KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Memutuskan Untuk Minta Maaf


__ADS_3

Sementara Adrian dan Mathew seketika menangis ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Kakak Darren jahat," ucap Adrian.


"Kakak Darren udah nggak sayang kita lagi," ucap Mathew menambahkan.


Mendengar perkataan dari Adrian dan Mathew membuat Davin, Andra Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap tak suka kedua adiknya itu. Mereka tidak menyangka jika kedua adiknya itu bisa berkata seperti itu tentang Darren.


"Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu tentang Darren?" tanya Gilang dengan menatap tajam Adrian dan Mathew.


"Apa buktinya kalau Darren itu jahat dan juga sudah tidak menyayangi kalian lagi?" tanya Darka yang juga memberikan tatapan tajam kearah Adrian dan Mathew.


Adrian dan Mathew memberanikan untuk menatap wajah Gilang dan Darka.


"Buktinya kakak Darren tidak mau hadir ke sekolah kakak Adrian dan Mathew hari Kamis besok," jawab Mathew.


Mendengar jawaban dari Mathew membuat Darka seketika marah. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.


"Jadi hanya karena Darren tidak bisa hadir ke sekolah kalian lalu kalian langsung mengatakan bahwa Darren itu jahat dan tidak sayang lagi dengan kalian!" bentak Gilang.


"Kemana perginya otak kalian itu, hah?! Kalian sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan kuliah. Tapi cara berpikir kalian itu seperti anak TK. Bisa-bisanya kalian berbicara seperti itu terhadap Darren!" bentak Darka.


"Adrian, Mathew. Kakak Davin nggak nyangka kalian bisa berpikir dangkal seperti itu terhadap Darren? Kakak benar-benar kecewa dengan kalian berdua," ucap Davin.


Ketika Andra hendak mengeluarkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap Adrian dan Mathew, tiba-tiba mereka mendengar suara derap langkah kaki menuruni anak tangga.


Mereka semua melihat keasal suara. Dan mereka dapat melihat Darren yang sudah dalam keadaan rapi dengan setelan jas biru dalam kemeja putih plus dasi.


Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, lebih tepatnya menghampiri kedua adiknya yaitu Adrian dan Mathew.


Darren menatap dengan tatapan marah dan juga tatapan kecewa.


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Nathan, Ivan, Melvin, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian melihat tatapan mata Darren langsung paham. Mereka semua memilih untuk diam.


"Aku tahu apa yang barusan kalian katakan untukku. Aku kesini bukan untuk menanyakan hal itu atau meminta kalian untuk meminta maaf.  Satu hal yang ingin aku katakan kepada kalian berdua. Aku Darrendra Smith sangat kecewa akan sikap dan perkataan kalian itu. Untuk dua bulan ini menjauhlah dariku. Kalian tidak perlu anggap aku kakak kalian lagi."


Adrian dan Mathew seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Begitu juga dengan Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Nathan, Ivan, Melvin, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian.


"Kakak Darren," lirih Adrian dan Mathew bersamaan.

__ADS_1


"Ren," ucap Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


"Sayang," lirih Erland dan Agneta.


Darren tidak mempedulikan suara-suara dari anggota keluarganya. Tatapan matanya tetap tertuju kepada kedua adiknya.


"Kalian boleh bicara lagi denganku jika kalian sudah belajar dari kesalahan. Dan berubah menjadi laki-laki dewasa. Tidak bersikap kekanak-kanakan lagi."


Darren melirik kearah Nathan, Ivan dan Melvin. "Untuk kalian juga."


"Tapi kakak Darren, kita....."


"Aku tidak mau mendengar komentar apapun dari kalian. Jika kalian tidak suka, maka aku akan pergi dari rumah ini. Dan akan selamanya menetap di rumahku sendiri."


Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan semua anggota keluarganya.


Melihat kepergian Darren membuat hati mereka semua menjadi sedih dan sakit.


Darka menatap wajah kedua adiknya. "Selesaikan sendiri masalah kalian dengan kakak kesayangan kalian itu. Kakak nggak ikut campur atau hanya sekedar membantu kalian."


Setelah mengatakan itu, Darka pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap ke kampus.


"Kakak juga tidak akan membantu kalian," sela Gilang dan pergi menyusul Darka.


***


Zora saat ini tengah berada di sebuah toko buku. Dia kesana untuk membeli buku mengenai perkembangan teknologi informasi. Dia berkeliling untuk mencari sebanyak 4 buku untuk dia pelajari.


Ketika Zora tengah mencari-cari buku tersebut di sebuah rak-rak buku, tatapan matanya menatap sosok orang yang dia rindukan beberapa bulan ini.


"Bianca," ucap Zora.


Yah! Sosok yang dia lihat adalah Bianca adik perempuannya yang begitu dia sayangi.


Zora melangkahkan kakinya menghampiri Bianca yang saat ini juga tengah memilih-milih sebuah buku.


Puk..


Zora menepuk pundak adik perempuannya itu sehingga membuat adik perempuannya itu terkejut lalu membalikkan badannya untuk melihat ke belakang.

__ADS_1


Deg..


Bianca seketika terkejut ketika melihat kakaknya yang dia rindukan selama ini. Tanpa diminta air matanya mengalir membasahi pipinya. Bianca menangis karena bisa melihat kakak kesayangannya di depan matanya.


"Ka-kakak Zora," lirih Bianca.


Grep..


Zora langsung memeluk tubuh adiknya dengan erat. Dan dapat Zora rasakan tubuh bergetar adiknya itu. Tangannya mengusap lembut punggung adiknya.


"Kakak, aku kangen kakak! Kenapa kakak keluar kotanya lama sekali. Aku kesepian tanpa kakak."


Zora merasakan sesak di dadanya ketika mendengar untaian kerinduan dari adiknya. Apalagi ketika adiknya mengatakan bahwa adiknya itu kesepian tanpa dirinya.


"Kakak juga merindukan kamu, Bianca! Sangat sangat merindukan kamu. Kamu baik-baik saja kan selama kakak diluar kota. Papa sama Mama tidak nyakitin kamu kan?"


Bianca seketika melepaskan pelukannya, kemudian tatapan matanya menatap wajah cantik kakak perempuannya.


"Jangan bahas itu dulu ya. Bagaimana kalau kita pergi makan? Kebetulan aku belum makan," usul Bianca.


"Baiklah. Kita akan makan di cafe langganan kita," ucap Zora.


"Baiklah. Ayo!" semangat Bianca lalu menggandeng tangan kakak perempuannya.


***


Di kediaman Smith dimana Adrian dan Mathew sedang duduk di sofa ruang tengah. Mereka saat ini tengah memikirkan perkataan dari kakak kesayangannya yang mengatakan bahwa keduanya diminta untuk menjauhinya. Bahkan kakaknya itu meminta untuk tidak dianggap sebagai kakak lagi.


"Bagaimana ini kak? Kakak Darren pasti marah sama kita berdua akan sikap kita," ucap Mathew.


"Kakak juga tidak tahu. Tapi sepertinya kakak Darren benar-benar marah sama kita," sahut Adrian.


"Nggak kak. Aku nggak mau kalau kakak Darren benar-benar menjauhi kita. Aku sayang sama kakak Darren," ucap Mathew.


"Apalagi kakak. Kakak juga tidak ingin kakak Darren sampai marah besar sama kita dan benar-benar menjauhi kita," ucap Adrian.


"Kita harus minta maaf sama kakak Darren agar kakak Darren tidak marah lagi sama kita. Disini kita yang salah. Benar apa yang dikatakan sama kakak Darren. Kita punya kakak tujuh orang. Tapi kita hanya meminta bantuan sama kakak Darren. Seharusnya kita juga meminta bantuan kepada kakak-kakak kita yang lain disaat kakak kesayangannya kita tidak bisa membantu kita," sahut Mathew.


"Ya, kau benar. Seharusnya kita minta bantuan sama kakak-kakak kita yang lain disaat kakak Darren tidak bisa membantu kita. Ini malah justru kita memaksa kakak Darren," balas Adrian.

__ADS_1


"Nanti pulang kakak Darren dari kantor kita minta maaf sama kakak Darren," usul Mathew.


"Baiklah," jawab Adrian.


__ADS_2