
Di ruang rawat Darren tampak ramai dimana ketujuh sahabatnya dan para kakak laki-laki kedua dari ketujuh sahabat-sahabat Darren tengah menemaninya, termasuk dua kakak laki-laki Darren yaitu Dzaky dan Adnan serta satu kakak laki-laki sepupunya yaitu Davian.
Ketujuh sahabat Darren duduk mengerubungi ranjang Darren dengan jarak tak terlalu dekat dengan ranjang Darren.
Sedangkan para kanak-kanak laki-laki mereka duduk di sofa yang ada di ruang rawat Darren.
Ruang rawat Darren begitu besar dan luas sehingga bisa menampung banyak orang dan pengunjung.
Mereka semua benar-benar menjaga Darren. Sesekali mereka secara bergantian melihat kearah Darren hanya untuk sekedar mengecek keadaannya.
Walaupun mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, namun tatapan mata mereka tak pernah lepas untuk melihat kearah ranjang Darren, terutama ketujuh sahabatnya.
"Papa," igau Darren tiba-tiba.
Mendengar igauan dari Darren membuat ketujuh sahabatnya yang duduk di sekitar tempat tidurnya langsung melihat kearah Darren. Mereka kemudian berdiri dan mendekati ranjang Darren.
Melihat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang tiba-tiba berdiri dan mendekati ranjang Darren membuat para kakak-kakak mereka yang tengah duduk di sofa terkejut.
Mereka lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Ta-tadi kami dengar igauan Darren," jawab Jerry.
Para kakak semuanya melihat kearah wajah Darren yang masih setia menutup matanya.
Dzaky dan Adnan mendekati ranjang adik kesayangannya. Secara bersamaan keduanya mengusap lembut pucuk kepala Darren dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Ren," panggil Dzaky dan Adnan bersamaan.
"Papa," igau Darren lagi.
Dzaky dan Adnan saling lirik. Kemudian keduanya melihat kearah Davian.
"Papa," igau Darren untuk yang ketiga kalinya.
Dzaky, Adnan dan Davian menatap wajah Darren sendu.
"Ren, ini kakak Dzaky. Kalau kamu dengar kakak. Tolong buka matanya," ucap Dzaky berbisik di telinga adik laki-lakinya dengan tangannya mengusap lembut pucuk kepalanya.
"Kakak Adnan juga disini, Ren!"
"Kakak Davian juga," ucap Davian.
"Ren," panggil Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.
Detik kemudian, kedua mata Darren berlahan terbuka.
Melihat kedua mata Darren terbuka, mereka semua tersenyum bahagia. Mereka benar-benar bersyukur melihat Darren yang membuka kedua matanya.
Aaron, kakak laki-laki tertuanya Willy langsung menekan tombol merah yang ada di dinding.
__ADS_1
Dzaky dan Adnan kembali mengecup kening Darren. Mereka benar-benar bahagia melihat mata adik laki-lakinya itu terbuka.
"Ka-kakak Dzaky," lirih Darren.
"Ada apa, hum?" tanya Dzaky lembut.
"Pa-pa. Aku mau Papa," ucap Darren.
"Kamu mau Papa kesini?" tanya Adnan.
Darren langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan dari Adnan.
Dzaky dan Adnan tersenyum ketika melihat anggukkan antusias dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Baiklah, kakak Adnan yang akan menghubungi Papa," balas Adnan.
***
Di perusahaan Er'Land terlihat para karyawan yang berlalu lalang dari tempat satu ke tempat yang lain demi melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Erland ditemani putra pertamanya yaitu Davin sedang mengadakan rapat bersama dengan enam perusahaan yang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaannya.
Di ruang rapat itu bukan hanya ada enam perusahaan besar di beberapa kota, melainkan ada tujuh perusahaan besar yang terkenal nomor 3 sampai nomor 9 di dunia dan di Jerman.
Ketujuh perusahaan itu tak lain adalah milik ketujuh sahabat dari Erland Faith Smith.
Rapat kali ini membahas pembangunan jalan raya yang menghubungkan pedesaan dan perkotaan.
Ketika suasana rapat yang tadinya begitu hening karena tengah fokus melihat dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh Davin.
Mereka semua tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi ponsel milik Erland.
Mendengar bunyi ponselnya, Erland menatap satu persatu rekan kerjanya dan juga ketujuh sahabatnya untuk menjawab panggilan.
Erland melihat nama putra keempatnya yaitu Adnan di layar ponselnya, seketika kepikiran akan putra ketujuhnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Erland pun langsung menjawab panggilan dari putranya itu.
"Hallo, Adnan! Ada apa menghubungi Papa?"
"Papa sibuk tidak?"
"Papa lagi rapat. Kenapa?"
"Darren sudah sadar, Papa!"
Mendengar jawaban dari putranya itu membuat Erland seketika tersenyum. Dia benar-benar bahagia mendengar kabar tersebut.
"Papa, ada apa?" tanya Davin penasaran.
Erland melihat sekilas kearah putra sulungnya itu, lalu tersenyum. "Darren sudah sadar."
__ADS_1
Davin seketika tersenyum mendengar jawaban dari ayahnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat Erland.
"Apa itu benar, Erland? Darren sudah sadar?" tanya Dellano.
"Iya, Dellano. Ini putraku Adnan yang mengatakannya," jawab Erland.
"Hallo, Papa!" panggil Adnan di seberang telepon.
Mendengar panggilan dari putranya di seberang telepon membuat Erland tersadar bahwa dirinya sedang berbicara dengan Adnan di telepon.
"Ach, maafkan Papa. Papa terlalu bahagia mendengar kamu yang mengatakan bahwa Darren telah sadar."
"Ketika Darren sadar, Darren memanggil Papa. Bahkan Darren memanggil-manggil nama Papa ketika Darren masih menutup matanya. Darren ingin ketemu Papa."
"Papa bisa langsung ke rumah sakit? Kasihan Darren, Pa! Darren benar-benar ingin ketemu Papa!"
Seketika Erland terdiam ketika mendengar cerita dari putra keempatnya itu.
"Baiklah, sayang! Papa akan segera kesana!"
"Baiklah, Papa. Aku akan sampaikan kepada Darren."
Setelah itu, Adnan langsung mematikan panggilannya.
"Ada apa?" tanya Aldez.
"Apa yang dikatakan Adnan tentang Darren?" tanya David.
"Darren tidak kenapa-kenapa kan Erland?" tanya Valeo.
Erland tersenyum menatap wajah ketujuh sahabatnya yang kini tengah mengkhawatirkan putra ketujuhnya.
"Darren tidak kenapa-kenapa. Adnan mengatakan kepadaku bahwa Darren ingin bertemu padaku. Bahkan ketika Darren belum sadar, Darren berulang kali memanggil namaku." Erland menjawab pertanyaan dari ketiga sahabatnya itu
"Ya, sudah tunggu apa lagi! Pergilah ke rumah sakit sekarang. Rapat ini biarkan kami melanjutkannya. Dan Davin yang akan memimpin rapat ini!" seru Dario.
"Tak apa aku tinggal?" tanya Erland menatap semua orang yang ada di ruang rapat tersebut.
"Tidak apa-apa, tuan Erland. Kami mengerti akan perasaan tuan Erland," jawab salah satu rekan kerjanya Erland dari perusahaan RV Corp
"Sesibuk apapun pekerjaan kita. Keluarga adalah nomor satu," ucap CEO perusahaan Mitro CBS.
"Hm." mereka semua bergumam setuju akan perkataan dari CEO perusahaan Mitro CBS.
Erland tersenyum mendengar ucapan dari dua rekan kerjanya. Dia benar-benar bersyukur memiliki rekan kerja yang mengerti dia.
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit ingin ke rumah sakit," ucap Erland.
Erland melihat kearah putra sulungnya yaitu Davin. "Papa serahkan rapat ini ke kamu. Papa yakin kamu bisa menyelesaikannya."
"Baik, Papa! Aku janji akan memberikan hasil yang terbaik," balas Davin.
__ADS_1
Setelah itu, Erland pun pergi meninggalkan ruang rapat untuk menuju rumah sakit. Dia tidak ingin membuat putranya itu menunggunya terlalu lama.