KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membahas Kerja Sama


__ADS_3

Beberapa detik kemudian..


TOK


TOK


TOK


Mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


CKLEK!


Pintu dibuka dan masuklah lima orang pemuda ke dalam ruang rawat Darren.


"Kalian sudah datang!" seru Qenan.


"Kakak Ziggy, kakak Noe, kakak Chico, kakak Enzo, kakak Devian, kakak Ziggy." Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel secara bersamaan menyapa kelima kakak mafianya.


"Selamat sore Bibi, Paman." Ziggy, Devian, Enzo, Chico dan Noe menyapa para orang tua dari Darren dan ketujuh sahabat Darren. Serta paman dan bibi Darren secara bersamaan.


"Sore juga," jawab kompak para orang tua.


"Ya, sudah! Lebih baik kita keluar. Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama!" seru Dellano.


"Siapa tahu mereka ingin bicara atau membahas sesuat," sela Valeo.


Setelah mengatakan hal itu, anggota keluarga pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren. Mereka menunggu diluar.


^^^


Noe, Chico, Enzo, Devian dan Ziggy mendekati ranjang Darren. Sama seperti ketujuh sahabatnya, mereka juga menangis melihat Darren yang saat ini.


"Hei, Ren. Kenapa jadi begini? Kakak benar-benar sedih melihatmu dalam keadaan seperti ini. Lihatlah alat-alat ini menyakitimu. Apa kau kesakitan, hum?" lirih Noe sambil mengelus lembut rambut Darren.


"Kami semua disini, Ren! Jadi bangun dan lihatlah kami. Apa begini caranya kau menyambut kami setelah selama sebulan tidak bertemu?" ucap Chico.


Sementara Ziggy, Devian dan Enzo berbicara dengan ketujuh sahabat Darren.


"Kenapa mereka tega melakukan ini terhadap Darren? Apa yang ada diotak mereka?" marah Devian.


"Aku tidak habis pikir atas sikap keras kepala dan egois mereka. Apa mereka memang sengaja mengabaikan kesehatan Darren?" Enzo juga marah melihat kondisi Darren yang disebabkan oleh anggota keluarganya sendiri.


"Kenapa harus ada saudara seperti mereka di dunia ini. Jika aku tidak memikirkan perasaan Darren. Jika mereka bukan keluarga kandungnya sudah dari dulu aku habisi mereka, terutama sijangkung Davin yang sok kecakepan dan siberuang kutub Andra. Aku benar-benar muak dan jijik melihat kelakuan mereka berdua." Ziggy berbicara sembari mengumpati kedua kakaknya Darren.


Willy, Qenan, Rehan, Jerry, Dylan, Axel dan Darel tertawa pelan saat mendengar ucapan Ziggy.


"Kenapa kalian tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Ziggy kesal.


Mereka kompak menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi mereka masih tetap tertawa. Hal itu membuat Ziggy makin kesal.


Sementara Devian, Enzo, Noe dan Chico juga ikut tersenyum melihat wajah kesal Ziggy.


"Aish! Kalian benar-benar menyebalkan ya." Ziggy pergi menuju sofa lalu menghempaskan tubuhnya disana.


"Hahahahaha." tawa mereka akhirnya pecah.


"Kau lucu sekali, kakak Ziggy!" seru Rehan.


"Sejak kapan kakak menjadi seperti ini?" ejek Axel.


"Mana kakak Ziggy yang kejam dan dingin," ledek Willy.


"Kenapa seorang Ziggy Chaim berubah menjadi seorang bayi yang sedang merajuk?" sela Qenan.

__ADS_1


"Wajahmu benar-benar lucu, imut dan menggemaskan, kakak Ziggy!" seru Dylan.


"Sebenarnya kakak makan apa sih satu bulan ini? Kenapa sifat kakak berubah jadi bayi yang menggemaskan begini," goda Jerry.


"Ooohh.. jangan-jangan kakak Ziggy mau menyaingi keimutannya sikelinci gembul itu ya." Darel berbicara sembari senyam senyum menatap Ziggy.


Devian, Enzo, Noe dan Chico tersenyum geli saat mendengar penuturan dari adik-adiknya serta melihat wajah kesal Ziggy.


"Kalau kalian masih terus berbicara dan masih terus mengejekku. Jangan salahkan aku jika besok kalian tidak akan bisa bicara lagi." Ziggy berucap sembari menatap satu persatu wajah tampan adik-adiknya itu.


Seketika Willy, Qenan, Rehan, Jerry, Dylan, Axel dan Darel mengatup bibir mereka masing-masing. Ziggy yang melihat hal itu tersenyum puas.


"Anak pintar," ucap Ziggy.


^^^


Setelah puas melihat keadaan Darren dan juga berbicara dengannya. Kini mereka semua telah berada diluar ruang rawat Darren.


Diluar ruang rawat Darren telah berkumpul semuanya, termasuk anggota keluarga Smith. Mereka sengaja meninggalkan Darrem sendirian untuk beberapa jam karena ingin membahas sesuatu.


"Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian semua!" seru Noe.


"Apa itu, nak Noe?" tanya Dario.


"Dario," panggil Erland.


Dario yang dipanggil pun melihat ke arah Erland "Ada apa, Erland?"


"Siapa mereka? Apa kau kenal mereka?" tanya Erland.


"Ya. Bukan aku saja yang kenal sama mereka. Kami semua disini kenal sama mereka," jawab Dario.


"Hanya kau dan keluargamu saja yang tidak mengenal mereka, Erland!" Aldez menyela pembicaraan Dario dan Erland.


"Lebih tepatnya putra-putra bungsu kita sudah dianggap adik oleh mereka," ujar David.


"Sejak kapan?" tanya Erland dengan wajah sedihnya.


"Sejak putra bungsumu masih tinggal bersamamu. Lebih tepatnya saat putra bungsumu masih sekolah. Kalau tidak salah kelas 1 SMP," jawab Hendy.


"Kau pasti sudah tahu jawabannya Erland, kenapa putra bungsumu tidak memberitahumu dan juga keluargamu," sela Dellano.


Erland tersenyum kecut. Dirinya lagi-lagi merutuki kebodohannya karena tidak mengetahui perihal putra bungsunya itu.


Melihat wajah sedih Erland membuat mereka semua menjadi tidak tega.


"Sudahlah, Erland. Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya sudah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Darren," hibur Valeo.


"Ya. Kau benar, Valeo. Yang terpenting saat ini adalah putra bungsuku. Aku harus lebih memikirkannya," jawab Erland lirih.


"Noe. Bukankah kau ingin menyampaikan sesuatu pada kami?" tanya Sophia.


"Ach. Iya, Bibi."


Noe melihat kearah Devian. Devian yang mengerti langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop besar berwarna kuning lalu memberikannya pada Noe.


"Ini."


Noe mengambil amplop itu dan memberikannya pada Qenan.


"Ini, Qenan. Lihatlah."


Qenan menerima amplop tersebut lalu kemudian membukanya. Willy, Rehan, Jerry, Axel, Dylan dan Darel pun mendekat kearah Qenan. Mereka juga ingin tahu apa isinya.

__ADS_1


Saat mereka melihat dan membacanya, mereka semua terkejut, tapi tidak dengan Qenan karena Qenan sudah tahu dari Darren saat sebelum berangkat ke acara Pameran.


"Apa-apaan ini."


"Dasar gila."


"Brengsek!


"Bajingan."


"Dasar manusia serakah."


"Bajingan itu sudah salah mencari lawan."


"Pokoknya bajingan itu harus hancur sehancurnya."


Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Willy, Rehan, Jerry, Axel, Dylan dan Darel. Mereka semua tampak marah.


"Anak-anak, ada apa?" tanya Revina.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Revina. Qenan langsung memberikan amplop tersebut kepada Ayahnya.


"Ini, silahkan Papa baca sendiri."


Aldez menerima amplop yang diberikan oleh putra bungsunya itu. Seketika matanya membelalak sempurna.


Melihat keterkejutan Aldez, tiba-tiba Valeo langsung menarik kertas yang ada ditangan Aldez. Aldez membacanya. David, Dellano, Eric, Hendy, Dario dan Erland juga ikut melihat dan membaca isi dari kertas itu.


"Benar-benar keterlaluan. Perusahaan GT COMPANY dan Perusahaan SF CORP bekerja sama ingin menghancurkan Perusahaan kita," ucap Dellano.


"Kalian semua pasti akan terkejut lagi jika kalian mengetahui siapa pemilik dari Perusahaan SF CORP itu!" seru Enzo.


Mereka semua menatap wajah Enzo. Mereka semua benar-benar penasaran dengan pemilik perusahaan SF CORP itu.


"Siapa?" tanya mereka secara bersamaan.


Ketika Enzo ingin menjawab pertanyaan dari para ayah dari adik-adiknya. Qenan sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Samuel Frederick!"


Enzo mendengus kesal karena ucapan dipotong oleh Qenan. Qenan yang melihat wajah kesal Enzo hanya terkekeh.


"Hehehe. Maaf, kakak Enzo. Aku terlalu bersemangat."


"Aish."


Mereka semua tersenyum melihat Qenan dan Enzo.


"Samuel Frederick itu adalah putra dari Delon Frederick!" seru Noe.


"Apa?" teriak para Ayah.


"Samuel Frederick putra dari pria brengsek itu?" tanya David.


Devian, Enzo, Ziggy, Noe dan Chico mengangguk.


"Dasar bajingan. Mau apa lagi mereka?" Hendy berucap kesal.


"Apa belum cukup dulu Delon selalu berbuat sesuka hatinya pada kita?" ucap Eric.


"Bahkan bajingan itu selalu melakukan segala cara untuk menghancurkan kita," ujar Erland.


"Lalu apa yang akan...." perkataan Valeo terpotong dikarenakan ada suara seseorang yang berteriak sambil menghampiri mereka semua.

__ADS_1


Lalu mereka melihat keasal suara itu. Dan dapat mereka lihat seorang wanita paruh baya beserta tiga orang pria dan juga beberapa polisi menuju ke arah mereka semua.


__ADS_2