KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Telepon Dari Rektor


__ADS_3

Darren saat ini sudah berada di rumahnya. Dan saat ini Darren masih tertidur di kamarnya.


Setelah selesai urusannya dengan keluarga Brenda. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Niat awalnya mereka akan menginap di rumah Brenda. Berakhir mereka membatalkan, karena rencana yang mereka rencanakan tidak memakan korban. Walau awalnya kedua kakak laki-lakinya Brenda ingin membunuh Charlie.


Disaat Darren sedang tidur di kamarnya. Anggota keluarganya saat ini sudah berada di ruang tengah. Sedangkan Agneta dan Carissa seperti biasa, keduanya berada di dapur membantu pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi.


Darka tiba-tiba berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju lantai dua. Niat Darka adalah untuk membangunkan adiknya.


Melihat Darka yang memuju lantai dua. Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang juga ikut berdiri dan menyusul Darka.


Kini Darka sudah berada di depan kamar adiknya. Tangan kemudian bergerak menyentuh kenop pintu.


Cklek!


Darka membuka pintu kamar itu. Setelah pintu kamar itu terbuka. Darka melangkah memasuki kamar tersebut dan diikuti oleh keempat kakak-kakaknya di belakang.


^^^


Darka, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang sudah berada di dalam kamar adiknya. Kakinya melangkah mendekati tempat tidur adiknya itu.


Setelah mereka berdiri di samping tempat tidur adiknya. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka seketika tersenyum. Mereka tersenyum menatap wajah damai adiknya ketika sedang tertidur.


Baik Davin, Andra, Dzaky maupun Adnan, Gilang dan Darka masing-masing mereka membelai rambut adiknya sehingga memperlihatkan kening putih adiknya itu. Dan detik kemudian, mereka secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening putih itu.


"Sehat terus ya, sayang!" Davin berbicara sambil menatap wajah tampan adiknya yang masih terlelap dengan nyamannya.


"Jangan sakit-sakit lagi," ucap Andra.


"Tetaplah tersenyum," ucap Dzaky dan Adnan.


"Berbahagialah," ucap Gilang dan Darka.


Dikarenakan mendapatkan sentuhan di kepalanya dan kecupan di keningnya. Seketika Darren membuka kedua matanya.


Melihat adiknya terbangun. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum hangat.


"Kakak," sapa Darren dengan suara seraknya.


Mendengar sapaan dari Darren. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka kembali tersenyum.


"Kita ganggu ya?" tanya Davin.


"Nggak," jawab Darren, lalu menduduki tubuhnya.


"Ada apa? Kenapa kalian semua ada di kamarku?" tanya Darren.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka kembali tersenyum kala mendengar pertanyaan dari Darren.


"Kita kesini mau bangunin kamu," jawab Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka kompak.


Darren seketika membulatkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari keenam kakak-kakaknya. Sedangkan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum menatap wajah lucu adiknya ketika terkejut.


"Kenapa harus semuanya? Kan bisa salah satu dari kalian saja?" tanya Darren bingung akan kelakuan keenam kakak-kakaknya.


"Memangnya kenapa?" tanya Davin.


"Nggak boleh jika kita semua kesini bangunin kamu?" tanya Andra.


"Kamu itukan adiknya kita semua. Jadi kita memutuskan untuk bangunin kamu bersama-sama," ucap Dzaky.


"Iyain aja deh," jawab Darren.


"Loh, kok gitu jawabnya?" tanya Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.


"Kalau aku nanya lagi. Kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka bakal menjawab pertanyaanku. Terus aku nanya lagi. Gitu seterusnya. Ya, udah! Untuk mempersingkat waktu aku jawab singkat aja. Bereskan!"


Mendengar jawaban dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum.


"Okelah," jawab mereka bersamaan lagi.


"Aish!"


Darren bangkit dari posisi duduknya, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dan tak lupa menarik handuknya yang tergantung di jemuran handuk di dinding depan kamar mandinya.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum ketika mendengar nada kesal dan wajah merengut adiknya.


"Ya, sudah! Lebih baik kita ke bawah. Kita tunggu Darren nya di bawah saja," sahut Davin.


"Hm." Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darren untuk menuju ruang tengah di lantai bawah.


^^^


Kini semuanya sudah berada di meja makan lengkap dengan Darren. Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Darren, sayang!" Erland memanggil putranya dengan lembut.


"Iya, Papa." Darren menatap wajah ayahnya itu.


"Bagaimana dengan masalah keluarga Brenda? Apa sudah selesai?" tanya Erland.


"Sudah, Papa! Pembunuh itu sudah dibawa ke kantor polisi. Sementara ketiga anak-anaknya di kirim ke kota terpencil yang jauhnya memakan waktu tiga hari tiga malam dari kota Berlin," jawab Darren sembari mengunyah makanannya.


"Tidak ada yang terlukakan, sayang?" tanya Agneta.


"Tidak ada, Mama."


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua bernafas lega. Itulah yang mereka harapkan.


"Saat kamu ikut membantu keluarga Brenda. Kamu nggak merasakan sakit apapun kan sayang?" tanya Carissa dengan menatap wajah keponakannya itu.


Mendengar penuturan dari Bibinya. Seketika Darren menghentikan kunyahannya. Darren menatap wajah Bibinya. Setelah itu, Darren menatap wajah ayah, ibu, Pamannya, keenam kakak-kakaknya, ketiga kakak sepupunya dan kelima adik laki-lakinya.


Sementara anggota keluarganya yang kini tengah menatap dirinya merasakan bahwa ada yang disembunyikan oleh Darren. Mereka bisa melihat dari tatapan mata Darren.


"Sayang," panggil Erland.


"Aku baik-baik saja, Papa! Papa tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja," ucap Darren.


"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu, Ren!" batin para kakak-kakaknya.


"Maafkan aku Papa, Mama, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka. Untuk saat ini aku belum bisa berkata jujur kepada kalian tentang kesehatanku. Aku belum bisa jujur bahwa aku beberapa hari ini sering sakit kepala. Aku janji aku bakal jujur sama kalian. Tapi untuk saat ini kalian tidak perlu tahu," batin Darren.


Darren menatap wajah kedua kakaknya yaitu Gilang dan Darka.


"Kakak Gilang, kakak Darka."


"Iya, Ren."


"Ada apa, hum?" tanya Gilang.


"Kakak Gilang dan kakak Darka ke kampus nggak hari ini?" tanya Darren.


"Iya, ke kampus. Kenapa?"


Darka dan Gilang menjawab secara bersamaan pertanyaan dari adiknya itu.


"Eemm. Gini kakak Gilang, kakak Darka. Hari ini aku lagi males ke kampus. Aku izin ya," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren. Gilang dan Darka tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Baiklah," jawab Gilang dan Darka.


Gilang dan Darka tersenyum penuh kebahagiaan ketika mendengar pujian dari Darren. Sedangkan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan dan Davian menatap horor Darren.


Sementara Erland, Agneta, Carissa, Evan dan kelima adik laki-lakinya tersenyum melihat wajah kesal Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan dan Davian.


Ketika semuanya tengah bahagia, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren.


Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darren melihat nama 'Rektornya' tertera di layar ponselnya. Seketika Darren mendengus ketika melihat nama Rektornya.


Melihat Darren yang merengut ketika menatap ke layar ponselnya membuat mereka berpikir pasti ada sesuatu.


Darka yang kebetulan duduk di samping Darren memiringkan kepalanya untuk melihat ke layar ponselnya adiknya. Dan dapat Darka lihat nama Rektornya di layar ponsel adiknya itu.


Setelah itu, Darka kembali pada posisinya. Darka melihat kearah Gilang yang kebetulan juga melihat dirinya.


"Siapa?" tanya Gilang dengan suara pelan.


"Rektor." Darka menjawab pertanyaan dari Gilang dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh adiknya itu.


Dikarenakan Darren yang lagi malas untuk berurusan dengan rektornya untuk beberapa hari ini. Darren pun memilih mengabaikan panggilan dari rektornya itu.


"Kenapa nggak diangkat, sayang?" tanya Erland.


Darren melihat wajah ayahnya, lalu tersenyum. "Males ngomong sama situa itu," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Erland dan yang lainnya, kecuali Gilang dan Darka menatap bingung Darren.


"Situa? Maksud kamu apa sih, Ren?" tanya Davian.


Darren hanya diam dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Davian. Bukan Darren sengaja tidak mau menjawab pertanyaan dari Davian, kakak sepupunya itu. Darren memang belum mood untuk membahas masalah rektornya itu.


Melihat keterdiaman adiknya. Gilang pun berinisiatif untuk menjawab pertanyaan dari Davian.


"Maksuda Darren ngomong 'situa' itu adalah rektor di kampus," sahut Gilang.


Mendapatkan jawaban dari Gilang membuat Davian dan anggota keluarganya pun langsung paham.


"Maaf kalau Mama lancang, sayang!" seru Agneta.

__ADS_1


Darren menatap wajah ibunya. "Iya, Mama! Ada apa?"


"Apa belum ada kejelasan dari Rektor kamu itu tentang alasannya memecat kamu dari ketua organisasi di kampus?" tanya Agneta.


"Sekali pun situa itu tidak ngomong apa-apa. Aku sudah tahu alasan dia memecatku dari jabatanku di kampus," jawab Darren.


"Apa tidak sebaiknya bicara baik-baik sama rektor kamu," ucap Evan.


"Nggak," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren. Mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


Ketika Davin ingin bertanya, ponsel milik Darren kembali berbunyi. Dan yang menelpon Darren adalah orang yang sama.


Darren yang melihat nama rektor seketika ingin mematikan panggilan tersebut. Namun Darka dan Gilang terlebih dahulu berseru.


"Darren, jangan dimatikan!" seru Darka.


"Angkat dan bicaralah," ucap Gilang.


Darren menatap wajah kedua kakaknya itu. Dan jangan lupa bibir yang dimanyunkan. Sedangkan Gilang dan Darka hanya memperlihatkan senyuman khasnya kepada adiknya yang saat ini sedang kesal.


Dan pada akhirnya, Darren pun menjawab panggilan dari rektornya itu.


"Hallo." Darren menjawab dengan nada ketus.


Anggota keluarganya hanya geleng-geleng kepala mendengar nada ketus Darren.


"Kenapa seperti itu menjawab panggilan dari saya."


"Terus anda maunya seperti apa? Apakah anda mau saya berbicara lembut seperti perempuan, hah?!"


"Tidak seperti itu juga. Setidaknya jawablah panggilan dari saya dengan nada sopan."


"Hahahaha. Sopan kata anda. Maaf! Saya nggak bisa bersikap sopan dengan anda. Rasa hormat dan kesopanan saya terhadap anda sudah hilang. Jadi jangan mengharapkan akan hal itu lagi dari saya."


Mendengar ucapan dan jawaban dari Darren membuat rektor tersebut sakit. Hatinya benar-benar sakit ketika Darren berbicara seperti itu. Tapi rektor tersebut tidak marah kepada Darren karena dirinya sadar bahwa Darren menjadi seperti ini itu juga karena ulahnya.


"Saya minta maaf kepada kamu. Bisa kita bicara baik-baik."


"Bukankah sekarang kita sedang berbicara?"


"Ach, maksud saya. Kita berbicara untuk membahas masalah itu. Kamu ke kampuskan hari ini."


"Nggak. Hari ini aku nggak ke kampus. Kemungkinan aku bakal keluar dari kampus anda itu."


Mendengar jawaban dari Darren membuat rektor tersebut terkejut. Dirinya tidak menyangka jika keputusan memecat Darren dari jabatannya hanya karena ancaman dari ayahnya Jessica membuat Darren marah dan berakhir ingin keluar dari kampusnya.


"Darren, kamu bercanda kan?"


"Aku tidak bercanda. Aku serius."


"Saya mohon, Darren. Saya akui saya salah. Tolong jangan keluar dari kampus. Tetaplah menjadi mahasiswa saya. Jika kamu tidak ke kampus hari ini. Tak masalah. Saya memberikan izin untukmu. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu. Saya akan menunggu kamu sampai kamu kembali ke kampus."


Setelah mengatakan itu, rektor tersebut pun langsung mematikan panggilannya.


"Dasar egosi," sahut Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua menatap kearahnya.


"Egosi," ucap mereka semua bersamaan.


Darren menatap satu persatu anggota keluarganya yang juga menatap dirinya.


"Apa?" tanya Darren.


"Kamu itu mahasiswa atau anak sekolah dasar, sih?" tanya Tristan.


"Mahasiswa lah," jawab Darren.


"Terus tadi kamu ngomong apa?" tanya Daffa.


"Emangnya aku ngomong apa?" tanya balik Darren.


Mendapatkan pertanyaan dari Darren membuat Daffa, Tristan dan Davian dengan kompaknya menepuk kening masing-masing.


Sementara yang lainnya tersenyum melihat perang mulut antara Darren melawan Daffa, Tristan dan Davian.


Darren yang melihat ketiga kakak sepupunya menepuk keningnya makin dibuat bingung.


Dan detik kemudian...


Darren berdiri dari duduknya. Setelah itu, Darren pergi meninggalkan meja makan untuk menuju ruang tengah. Jika dirinya lama-lama di ruang makan. Dirinya benar-benar akan gila.


"Mau kemana?" tanya Tristan.


"Pergi menjauh dari kakak Daffa, kakak Tristan dan kakak Davian. Kalau aku terlalu lama menatap wajah kalian. Perut aku bisa mules," jawab Darren.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Darren membuat Daffa, Tristan dan Davian mendengus. Sementara yang lainnya tertawa.


Yang paling kencang tertawanya adalah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Kelimanya begitu semangat melihat kakak kesayangannya membully ketiga kakak sepupunya.


__ADS_2