KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

[Rumah Sakit Ludwig Maximilian]


Nandito sudah mendapatkan perawatan. Sekarang ini Nandito berada di ruang rawatnya bersama dengan Willy, Jerry, Dylan dan Rehan.


"Gue masih kepikiran terhadap Darren, Qenan, Darel dan Axel. Bagaimana dengan mereka? Apa mereka berhasil ditemukan?" ucap dan tanya Rehan yang saat ini duduk di samping ranjang Nandito.


Mendengar ucapan serta pertanyaan yang Rehan membuat Willy, Jerry dan Dylan langsung kepikiran dengan tiga sahabatnya itu.


Baik Willy, Jerry, Dylan dan Rehan sudah mengetahui bahwa Darren, Qenan dan Darel belum berhasil ditemukan. Sementara untuk Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para anggota Organisasi sudah kembali dengan selamat ke kota Hamburg.


Ketika mereka ditemukan oleh Rubi dan Caleb tangan kanannya Ziggy serta beberapa anggotanya. Caleb dan Rubi menceritakan tentang Darren, Qenan, Darel serta kelompok lainnya kepada Willy, Jerry, Dylan dan Rehan.


Mendengar cerita dari Rubi dan Caleb membuat Willy, Rehan, Jerry dan Dylan antara senang dan sedih.


"Ren, Nan, Xel, Rel!" batin Rehan, Willy, Dylan dan Jerry.


"Semoga kalian baik-baik saja," batin Jerry.


"Kalian jangan sampai terluka," batin Dylan


"Kalian harus baik-baik saja," batin Willy.


"Bertahanlah," batin Rehan.


Ketika Willy, Jerry, Dylan dan Rehan sedang memikirkan Darren, Qenan, Darel dan Axel. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pintu dibuka.


Cklek..


Mendengar suara pintu dibuka membuat Willy, Rehan, Jerry dan Dylan langsung melihat kearah pintu tersebut. Dapat mereka lihat Darren yang melangkah masuk ke dalam diikuti oleh Qenan, Axel, Darel, Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico di belakang.


"Ren, Rel, Nan, Xel!" panggil Willy, Rehan, Jerry dan Dylan bersamaan.


Darren terus melangkah mendekati ranjang dimana Nandito terbaring di atasnya. Dan tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan ikut menangis ketika melihat Darren yang menangis.


Willy, Jerry, Dylan dan Rehan bergabung dengan Qenan, Darel, Axel dan kelima kakak mafianya. Mereka berdiri di kaki ranjang Nandito dengan tatapan matanya menatap kearah Nandito dan Darren secara bergantian.


Darren berlahan menyentuh punggung tangan Nandito, lalu kemudian menggenggamnya.


"Seharusnya gue nggak ajak lo gabung dalam Organisasi Kampus. Dan gue juga nggak seharusnya ngajak lo ikut kegiatan Touring ini. Maafin gue, Dito! Maafin gue. Dan sekarang lihatlah apa yang lo dapatkan dari kegiatan ini?" Darren berucap dengan air matanya yang masih setia mengalir.


"Apa yang harus gue katakan sama Paman Brian?"


Flashback On.


Darren bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di Lobi depan Kampus. Disana juga ada Nandito yang bergabung dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Bagaimana? Apa mereka masih mengganggu lo?" tanya Darren dengan menatap wajah Nandito.


"Masih, tapi tidak aku biarkan mereka untuk menyentuhku." Nandito menjawab pertanyaan dari Darren.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan dari sepupunya itu.

__ADS_1


"Jawaban yang sangat memuaskan. Lo tuh laki-laki dan lo jago bela diri. Jangan biarkan siapa pun membully lo apalagi menindas lo. Lo ada di Kampus ini buat kuliah bukan untuk memberikan tubuh lo buat digebukin," ucap Darren dengan penuh penekanan.


"Iya, gue ngerti. Sorry kalau beberapa hari yang lalu gue udah buat lo kecewa. Gue seperti itu karena gue nggak mau ada masalah di hari kedua gue kuliah. Beda jika sudah satu minggu, baru gue bakal tunjukin siapa gue sebenernya," sahut Nandito.


Darren tersenyum. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Mereka paham dan sangat paham sifat Nandito.


"Gue juga ngerti akan hal itu. Gue minta maaf," ucap Darren.


"Sudahlah. Kita lupakan saja."


"Iya, iya! Lo benar. Terus apa rencana lo ke depannya? Apa kegiatan yang akan lo ambil di kampus ini?" ucap dan tanya Darren.


"Belum ada. Memangnya apa saja jenis kegiatan di kampus ini?" tanya Nandito.


Ketik Darren ingin menjawab pertanyaan dari Nandito, ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menjawab pertanyaan dari Nandito secara bersamaan.


"Banyak," jawab Qenan.


"Ada seminar, Penelitian dan Lomba!" Axel ikut bersuara.


"Dan ada juga kegiatan-kegiatan amal seperti Bakti Sosial dan Touring," sahut Jerry.


Nandito manggut-manggut kepalanya mendengar penjelasan dari sahabat-sahabatnya Darren.


"Kebetulan akhir bulan ini kampus kita akan mengadakan Touring ke kota Munich. Apa lo mau gabung?" tanya Darren.


"Memangnya boleh gue gabung? Gue kan bukan bagian dari tim Organisasi lo?" tanya Nandito dengan menatap wajah Darren.


"Memangnya ada yang larang lo gabung sama tim Organisasi gue? Kalau ada yang ngelarang lo, kasih tahu gue sekarang. Gue bakal buat tamat tuh hidupnya," ucap Darren dengan seenaknya.


"Enak ya kalau ngomong," ejek Rehan.


"Nggak ada beban sama sekali," ejek Darel.


"Darren gitu loh!" seru Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


"Otak psikopat," ejek Qenan dan Willy.


"Diam kalian!" Darren berucap kesal sembari melempar ketujuh sahabat-sahabatnya itu dengan kertas yang sudah diremat olehnya.


"Hahahahahaha."


Darren kembali menatap wajah Nandito. "Bagaimana? Mau gabung?"


"Baiklah. Aku mau gabung di tim Organisasi lo," jawab Nandito mantap.


Darren tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari sepupunya itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.


"Lo akan jadi anggota gue. Posisi lo sama dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan."


"Hm." Nandito menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Darren sembari tersenyum.


***

__ADS_1


*Di lokasi Touring..


Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Gilang, Darka serta yang lainnya saat ini sedang mengobati luka-luka beberapa warga desa yang terkena ledakan bahan kimia tersebut.


Ketika semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tiba-tiba saja datang seorang pemuda yang memanggil nama Darren.


"Darren!"


Darren yang dipanggil langsung menolehkan wajahnya melihat kearah orang itu. Dapat Darren lihat seorang pemuda yang tampak ngos-ngosan. Darren berpikir bahwa pemuda itu habis berlari.


Darren berdiri lalu berjalan menghampiri pemuda itu.


"Ada apa?"


"Begini. Saya ingin memberitahu bahwa sepupu kamu yang bernama Nandito dalam bahaya. Nandito berlari kearah lokasi yang mana lokasi itu adalah lokasi larangan."


Seketika tubuh Darren menegang ketika mendengar penjelasan serta informasi dari pemuda di hadapannya.


"Kenapa sepupu saya itu bisa kesana?"


"Saya tidak tahu. Tapi yang saya dengar kalau Nandito berlari sembari memanggil nama kamu. Dan wajahnya juga seperti khawatir gitu. Saya rasa Nandito pergi kesana karena dia berpikir kamu ada disana. Dia bermaksud untuk menolong kamu."


"Dimana lokasinya?"


"Ada di sebelah barat."


"Baiklah."


Setelah itu, Darren langsung pergi meninggalkan lokasi kegiatan untuk menuju lokasi dimana sepupunya berada*.


Flashback Off.


"Hiks... Lo baru beberapa hari menjadi mahasiswa di Kampus yang sama dengan gue, tapi lo.. Hiks.. udah mendapatkan masalah. Hiks," ucap Darren disela isakannya.


Mendengar ucapan demi ucapan serta isak tangis Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan juga ikut menangis. Begitu juga dengan Noe, Enzo, Devian, Ziggy dan Chico. Mereka semua benar-benar tidak tega melihat kondisi Darren saat ini.


Ketika Darren sedang bersedih, tiba-tiba tangannya digenggam oleh Nandito dengan kuat sehingga membuat Darren terkejut.


Detik kemudian..


"Gue baik-baik saja, Ren! Lo jangan nangis ya. Dan apa yang terjadi sama gue. Semua itu adalah musibah. Bukan karena lo."


Darren seketika langsung menatap kearah wajah Nandito. Dan dapat dilihat olehnya bahwa Nandito telah membuka kedua matanya sembari tersenyum menatap dirinya.


"Nandito." Darren berucap lirih dengan disertai air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Gue baik-baik saja, Ren! Udah ya jangan nangis lagi," ucap Nandito menghibur sepupunya itu.


Seketika Darren menyentuh dada kirinya. Dan kemudian Darren merematnya kuat.


"Ren, lo kenapa?" panik Nandito ketika melihat Darren yang tiba-tiba meremat dada kirinya.


"Darren!" teriak Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Chico, Enzo, Devian, Noe dan Ziggy bersamaan.

__ADS_1


Qenan, Axel, Darel, Chico, Enzo, Devian, Noe dan Ziggy langsung menghampiri Darren. Begitu juga dengan Chico, Enzo, Devian, Noe dan Ziggy. Mereka semua menatap khawatir kearah Darren.


__ADS_2