
Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya bersama para kekasihnya saat ini sudah berada di ruang latihan. Mereka juga sudah mengganti pakaian dengan pakaian kampus.
"Aku heran dengan sikap wakil Rektor," sahut Darel.
Mendengar ucapan dari Darel. Semuanya melihat kearah Darel, kecuali Darren.
"Memangnya kenapa dengan wakil rektor?" tanya Rehan.
"Sikapnya itu. Wakil rektor itu kayak membela 64 mahasiswa dan mahasiswi itu. Dia berulang kali membujuk dan menggagalkan kita untuk memberikan pembalasan kepada mereka," jawab Darel.
Mendengar jawaban dari Darel membuat Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry, dan Dylan membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel.
"Iya, Darel benar. Aku juga merasa seperti itu. Wakil rektor memang sepertinya membela ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu," ujar Axel.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan melihat kearah Darren.
"Ren," panggil Jerry.
Darren menghentikan kegiatannya, lalu menatap kearah Jerry dan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Wakil rektor memang memihak ke 64 mahasiswa dan mahasiswi menjijikkan itu," sahut Darren yang sedari tadi mendengar obrolan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Hah!"
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Begitu juga dengan Brenda, Alice, Milly, Elsa, Felisa, Vania, Lenny dan Tania.
"Jadi itu bukan perasaan gue aja?" tanya Darel.
"Berarti benar dong?" tanya Rehan.
"Iya. Pria sialan itu memang memihak dan membela ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu. Dia berharap ada hukuman lain selain dua pilihan yang aku berikan itu. Wakil rektor itu melakukan semua itu karena para ayah dari ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu adalah donatur di kampus ini setelah ayahnya Jessica tewas di tanganku," tutur Darren.
"Kok bisa?" tanya Dylan.
"Ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu kompak meminta kepada ayah mereka untuk menjadi donatur di kampus. Mereka mengatakan kepada ayahnya bahwa hidup mereka tidak pernah tenang dan selalu dibully. Dengan ayah mereka menjadi donatur di kampus, mereka tidak akan dibully lagi."
"Pantes saja sekarang sikap mereka berubah menjadi songong. Ternyata anak-anak donatur," sahut Willy.
"Bahkan wakil rektor itu mendapatkan uang pelicin setiap bulan dari orang tua ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu. Uang yang didapat lumayan banyak. Coba saja kalian hitung jika wakil rektor itu mendapatkan uang dari 64 orang. Mereka memberikan uang itu secara pribadi." Darren berbicara dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat Brenda.
"Wah, gila!" seru Qenan.
"Kamu tahu dari mana hal ini, Ren?" tanya Brenda.
"Aku tahu dari rektor sendiri. Dia menceritakan semuanya padaku sebelum memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan kampus ini ke tanganku dan kita semua," jawab Darren.
"Apa?!"
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry, Dylan, Brenda, Alice, Milly, Elsa, Felisa, Vania, Lenny dan Tania terkejut mendengarnya.
"Jadi rektor sudah tahu kebusukan wakilnya?" tanya Qenan.
"Hm." Darren bergumam sembari mengangguk.
"Jadi alasan ini yang membuat rektor memohon sama lo agar mau kembali ke posisi lo sebagai ketua organisasi kampus? Bahkan rektor menyerahkan kampus ini ke lo, Ren?" tanya Axel.
"Iya, Xel. Rektor menceritakan semuanya ke gue. Bahkan rektor memperlihat buktinya ke gue soal wakilnya itu," jawab Darren.
"Tapi kenapa rektor itu diam aja? Kenapa nggak langsung ditegur?" tanya Milly.
"Karena rektor itu masih memiliki hubungan keluarga dengan wakil rektor itu. Lebih tepatnya...."
Drtt!
Drtt!
Ponsel Darren berbunyi sehingga Darren menghentikan ceritanya. Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat nama seseorang yang membuat rindu beberapa hari ini.
Melihat Darren yang begitu bahagia ketika mendapatkan sebuah panggilan membuat mereka semua curiga. Begitu juga dengan Brenda.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, sayang."
Mendengar Darren menyebut sayang dengan lawan bicaranya. Seketika membuat Brenda membelalakkan matanya syok. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry, Dylan,Alice, Milly, Elsa, Felisa, Vania, Lenny dan Tania.
__ADS_1
Mereka menatap dengan mata melotot kearah Darren yang berbicara dengan seseorang di telepon.
"...."
"Apa kabar kamu?"
"...."
"Oh iya. Kamu...."
Brenda merampas ponsel Darren sehingga membuat Darren terkejut.
Namun detik kemudian, Darren tersenyum menatap wajah Brenda.
Darren tahu bahwa saat ini Brenda sedang cemburu karena berpikir dia sedang berbicara dengan seorang wanita di telepon.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menghubungi nomor pacar saya?!" teriak Brenda.
Mendengar ucapan dan teriakan dari Brenda membuat orang yang berada di seberang telepon terkejut.
"Tan-tante Brenda."
Deg!
Brenda seketika terkejut ketika mendengar suara sosok yang dikenalnya.
"E-erica. Ini Erica ya?"
"Iya, tante. Ini Erica. Kenapa tante tadi teriak-teriak dan marah sama Erica?"
Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Erica membuat Brenda salah tingkah.
Sedangkan Darren sudah tertawa keras melihat Brenda yang malu ketika mendengar suara Erica.
"Hahahaha."
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry, Dylan, Alice, Milly, Elsa, Felisa, Vania, Lenny dan Tania juga ikut tertawa ketika melihat wajah malu Brenda ketika mengetahui lawan bicaranya.
"Tanggung jawab tuh Brenda. Kasihan Erica nya," ledek Elsa.
Brenda melihat kearah Darren untuk minta pertolongan. Darren yang melihat Brenda yang menatap dirinya langsung mengalihkan perhatiannya kearah lain. Dia berpura-pura tidak mengetahui.
"Aish," kesal Brenda.
Brenda menarik nafasnya dalam-dalam. Setelah itu, Brenda kembali berbicara dengan Erica dan membujuk Erica.
"Hallo, Erica. Apa Erica masih mendengarkan Tante?"
"Iya, Erica masih disini."
"Sayang, Maafkan tadi tante teriak-teriak dan marah-marah sama Erica."
"Memangnya kenapa tante tadi teriak-teriak?"
"Itu... Emm!" Brenda bingung untuk menjelaskannya. Lebih tepatnya dia malu mengatakan kepada Erica bahwa dia sempat cemburu terhadap Darren.
Tidak mendapatkan jawaban dari Brenda membuat Erica berpikir. Seketika Erica paham maksud dari perkataan Brenda beberapa detik yang lalu.
"Pasti tante Brenda berpikir bahwa Papa sedang menerima panggilan dari perempuan lain kan? Apalagi tadi Papa menyebut kata sayang."
Mendengar ucapan dari Erica membuat Brenda membelalakkan matanya tak percaya. Ternyata Erica bisa menebak alasan dia yang berteriak tadi.
"Aku benarkan, tante Brenda?"
"Hehehehe. Iya, sayang."
"Tante harus percaya sama Papa. Papa hanya mencintai tante Brenda. Tidak ada perempuan lain selain tante Brenda. Dan Erica hanya ingin tante Brenda yang jadi Mamanya Erica."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Erica membuat Brenda tersenyum. Dia benar-benar beruntung bertemu dengan Erica. Gadis kecil tapi pemikiran seperti orang dewasa.
"Iya, sayang. Terima kasih ya."
"Iya, Tante. Oh iya, Tante! Papa mana? Erica mau bicara sama Papa."
"Ach, baiklah. Tante akan berikan ponselnya kepada Papa."
Setelah itu, Brenda memberikan ponselnya kepada Darren.
__ADS_1
"Sudah puas melabrak selingkuhanku?" tanya Darren menjahili Brenda.
"Nggak lucu tahu," jawab Brenda dengan mempoutkan bibirnya.
Darren tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Hallo, sayang."
"Papa Erica kangen Papa."
"Papa juga kangen kamu, sayang! Kapan pulangnya? Udah lama lo di Amerika?"
"Seharusnya minggu kemarin Erica sama oma, opa, paman Daffa, paman Tristan dan paman Davian pulang. Tapi gagal."
"Gagal kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Iya, Papa! Paman Tristan kecelakaan."
"Apa? Paman Tristan kecelakaan? Terus bagaimana keadaan Paman Tristan, sayang?"
"Papa nggak usah khawatir. Paman Tristan baik-baik saja kok. Hanya kecelakaan kecil. Paman Tristan hanya luka lecet di kening dan di lengan."
"Erica nggak bohongkan?"
"Nggak Papa. Paman Tristan baik-baik saja."
"Ach, syukurlah kalau begitu."
"Papa."
"Iya, sayang."
"Papa-papa Erica yang lainnya mana? Erica kangen."
"Ini sudah Papa loundspeaker panggilan dari Erica. Sekarang Erica bisa langsung bicara."
"Hallo, Papa Wil, Papa Nan, Papa Acel, Papa Lan, Papa Rel, Papa Han, Papa Jer. Erica kangen!"
"Hallo, Erica sayang! Papa juga kangen Erica!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
"Kapan pulang sayang?" tanya Rehan.
"Nggak tahu. Tapi kata opa Evan, dua hari lagi."
"Kamu sehat-sehat saja disana kan?" tanya Jerry.
"Iya, Papa Jer. Erica sehat-sehat kok. Keluarga dari opa Evan baik-baik semua. Mereka sangat sayang sama Erica."
Mendengar jawaban dari Erica membuat Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan tersenyum bahagia. Mereka benar-benar bersyukur banyak yang menyayangi anak yatim piatu seperti Erica.
"Apa Erica nggak kangen sama kita-kita!" seru Alice, Milly, Elsa, Felisa, Vania, Lenny dan Tania bersamaan.
"Erika juga kangen sama tante Alice, tante Elsa, tante Milly, tante Felisa, tante Vania, tante Lenny, tante Tania."
Ketika Erica sedang asyik mengobrol dengan para ayah angkatnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Erica sayang!"
"Iya, oma!"
"Ayo, buruan sayang!"
"Iya, oma!"
"Papa, udah dulu ya. Itu oma Carissa sudah teriak-teriak di luar kamar Erica."
"Memangnya mau kemana?"
"Mau nonton bioskop. Yang bayarin adik perempuannya opa Evan."
"Selamat bersenang-senang ya. Jangan nakal disana."
"Iya, Papa. Dan jangan lupa kirim salam buat semuanya yang ada disana."
"Baik, Papa."
Setelah itu, Erica pun langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1