
Di rumah Darren tampak ramai dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, lengkap dengan Darren.
"Papa," panggil Darka.
Erland yang mendengar panggilan dari putra keenamnya langsung melihat wajah putranya itu.
"Ada apa, sayang?" tanya Erland.
"Eemm... Bagaimana dengan karyawan baru itu? Apa diterima?" tanya Darka.
"Karyawan baru? Papa tidak tahu jika ada karyawan baru," ucap Erland.
Erland melihat kearah Davin dan Andra. "Davin, Andra! Apa benar ada karyawan baru di perusahaan kita?"
Davin dan Andra tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya. Keduanya berpikir sejenak.
Beberapa detik kemudian...
"Ach, aku ingat! Ada satu karyawan wanita yang melamar di perusahaan kita. Wanita itu melamar di bagian Manager keuangan menggantikan Manager keuangan yang dulu resign," sahut Davin yang telah ingat jika ada satu karyawan wanita yang melamar di perusahaan ayahnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Erland.
"Aku dengar kemarin wanita itu telah melakukan wawancara," jawab Davin.
"Papa, kakak Davin. Terima ya wanita itu di perusahaan Papa. Aku sangat yakin jika wanita itu bisa diandalkan jika dia bekerja di perusahaan Papa," ucap Darka dengan tersenyum manis.
Mendengar perkataan dari Darka dan melihat senyuman manis Darka. Mereka semua menatap lekat wajah Darka.
Bagi mereka semua, baru kali mereka melihat Darka yang tersenyum begitu ceria. Biasanya jika Darka tersenyum. Senyuman itu hanya kecil. Darka akan tersenyum lebar jika sudah berurusan dengan adik kesayangannya.
"Kenapa kamu begitu semangat menginginkan wanita itu bekerja di perusahaan Papa, hum? Apa kamu sudah bertemu dengan wanita itu? Atau kamu..."
"Aku sudah bertemu dengan wanita itu di jalan. Saat itu aku hendak pulang ke rumah. Di pertengahan jalan aku melihat seorang wanita yang hampir dilecehkan oleh empat preman. Aku menolongnya. Setelah itu, aku bertanya. Wanita itu menjawab jika dia akan perusahaan ER untuk wawancara. Dan aku langsung menawarkan diri untuk mengantarnya ke perusahaan Papa."
Mendengar penjelasan dari Darka membuat mereka semua menafsirkan bahwa Darka menyukai wanita itu.
"Apa kamu menyukai wanita itu, hum?" tanya Erland sembari menggoda putranya itu.
"Ih. Apaan sih, Papa!" Darka berusaha untuk tidak gugup ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya.
Erland tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Nggak usah malu gitu kali. Jika kamu beneran suka sama wanita itu. Kakak Davin orang pertama yang akan merestui hubungan kamu dengan wanita tersebut. Tapi sebelumnya kamu harus pastiin dulu apa wanita itu juga suka sama kamu? Apa wanita itu sudah punya kekasih atau belum? Kakak nggak mau kamu terluka."
Erland masih menatap wajah putranya itu. "Sekarang katakan kepada Papa. Apa kamu benar-benar menyukai wanita itu, hum?"
"Sebenarnya... Sebenarnya iya, Papa! Aku menyukai wanita itu saat pertama kali aku melihatnya," jawab Darka.
Mereka semua tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari Darka, terutama Darren.
"Jika itu benar. Kamu harus lakukan apa yang dikatakan sama kakak kamu barusan," ujar Erland.
"Pasti, Papa! Aku akan mencari tahu tentang wanita itu dan keluarganya," jawab Darka.
"Disini ini kita tidak memandang status sosial wanita itu. Sekali pun wanita itu berasal dari keluarga sederhana, Papa tak masalah. Asal wanita itu baik, sopan, tidak memanfaatkan kamu dan wanita itu juga benar-benar mencintaimu. Papa akan menerimanya masuk ke dalam keluarga Smith. Begitu juga dengan kalian."
Erland berbicara sembari matanya menatap satu persatu wajah putra-putranya.
Mendengar perkataan dari ayahnya. Davin dan semua adiknya mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Dan tambahan dari Mama. Jika kalian mencintai seorang wanita. Jangan sampai wanita yang kalian cintai hanya mencintai kalian saja. Sementara wanita itu tidak menyukai keluarga kalian. Bahkan wanita yang kalian cintai itu tidak mau menerima keluarga kalian. Kalau kalian sampai mendapatkan wanita seperti itu, maka hubungan persaudaraan kalian akan hancur."
"Carilah wanita yang mau menerima kalian dan juga mau menerima keluarga kalian dengan sepenuh hatinya. Jangan mencari wanita yang hanya melihat dari wajah cantiknya. Cantik wajahnya belum tentu cantik hatinya."
Mendengar perkataan dari ibunya. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka membenarkan ada yang dikatakan oleh ibunya itu.
Ketika keluarga Smith tengah mengobrol membahas karyawan baru di perusahaan milik Erland sampai membahas Darka yang mencintai karyawan baru itu, tiba-tiba salah seorang pelayan datang.
"Tuan muda Darren."
Darren langsung melihat kearah pelayannya itu. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
"Iya, Bibi. Ada apa?" tanya Darren.
"Itu ketujuh sahabatnya tuan muda Darren beserta anggota keluarga mereka berada di ruang tamu."
"Ach, iya. Suruh mereka langsung kesini."
"Baik, tuan muda Darren."
Setelah itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu.
^^^
Kini ketujuh sahabatnya Darren dan juga keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren sudah berada di ruang tengah bersama dengan keluarga Smith.
"Dalam rangka apa kalian semua datang kesini?" tanya Erland dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya.
"Tidak ada acara apapun, Erland!" ucap Dellano.
"Kita datang kesini juga disuruh anak kelincimu itu," ucap Valeo sembari menjahili Darren.
"Nggak anak... Nggak ayah. Sama saja. Suka ngata-ngatain orang," gumam Darren.
Mendengar gumaman dari Darren membuat Valeo tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Yaelah! Kayak lo aja yang nggak pernah ngatain orang. Diantara kita semua yang ada disini. Lo yang paling parah ngatain orang. Jadi jangan baper deh," sahut Rehan.
"Betul... Betul!" seru Darel.
Seperti yang dikatakan oleh Valeo bahwa mereka semua datang ke rumah keluarga Smith atas permintaan dari Darren.
Saat Darren dan ketujuh sahabatnya di kampus. Darren sudah menceritakan tentang kerja sama perusahaan SANTA kepada Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Apa yang di sampaikan oleh Darren kepada Qenan dan Willy. Seperti itu juga yang disampaikan Darren kepada Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Darren bahkan meminta kepada ketujuh sahabatnya itu untuk datang ke rumahnya bersama anggota keluarganya sekitar pukul 4 sore.
Erland, Dario, Hendy, Eric, Valeo, Dellano, David dan Aldez menatap wajah Darren. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap wajah Darren.
"Semuanya sudah berkumpul, Ren!" seru Jerry.
"Kita semua menunggu apa yang akan kamu sampaikan kepada kami semua," ucap Axel.
Darren menatap balik anggota keluarganya dan juga anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya.
"Kita akan kembali mendapatkan masalah besar," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terkejut.
"Apa maksud kamu, Darren?" tanya Ardy kakak laki-laki pertama Darel.
__ADS_1
"Kalian masih ingat dengan Samuel kan?" tanya Darren.
"Iya. Kami masih ingat!" seru mereka semua kompak, kecuali ketujuh sahabatnya Darren.
"Apa yang dilakukan oleh Samuel. Itu juga yang akan dilakukan oleh orang itu. Tapi permainan orang itu berbeda dari yang sebelumnya. Orang itu akan bermain cantik dan bersih sehingga tidak akan ada satu orang pun mengetahuinya. Termasuk polisi."
"Siapa orang itu, Ren?" tanya Angga kakak laki-laki tertuanya Willy.
"Dia adalah Rolando Santa dari keluarga Santa. Dulu Rolando dan Samuel bekerja sama dalam dunia kejahatan. Keduanya terkenal dengan kelicikan. Kelicikan mereka akan bertambah jika menyangkut kerja sama perusahaan."
"Kau tahu dari mana masalah ini?" tanya Cakra kakak laki-laki tertua Rehan.
"Samuel menghubungiku dan memberitahu semuanya padaku. Bahkan dia yang memintaku untuk membahas masalah ini kepada kalian," jawab Darren.
"Dan sepertinya Rolando tidak tahu akan perubahan Samuel sekarang ini. Jika Rolando tahu, maka bisa dipastikan Rolando akan memasukkan Samuel ke dalam permainannya.
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika mereka akan kembali mendapatkan masalah. Mereka berpikir setelah pertarungan besar dengan Samuel dan Pamannya selesai hidup mereka semua akan benar-benar bahagia. Tapi dugaan mereka semua salah.
Darren melihat kearah Qenan dan Willy. Begitu juga dengan Qenan dan Willy.
"Apa kalian sudah mengcopy berkas itu?" tanya Darren kepada Qenan dan Willy.
"Sudah, Ren!" jawab Willy dan Qenan.
"Berikan kepada mereka masing-masing satu," ucap Darren.
"Baik," jawab Qenan dan Willy lagi.
Setelah mengatakan itu, Willy dan Qenan langsung mengeluarkan berkas tersebut dari dalam tasnya. Dan memberikannya kepada anggota keluarga Darren dan anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya.
Kini semuanya memegang satu kertas, kecuali ketujuh sahabatnya Darren.
"Sekarang kalian baca apa yang tertulis di kertas itu," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari Darren, semuanya pun langsung membaca apa yang tertulis di kertas itu.
"Apa isinya?" tanya Darren dengan menatap anggota keluarganya dan anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya.
"Di kertas ini berisi bahwa perusahaan Santa ingin bekerja sama dengan perusahaan Accenture.
"Apa kalian menemukan kejanggalan dalam setiap tulisan itu?" tanya Darren lagi.
"Seperti tidak ada Darren," jawab Dendra kakak laki-laki tertua Jerry.
"Baiklah. Sekarang coba kalian baca kembali isi kertas itu. Kalian baca paragraf kedua dan paragraf keempat," sahut Darren.
Mendengar ucapan dari Darren, mereka pun membaca kembali isi dari kertas itu. Mereka membaca paragraf kedua dan paragraf keempat.
Setelah beberapa detik, mereka semua telah selesai membacanya.
"Apa yang tertulis disana?"
"Intinya dari paragraf kedua dan paragraf keempat adalah setiap berkas yang telah ditandatangani akan secara otomatis bekerja sama dengan perusahaan Santa. Tidak peduli berkas apapun itu," sahut Ettan kakak laki-laki tertua Dylan.
"Paragraf kedua dan paragraf keempat itu akan tercantum dalam setiap berkas yang akan ditandatangani," ucap Aaron kakak laki-laki tertua Qenan.
Mendengar jawaban dari Aaron dan Ettan. Darren tersenyum.
"Sekarang kalian sudan tahu masalah ini. Jadi aku minta kepada kalian untuk berhati-hati ketika ingin menandatangani sebuah berkas. Rolando itu terkenal dengan kelicikannya. Apapun akan akan dilakukan oleh Rolando untuk bisa menjalin sebuah hubungan kerja sama. Sekali pun berkas yang akan kalian tandatangani itu adalah berkas laporan dari sekretaris dan asisten kalian di kantor."
__ADS_1
"Baik, Ren!" seru mereka semua.