kalian terkejut karena aku sudah mengetahuinya, hum?" tanya Darren dengan tatapan meremehkan.
"Aku berikan kalian dua pilihan. Pertama, pergi dari sini dan lupakan atas apa yang telah dilakukan oleh kedua adikku. Anggap saja apa yang telah dilakukan oleh kedua adikku terhadap putra-putra kalian itu hanya sebuah hukuman. Kedua, jika kalian masih tidak terima dan terus berusaha untuk membalas perbuatan kedua adikku. Bahkan kalian sampai nekat menyakiti mereka. Maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan kalian semua. Aku bersumpah akan membuat kalian semua hancur termasuk seluruh anggota keluarga kalian."
Darren berbicara dengan menatap tajam kearah kesepuluh orang-orang yang ada di hadapannya itu.
"Jika kalian beranggapan perkataanku ini hanya bualan. Maka buanglah semua pikiran kalian itu. Aku Darrendra Smith tidak pernah main-main dengan ucapanku."
"Sekarang pergi dari sini sebelum aku menyuruh security untuk menyeret kalian semua!"
Setelah itu, Darren melangkah masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.
^^^
GREP!
Adrian dan Mathew langsung memeluk tubuh Darren ketika melihat Darren melangkah menuju ruang tengah.
Ketika Erland, Agneta dan yang lainnya pergi keluar untuk menemui orang-orang yang sedang mencari Adrian dan Mathew. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin memutuskan menunggu keluarganya di ruang tengah.
"Hiks... Kak Darren. Kak Darren harus percaya dengan kita berdua. Kita nggak salah. Mereka yang salah duluan," ucap Mathew disela isakannya.
"Hiks... Kak Darren jangan marah. Jangan hukum kita," ucap Adrian terisak.
Darren membalas pelukan kedua adiknya itu. Bahkan Darren memeluknya dengan erat.
"Tanpa kalian jelaskan. Kakak percaya sama kalian. Bahkan kakak sudah tahu permasalahan yang sebenarnya," sahut Darren.
Seketika Adrian dan Mathew langsung melepaskan pelukannya. Keduanya menatap wajah Darren.
"Benarkah, kakak Darren?" tanya Adrian dan Mathew bersamaan.
"Hm." Darren berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Kakak Darren tahu dari mana? Kan kita belum cerita," ucap dan tanya Mathew.
"Kepo," jawab Darren, lalu pergi meninggalkan kedua adiknya itu menuju sofa.
Melihat kakak kesayangannya telah duduk. Adrian dan Mathew pun kembali menduduki pantatnya di sofa.
Darren mengambil ponselnya. Kemudian Darren mengirim sesuatu disana. Setelah selesai, Darren kembali memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Sementara anggota keluarganya sudah duduk manis di sofa sejak mereka masuk. Dan mereka semua hanya diam dan tidak ikut campur jika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berhadapan dengan Darren. Mereka semua mempercayai Darren untuk mengatasi masalah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Ditambah lagi, Adrian dan keempat adiknya sangat dekat dan terbuka hanya kepada Darren.
"Kalian kembali ke kamar. Untuk hari ini kalian libur saja," sahut Darren dengan menatap Adrian dan Mathew.
"Baik, kakak Darren." Adrian dan Mathew pun langsung pergi menuju kamarnya di lantai dua.
"Dan untuk kalian bertiga." Darren menatap kearah Nathan, Ivan dan Melvin. "Untuk hari ini dan sampai akhir bulan. Kalian ke sekolah diantar jemput."
"Baiklah, kakak Darren." Nathan, Ivan dan Melvin menjawab bersamaan.
TIN!
TIN!
Terdengar suara klason mobil di luar. Dan beberapa detik kemudian, datang security melapor.
"Maaf tuan muda Darren. Diluar ada yang mencari tuan muda Darren."
"Baik, Paman."
"Ayo! Sudah waktunya kalian berangkat ke sekolah!" ajak Darren.
__ADS_1
Darren pun pergi menuju ruang tamu dan diikuti oleh Nathan, Ivan dan Melvin. Begitu juga dengan anggota keluarganya.