KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pembalasan Ketujuh Sahabat Darren


__ADS_3

Di halaman kampus terlihat keributan dimana tiga puluh kepala keluarga atau tiga puluh pasang orang tua dari tiga puluh anak-anaknya yang berkuliah di kampus tersebut melakukan demo.


Mereka melakukan demo tersebut demi meminta keadilan kepada rektor, wakil rektor bahkan para pengurus kampus untuk anak-anak mereka.


Mereka semua mendapatkan laporan mengenai anak-anaknya yang mendapatkan perlakuan tak adil dari pihak kampus. Bahkan anak-anaknya juga mendapatkan perlakuan buruk beberapa bulan belakangan ini.


Yang membuat para orang tua yang sedang berdemo di halaman kampus marah besar adalah pihak kampus tidak memberikan hukuman kepada para pembully. Bahkan pihak kampus tidak bersikap adil terhadap anak-anaknya.


Para orang tua tersebut berteriak mengeluarkan amarah mereka masing-masing. Bahkan para orang tua itu merusak apa saja yang terlihat di sekitar kampus tersebut.


[Anak-anak kami kuliah disini tidaklah gratis]


[Kami para orang tua membayar setiap tahun uang kuliah anak-anak kami]


[Kami para orang tua sudah mengikuti semua aturan dan prosedurnya]


[Kenapa anak-anak kami diabaikan, dikucilkan. Bahkan anak-anak kami tidak mendapatkan perlakuan adil dari kalian!]


[Jangan kalian pikir kami tidak tahu apa yang kalian lakukan terhadap anak-anak kami!]


[Kalian hanya peduli terhadap anak-anak donatur itu]


[Sementara anak-anak kami, kalian mengabaikannya]


[Kalian tidak peduli masalah yang dihadapai anak-anak kami!]


[Kami tidak terima kalian memperlakukan buruk anak-anak kami]


[Kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum!]


Itulah sepenggal kata-kata dan ungkapan kemarahan dari para orang tua yang anak-anaknya mendapatkan perlakuan buruk dan perlakuan tak adil selama di kampus.


Sementara wakil rektor, dekan dan para dosen hanya diam dan takut. Bahkan mereka terkejut ketika mendengar salah satu orang tua dari mahasiswa akan membawa masalah ini ke jalur hukum.


"Kemana mahasiswa itu? Kenapa lama sekali memanggil ketujuh sahabatnya Darren? Hanya mereka yang bisa menyelesaikan masalah ini," batin wakil rektor itu sembari tatapan matanya melihat kearah dimana kelas Darren dan ketujuh sahabatnya berada.


"Pak, bagaimana ini?" tanya Dekan berbisik di telinga wakil Rektor itu.


"Kita tunggu sebentar lagi. Aku yakin Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan akan datang untuk membantu menyelesaikan masalah demo ini," ucap wakil rektor yakin.

__ADS_1


"Tapi ini sudah dua puluh menit kita berada disini, tapi mereka tidak datang juga," ucap Dekan itu lagi.


Ketika wakil Rektor dan Dekan sedang berbicara, tiba-tiba orang-orang yang mereka bicarakan datang.


"Itu mereka datang, Pak!" seru salah satu Dosen perempuan.


Mereka semua melihat kearah tunjuk Dosen perempuan itu. Dan mereka semua dapat melihat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan melangkah menghampiri mereka semua dengan membawa tas masing-masing di bahunya.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan datang bersama Brenda dan ketujuh sahabatnya.


"Akhirnya kalian datang juga!" seru wakil rektor itu dengan senyuman lebarnya.


Di halaman kampus itu tampak ramai. Bukan hanya ada para pendemo, wakil rektor, dekan dan para dosen. Melainkan di halaman kampus itu juga ada mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan masing-masing. Semuanya berkumpul di sana.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum. Lebih tepatnya senyum menyeringai.


"Apa anda pikir kedatangan kami kesini untuk membantu anda menyelesaikan masalah demo itu?" tanya Jerry.


"Pikiran anda sangat jauh meleset," ujar Axel.


"Kami datang kesini bukan untuk membantu anda dan antek-antek anda itu. Justru kedatangan kami kesini karena kami ingin pulang. Kuliah kami sudah selesai," ucap Dylan.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan menatap tajam wajah wakil rektor itu.


Sementara wakil rektor, dekan dan para dosen yang melihat tatapan mata dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan seketika merinding. Mereka takut ketika melihat tatapan dari ketujuh mahasiswanya itu.


Setelah puas memberikan tatapan mematikannya kepada orang yang sok berkuasa di kampus. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan melihat kearah para pendemo tersebut.


"Para tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Perkenalkan saya Axel, sahabat dari mahasiswa bernama Darrendra Smith. Sahabat saya itu adalah penanggung jawab di kampus ini. Pemilik kampus ini atau dengan kata lain Rektor kampus ini telah memberikan wewenang penuh akan kampus ini. Kadi sahabat saya itu bertanggung jawab atas semua, termasuk anak-anak dari tuan-tuan dan nyonya-nyonya!"


"Kami tahu alasan kalian melakukan demo di kampus ini. Kalian melakukan itu semua karena anak-anak kalian tidak mendapatkan keadilan dan selalu diperlakukan buruk selama di kampus, benar bukan?" ucap dan tanya Qenan.


"Benar," jawab para pendemo itu secara bersamaan.


"Apa yang dialami anak-anak kalian, itu juga yang dialami oleh kami. Begitu juga dengan sahabat kami Darrendra Smith! Hanya saja disini kami berani melawan. Sementara anak-anak kalian tidak ada keberanian sama sekali," sahut Rehan.


"Dulu hanya beberapa mahasiswa dan mahasiswi saja yang suka membully teman-teman kampusnya. Atas kerja keras kami dan kepedulian kami. Kami berhasil mengurangi tindakan bully di kampus ini. Selama beberapa bulan ini tidak ada lagi pembullyan," ucap Willy.


"Namun lima bulan belakangan ini pembullyan itu kembali lagi. Yang menjadi tersangkanya adalah orang yang berbeda. Bahkan bukan hanya satu, melainkan 64 mahasiswa dan mahasiswi." Axel berbicara sembari melirik sekilas kearah wakil rektor itu.

__ADS_1


Para pendemo atau para orang tua dari anak-anaknya yang tersakiti terkejut ketika mendengar ucapan dari Axel.


"Aku punya dua cara untuk kalian mendapatkan keadilan untuk anak-anak kalian!" seru Jerry.


Mendengar perkataan dari Jerry membuat para pendemo itu langsung menatap tepat di mata Jerry.


"Apa itu?"


"Katakan pada kami!"


Jerry tersenyum ketika mendengar pertanyaan antusias dari para pendemo. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan.


Sedangkan wakil rektor sudah keringat dingin ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan.


"Pertama, kalian bisa langsung membuat laporan ke kantor polisi akan perlakuan tak adil pihak kampus. Aku akan memberikan rekomendasi seorang polisi kepada kalian. Kalian akan sangat puas dengan kerja polisi itu." Jerry berbicara sembari melirik kearah wakil rektor itu.


"Kedua, aku dan sahabat-sahabatku akan membantu kalian memberikan hukuman untuk para pembully yang telah membully anak-anak kalian. Dan juga akan sikap tak adik pihak kampus. Lebih tepatnya! Sikap tak adil yang dilakukan oleh wakil Rektor. Dialah yang menjadi dalang selama ini. Dia bertindak sesuka hatinya selama di kampus ini!" Jerry berbicara sembari tatapan matanya menatap satu persatu para pendemo itu.


"Untuk pemilik kampus ini dan juga untuk sahabat kami yaitu Darrendra Smith, mereka berdua sudah melakukan tugasnya dengan baik. Jadi jika kalian ingin melaporkan masalah ini ke polisi, laporkan saja wakil rektor itu. Bagaimana pun disini dialah yang bersalah. Untuk mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus ini hanya 64 saja yang bermasalah. Cukup mereka saja yang ditindak lanjut. Jangan melibatkan mahasiswa dan mahasiswi yang tak bersalah. Begitu juga dengan para dosen. Mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang dilakukan oleh wakil rektor mereka." Dylan berbicara sembari menjelaskan secara detail permasalahan di kampusnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan membuat para pendemo langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa mereka setuju apa yang mereka dengar.


Sementara untuk 64 mahasiswa dan mahasiswi yang selama ini tidak menyukai Darren dan ketujuh sahabatnya serta wakil rektor seketika ketakutan ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan.


Sedangkan mahasiswa dan mahasiswi yang tidak memiliki masalah apapun kepada Darren dan ketujuh sahabatnya tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka jika Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan bisa menyelesaikan masalah dengan sangat adil.


"Baiklah. Kami semua setuju akan perkataan kalian barusan. Kami akan melakukan apa yang kalian katakan barusan kepada kami semua," ucap seorang pria mewakili para pendemo lainnya.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum. Mereka seketika melihat kearah wakil rektor yang saat ini hanya diam membeku di tempatnya.


Setelah itu, mereka kembali menatap wajah para pendemo itu.


"Baiklah. Jika kalian butuh sesuatu. Datanglah pada kami. Kami akan membantu kalian," ucap Rehan.


"Baiklah. Terima kasih," jawab para pendemo itu bersamaan.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Kami akan membahas masalah ini kepada sahabat kami Darrendra Smith!" ucap Willy.


"Silahkan!" seru para pendemo itu.

__ADS_1


Setelah itu mengatakan itu, Willy pergi meninggalkan kampus dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda.


__ADS_2