
Keesokkan harinya Darren, anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya melakukan pembalasan pertamanya.
Kini Darren bersama kedua orang tuanya dan keenam kakaknya berada di ruang tengah.
Sementara untuk Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berada di sekolah. Untuk Evan saat ini berada di kantor. Dan untuk Carissa, Daffa, Tristan dan Davian sedang bersama Erica di kediaman keluarga Chaim, keluarganya Ziggy.
"Apa rencana pertama kita, Ren?" tanya Davin.
Darren menatap wajah kakak tertuanya itu, lalu beralih menatap wajah anggota keluarganya yang lain.
"Aku sudah menjalankan rencana pertama sekaligus kedua," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Davin dan yang lainnya terkejut. Mereka tidak tahu kapan Darren memulai rencananya itu.
"Memangnya kapan kamu melakukannya?" tanya Dzaky.
"Kemarin! Awalnya hanya aku sendiri. Namun tiba-tiba Paman Evan datang dan menawarkan bantuan. Jadi, aku dan Paman Evan melakukan pembalasan pertama dan kedua," jawab Darren.
"Apa yang kamu dan Evan lakukan? Dan kapan dijalankan rencana itu?" tanya Erland.
"Nanti siang sepulang Paman Evan dari kantor. Dalam rencana itu Paman Evan seolah-olah sedang dalam perjalanan menuju markas milik Paman Ibra mengantarkan Erica. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Dan tempat yang akan didatangi oleh Paman Evan adalah sebuah gedung yang sudah tidak terpakai lagi. Gedung itu di make over oleh para tangan kanan dan anggota mafiosonya kakak Devian dan kakak Noe."
"Apa Paman Evan perginya sendiri?" tanya Adnan.
"Iya, tidaklah! Kakak Enzo sudah menyewa seorang anak perempuan lengkap dengan ibunya. Anak perempuan itu seusia dengan Erica. Bahkan postur tubuh anak perempuan itu juga menyerupai Erica. Jadi hal itu tidak akan dicurigai oleh Nicko. Paman Evan perginya bersama anak perempuan itu dan ibunya. Dan dikawal oleh dua mobil di depan dan di belakang. Jadi dengan begitu Nicko akan berpikir jika Erica memang benar-benar dibawa ke markas Paman Ibra. Dan Nicko akan mengerahkan semua orang-orang untuk mendapatkan Erica."
"Ketika semua anggota-anggotanya Nicko keluar dan hendak menyerang markas yang mereka yakini adalah markas milik Paman Ibra. Para anggota mafiosonya kakak Noe dan kakak Enzo akan menghabisi mereka semua."
Mendengar penjelasan dari rencana Darren membuat mereka tersenyum bangga.
"Lalu rencana keduanya apa?" tanya Gilang.
"Sama seperti dengan rencana pertama. Aku akan membuat Rolando kehilangan banyak anak buahnya. Paman Ibra berhasil membajak ponselnya Rogert. Rogert memiliki satu bar yang cukup terkenal di kota Hamburg. Banyak yang tidak suka dengan kesuksesan Rogert dalam mengelola bar nya itu. Nah, jadi aku dan Paman Ibra mengirimkan sebuah pesan ke nomor Rolando yang isinya mengatakan bahwa Rogert butuh sekitar 200 orang untuk datang ke bar miliknya karena ada sebuah kelompok dengan jumlah 300 orang akan menyerang dan menghancurkan bar miliknya. Dengan begitu, Rolando akan langsung memerintahkan semua anggota yang dia miliki untuk membantu masalah adiknya itu."
"Ketika semua anggota Rolando keluar untuk membantu Rogert. Para anggota mafiosonya kakak Chico dan kakak Devian menghabisi mereka semua."
Mendengar penjelasan dan rencana yang telah dipersiapkan oleh Darren dan kelima kakak-kakak mafianya membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum bahagia.
"Lalu apa yang bisa Papa bantu, sayang?" tanya Erland.
Darren tersenyum menatap wajah tampan ayahnya itu. "Papa tidak perlu melakukan apa-apa. Semua tugas-tugas Papa sudah dikerjakan oleh Paman Marcel dan Paman Ibra. Bukankah mereka tangan kanannya Papa? Jadi biarkan saja mereka yang menyelesaikannya. Tugas Papa sudah selesai ketika Papa berpura-pura Amnesia."
"Dan untuk kakak Davin, kakak Andra, dan kakak Dzaky. Aku minta kalian pulang ke kediaman keluarga Smith. Bagaimana pun di kediaman Smith harus ada tuan rumahnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Musuh kita kali ini sangat licik. Dua pengkhianat sudah kita temukan. Satu di kediaman Smith. Dan satu dari anggotaku. Jangan sampai kita kecolongan dengan adanya mata-mata baru."
Mendengar ucapan sekaligus perintah dari adikmembuat Davin, Andra dan Dzaky langsung menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.
"Baik, Ren!"
"Dan untuk kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka. Kalian tetap disini bersamaku, Papa dan Mama. Tugas kalian juga sama seperti kakak Davin, kakak Andra dan kakak Andra."
"Baik, Ren!"
***
Di kediaman Dilbara terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk di sofa ruang tengah dengan memegang sebuah gelas berisi wine yang sudah tinggal setengah.
Pria itu terlihat bahagia karena rencananya hari ini berjalan mulus dimana beberapa jam yang lalu tangan kanannya memberikan laporan bahwa salah satu anggota keluarga Smith pergi ke sebuah marka bersama dengan seorang anak perempuan.
Yang lebih membutuhkan Robert bahagia adalah bahwa anak perempuan itu tak lain adalah keponakannya yang akan sebentar lagi akan dia lenyapkan dari dunia ini agar dia bisa menguasai semua kekayaan orang tuanya, terutama milik ibunya.
"Anin, sayang! Sebentar lagi kita akan bertemu. Nanti kamu harus menyerahkan semua kekayaan milik kedua orang tua kamu itu untuk Paman." Monolog Nicko.
"Darren, sebentar lagi kau akan berpisah dengan putri angkatmu itu."
Nicko tersenyum ketika memikirkan kemenangannya di depan mata. Dan dia tidak sabar untuk melihat penderitaan dan kesedihan Darren ketika melihat putri angkatnya telah meninggal.
***
"Apa tuan Evan sudah siap?" tanya Zaky.
__ADS_1
"Sudah sangat siap," jawab Evan.
"Baiklah. Mari kita mulai penjebakan ini," sahut Diaz.
"Hm."
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan perusahaan Evan bersama dengan seorang anak perempuan bersama ibunya.
Informasi yang didapat oleh anggotanya Zaky dan Radya. Nicko hanya memiliki anak buah sebanyak 200 orang. Itu semua sudah termasuk tiga tangan kanannya. Dan informasi yang didapat oleh anggotanya Tommy dan Jason mengatakan bahwa yang akan menyerang Evan ketika sudah berada di tempat tujuan sekitar 100 orang.
Sementara sisanya berada di markas. Mendengar informasi tersebut. Noe sang ketua langsung memberikan perintah kepada anggota-anggotanya untuk menyerang markas milik Nicko Dilbara.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam mobil yang membawa Evan, seorang anak perempuan dan seorang perempuan beserta dua mobil yang mengawal mobil Evan tiba di lokasi tujuan.
Evan keluar dari dalam mobil dan disusul oleh seorang wanita. Dan terakhir keluar seorang anak perempuan dari dalam mobil.
Di sisi lain dan di tempat yang sama. Beberapa orang tengah mengawasi dan memperhatikan kearah mobil Evan.
"Kita tunggu beberapa menit. Kita harus memastikan dulu di sekitar kita. Setelah dipastikan aman. Baru kita masuk ke dalam dan menghabisi semua yang ada di dalam, kecuali nona Erica," ucap sang pemimpin yang tak lain tangang kanannya Nicko.
"Baik!" seru anak buahnya.
Mereka masih terus mengawasi markas yang dimasuki oleh Evan dan orang-orangnya.
Beberapa menit kemudian...
"Baiklah! Sudah waktunya kita masuk ke dalam dan menghabisi semuanya. Ingat! Bagaimana pun nona Erica harus dalam keadaan baik-baik saja. Mengerti!"
"Mengerti, Bos!"
"Ayo!"
Setelah itu, mereka semua pun menyerang markas tersebut dengan berbagai macam-macam jenis senjata di tangan masing-masing.
***
Darren menatap tajam kearah ketiga orang yang saat ini dalam keadaan terikat. Ketiganya itu adalah Lani sang pelayan di keluarga Smith, Lusiana Migael, perempuan yang pernah menghina putri angkatnya. Dan seorang pemuda yang pernah menjadi anggota dari tangan kanannya.
Dua dari tiga orang itu adalah orang yang dekat dengannya, tapi dengan kejinya, keduanya mengkhianati dirinya dan keluarganya.
Keadaan ketiganya saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja. Bagaimana tidak. Selama dua hari di kurung di dalam gudang. Ketiganya tidak diberi makan sama sekali. Jangankan makan. Minuman saja mereka tidak mendapatkannya. Darren benar-benar memberikan hukuman kepada ketiganya.
Jika dulu Darren dan ketujuh sahabatnya akan memberikan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati langsung darinya atau dari ketujuh sahabatnya.
Namun untuk sekarang ini, Darren dan ketujuh sahabatnya ingin bermain-main terlebih dahulu dengan ketiganya sebelum masuk ke hukuman yang sebenarnya.
Dengan tidak memberikan makan dan minum ketiganya itu sudah merupakan hukuman terberat yang diberikan Darren. Jika Darren mau, sejak kemarin ketiganya sudah tinggal nama.
Namun Darren tidak melakukannya. Justru dia ingin melihat wajah ketakutan ketiganya.
Bagi Darren, apa yang dialami oleh Erica. Mereka juga harus mengalami hal yang sama seperti Erica.
Sejak kejadian dimana dua mobil yang mengikuti mobil yang ditumpangi putri angkatnya itu sehingga hampir membuat nyawa putri angkatnya melayang. Sejak itulah putri angkatnya sering mengalami ketakutan. Bahkan menyebabkan traumanya muncul.
"Bangunkan mereka!"
"Baik, Bos!"
Fito memerintahkan beberapa anggotanya untuk membangun ketiga tersangka tersebut.
Byur..
Ketiga anggota Fito menyiram masing-masing seember air ke tubuh Lani, Lusiana dan mantan anggota Fito.
Mendapatkan siraman di tubuhnya, ketiganya pun terbangun. Mereka mengerjap-ngerjapkan matanya melihat keadaan sekitarnya.
"Nyenyak tidurnya, hum?" tanya Darren dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Tu-tuan Darren. Maafkan saya. Maafkan kesalahan saya yang sudah mengkhianati tuan Darren dan keluarga besar Smith," ucap Lani.
__ADS_1
Mendengar ucapan maaf dari mantan pelayannya itu membuat Darren hanya menatap dengan tatapan biasa. Tidak ada rasa kasihan sama sekali dari tatapan matanya itu.
"Apa dengan aku memaafkan kesalahanmu semua masalah yang sudah terjadi akan kembali seperti sedia kala? Apa dengan aku memaafkan kesalahanmu, rasa takut putriku akan hilang. Dan apa dengan aku memaafkan kesalahanmu, trauma putriku akan sembuh? Jawabannya adalah tidak! Semua itu tidak akan pernah bisa kembali. Karena ulahmu, putriku kembali mengingat masa-masa buruknya dimana dia menyaksikan kedua orang tua kandungnya dibunuh. Dan pelaku atas kejadian itu tak lain adalah Pamannya sendiri!"
"Sekarang katakan padaku! Apakah kau layak mendapatkan maaf dariku?!" bentak Darren dengan menatap marah kearah Lani.
"Seharusnya kau berpikir sebelum melakukannya. Demi ingin mendapatkan uang lebih, kau tega mengkhianatiku dan keluargaku yang selama ini sudah baik padamu. Aku dan keluargaku tidak pernah menganggapmu sebagai pembantu. Justru aku dan keluargaku menganggapmu sebagai bagian dari keluarga Smith. Tapi apa balasanmu. Kau membalas kebaikanku dan keluargaku dengan pengkhianatanmu. Yang lebih menjijikkan lagi adalah kau bekerja sama dengan perempuan murahan ini!" bentak Darren sembari menunjuk kearah Lusiana.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Lani menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah marah Darren. Di hati kecilnya, Lani merutuki kebodohannya yang mau menerima ajakan dari Lusiana hanya diiming-imingi uang banyak.
"Semua kebutuhanmu tidak pernah kekurangan. Ibuku dan bibiku selalu membelikanmu pakaian mahal agar nanti jika kau keluar dan berkumpul dengan teman-temanmu ketika di hari libur, kau tidak malu. Ayah dan kakak-kakakku juga sering memberikan uang lebih padamu. Mereka tahu jika kau ingin membeli sesuatu atau ingin mengirim uang kepada orang tuamu yang ada di kampung. Tapi ternyata semua itu tidak ada harganya di matamu. Kau malah mencari uang lebih dengan cara bekerja sama untuk menghancurkan keluargaku!"
Darren meluapkan semua emosi dan amarahnya di hadapan Lani, mantan pelayannya itu. Dia tidak akan pernah memaafkan pengkhianat yang dilakukan oleh Lani terhadap dirinya dan keluarganya.
Darren menatap kearah Lusiana. "Dan kau! Dulu kau pernah menghina putriku hanya karena putriku tidak sengaja menumpahkan minuman di bajumu. Bahkan putriku saat itu sudah meminta maaf kepadamu. Tapi kau dengan sombongnya membentak dan memaki putriku di depan semua orang. Kau bahkan bersikap angkuh di depanku dan keluargaku."
"Bukannya menyadari akan kesalahanmu ketika tuan Manaf Archey mengusirmu dan ibumu dari rumahnya. Justru kau kembali berulah dengan kembali mengusik putriku. Namun kali ini kelakuanmu sudah melampaui batas."
Darren mundur beberapa langkah dengan tatapan matanya menatap tajam ketiga manusia yang dalam keadaan terikat.
"Jangan harap aku akan memaafkan kesalahan kalian. Ada dua pilihan untuk kalian. Pertama, nyawa kalian sebagai taruhannya. Kedua, masuk penjara dan dihukum seumur hidup disana. Jangan harap aku memberikan kebebasan untuk kalian."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan gudang itu. Dan diikuti oleh Fito di belakang.
Setelah kedua pimpinannya keluar, salah satu anggota Fito menutup kembali pintu gudang itu.
***
Di gedung tempat dimana Evan, tangan kanan dan para anggota mafioso Noe dan
"Periksa semuanya. Jangan ada satu pun yang berhasil kabur."
"Baik, Bos!"
Ketika para anak buah dari Nicko melangkah masuk lebih dalam ke dalam markas tersebut, tiba-tiba terdengar bantingan pintu yang menandakan pintu tersebut tertutup rapat. Dan disusul dengan tirai jendela yang menutupi semua jendela sehingga keadaan dalam markas tersebut gelap.
Dan detik kemudian, terdengar suara sakral lampu dan seketika semua lampu-lampu menyala.
Deg!
Para anak buah dari Nicko Dilbara terkejut ketika melihat di sekeliling mereka telah berdiri dengan gagahnya beberapa orang berpakaian hitam lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.
"Selamat datang di marka kami, tuan-tuan!"
Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan. Mereka adalah Evan, Zaky, Razky, Diaz, Radya, Zoya, Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason.
"Mereka dari kelompok mafia Black Guerilla dan Almight Black!" seru salah satu anak buah dari Nicko.
Zaky, Razky, Diaz, Radya, Zoya, Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason keluar dengan wajahnya yang memakai topeng dengan lambang kelompok mafianya.
"Kenapa? Apa kalian takut?" tanya Zee di balik topengnya.
"Kalian datang kemari pasti ingin membawa nona Erica, bukan! Bagaimana kalau kalian melawan kami terlebih dahulu. Jika kalian menang. Kalian boleh membawa nona Erica bersama kalian," ucap Justin.
"Tapi jika kalian kalah, maka kalian harus menyerahkan nyawa kalian kepada kami," sela Zoya.
"Bagaimana?" tanya Tommy, Zee, Lian, Jason, Zaky, Razky, Diaz dan Radya bersamaan.
Tidak mendapatkan jawaban dari pihak musuh membuat Zaky, Justin dan yang lainnya menatap dengan senyuman di sudut bibir masing-masing.
Zaky, Razky, Diaz, Radya, Zoya, Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason saling memberikan tatapannya.
Setelah itu, mereka kembali menatap wajah-wajah para musuh-musuhnya. Begitu juga dengan Evan.
"Kalian. Serang mereka! Habisi mereka semua!" perintah Zaky dan Justin bersamaan.
Setelah memberikan perintah. Zaky, Razky, Diaz, Radya, Zoya, Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason melangkah mundur. Begitu juga dengan Evan. Mereka memutuskan untuk menyaksikan pertarungan tersebut.
Mereka semua tersenyum ketika melihat para musuh-musuhnya satu persatu tumbang dengan kondisi tubuh tak baik-baik saja.
__ADS_1