
Erland mengusap lembut kedua pipi putranya. Seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.
"Papa bangga padamu sayang. Maafkan Papa yang selama ini tidak mengetahui apapun tentangmu. Maafkan Papa yang tidak mengerti tentang keadaanmu selama ini. Papa telah gagal menjadi ayah yang baik untukmu."
Darren menggelengkan kepalanya. Tangannya menghapus air mata yang membasahi wajah ayahnya itu. "Papa tidak salah. Seburuk apapun Papa dulu padaku. Papa tetaplah orang tuaku. Aku tidak pernah membenci Papa. Sikap burukku dan sikap kasarku terhadap Papa beberapa hari ini itu semata-mata hanya untuk membalas perlakuan Papa padaku. Aku menyayangi Papa. Selamanya! Aku sudah kehilangan Mama. Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku tidak mau kehilangan Papa. Aku tidak mau terpisah dengan Papa. Aku mau selamanya Papa ada di sampingku. Menemaniku!"
Mendengar ucapan tulus dari putranya membuat Erland merasakan kebahagiaan dan kehangatan di hatinya. Dirinya bersyukur Tuhan memberikan putra yang tampan, baik, pintar, cerdas dan memiliki hati seperti malaikat.
"Sekarang katakan pada Papa. Kapan kamu membangun gudang yang terlihat seperti rumah ini, hum? Setahu Papa dulu gudang ini tidak ada. Hanya ada Paviliun saja. Itupun berdiri tepat di belakang rumah utama kita. Sementara gudang ini berjarak 100 meter dari rumah utama kita?"
Darren tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari ayahnya. "Sepertinya pertanyaan Papa barusan tidak bisa aku jawab langsung. Ini bukan waktunya untuk aku mengatakan sejak kapan gudang ini dibangun."
Darren menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. "Waktu kita tidak banyak. Bahkan waktu kita telah terbuang selama setengah jam karena membahas dari mana semua senjata-senjata ini," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren. Mereka semua mengangguk mengerti. Begitu juga dengan Erland.
"Ya, sudah! Sekarang bersiap-siaplah. Kalian ambillah beberapa senjata yang benar-benar kalian butuhkan untuk berperang nanti. Dan jangan lupa bawa sebanyak mungkin peluru-peluru itu. Jangan sampai kalian kehabisan peluru ketika sedang menghadapi musuh-musuh kalian. Peluru yang kotak hitam itu adalah peluru tajam yang ujungnya runcing. Bawalah yang itu!"
"Baik!" seru mereka semua dengan kompak.
Dan setelah itu, mereka semua pun menyiapkan senjata tempur masing-masing.
***
Zee dan Lian bersama 300 anggota mafiosonya bertugas untuk menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Qenan.
Diaz dan Radya bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Axel.
Garra dan Zidan bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Dylan.
Carly dan Leo bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Darel.
Tory dan Billy bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Rehan.
Jason dan Zoya bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Willy.
Yohanes dan Dirga bersama 300 anggota mafiosonya bertugas menghabisi 200 anggota yang menyerang rumah keluarga Jerry.
"Kalian semua sudah siap?" tanya Ziggy Chaim dengan menatap satu persatu para tangan kanannya dan juga para tangan kanan dari keempat sahabatnya. Beserta para mafioso.
__ADS_1
"Siap, King!"
Para tangan kanan para mafioso menjawab dengan penuh semangat. Mereka semua siap menjalankan tugas yang diberikan, walau nyawa sebagai taruhannya.
"Ingat! Berhati-hati dan selalu waspada ketika menghadapi lawan," ucap Enzo Federico.
"Jangan lengah," ucap Noe Alfredo.
"Kembalilah dalam keadaan hidup sekali pun dalam keadaan terluka," ucap Devian Aldebaran.
"Ini ambillah. Habiskan." Chico Emilio memberikan beberapa kontak kecil yang berisi obat.
Obat yang diberikan oleh Chico adalah obat untuk mengobati luka dalam jika tiba-tiba mendapatkan pukulan dan tendangan yang fatal. Dengan meminum obat tersebut jika seseorang mendapatkan pukulan dan tendangan keras pada tubuh yang sensitif dan rawan, maka obat itu akan melindunginya dari dalam. Jadi seseorang itu hanya akan merasakan luka luar saja. Sementara untuk luka dalam sudah terlindungi oleh obat tersebut.
Para tangan dan para mafioso tersebut mengambil masing-masing dua botol kecil. Setelah itu mereka langsung meneguk habis isinya.
"Kalian semua juga harus minum, karena malam ini kita akan menghadapi perang besar-besaran di rumah keluarga Darren!" seru Chico.
"Baik, King!"
Mereka semua pun mengambil masing-masing dua botol kecil yang ada di dalam kotak yang ada di hadapan mereka.
"Kalian juga," sahut Chico dengan menatap ke arah Devian, Enzo, Noe dan Ziggy.
Setelah dipastikan semuanya meminum obat tersebut, mereka pun memutuskan untuk berangkat ke tempat lokasi masing-masing.
"King, kelompok Samuel dan kelompok Gustavo sudah dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Darren." Justin melaporkan pergerakan kelompok Samuel dan Gustavo.
Justin mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya yang saat ini tengah memantau pergerakan para musuh.
Chico, Devian, Ziggy, Enzo dan Noe mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah. Ayo, kita berangkat! Adik-adik kita saat ini tengah berjuang melindungi keluarganya," sahut Ziggy.
"Hm." Devian, Enzo, Chico dan Noe mengangguk.
Setelah itu, mereka pun pergi melaksanakan tugas mereka masing-masing ke lokasi yang sudah ditentukan.
***
__ADS_1
Di kediaman keluarga Darren terdengar baku tembak di luar rumah. Samuel, Gustavo dan para kelompoknya sudah tiba di depan gerbang rumah mewah milik keluarga Darren.
Samuel dan Gustavo membawa pasukannya sekitar 1000 pasukan. Mereka mendapatkan tambahan pasukan dari beberapa kelompok yang mereka bayar.
Samuel dan Gustavo beserta pasukannya masuk dengan cara menghancurkan pagar tersebut.
Setelah pagar tersebut rusak parah. Samuel, Gustavo dan pasukannya langsung menyerang kediaman keluarga Darren dengan menghancurkan semuanya. Tak terkecuali paviliun belakang rumah keluarga Darren.
Pasukan Samuel dan Gustavo menghancurkan apa saja yang mereka lihat. Mereka tidak peduli jika ada nyawa yang melayang. Tujuan mereka adalah untuk menghabisi semua orang-orang yang ada di dalam rumah keluarga Darren.
Di paviliun Agneta, Carissa dan yang lainnya saat benar-benar ketakutan ketika mendengar suara tembakan dan juga suara ledakan dari luar paviliun. Bahkan mereka bisa melihat dari dalam banyak pasukan yang mendatangi paviliun tersebut.
"Mama, lihat! Mereka banyak sekali," sahut Adrian.
Baik Agneta, Carissa maupun para orang tua dari ketujuh sahabat-sahabat Darren melihat ke arah luar. Mereka semua benar-benar terkejut dan juga syok ketika banyak pasukan yang mendatangi paviliun tempat mereka berada saat ini.
Paviliun yang ditempati oleh Agneta, kelima putranya dan para ibu dari ketujuh sahabat-sahabat Darren serta para pekerja bisa melihat dari dalam rumah.
Sementara para pasukan yang kini menyerang paviliun itu tidak bisa melihat situasi di dalam paviliun tersebut. Kaca paviliun itu terbuat dari bahan yang elastis dan kuat. Dan dibuat khusus hanya bagian dalam paviliun saja yang bisa melihat situasi di luar.
"Kakak Adrian, apa mereka bisa melihat kita?" tanya Mathew ketika melihat beberapa laki-laki yang menatap ke arah mereka.
Mereka berpikir bahwa orang-orang itu tengah melihat ke arah mereka. Padahal tidak. Mereka hanya menatap ke arah kaca tersebut.
"Sepertinya tidak," jawab Adrian.
"Mama, aku takut." Salsa memeluk ibunya.
"Mama disini sayang."
"Tuhan, lindungilah suamiku, putra-putraku dan semua orang-orang yang saat ini tengah berjuang. Jangan sampai mereka semua terluka," batin Celsea berdoa.
Agneta, Carissa dan para ibu-ibu dari sahabat Darren hanya bisa memberikan dukungannya dengan cara mendoakan para suami mereka, putra-putra mereka dan juga para sahabat-sahabat dari suami dan putranya. Mereka semua ingin orang-orang yang mereka sayangi dalam keadaan baik-baik saja.
"Ya, Tuhan!" Sophia ibunya Willy terkejut sembari menutup mulutnya ketika melihat sekitar 50 orang mati dengan sangat mengenaskan ketika mereka ingin mendekati paviliun.
Mendengar pekikan dari Sophia membuat yang lainnya pun seketika melihat ke Sophia, lalu mereka melihat ke arah dimana arah pandang Sophia.
"Aakkhh!"
__ADS_1
Mereka semua berteriak ketika melihat mayat yang berserakan diluar dengan keadaan tubuh terpotong-potong.
Mereka semua benar-benar syok atas apa yang mereka lihat saat ini.