
Di ruang pribadi cafe ketujuh sahabat-sahabat Darren, Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah menunggu kedatangan Darren. Darren berpamitan hendak ke Toilet.
"Ini Darren kemana sih? Lama banget izin ke toiletnya?!" tiba-tiba Milly bersuara karena sadar bahwa Darren belum kembali.
Mendengar seruan dari Milly membuat Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel tersadar. Begitu juga dengan Brenda, Alice, Elsa, Tania, Lenny, Felisa dan Vania.
"Eh, iya! Darren kok belum kembali juga. Sudah satu jam setengah dia pamit," ucap Brenda.
Ketika mereka tengah memikirkan Darren yang belum kembali dari toilet, tiba-tiba orang yang mereka pikirkan datang.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama!"
Mendengar suara seseorang yang mereka kenal membuat Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Brenda, Tania, Milly, Felisa, Lenny, Elsa, Alice dan Vania.
Darren melangkah menuju tempat duduknya di samping Brenda.
"Kamu kemana aja sih?" tanya Brenda.
Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari Brenda. Justru Darren kembali menikmati minumannya yang belum disentuh sama sekali.
"Aku habis nolongin ibunya Samuel."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan, Darel, Brenda, Tania, Milly, Felisa, Lenny, Elsa, Alice dan Vania terkejut. Mereka semua menatap Darren.
"Ketemu dimana?" tanya Axel.
"Diluar ketika aku selesai urusanku di toilet," jawab Darren.
"Memangnya ibunya Samuel Kenap?" tanya Dylan.
"Dihina, direndahkan dan dituduh macem-macem sama salah satu pelayan disini," jawab Darren.
"Hah!"
Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan, Darel, Brenda, Tania, Milly, Felisa, Lenny, Elsa, Alice dan Vania seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren.
"Kok bisa?" tanya Qenan.
"Ibunya Samuel datang dalam keadaan pakaiannya yang basah dan terlihat sedikit kotor sehingga membuat pelayan cafe ini tidak mau melayaninya. Pelayan itu mengusir ibunya Samuel dari Cafe ini."
Lagi-lagi Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan, Darel, Brenda, Tania, Milly, Felisa, Lenny, Elsa, Alice dan Vania terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren.
"Hanya karena pakaian pelanggannya basah dan kotor, pelayan itu langsung bersikap buruk. Benar-benar menjijikkan!" Lenny berucap dengan nada marah.
"Kenapa tidak mati saja orang yang seperti itu," ucap Dylan dengan kejamnya bersamaan dirinya menyeruput habis jus jeruknya.
"Jika di dunia ini hanya ada orang baik saja tanpa ada orang jahat, maka dunia ini akan damai sentosa. Semua manusia akan hidup dengan bahagia!" Darren langsung membalas perkataan Dylan.
__ADS_1
"Termasuk gue. Gue nggak akan mendengar kata-kata indah dari mulut lo," sindir Dylan sembari melirik kearah Darren.
"Kayak lo aja yang nggak pernah mengutarakan kata-kata indah lo ke orang lain. Justru kata-kata lo yang paling parah dari pada kita," ejek Willy.
"Setuju!" seru Darren bersamaan dengan mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara.
"Aish!" kesal Dylan.
"Terus, Ren! Bagaimana dengan pelayan itu? Lo nggak mungkin diam aja kan?" ucap dan tanya Jerry.
"Menurut lo apa yang akan terjadi setelah seseorang menghina orang yang kita kenal?" Darren tidak menjawab pertanyaan dari Jerry, melainkan Darren memberikan pertanyaan balik kepada sahabatnya itu.
Mendapatkan pertanyaan dari Darren membuat Jerry seketika tersenyum. Dia langsung paham dan langsung tahu apa yang terjadi pada pelayan itu.
***
Di kediaman Wechsler terlihat sepasang suami istri yaitu Anthony dan Emily bersama putri sulungnya yaitu Zora Wechsler.
Baik Anthony maupun Emily berusaha membujuk Zora putri sulungnya untuk membantu mendamaikan mereka dengan Bianca yang tak lain adalah putri bungsunya.
"Zora. Mama mohon, Nak! Tolong bantu Mam dan Papa untuk bisa berdamai dengan adikmu. Mama sadar atas apa yang Mama lakukan selama ini terhadap adikmu Bianca."
"Papa juga sama seperti Manamui, nak! Papa benar-benar menyesal telah berlaku buruk terhadap adikmu. Papa mohon. Bantu Papa dan Mama untuk mendapatkan maaf dari adikmu. Papa dan Mama akan melakukan apapun jika Bianca mau memaafkan Papa dan Mama."
Anthony dan Emily menangis dan memohon di depan putri sulungnya. Mereka benar-benar berharap bantuan dari putrinya itu. Mereka sudah tidak sanggup dibenci terlalu lama oleh putri keduanya itu.
"Baiklah. Aku akan bantu kalian untuk mendapatkan maaf Bianca. Tapi ingat! Ini adalah kesempatan terakhir untuk kalian. Jika seandainya Bianca mau menerima kalian dalam kehidupannya, jangan coba-coba untuk menyakitinya lagi. Yang harus kalian lakukan adalah beri perhatian, kasih sayang, ciuman dan pelukan yang tidak pernah kalian berikan kepada Bianca."
Mendengar ucapan serta permintaan dari Zora membuat Anthony dan Emily langsung menganggukkan kepalanya. Mereka berjanji dan bersumpah akan melakukan tugas mereka sebagai orang tua untuk Bianca. Mereka akan menggantikan semua kesedihan dan penderitaan Bianca di masa lalu dengan kebahagiaan.
"Kami janji!" seru Anthony dan Emily bersamaan.
***
Darren bersama Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda saat ini berada di sebuah Mall yang terkenal di kota Hamburg. Mereka ada disana karena Mall tersebut adalah lokasi kedua mereka berkencan.
Mereka berjalan sembari berpegang tangan sehingga membuat beberapa pengunjung melihatnya dengan tatapan iri dan kagum.
Ketika Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya bersama para kekasihnya fokus dengan tatapan ke depan bahkan sesekali melihat ke sekitarnya. Salah satunya dari mereka yaitu Rehan melihat sosok Bianca yang tak lain kekasih dari Daniel Carlo kakak kedua dari Dylan Afred Carlo sahabatnya.
"Lan, itu bukannya kak Bianca ya?!" seru Rehan sembari menunjuk kearah sosok Bianca.
Mendengar seruan dari Rehan membuat Dylan serta yang lainnya langsung melihat kearah tunjuk Rehan.
"Eh, iya! Itu benar kakak Bianca! Tapi siapa laki-laki yang berjalan di samping kak Bianca?" ucap dan tanya Tania.
"Kalau dilihat-lihat, kak Bianca terlihat risih diikuti oleh laki-laki itu." Elsa berucap dengan pandangannya melihat kearah laki-laki di samping Bianca.
__ADS_1
Dylan seketika mengepal kuat tangannya melihat apa yang dilakukan oleh laki-laki yang tak lain adalah mantan kekasih dari calon kakak iparnya.
Detik kemudian...
Dylan langsung melangkahkan kakinya menghampiri Bianca yang tampak risih akan keberadaan Henry.
Melihat Dylan yang tiba-tiba pergi begitu saja menghampiri Bianca dan Henry membuat Darren serta yang lainnya pun menyusul.
"Lan!"
Dylan menghalangi jalannya Bianca dan Henry sehingga membuat keduanya berhenti.
"Dylan," sapa Bianca lembut.
Setelah menyapa calon adik iparnya, Bianca melangkah menuju adik iparnya itu. Dia sejak tadi sudah berusaha mati-matian menghindari Henry, tapi gagal.
Ketika Bianca hendak mendekati Dylan. Henry segera mencekal tangan Bianca, namun Henry kalah cepat karena Dylan sudah terlebih dulu menahan tangannya.
Sreekk..
"Jangan coba-coba lo sentuh calon kakak ipar gue. Lo bukan siapa-siapa dia lagi!" bentak Dylan dengan menatap tajam Henry.
Setelah itu, Dylan menghempas kuat tangan Henry.
"Jangan ikut campur kau!" bentak Henry.
Dylan seketika tersenyum menyeringai. "Apa?! Lo ngelarang gue untuk tidak ikut campur urusan lo sama perempuan ini?! Lo dengar baik-baik! Perempuan ini adalah kekasih kakak gue. Gue adalah adik dari laki-laki yang dicintai oleh perempuan ini. Dan dia adalah calon kakak ipar gue!
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Dylan membuat Henry mengepal kuat tangannya dan juga tatapan matanya yang tajam.
"Lo hanya masa lalu dari perempuan ini. Masa depan perempuan ini adalah Daniel Carlo. So! Menjauhlah dari kehidupan Bianca Carlo."
Setelah mengatakan itu, Dylan langsung menarik tangan Bianca dan membawanya pergi.
Namun ketika kaki Bianca hendak melangkah, tiba-tiba Henry mengejar dan menangkap tangan Bianca.
Namun detik kemudian...
Duagh..
"Aakkhhh!"
Bruukk..
Dylan memberikan tendangan kuat tepat di perut Henry sehingga tubuh Henry tersungkur dengan perut yang terlebih dahulu menghantam lantai Mall dan berakhir muntah darah.
Dylan melirik sekilas ke belakang lalu tersenyum di sudut bibirnya. Setelah itu, dia pun kembali berjalan dengan Bianca di samping kanannya dan Vania di samping kirinya diikuti oleh sahabat-sahabatnya dan yang lainnya.
__ADS_1