
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Di pagi yang ceria di kediaman keluarga Smith semua penghuninya sudah bangun dari tidurnya. Dan mereka semua saat ini telah dalam keadaan rapi. Mulai dari pakaian kantor, pakaian kampus dan seragam sekolah.
Mereka kini tengah duduk di ruang tengah sembari menunggu sarapan pagi disiapkan. Kebetulan waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, jadi mereka mencuri kesempatan untuk duduk bersama di ruang tengah.
"Kak Erland, bukannya besok adalah kerja sama besar-besaran dan juga proyek besar yang akan dikerjakan oleh lima belas Perusahaan terbesar dan terkenal. Dalam kerja sama ini, Perusahaan GT COMPANY menjadi tuan rumahnya?" tanya Evan.
"Iya, Evan!" jawab Erland.
"Bahkan kerja sama besok bukan hanya Perusahaan milik kak Erland saja, melainkan Perusahaan milik keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren juga ikut disana," sela Carissa.
"Iya, Carissa. Kakak juga baru tahu ketika diacara pameran lukisan beberapa hari yang lalu. Kakak tidak menyangka bahwa Ayah dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren adalah sahabat-sahabat kakak sendiri."
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Papa? Bukankah saat di rumah sakit itu, salah satu dari sahabat-sahabatnya Darren mengatakan bahwa Perusahaan GT COMPANY dan Perusahaan SF CORP bekerja sama ingin menghancurkan Perusahaan kita," sahut Andra.
"Saat salah satunya ingin membahasnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang bersama tiga pria dan beberapa polisi yang ingin menangkap Darren," sela Dzaky.
Mendengar ucapan dari Dzaky membuat mereka semua terdiam. Mereka juga bingung saat ini.
"Papa," panggil Adnan.
"Iya, sayang. Ada apa, Nak?"
"Bagaimana kalau Papa hubungi Darren saja! Minta pendapat Darren. Jangan sampai kita salah langkah dan kehilangan segalanya."
"Baiklah. Papa akan hubungi Darren sekarang."
Erland mengambil ponselnya, lalu menekan nama putra bungsunya 'kelincinya Papa'.
Beberapa detik kemudian, Erland mendengar suara dari putra bungsunya itu.
"Hallo, Papa."
Erland tersenyum lebar saat mendengar suara lembut dari putra bungsunya itu. Ini adalah panggilan kedua dari putra bungsunya setelah hubungannya membaik.
Anggota keluarganya yang melihat senyuman manis di bibir Erland ikut merasakan kebahagiaan. Semenjak kejadian enam bulan yang lalu, senyuman itu telah hilang. Yang ada hanya kesedihan dan penyesalan.
Sementara Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan kelima adik-adiknya merasakan kecemburuan terhadap suami dan Ayah mereka. Hanya mereka yang belum mendapatkan maaf dari Darren. Mereka ingin kembali seperti dulu lagi. Mereka ingin dipanggil dengan kata-kata sayang dari Darren.
Baik Agneta mau pun putra-putranya terus berjuang untuk mendapatkan maaf dari Darren. Sekalipun Darren menolak, mereka tidak akan pernah menyerah. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.
Mereka akan harus ekstra sabar untuk menghadapi Darren. Terutama Davin dan Andra. Mereka berdua berjanji. Untuk kali ini, mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mereka akan berusaha menjadi kakak yang benar-benar akan membuat adik-adiknya nyaman dan bahagia.
__ADS_1
"Papa. di Louspeaker panggilannya. Kami semua disini juga ingin mendengar suaranya Darren," pinta Andra.
Erland menganggukkan kepalanya lalu meloundspeaker panggilannya.
"Hallo, Darren sayang. Kamu ada dimana, nak?"
"Aku sudah berada di Perusahaanku, Pa! Hari ini aku hanya sendiri di Perusahaan."
"Loh, kok cuma sendirian. Biasanya ada Qenan dan Willy. Memangnya mereka kemana?"
"Mereka ada di rumah. Dan memang ini sudah rencanaku dan yang lainnya."
"Maksud kamu apa, sayang? Papa tidak mengerti."
"Hehehehe."
Mereka semua mendengar kekehan dari Darren di seberang telepon. Mendengar kekehan dari Darren membuat hati mereka semua menghangat.
"Papa bingung ya? Aku juga bingung mau jelasinnya kek gimana."
Mereka yang mendengar ucapan dari Darren hanya bisa tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala.
"Disingkat saja, sayang."
"Yang jelas saat ini aku memang menyuruh Qenan, Willy, Rehan dan Darel untuk di rumah dan dilarang pergi kemana-mana. Aku melakukan hal ini hanya ingin membuat musuh-musuhku percaya jika keempat sahabatku itu tewas dalam ledakan saat uji coba mobil-mobil itu. Sementara aku akan memperlihatkan sisi dukaku akan kehilangan mereka. Dan aku sangat yakin sekali jika dia akan datang menemuiku."
"Dia? Dia siapa sayang?"
"Dia itu adalah mantan calon menantu Papa. Awalnya aku sangat mencintainya. Aku tulus mencintainya. Bahkan aku juga berniat ingin menikahinya. Tapi dia telah berani mengkhianatiku."
Baik Erland maupun anggota keluarganya terkejut saat mendengar perkataan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren sudah memiliki seorang kekasih. Bahkan Darren berniat ingin menikahi kekasihnya itu. Mereka kembali merutuki kebodohan mereka yang tidak tahu menahu masalah Darren.
"Maafkan Papa, sayang."
"Kenapa Papa yang minta maaf. Sudahlah. Jangan dibahas lagi, oke!"
"Kalau Papa boleh tahu, apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu padamu, sayang?"
"Dia menjalin hubungan dengan laki-laki lain disaat dia masih berhubungan denganku. Dia selama ini hanya memanfaatkanku. Dia tidak benar-benar mencintaiku. Dia mau menjadi kekasihku karena aku berasal dari keluarga kaya. Dia hanya mengincar harta dan uangku saja. Saat dia tahu aku memutuskan pergi meninggalkan kalian semua. Seketika dia menghilang begitu saja tanpa ada kabar apapun. Dia kembali lagi setelah sekian lama menghilang. Dia kembali karena mengetahui bahwa aku telah menjadi sukses dan banyak uang."
Mendengar cerita dari Darren membuat mereka semua marah. Bahkan mereka semua menyumpahi wanita yang tidak tahu diri itu.
"Apa wanita yang kamu maksud itu adalah wanita yang memeluk kamu saat diacara Pameran Lukisan itu?"
__ADS_1
"Iya, Papa. Namanya Helena Orlando. Dan dia juga terlibat dalam masalah sabotase keempat mobil-mobilku."
"Oh iya. Papa menghubungiku ada apa?"
"Ach, iya! Papa lupa! Begini sayang. Besok adalah awal mulainya kerja sama besar-besaran dan juga proyek besar yang akan dikerjakan oleh lima belas Perusahaan terbesar dan terkenal, termasuk Perusahaan Papa. Dalam kerja sama ini, Perusahaan GT COMPANY menjadi tuan rumahnya. Apa yang harus Papa lakukan, sayang? Bukankah......" perkataan Erland terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu berbicara.
"Papa tidak perlu khawatir masalah itu. Para kakak-kakak mafiaku sudah mengurus semuanya. Papa sudah bertemu dengan mereka bukan saat di rumah sakit?"
"Iya, sayang. Papa sudah bertemu dengan mereka. Apa kamu yakin, nak? Papa tidak ingin kehilangan Perusahaan. Papa selama ini sudah mati-matian membangun Perusahaan ini. Papa tidak ingin kehilangan begitu saja. Perusahaan ini Papa bangun sejak pertama kali Papa kenal dengan Mamamu."
"Papa percayakan padaku?"
"Papa percaya padamu, sayang."
"Kalau Papa percaya padaku. Sekarang Papa dengarkan aku. Ikuti saja apa yang akan mereka lakukan saat kerja sama dan proyek itu besok. Dan Papa tidak perlu melakukan apapun. Buat seakan-akan dua Perusahaan itu berhasil menjebak Perusahaan Papa dan Perusahaan-perusahaan besar lainnya. Bahkan Willy, Qenan, Jerry, Axel, Dylan, Darel dan Rehan sudah membahas masalah ini dengan keluarga mereka masing-masing. Mereka menjebak kita. Justru nantinya merekalah yang akan masuk ke dalam jebakan yang mereka buat."
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka sedikit lega. Namun tidak bisa dipungkiri, masih ada rasa takut dalam diri mereka masing-masing.
"Apa kamu yakin, sayang. Papa benar-benar masih takut."
"Aku sangat yakin, Pa! Sudahlah, Papa jangan takut seperti itu. Positif thinking saja. Jika Papa ketakutan seperti itu, sama saja Papa ingin hal itu terjadi. Apa Papa mau?"
"Tidak. Papa tidak mau, sayang."
"Kalau begitu, berhenti untuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Cukup Papa berikan doa untuk para kakak-kakak mafiaku agar rencana mereka berhasil."
"Baiklah, sayang. Papa akan mendoakan keberhasilan kakak-kakak mafiamu itu. Dan Papa berusaha untuk membuang semua rasa takut Papa."
Semuanya tersenyum mendengar ucapan dari Erland. Begitu juga dengan Darren.
"Nah, itu baru namanya tuan Erland Faith Smith. Pemilik Perusahaan ER COMPANY. Perusahaan terbesar dan terkenal di dunia."
Mereka yang mendengar ucapan dari Darren tersenyum bahagia. Ada kelegaan dan kehangatan di hati mereka saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Darren.
"Papa. Sudah dulu ya! Ada seseorang yang ingin bertemu denganku."
"Baiklah, sayang. Tapi ingat, kamu jangan sampai kelelahan, oke! Jaga kesehatan."
"Siap, Papa."
"I Love You, sayang!"
"Love You To, Papa!"
__ADS_1
PIP!
"Lega rasanya!" seru Erland.