
Saat ini di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana keluarga Radmilo datang mengunjungi Agneta di kediaman keluarga Smith.
Robert begitu bahagia bisa bertemu dengan salah satu putri dari Belinda, adik perempuannya.
"Paman akhirnya bisa bertemu denganmu, Agneta!" Robert berbicara dengan sangat bahagianya.
"Begitu juga denganku, Paman Robert! Tapi..." Agneta seketika menghentikan ucapannya.
Melihat perubahan wajah Agneta membuat Erland dan putra-putranya ikut sedih.
Erland mengusap lembut punggung Agneta bermaksud untuk memberikan ketenangan padanya.
"Paman paham, Agneta! Apa yang kau rasakan. Itu juga yang Paman rasakan. Jika ibu dan kakak perempuanmu masih hidup. Mereka pasti ikut merasakan kebahagiaan ini." Robert berucap sembari menatap wajah sedih keponakannya itu.
"Sebenar Mama tidak membenci kakek. Mama berniat untuk pulang dan ingin bertemu dengan kakek. Mama pulang tidak sendirian, melainkan membawa kami keluarga kecilnya. Tapi Mama membatalkan niatnya itu."
Mendengar perkataan Agneta membuat Robert dan anggota keluarga Radmilo terkejut.
"Kenapa sayang? Kenapa Mama kamu membatalkan niatnya untuk pulang ke kediaman Radmilo?" tanya Deliana.
"Mama tidak ingin kakek kembali menghina Papa. Apalagi didepan kami, anak-anaknya."
"Mama mengatakan kepada Papa. Mama tidak akan pernah marah atau pun benci jika kakek membentak atau pun bersikap buruk terhadap Mama. Tapi Mama tidak akan pernah terima dan tidak akan pernah memaafkan kakek jika kakek kembali menghina dan memaki Papa. Bagi Mama, cukup sekali kakek bersikap buruk terhadap Papa dan keluarga Garcia. Dan Mama tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi."
"Sebenarnya Papa tidak akan marah dan juga dendam kepada kakek, jika hal itu benar-benar terjadi. Justru Papa akan langsung memeluk kakek dan meminta restu padanya ketika tiba di kediaman Radmilo. Papa akan berusaha semampu mungkin untuk mendapatkan hati kakek."
"Jika dulu Papa gagal mendapatkan restu dari kakek. Maka untuk yang kedua kalinya ini, Papa akan berusaha untuk mendapatkannya. Dikarenakan ketakutan Mama dan ketidaksukaan Mama akan sikap kakek. Pada akhirnya, Mama tidak jadi membawa kami pulang ke kediaman Radmilo."
Robert dan anggota keluarga Radmilo menangis ketika mendengar cerita dari Agneta mengenai niat dan juga ketakutan Belinda.
"Ini hanya masalah komunikasi saja. Baik Papa maupun Belinda, keduanya sama-sama memendam kerinduan," ucap Deliana.
Mendengar perkataan dari Deliana membuat Erland, Agneta, para putra-putranya, Carissa, Evan dan ketiga putranya menatap bingung Deliana.
"Maksud Nenek?" tanya Darka.
"Sebenarnya Papa juga sama seperti Belinda. Papa juga sangat merindukan Belinda dan ingin bertemu dengan Belinda. Bahkan Papa berjanji, jika Belinda pulang membawa suami dan anak-anaknya. Papa akan langsung memberikan pelukan hangat kepada putri, menantu dan cucunya. Orang pertama yang akan Papa peluk adalah menantunya, Darwin!"
Mendengar perkataan dari Deliana membuat Agneta dan keluarganya terkejut.
"Apa itu benar, Bibi?" tanya Agneta.
"Itu benar, Agneta!" Robert yang menjawabnya.
"Intinya disini, kakek yang tidak memiliki keberanian untuk menghubungi bibi Belinda dan memintanya untuk pulang. Sementara Bibi Belinda takut jika kakek akan bersikap buruk lagi kepada suaminya," ucap Damian.
Mendengar perkataan dari Damian membuat mereka semua menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Damian.
Ketika mereka tengah membicarakan tentang kedua orang yang begitu mereka sayangi, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darren melihat nama 'Fito' di layar ponselnya.
__ADS_1
Sementara anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Radmilo menatap kearah Darren.
"Hallo, Fito, Ada apa?"
"Gawat, Bos!"
Mendengar perkataan dan nada panik Fito membuat ekspresi wajah Darren berubah.
Melihat ekspresi wajah Darren membuat Erland, Agneta dan keluarga Smith lainnya menatap khawatir dirinya. Begitu juga dengan anggota keluarga Radmilo.
"Kenapa wajah Darren seperti itu?" batin Davin.
"Apa ada masalah?" batin Gilang dan Darka.
"Gawat kenapa? Katakan."
"Ada sekelompok mafia yang datang menyerang kediaman, Bos!"
"Apa?!"
Darren berteriak bersamaan dengan tubuhnya beranjak berdiri.
Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri dan juga berteriak membuat mereka semua khawatir.
"Ada berapa jumlah mereka?"
"Sekitar 50 orang, Bos!"
"Apa alasan mereka mendatangi rumahku?"
"Apa mereka bayaran dari pria itu?"
"Sepertinya bukan Bos!"
"Baiklah, aku akan segera kesana. Aku minta padamu dan yang lainnya hati-hati dan jangan sampai ada yang terluka."
"Ma-maaf Bos!"
Dor..
Belum sempat Fito menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba terdengar suara tembakkan di seberang telepon sehingga membuat Darren membelalakkan matanya.
"Fito!" teriak Darren.
Tidak ada jawaban dari Fito. Dan hal itu sukses membuat Darren khawatir.
"Fito, kau dengar aku!"
Tutt..
Tutt..
Panggilan terputus secara sepihak. Air mata Darren mengalir membasahi wajahnya, mata memerah, nafas memburu dan tangan kirinya mengepal kuat.
__ADS_1
Gilang dan Darka berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menatap khawatir Darren.
"Ren," panggil Gilang.
Darren langsung bergegas pergi menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah beberapa menit, Darren turun lengkap dengan jacket kulit coklat menutupi tubuhnya dan kunci motornya di tangannya.
Darren melangkah menuju pintu utama tanpa menghiraukan semua orang yang kini menatapnya.
Melihat kepergian Darren dalam keadaan yang tak baik-baik saja membuat Erland, Agneta, Carissa dan Evan khawatir. Begitu juga dengan putra-putranya dan keluarga Radmilo.
"Aku akan menyusul Darren!" seru Darka.
"Aku juga," sambar Gilang.
Darka dan Gilang pun pergi menyusul adik laki-lakinya. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren.
"Aku juga akan menyusul Darren!" seru Elzaro.
Elzaro pun pergi meninggalkan anggota keluarga Smith dan keluarga Radmilo. Elzaro tak lupa menghubungi kelima sahabatnya.
Erland mengambil ponselnya, lalu menghubungi tangan kanannya.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, tuan!"
"Hallo Marcel. Kau dimana? Sibuk tidak?"
"Saya di rumah, tuan! Tidak, tuan! Apa tuan membutuhkan tenaga saya?"
"Iya, Marcel. Aku membutuhkan tenagamu hari ini. Kau kenal dengan putraku bernama Darren kan?"
"Kenal tuan! Kenapa, tuan?"
"Putraku itu baru beberapa detik meninggalkan rumah. Putraku pergi dalam keadaan emosi."
"Ada masalah apa, tuan?"
"Putraku baru mendapatkan telepon dari tangan kanannya. Dan sepertinya terjadi sesuatu dengan anak buahnya putraku di kediaman putraku. Aku mau kau mengikuti kemana putraku. Atau setidaknya, cari tahu apa yang sedang terjadi."
"Baik, tuan! Saya segera melaksanakannya."
"Terima kasih, Marcel."
"Sama-sama, tuan."
Setelah itu, Erland mematikan panggilannya. Erland berharap semuanya baik-baik saja.
"Sayang," ucap Agneta sembari meremat lengan Erland.
Erland yang merasa rematan di lengannya langsung melihat kearah Agneta. Dan dapat dilihat oleh Erland tersirat ketakutan dari tatapan mata Agneta
__ADS_1
"Tenang, oke! Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja. Dan Darren tidak kenapa-kenapa." Erland berbicara sembari mengusap-ngusap lengan Agneta.