
Rolando Santa saat ini tengah berada di ruang kerjanya. Beberapa jam yang lalu dia baru saja mendapatkan kiriman video tentang adik laki-lakinya. Di dalam video itu menayangkan kondisi adik laki-lakinya yang dalam keadaan tak baik-baik saja. Banyak luka di seluruh tubuhnya dan beberapa luka di wajahnya.
Rolando tidak tahu siapa yang mengirimkan video tersebut. Dia benar-benar marah terhadap pelaku yang menyandera dan menyiksa adik laki-lakinya itu.
Kemarahannya semakin bertambah ketika Rolando hendak menghubungi tangan kanannya. Namun tiga tangan kanan yang bekerja untuknya tidak ada satu pun menjawab panggilannya. Tujuannya menghubungi tangan kanannya itu untuk mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menyelamatkan adik laki-laki kesayangannya itu.
Prang!
Rolando membanting semua barang yang ada di ruang kerjanya itu. Dia mengeluarkan semua amarahnya.
"Kemana kalian semua, hah?! Aku berulang kali menghubungi kalian. Tapi tidak ada satu pun dari kalian yang menjawab panggilan dariku. Apa kalian coba-coba ingin mengkhianatiku! Awas kalian! Aku akan menghabisi kalian semua!"
Rolando berteriak marah di dalam ruang kerjanya. Dia saat ini benar-benar marah. Apalagi yang membuat alasan kemarahannya adalah adik laki-laki kesayangannya dalam kondisi tak baik-baik saja. Di tambah lagi sang adik laki-laki menangis sembari memanggil namanya dan menggumam kata maaf.
Mengingat wajah sedih dan mendengar ucapan maaf dari adik laki-lakinya itu membuat hati Rolando terluka. Dia tahu alasan adik laki-lakinya itu menangis dan menggumam kata maaf.
Adik laki-lakinya itu berpikir bahwa dia telah teledor sehingga musuh-musuhnya sang kakak berhasil menyekapnya. Dia telah melakukan kesalahan sehingga dia tertangkap dan berujung sang kakak yang akan keluar menyelamatkannya.
"Roger, kamu tida salah. Kakak sama sekali tidak menyalahkanmu. Yang salah itu adalah kakak. Kakak yang sudah membawa kamu masuk ke dalam permainan kakak. Kakak yang sudah melibatkan kamu dalam aksi balas dendam kakak atas kematian Daddy. Seharusnya kakak tidak melibatkan kamu. Seharusnya kakak mencari orang lain untuk melancarkan aksi balas dendam kakak. Tapi kakak justru memilih kamu. Maafkan kakak, Roger!"
"Kakak janji sama kamu. Kakak akan bebaskan kamu. Kamu harus bertahan sampai kakak datang."
Rolando berbicara sambil menangis. Dia merutuki kebodohannya karena telah melibatkan adik laki-lakinya.
Selama ini adik laki-lakinya menetap di luar negeri. Rolando tidak ingin kejahatan yang dia lakukan diketahui oleh adik laki-lakinya. Dia berusaha mati-matian menyembunyikan semuanya.
Namun siapa disangka, kejahatannya diketahui oleh adik laki-lakinya sehingga membuat sang adik laki-lakinya yang awalnya sempat kecewa dan marah terhadap dirinya.
Seketika kekecewaan dan kemarahan adik laki-laki mereda ketika mengetahui alasan dibalik kakak laki-lakinya melakukan kejahatan.
Melihat kakak laki-lakinya bekerja sendiri membuat Roger akhirnya memutuskan untuk membantu sang kakak laki-lakinya.
Namun niat baiknya selalu ditolak oleh kakak laki-lakinya itu. Alasan penolakan sang kakak laki-lakinya adalah kakak laki-lakinya itu tidak ingin dia melakukan apa yang dilakukan oleh kakak laki-lakinya. Kakak laki-lakinya itu ingin dia menjadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Kakak laki-lakinya itu ingin dia tidak mengikuti jejaknya.
Dan pada akhirnya, kakak laki-lakinya dengan terpaksa melibatkan dirinya dalam aksi balas dendam atas kematian sang ayah.
Kejahatan pertama kalinya yang dilakukan oleh Roger adalah menyamar atau mengaku sebagai Darrendra Smith, putra ketujuh dari Erland Faith Smith. Di tambah dengan kejahatan kedua yaitu bermusuhan dengan Darren dan ketujuh sahabatnya ketika di kampus. Berlanjut dengan kejahatan ketiga yaitu menjadi mahasiswa nakal dan berandalan.
Sesungguhnya bahwa Roger adalah pemuda yang baik dan mahasiswa yang berprestasi. Rolando Santa berhasil mendidik adik laki-lakinya menjadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Dia tidak pernah mengajari hal-hal buruk kepada adik laki-lakinya itu, walau dia sendiri memiliki sifat buruk dan banyak kejahatan yang telah dilakukannya.
Rolando tidak akan rela jika adik laki-lakinya mengikuti jejaknya. Dia ingin adik laki-lakinya selalu melakukan kebaikan. Dan dia juga ingin adik laki-lakinya selalu melakukan hal baik tanpa ada kecurangan di dalamnya.
Karena ambisinya dan juga dendamnya sehingga membuat adiknya terlibat.
Ketika Rolando sedang memikirkan adik laki-lakinya. Dan di tambah lagi dengan kemarahan dan penyesalannya saat ini, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi, menandakan panggilan masuk.
Rolando melihat kearah layar ponselnya. Tertera nomor musuhnya di layar ponselnya.
Melihat nomor tersebut membuat kemarahan Rolando semakin besar. Dan tanpa membuang waktu lagi, Rolando menjawab panggilan tersebut.
***
Darren saat ini berada di perjalanan menuju kediaman Rolando Santa. Dia tidak sendirian, melainkan bersama ketujuh sahabatnya.
Darren menghentikan motornya sejenak hanya untuk menghubungi Rolando.
__ADS_1
"Hallo."
"Hallo, Rolando. Apa kabar?"
"Mau apa kau, hah?!"
"Tenang! Aku menghubungimu hanya ingin memberitahu sesuatu padamu. Apa kau tidak penasaran, hum?"
"Aku tidak peduli. Jangan ganggu aku!"
"Hahahaha. Hei, ada apa denganmu? Bukankah kau yang beberapa hari ini bersemangat menghubungiku. Setiap kali aku menghubungiku, kau selalu mengancamku. Tapi kenapa sekarang kau tidak ingin diganggu. Bahkan tidak ingin mendengar suara indahku ini."
Rolando tidak menjawab perkataan dari Darren. Saat ini yang ada di pikirannya adalah Roger adik laki-lakinya. Di rumahnya ada beberapa anak buahnya yang memang bertugas menjaga rumahnya sembari mengawasi setiap pergerakan dari orang-orang luar. Hanya ada sekitar 30 orang.
Rolando ingin mengirim ke 30 anak buahnya itu untuk menolong adik laki-lakinya, tapi dia tidak tahu dimana adik laki-lakinya itu disekap.
Tidak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya membuat Darren seketika tersenyum.
"Bagaimana Rolando? Apa kau tidak penasaran apa yang akan aku sampaikan?"
"Aku bilang. Aku tidak peduli!" bentak Rolando.
"Yakin kau tidak peduli? Bagaimana jika apa yang akan aku sampaikan ini ada hubungannya dengan adik laki-lakimu, tangan kananmu dan anggota-anggotamu?"
Mendengar ucapan dari Darren membuat Rolando mengepal kuat tangannya.
"Apa maumu, hah?!"
"Kan sudah aku katakan barusan. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Kau tahu Rolando bahwa adik laki-lakimu yang bernama Roger Santa ada di marka milik salah satu tangan kanan ayahku. Keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja."
"Brengsek kau, Darren! Adik laki-lakiku tidak salah. Kenapa kau melibatkannya!" bentak Rolando.
Mendengar ucapan dan bentakkan dari Rolando. Seketika membuat Darren tertawa.
"Hahahaha. Kau lucu sekali, Rolando! Kau bilang adik laki-lakimu tidak bersalah. Apa kau lupa bahwa adik laki-lakimu itu telah berani mencuri identitasku. Adik laki-lakimu itu berani mengaku sebagai diriku di depan ayahku. Dan bahkan adik laki-lakimu itu berani mengusirku dan mengusir putri angkatku dari keluarga Smith. Jadi sekarang, apa kau masih bisa menyebut adik laki-lakimu itu tidak bersalah!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Rolando terkejut. Dia tidak menyangka jika Darren mengetahui tentang penyamaran adik laki-lakinya.
"Dan satu hal yang harus kau ketahui, Rolando Santa! Ayahku, Erland Faith Smith sama sekali tidak Amnesia. Dia berpura-pura Amnesia agar bisa mengetahui rencana busukmu. Lalu setelah itu, ayahku akan menghancurkan rencana-rencana busukmu itu melalui adik laki-lakimu. Dan hasilnya, apa yang dilakukan oleh ayahku berjalan sangat sempurna."
Rolando terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren yang mengatakan bahwa ayahnya Erland Faith Smith sama sekali tidak mengalami Amnesia. Justru sebaliknya, ayah dari musuhnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Rolando! Akhiri dendammu padaku dan ketujuh sahabatku. Setidaknya, lakukan demi adik laki-lakimu. Aku tahu kau begitu menyayanginya. Kau rela melakukan apapun untuk adik laki-lakimu itu."
Rolando hanya diam mendengar ucapan dari Darren. Dia tidak berkomentar apapun untuk saat ini.
"Aku tahu sifatmu. Kau melakukan semua itu hanya karena dendammu atas kematian ayahmu. Kau marah kepadaku dan ketujuh sahabatku karena telah menghancurkan perusahaan milik ayahmu. Jujur, sebenarnya aku dan ketujuh sahabatku tidak ingin melakukan semua itu. Apalagi ayahku dan ayah dari ketujuh sahabatku. Namun disini, ayahmu yang bersalah. Jika saja ayahmu tidak bermain curang dengan menjebak perusahaanku, perusahaan ketujuh sahabatku dan perusahaan keluarga kami. Maka hal itu tidak akan terjadi."
"Aku, ketujuh sahabat-sahabatku dan keluarga kami tidak mempermasalahkan atau kami tidak pernah ikut campur setiap kali ayahmu berlaku curang dengan perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Kami semua membiarkan ayahmu melakukan sesuka hatinya."
"Tapi ketika ayahmu mengusik perusahaan keluargaku, perusahaan keluarga dari ketujuh sahabatku. Bahkan perusahaan milikku dan perusahaan milik ketujuh sahabatku. Kami tidak terima. Dan kami pun membalas perbuatan ayahmu itu."
"Sebelum ayahmu berhasil menghancurkan perusahaan kami. Maka kami yang terlebih dahulu menghancurkan perusahaan ayahmu. Dan kami berhasil. Bahkan kami pun berhasil mengembalikan semua yang telah diambil oleh ayahmu dan mengembalikan kepada sipemiliknya."
__ADS_1
"Ayahmu meninggal bukan karena kesalahanku atau pun orang-orang terdekatku. Ayahmu meninggal karena ulahnya sendiri."
Mendengar ucapan dan penjelasan dari Darren membuat Rolando terkejut. Dia akui bahwa ayahnya memang kerap kali bermain curang setiap berbisnis dengan rekan kerjanya. Dan kematian ayahnya bukan karena kesalahan Darren dan orang-orang terdekatnya.
"Rolando. Aku tahu kau pemuda yang baik. Kau sama seperti Samuel. Dulu kau dan Samuel pernah menjadi sekutu untuk melawanku dan ketujuh sahabatku. Bahkan tujuan kalian juga sama. Memiliki dendam padaku dan ketujuh sahabatku atas kematian ayah kalian.
"Jika dulu Samuel terpengaruh oleh perkataan Pamannya. Maka kau pasti terpengaruh akan perkataan seseorang yang mengatakan bahwa aku dan ketujuh sahabatku yang telah menyebabkan ayahmu meninggal. Bahkan keluarga kami ikut terlibat."
"Sekali lagi aku katakan padamu. Pikirkan baik-baik, Rolando! Hidupmu dan hidup adik laki-lakimu ada ditanganmu. Ingin hidup bahagia atau ingin menderita? Ingin tetap berada di dunia ini dan memperbaiki semuanya atau mengakhiri semuanya dengan nyawa sebagai taruhannya. Semua itu ada ditanganmu."
"Oh iya! Aku ingin menyampaikan pesan kepadamu. Ini pesan dari adik laki-lakimu ketika dia disiksa oleh anggota dari tangan kanan ayahku. Dia mengatakan bahwa dia sangat menyayangimu. Dia sama sekali tidak menyesal atas apa yang sudah dia pilih. Pilihan untuk membantumu dalam membalaskan dendam kematian ayahnya. Dan aku beritahu juga kepadamu bahwa kondisi adik laki-lakimu itu baik-baik saja. Bagaimana pun aku, ketujuh sahabat-sahabatku dan keluarga kami masih punya hati dan nurani. Kami tidak sekejam itu untuk menyakiti adik laki-lakimu. Luka-luka yang kau lihat di seluruh tubuhnya dan wajahnya, itu hanya luka buatan. Kami hanya menyiksanya sedikit. Tidak lebih dari yang kau lihat di video itu."
Di seberang telepon, tubuh Rolando Santa menegang dan berlahan bergetar ketika mendengar perkataan terakhir dari Darren yang mengatakan bahwa kondisi adik laki-laki kesayangannya baik-baik saja. Dan semua luka-luka itu adalah luka buatan.
"Temuilah adik laki-lakimu di Pledys Hospital. Dia ada di kamar 10 C. Kau bisa membuktikannya sendiri bahwa adik laki-lakimu baik-baik saja."
"Sekali lagi aku minta kepadamu, Rolando! Hentikan balas dendammu. Jika kau masih ingin melanjutkannya. Maka aku akan benar-benar melayanimu. Dan kali ini hanya antara kau dan aku. Tidak ada orang-orang terdekat kita yang terlibat. Hanya kita berdua."
Setelah mengatakan itu, Darren mematikan panggilannya. Darren seketika menatap ke depan. Ada perasaan lega di hatinya.
Beberapa jam yang lalu hati dan perasaannya tak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal. Namun Darren tidak tahu apa itu.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Rolando Santa. Perasaan tak enak itu hilang seketika.
Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap kearah Darren yang saat ini terdiam di posisinya dengan menatap ke depan setelah selesai berbicara dengan Rolando Santa di telepon.
"Ren," panggil Jerry dan Axel bersamaan.
Darren langsung melihat kearah Axel dan Jerry. Lalu tersenyum menatap keduanya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Axel.
"Aku baik-baik saja, Xel!"
"Apa kamu sudah yakin dengan apa yang kau katakan barusan kepada Rolando?" tanya Qenan.
"Iya, Nan! Aku sangat yakin."
"Bagaimana kalau Rolando itu akan...." Perkataan Willy terpotong karena Darren terlebih dahulu bersuara.
"Maka itulah kenapa aku mengatakan kepada Rolando bahwa hanya dia dan aku yang berurusan tanpa melibatkan siapa pun," jawab Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tak terima.
"Ren, tapi....." Perkataan Rehan terpotong.
"Sudahlah. Percayalah padaku! Semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya kepada Rolando Santa. Dia itu sama seperti Samuel Frederick. Sama-sama memiliki hati yang baik."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel akhirnya ikut mempercayai bahwa Rolando bisa dipercaya.
"Ya, sudah! Sekarang kita mau kemana?" tanya Darel.
"Pulang!" Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry dan Rehan menjawab secara bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari keenam sahabatnya membuat Darel mendengus. Sementara Darren hanya tersenyum.
__ADS_1
"Ya, sudah! Ayo kita pulang," ucap Rehan.
Setelah mengatakan itu, mereka semua pun pergi meninggalkan lokasi dimana mereka berhenti sejenak untuk menuju rumah masing-masing.