
Di ruang rawat Darren dimana Erland, Agneta, para putranya, Carissa, Evan dan ketiga putranya menatap sendu Darren. Mereka semua menangis melihat keadaan Darren saat ini. Wajahnya di pasang masker oksigen dan tubuhnya di pasang beberapa alat.
"Sayang. Bukalah matamu, Nak! Lihatlah Papa. Papa disini," ucap Erland lirih sembari tangannya mengelus lembut rambutnya dan mencium keningnya.
"Darren sayang. Mama juga disini, Nak! Ayo, bangunlah sayang!" Agneta menggenggam tangan Darren, lalu menciumi berulang kali.
"Darren," isak tangis Darka.
"Ren," lirih ketujuh sahabatnya.
CKLEK!
Pintu dibuka dan masuklah beberapa orang.
Kini semuanya telah berada di ruang rawat Darren. Mereka semua menatap sendu Darren.
"Ren. Kami datang!" seru Ziggy, Noe, Deviab, Enzo dan Chico bersamaan.
Beberapa menit kemudian, Agneta yang menggenggam tangan Darren merasakan tangannya digenggam oleh putranya. Hal itu sukses membuat Agneta terkejut dan juga bahagia.
"Darren sayang!" seru Agneta sembari menatap tangan putranya itu.
"Ada apa, Agneta?" tanya Erland.
"Darren. Tadi Darren menggenggam tanganku sayang," jawab Agneta.
Mereka yang mendengar penuturan dari Agneta secara bersamaan melihat kearah tangan Darren yang digenggam oleh Agneta. Mereka berharap tangan itu kembali bergerak.
Dan akhirnya harapan mereka pun terwujud. Mereka melihat tangan Darren bergerak.
"Darren."
Mereka semua tersenyum bahagia saat melihat Darren yang memberikan respon. Dan kali ini harapan mereka adalah Darren segera membuka kedua matanya.
Dan benar saja. Berlahan Darren membuka kedua mata bulatnya itu. Mereka yang melihat Darren yang membuka matanya tersenyum bahagia. Bahkan mereka semua menangis.
"Ren."
"Darren."
Darren melihat sekelilingnya dengan mata sayunya. Darren dapat melihat orang-orang yang begitu menyayanginya berada didekatnya. Tidak ada satu pun yang tidak dilihatnya. Semuanya hadir untuknya.
Melihat Darren yang sudah sadar. Celsea pun mendekati ranjang Darren.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, sayang?"
Darren menggelengkan kepalanya. "Aku tidak merasakan apa pun, Bibi."
"Apa kamu yakin?" tanya Celsea.
"Aku yakin, Bibi. Bibi tidak perlu khawatir," jawab Darren.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Celsea sambil menempelkan tangannya di dada kiri Darren.
"Baik. Aku tidak merasakan sakit apa pun."
"Baiklah."
__ADS_1
"Bibi."
"Ya, ada apa?"
"Lepaskan ini," tunjuk Darren pada masker oksigen yang menutup setengah wajahnya.
"Tapi kamu masih harus memakainya untuk beberapa jam lagi, sayang."
"Ayolah, Bibi."
Darren memperlihatkan wajah sendunya dan wajah memelasnya pada Celsea. Bahkan yang lainnya yang melihat wajah itu tidak akan pernah bisa tahan dan ujung-ujung pertahanan mereka akan hancur.
"Tapi, Darr..."
"Bibi.. hiks," ucap Darren terisak.
Mendengar isakan Darren membuat Celsea menjadi khawatir. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Mama," sela Radeva.
"Bibi te-tega padaku." Darren makin terisak.
"Baiklah... Baiklah. Bibi akan lepaskan semua alat yang menempel di tubuhmu dan juga masker oksigennya."
Akhirnya Celsea pun menuruti apa yang diinginkan Darren. Sementara Darren sudah tersenyum manis di balik masker oksigennya. Mereka yang melihat senyuman itu ikut bahagia.
Kini semua alat sudah terlepas, kecuali inpus yang masih tertancap di tangan kirinya.
"Terima kasih, Bibi. Bibi adalah yang terbaik," ucap Darren.
"Iya, ya! Ada maunya baru muji." Darren hanya tersenyum mendengar ucapan dari Celsea, Ibunya Axel.
Darren menatap sendu Darka dan Gilang. Seketika dirinya teringat kejadian saat dirinya bertengkar dengan Davin, kakak laki-laki tertuanya.
Flasback On
Mereka sudah berada di parkiran. Saat ini Davin sedang memaksa Darren untuk masuk ke dalam mobil. Darka pun datang dan menahan tangan Darren.
"Lepaskan Darren, Kakak Davin! Kau tidak bisa melakukan hal ini pada Darren," ucap Darka menatap marah Davin.
Darka berhasil melepaskan tangan Darren dari pegangan tangan Davin, lalu kemudian Darka membawa Darren menjauh dari Davin.
"Kau jangan ikut campur, Darka!" bentak Davin.
"Ikut campur katamu. Apa kau lupa, Davin Aldan Smith? Aku juga kakaknya Darren. Bukan kau saja. Jadi aku juga berhak untuk melindungi Darren!" bentak Darka.
"Tapi kakak ingin membawa Darren pulang ke rumah. Seharusnya kau mendukung kakak."
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku tetap mendukung Darren dan aku berada di pihaknya. Jadi siapa pun yang ingin menyakitinya, maka lawan aku!" Darka langsung pasang badan di hadapan Davin.
"Darka. Biarkan kami membawa Darren pulang!" seru Andra yang datang bersama yang lainnya.
"Davin, Andra. Sudah hentikan. Jika Darren tidak mau pulang bersama kita. Biarkan saja. Jangan dipaksa. Kasihan Darren," tutur Erland.
"Papa!" seru Davin dan Andra bersamaan.
"Darren. Kalau kamu ingin pulang ke rumah kamu. Pergilah! Kakak selalu mendukungmu," ucap Darka sembari mengelus pipi putih Darren.
__ADS_1
"Darka!" teriak Davin dan Andra.
Gilang berlari menuju Darka dan Darren. "Pergilah Darren. Jangan dengarkan kakak Davin dan kakak Andra. Kamu berhak untuk bahagia." Gilang berbicara lembut sembari mengelus lembut pipi putih Darren.
Seketika air mata Darren mengalir membasahi wajah tampannya. Hal itu sukses membuat Darka dan Gilang menjadi khawatir.
Detik kemudian, tiba-tiba rasa sakit itu kembali muncul.
"Aaakkkhhh." Darren meringis kesakitan sembari meremat dada kirinya.
"Darren," lirih Darka, Gilang dan Davin.
Gilang dan Darka menjadi khawatir melihat adik laki-lakinya yang kesakitan. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menghampiri Darren, Darka, Gilang dan Davin.
"Darren," lirih Erland dan Agneta.
"Aaakkkkhhhh." Darren berteriak kesakitan.
Seketika tubuh Darren terjatuh. Gilang dan Darka berhasil menahan tubuh Darren sehingga tidak mengenai aspal.
"Darren," isak Gilang dan Darka.
Darka memeluk tubuh Darren dan menangis disana. Darka benar-benar takut saat ini.
"Ka-kakak Darka," lirih Darren berucap terbata-bata.
Setelah mengucapkan kata itu, kesadaran mengambil alih tubuhnya.
Flasback Off
Saat mengingat kejadian itu. Tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya. Sejujurnya di dalam hatinya, Darren sudah menerima kedua kakak laki-lakinya itu.
"Darren." Darka menghapus air mata adik laki-lakinya itu.
"Kakak Darka." Darran berucap sembari terisak.
Mendengar isakan adiknya dan juga mendengar nama kesayangannya disebut membuat hati Darka menghangat. Akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Adiknya telah kembali lagi padanya.
"Kakak Darka, peluk."
Tanpa pikir panjang lagi, Darka langsung memeluk tubuh adiknya itu. Dan pada akhirnya, tangis mereka berdua pecah.
"Kakak... hiks... Kakak Darka..." Darren menangis terisak di pelukan kakak kesayangannya.
"Darren... Darren. Adik kakak yang paling kakak sayangi," Darka berucap disela-sela isakannya.
"Kakak rindu kamu, Darren. Maafkan kakak... Maafkan kakak," ucap Darka lagi.
Melihat Darka dan Darren saling berpelukan dan saling melepaskan rasa rindu membuat mereka tersentuh. Tapi tidak dengan Erland, Agenta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Mereka merasakan kecemburuan terhadap Darka. Darren sudah menerima dan memaafkan Darka. Sementara mereka belum mendapatkan maaf dari Darren.
Saat dalam pelukan, Darren menatap sendu Gilang.
Detik kemudian, Darren melepaskan pelukannya.
Kini Darren menatap wajah Gilang yang juga tengah menatap dirinya.
"Kakak Gilang."
__ADS_1
Darren memanggil kakak bantetnya itu dengan suara yang sedikit lirih dan tatapan yang menyenduh.