KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ancaman Menakutkan Darren


__ADS_3

"Hiks... Papa... Hiks."


Gilang dan Darka makin mengeratkan pelukannya pada keponakannya. Hatinya benar-benar sakit setiap kali mendengar isakan dari Erica.


"Paman Gilang, Paman Darka. Erica merindukan semua Papa-Papa nya Erica. Kapan mereka pulang, Paman?"


Gilang dan Darka menangis ketika mendengar pertanyaan dari Erica. Keduanya memberikan ciuman-ciuman di kepala Erica.


"Semua Papa-Papa nya Erica akan kembali. Asal Erica melakukan satu hal. Apa Erica mau melakukan itu?" ucap dan tanya Darka.


"Erica mau. Apa itu Paman?"


Darka dan Gilang tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Pertama Erica harus kuat, semangat dan tidak boleh sedih lagi." Gilang berucap pertama kalinya.


"Kedua Erica harus selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk mengembalikan semua Papa-Papa Erica dengan selamat," ucap Darka menambahkan.


Mendengar ucapan dari Gilang dan Darka seketika membuat Erica langsung melihat kearah kedua Pamannya itu secara bergantian.


"Bagaimana?" tanya Gilang dan Darka bersamaan dengan tangannya bermain-main di kepala Erica.


Erica tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari kedua Pamannya itu. Kemudian Erica menatap ke depan.


"Demi semua Papa-Papa Erica. Erica akan lakukan itu," jawab Erica dengan penuh keyakinan.


Semuanya tersenyum ketika mendengar jawaban mantap dan yakin dari Erica. Terlihat jelas dari sorot matanya.


***


"Kakak Ziggy, kakak Chico, kakak Noe, kakak Devian, kakak Enzo!" Qenan, Darel dan Axel menyapa kelima kakak mafianya bersamaan.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Devian menatap kearah Qenan, Darel dan Axel yang wajah serta lengan dalam keadaan terluka.


"Kami baik-baik saja," jawab Qenan, Darel dan Axel bersamaan.


Enzo, Devian, Noe dan Chico melihat kearah Ziggy dan Darren yang mana Ziggy yang menahan kayu balok tersebut.

__ADS_1


"Kakak Ziggy! Yang bersama dengan kakak Ziggy saat ini adalah Rendra!" seru Darel.


Seketika Ziggy terkejut ketika mendengar seruan dari Darel. Begitu juga dengan Chico, Enzo, Noe dan Devian.


"Lepas! Jangan mengganggu pekerjaanku. Enyahlah kau dari sini!" bentak Rendra.


Mendengar ucapan kejam dari sosok Rendra tidak membuat Ziggy menuruti perintah dari Rendra. Justru Ziggy makin mengeratkan genggamannya di kayu balok tersebut.


Berlahan Ziggy menurunkan kayu balok itu sehingga membuat Rendra menggeram marah. Terdengar jelas dengan suara geramannya yang terdengar mengerikan.


Rendra seketika memberontak dan melakukan perlawanan atas Ziggy. Dia tidak peduli jika Ziggy adalah kakak mafia Darren.


Melihat Rendra yang melakukan perlawanan. Noe langsung berlari dan menahan tubuh Rendra ketika hendak menyerang Ziggy.


Kini Ziggy dan Noe berhasil menahan tubuh Rendra dengan cara menahan kedua tangan Darren ke belakang dan memeluknya kuat.


"Rendra, aku mohon. Hentikan! Jangan lakukan ini. Kasihan Darren. Kau melukai Darren," ucap Noe di telinga Rendra.


Sementara kepala desa dan beberapa warga desa seketika ketakutan ketika melihat sosok Darren yang mengamuk.


"Kalian membela orang yang salah! Dia dan kelompoknya yang sudah mengacaukan kegiatan mulia Darren, kedua kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan teman-teman Kampusnya! Dia dan kelompoknya yang sudah membuat semua obat-obatan yang diberikan oleh dokter Celsea rusak dan hancur! Dia dan kelompoknya juga yang sudah membawa Darren ke tempat ini dengan mengatakan bahwa Nandito dalam bahaya! Hal itu juga yang dirasakan oleh Nandito. Dia berada di tempat lain tengah mencari keberadaan Darren!" Rendra berbicara dengan suara yang cukup keras dengan tatapan matanya menatap nyalang pemuda yang ada di hadapannya.


Chico dan Devian menatap kearah pemuda yang kini dipegang oleh Zaky dan Razky tangan kanannya sehingga membuat pemuda itu langsung menundukkan kepalanya karena takut.


"Rendra, dengarkan saya. Nandito sudah ditemukan. Begitu juga dengan Willy, Rehan, Jerry dan Dylan. Mereka ada di rumah sakit. Jadi aku mohon, hentikan! Biarka Darren yang menyelesaikan sisanya," ucap Ziggy membujuk Rendra.


"Kami akan melindungi Darren dan sahabat-sahabatnya. Percayakan mereka pada kami," ucap Noe ikut membujuk sosok Rendra.


Beberapa detik kemudian...


Seketika tubuh Darren melemah sehingga mengakibatkan hampir jatuh. Noe dan Ziggy yang menyadari bahwa saat ini yang bersamanya adalah Darren langsung menahan tubuh Darren agar tidak terjatuh.


"Ren!" seru Noe dan Ziggy bersamaan.


Mendengar ucapan dan seruan dari Noe dan Ziggy membuat Qenan, Axel dan Darel seketika tersenyum. Mereka bahagia sahabat mereka telah kembali.


"Kalian!" Enzo kearah anggotanya. "Pegang pemuda itu!"

__ADS_1


"Baik, Bos!"


Dua anggota Enzo langsung melangkahkan kakinya menghampiri pemuda yang bersujud di hadapan Darren.


"Ren, bagaimana? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Ziggy yang menatap khawatir kearah Darren.


Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ziggy. Dirinya saat ini berusaha untuk menghilangkan rasa sakit dan pusing di kepalanya. Bukan itu saja, Darren juga merasakan sakit di bagian dada kirinya.


"Kenapa sakit lagi? Bu-bukankah saat itu Bibi Celsea mengatakan bahwa jantung sudah sembuh. Bibi Celsea juga mengatakan bahwa aku tidak akan merasakan sakit itu lagi," batin Darren.


Ziggy, Noe serta yang lainnya menatap khawatir Darren. Pasalnya Darren tidak memberikan respon apapun pada mereka.


"Darren!" panggil No dan Ziggy sekali lagi dengan menepuk pelan bahu Darren.


Seketika Darren mendongakkan kepalanya keatas, lalu menatap kearah Noe dan Ziggy secara bergantian. Kemudian Darren berlahan melepaskan pegangan kedua tangan Noe dan Ziggy dari pergelangan tangannya dan bahunya.


Setelah terlepas, Darren melangkahkan kakinya menghampiri pemuda yang hendak dibunuh oleh Rendra.


"Gue mau lo ngaku didepan kepala desa dan didepan semua warga desa atas apa yang udah lo dan kesembilan teman-teman lo lakuin terhadap gue, sepupu gue dan ketujuh sahabat-sahabat gue. Dan lo juga harus ngaku tentang apa yang terjadi di lapangan itu sehingga terjadi ledakan yang mengakibatkan semua obat-obatan tersebut rusak dan hancur." Darren berbicara dengan tatapan matanya yang tersirat kemarahan.


"Hanya ada dua pilihan. Lo ngaku atau lo dan kesembilan teman-teman lo mati di tangan gue. Dan gue juga bakal incar keluarga lo dan juga keluarga dari kesembilan teman-teman lo itu."


Deg..


Pemuda desa itu seketika terkejut dan syok ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren. Ditambah lagi ketika melihat tatapan mengerikan Darren.


Tak jauh beda dengan pemuda yang dipegang oleh Zaky dan Razky. Pemuda tersebut juga ketakutan saat ini.


Setelah mengatakan itu kepada pemuda tersebut, Darren menatap kearah kepala desa dan beberapa warga desa.


"Aku juga minta kepada anda, pak kepala desa! Jika nanti anda dan warga-warga anda mengetahui kebenaran dari dua pemuda itu. Aku minta pada anda dan warga desa menyerahkan kedua pemuda itu dan kedelapan teman-temannya padaku. Mereka menjadi urusanku dan ketujuh sahabat-sahabatku, bukan menjadi urusan kalian lagi."


"Tapi.....,"


"Anda tidak ingin terjadi sesuatu terhadap desa anda, bukan? Jangan sampa aku kalap dan menghancurkan semua usaha yang kalian buat selama ini demi melindungi sepuluh penjahat di desa ini?!"


"Jadi, bekerja samalah denganku dan orang-orangku."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan area tersebut dan diikuti oleh ketiga sahabatnya dan kelima kakak mafianya serta yang lainnya.


__ADS_2