KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pelukan Kerinduan


__ADS_3

Semuanya sudah berkumpul di rumah Darren. Mulai dari keluarga Smith, keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren, keluarga Radmilo, ketujuh sahabatnya Darren dan kelima kakak-kakak mafianya.


Ketika melihat kedatangan mereka semua, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian dan Mathew terkejut.


Awalnya Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian dan Mathew terkejut ketika kedatangan Erica bersama pengasuh dan sang sopir dalam keadaan tak baik-baik saja terutama Erica. Lalu satu jam kemudian mereka kembali dikejutkan dengan kedatangan semua orang-orang terdekat mereka dan Darren.


Erland juga sudah menceritakan semuanya kepada anggota keluarganya dan orang-orang terdekat lainnya bahwa dia tidak benar-benar Amnesia. Dia juga sudah menjelaskan alasannya yang berpura-pura Amnesia.


Alasan Erland yang berpura-pura Amnesia adalah untuk membantu putra kesayangannya itu untuk menjebak Rolando Santa agar keluar dari persembunyiannya. Ditambah lagi, dia tidak ingin melihat putranya harus kembali bertarung melawan musuh-musuhnya. Dia tidak ingin putra kembali masuk ke rumah sakit setelah bertarung melawan musuh-musuhnya.


Bagi Erland, sudah cukup putra kesayangannya itu berjuang selama ini melindungi keluarganya. Dan sudah saat dirinya yang berjuang untuk melindungi istrinya, putra-putranya, adik perempuannya, saudara iparnya dan ketiga keponakannya.


Setidaknya dengan dia berpura-pura Amnesia. Orang yang bernama Rolando Santa itu akan muncul, walau tidak secara langsung.


Mendengar cerita dan juga alasan Erland yang berpura-pura Amnesia membuat mereka semua terkejut sekaligus bahagia. Mereka semua tidak menyangka jika Erland melakukan semua itu demi Darren.


Kini Erica sedang berada di pelukan Agneta. Sejak tadi Erica tak berhenti menangis. Bahkan ketika diperiksa oleh Celsea. Trauma Erica sempat muncul, walau hanya sebentar.


"Sayang, sudah dong. Kalau Erica nangis terus. Nanti kepalanya pusing," hibur Agneta.


"Takut," ucap Erica terisak.


"Erica tidak usah takut ya. Ada Om, ada Opa, Papa dan yang lainnya." Sophia juga ikut menenangkan Erica.


Ketika mereka berusaha untuk menenangkan Erica. Revina ibunya Rehan menyadari bahwa dia tidak melihat keberadaan Darren.


"Kenapa Darren belum sampai juga. Sementara Qenan dan Willy sudah disini?!"


Mendengar pertanyaan dari Revina membuat mereka semua tersadar kalau Darren belum sampai sejak tadi.


"Ach, iya! Kenapa Darren belum juga sampai. Seharusnya sudah sejak tadi," ucap Carissa.


Dzaky melihat kearah Qenan dan Willy karena Dzaky tahu bahwa hari ini adik laki-lakinya itu pergi ke perusahaan Accenture. Adiknya itu tidak masuk kuliah hari ini dikarenakan pekerjaannya yang menumpuk di perusahaan Accenture.


"Qenan, Willy. Bukankah kalian juga bersama Darren di perusahaan Accenture. Beberapa hari ini kalian sibuk. Bahkan kalian mengambil izin tidak kuliah sampai satu minggu. Kenapa kalian sudah disini. Sementara Darren belum juga sampai?" tanya Dzaky.


Mereka semua melihat kearah Qenan dan Willy. Mereka ingin tahu kenapa mereka tidak bersama Darren.


"Kita juga tidak tahu kenapa Darren belum sampai juga. Yang kami tahu ketika kami tiba di luar perusahaan. Seorang security mengatakan bahwa Darren sudah pergi meninggalkan kantor beberapa menit sebelum kami keluar," sahut Qenan.


"Aku akan coba hubungi Darren!" seru Jerry.


"Jangan lupa di loundspeaker panggilannya!" seru Andra.


"Baik."


Jerry langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Jerry langsung mengetik nomor Darren.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo, Jerry."


"Hallo, Ren. Lo dimana. Dan....."


Tutt!


Tutt!


Tiba-tiba panggilan dari Darren putus sehingga membuat Jerry dan yang lainnya seketika merasakan ketakutan.


"Ren, hallo. Ren!"


Jerry masih terus memanggil Darren. Dia benar-benar khawatir karena tiba-tiba panggilan dari Darren putus.


"Hallo, Darren!" teriak Jerry.


Jerry kembali menghubungi Darren namun yang terdengar adalah suara operator sehingga membuat Jerry bertambah khawatir.


"Sial."


"Jerry, kenapa?" tanya Axel.


"Ponsel Darren sudah tidak aktif," jawab Jerry.


Mendengar jawaban dari Jerry membuat anggota keluarga Smith, terutama Erland menjadi khawatir. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren.


"Ren, semoga kamu baik-baik saja." Davin, Andra, Dzaky, Gilang, Darka berucap di dalam hatinya.


"Darren. Semoga kamu tidak kenapa-kenapa, Nak!" Erland dan Agneta membatin.


Semua yang ada di rumah Darren berdoa di dalam hati masing-masing. Mereka berharap semoga Darren baik-baik saja.


Jerry berulang kali menghubungi Darren, namun hasilnya tetap sama. Ponsel Darren tidak aktif.


Bukan hanya Jerry. Keenam kakak-kakaknya secara bergantian mencoba menghubungi Darren.


Namun sama seperti Jerry. Ponsel Darren tetap tidak aktif.


"Semuanya tenang. Jangan berpikir macam-macam dulu. Semoga Darren tidak kenapa-napa," sahut Dario.


"Kita harus tetap berpikir positif. Siapa tahu ketika Jerry menghubungi Darren, lalu tiba-tiba ponsel Darren mati. Bisa saja ponsel Darren kehabisan daya," ucap Eric.


Mendengar ucapan dari Eric, mereka semua pun bisa sedikit lega. Menurut mereka apa yang dikatakan oleh Eric ada benarnya juga.


Ketika mereka semua memikirkan Darren dan berusaha untuk berpikir positif, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bantingan pintu utama yang cukup keras dan juga disertai teriakan seseorang memasuki rumah.


Brak!

__ADS_1


"Erica!"


Mereka semua melihat keasal suara yang mana mereka semua tahu dan hafal dengan suara tersebut.


Sementara Erica yang mendengar suara Ayah angkatnya langsung melepaskan pelukan sang Oma.


Mereka semua berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Darren dan Erica.


"Papa."


Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dimana semua orang berkumpul disana.


Erica berlari dan langsung menerjang tubuh ayah angkatnya itu.


"Papa, Erica takut."


Erica memeluk erat tubuh Darren dan menangis disana.


Darren yang merasakan tubuh bergetar putri angkatnya merasakan sakit di dadanya. Dia memeluk erat tubuh putrinya itu.


"Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga Erica dengan baik. Sekarang Erica sudah disini bersama Papa. Erica jangan takut lagi, oke!"


Tiba-tiba Darren merasakan sakit di kepalanya sehingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung.


Erica yang menyadari hal aneh pada diri ayahnya langsung melepaskan pelukannya. Dia langsung menatap kearah ayahnya.


"Papa kenapa?"


Mereka mendengar pertanyaan dari Erica langsung menatap tepat ke wajah Darren. Dan seketika mereka semua terkejut ketika melihat wajah Darren yang sedikit pucat dan ditambah dengan noda darah di pelipisnya.


"Darren!"


Mereka semua tampak mengkhawatirkan kondisi Darren saat ini.


"Papa tidak apa-apa."


Setelah itu, Darren membawa putrinya kembali menuju ruang tengah dan bergabung bersama dengan yang lainnya.


Namun baru dua langkah Darren melangkahkan kakinya, seketika Darren jatuh tak sadarkan diri di lantai dan itu membuat semua yang ada di ruang tengah berteriak memanggil namanya.


"Darren!"


"Kakak Darren!"


"Papa!"


***


Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pemuda yang tengah marah besar akibat semua rencananya gagal. Pemuda itu adalah Rolando Santa.


"Brengsek! Siapa yang sudah berani menggagalkan rencanaku? Dan dimana adikku, sekarang?!"


"Rogert. Kamu dimana sekarang? Jangan buat kakak khawatir disini," ucap Rolando Santa.


Disaat Rolando tengah dalam keadaan marah, tiba-tiba tangan kanannya datang untuk memberikan laporan terbaru.


"Tuan."


Rolando melihat kearah tangan kanannya. Setelah itu, Rolando menyuruh tangan kanannya itu untuk duduk.


"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?"


"Sudah, tuan."


"Katakan!"


"Yang menggagalkan rencana kita untuk menghadang mobil yang membawa putri angkatnya tuan Darren itu adalah dua tangan kanannya tuan Erland."


Mendengar jawaban dari tangan kanannya itu membuat Rolando terkejut. Dia tidak menyangka jika ayah dari musuhnya itu mengetahui bahwa akan terjadi sesuatu terhadap cucunya.


"Apa kau tahu seperti apa wajah dari dua tangan kanannya bajingan tua itu?"


"Saya tidak tahu seperti apa wajah dua tangan kanan tuan Erland itu. Setiap mereka melakukan aksi, keduanya selalu memakai topeng. Topeng yang mereka pakai full menutup seluruh wajah. Begitu juga dengan anggota mereka. Berapa pun jumlah tangan kanannya dan anggotanya. Mereka semua menggunakan topeng setiap melakukan misi. Mereka sudah seperti kelompok mafia."


"Mereka membagi beberapa kelompok, tuan!"


"Maksud kamu?"


"Maksud saya adalah mereka membagi menjadi beberapa kelompok. Yang pertama, kelompok mata-mata. Kelompok ini bertugas memata-matai dan mengawasi setiap pergerakan musuh. Tidak ada yang tahu seperti apa mereka. Mereka berbaur dengan banyak orang. Sudah seperti masyarakat pada umumnya. Kedua, kelompok yang bergerak di bidang telekomunikasi dan komputer. Ketiga, kelompok yang melakukan misi alias turun ke lapangan untuk membasmi para musuh."


Mendengar penjelasan tentang tangan kanan dan anggota dari Erland membuat Rolando takjub. Dia tidak menyangka jika ayah dari musuhnya itu benar-benar pandai mempekerjakan orang.


"Tidak anak. Tidak ayah. Kedua-duanya sama-sama jenius. Aku salut terhadap kalian," batin Rolando.


"Dan satu informasi lagi, tuan! Dan aku yakin informasi ini akan membuat tuan terkejut dan juga tidak percaya."


"Apa itu?! Katakan?!"


"Kita sudah ditipu oleh tuan Erland. Ternyata tuan Erland tidak Amnesia sama sekali. Dia justru mengingat semua orang-orang terdekatnya."


Mendengar jawaban dari tangan kanannya, seketika membuat Rolando marah.


"Brengsek! Berani dia menipuku!"


"Sekarang, kau kerahkan beberapa anggotamu untuk mencari tahu titik kelemahan mereka. Setelah itu, balas mereka satu persatu."


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, tangan kanannya itu pun pergi meninggalkan kediaman Rolando untuk menjalankan perintah dari Rolando.


Rolando berpikir terakhir kali dia berbicara dengan adiknya di telepon. Dia teringat bahwa adiknya itu mengatakan akan pulang ke kediaman keluarga Smith dan melakukan tugasnya sebagai Darren


"Jangan-jangan....."


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku sudah kehilangan Papa akibat ulah keluarga Smith dan ketujuh sahabatnya. Bahkan putra-putra mereka juga ikut andil atas apa yang terjadi terhadap Papa. Mereka telah menghancurkan perusahaan milik Papa. Mereka semua telah membongkar kejahatan dan kecurangan Papa selama ini di hadapan semua pemegang saham dan rekan-rekan kerjanya. Aku tidak mau jika mereka sampai menyakiti adik laki-lakiku. Hanya dia yang aku punya di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangan dia."


"Aku bersumpah akan menghabisi kalian semua jika kalian berani menyakiti adik laki-lakiku."


***


Di kediaman Darren. Semuanya saat ini berada di kamar Darren. Kamar Darren begitu besar dan luas sehingga bisa menampung banyak orang.


Mereka menatap khawatir kearah Darren dimana wajah Darren masih terlihat pucat, walau tidak sepucat beberapa menit yang lalu.


"Bagaimana, Celsea?" tanya Erland.


"Darren baik-baik saja. Hanya luka lecet di pelipisnya. Lukanya juga tidak terlalu parah," jawab Celsea.


"Oma Celsea, Papa baik-baik saja kan?" tanya Erica.


Celsea tersenyum sembari mengusap lembut kepala Erica. "Papanya Erica baik-baik saja kok. Erica nggak perlu khawatir. Mungkin Papa lelah karena banyak pekerjaan," hibur Celsea.


Erica melihat kearah Papa-Papa nya yang lain. Dia ingin memastikan akan ucapan dari Celsea.


"Apa itu benar Papa Qenan, Papa Willy, Papa Rehan, Papa Darel, Papa Jerry, Papa Axel, Papa Dylan?"


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum, lalu dengan kompak menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Kalau begitu Papa Qenan, Papa Willy, Papa Rehan, Papa Darel, Papa Jerry, Papa Axel, Papa Dylan jangan sampai sakit ya. Kalian harus banyak istirahat. Jangan terlalu keras dalam bekerja. Satu Papa Erica sudah tumbang. Erica nggak mau Papa-Papa yang lain jangan ikut tumbang juga."


Mereka semua tersenyum bangga akan perkataan Erica yang memikirkan kesehatan para ayah angkatnya.


"Baik, princess!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Eeuuugghh."


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara lenguhan dari Darren. Mereka menatap kearah Darren dengan senyuman mengembang di bibir masing-masing.


"Ren."


"Darren."


"Papa."


"Kakak Darren."


Berlahan Darren membuka kedua matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, Darren melihat begitu banyak orang di dalam kamarnya.


Darren berusaha untuk bangun. Davin yang memang berada di atas tempat tidur adiknya langsung membantu adik laki-lakinya itu untuk duduk.


"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Celsea.


"Hanya pusing," jawab Darren.


"Yakin hanya itu?" tanya Ardy, kakak laki-laki tertuanya Darel.


"Yakin, kakak Ardy."


Erland berlahan melangkahkan kakinya menghampiri ranjang putranya.


Darren yang melihat ayahnya yang berjalan menghampiri ranjangnya seketika merasakan sesak di dadanya. Dia ingin sekali di peluk oleh ayahnya itu, tapi itu tidak mungkin terjadi karena ayahnya tidak mengingat dirinya.


Erland sudah duduk di pinggir tempat tidur putranya. Tatapan matanya menatap wajah tampan putranya itu.


"Apa kamu tidak ingin memeluk Papa, hum?"


Deg!


Darren seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya. Dia berpikir kalau pendengarannya salah.


Sementara anggota keluarga yang lainnya dan orang-orang yang ada di dalam kamarnya menatap dirinya dengan senyuman. Mereka semua paham apa yang dirasakan oleh Darren saat ini.


"Ini Papa, Nak! Papa ingat kamu. Maafkan Papa yang melupakan kamu tiga bulan ini."


Mendengar ucapan dari ayahnya, seketika air matanya berlomba-lomba mengalir membasahi wajahnya.


"Pa-papa," lirih Darren.


"Iya, sayang. Ini Papa. Apa kamu akan diam saja dan tidak ingin memeluk Papa?"


"Papa."


Darren langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Dan seketika tangisannya pun pecah.


"Papa," ucap Darren terisak.


Mereka semua ikut menangis ketika mendengar isak tangis Darren. Mereka semua mengerti bagaimana rindunya seorang Darren terhadap ayahnya tiga bulan ini. Dan pada akhirnya, rasa rindunya itu terbayarkan.


"Maafkan Papa yang berpura-pura Amnesia tiga bulan ini. Papa melakukan semua itu untuk membantumu melawan Rolando Santa."


Mendengar ucapan dan pengakuan dari ayahnya membuat Darren makin erat memeluk tubuh ayahnya. Dia tidak mempermasalahkan ayahnya yang telah menipunya. Ayahnya melakukan hal itu demi membantunya.


"Aku memaafkan Papa," jawab Darren.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darren. Begitu juga dengan Erland

__ADS_1


__ADS_2