KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekecewaan Dzaky Dan Adnan


__ADS_3

Davin memikirkan bagaimana adiknya menjadi sangat kejam kepada karyawannya. Adiknya itu bahkan tanpa ampun langsung menghabisi nyawa karyawannya tersebut.


Dzaky yang menyadari bahwa kakak tertuanya sedari melamun, akhirnya bersuara.


"Kak Davin," panggil Dzaky.


"Ach, iya! Ada apa, Dzaky?"


"Kak Davin kenapa? Dari tadi kak Davin melamun," ucap Dzaky.


"Ada apa, kak? Apa ada masalah?" tanya Adnan.


"Tidak ada masalah," jawab Davin.


"Kalau tidak ada masalah. Kenapa Kak Davin melamun?" tanya Andra.


"Kakak mikirin Darren," sahut Davin.


"Darren!" seru Andra, Dzaky dan Adnan.


"Memangnya kenapa Darren, kak?" tanya Dzaky.


"Kakak memikirkan kejadian kemarin di SHOOWROOM milik Darren," jawab Davin.


"Memangnya kenapa?" tanya Adnan.


"Kakak tidak habis pikir, kenapa Darren sampai tega menghabisi nyawa dua karyawannya begitu saja?" ucap dan tanya Davin.


"Satu, kak Davin! Bukan dua," sela Adnan.


"Iya, kakak tahu! Tapi sama saja. Yang jelas ada dua pembunuhan di SHOOWROOM milik Darren," sahut Davin.


"Jadi maksud kak Davin. Kak Davin mengatakan bahwa Darren seorang pembunuh. Begitu?" tanya Dzaky.


Davin hanya diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa.


"Lalu apa sebutan untuk orang yang sudah mensabotase empat mobil yang sudah dibuat oleh Darren dan timnya?" tanya Adnan.


"Bahkan orang itu sudah menyebabkan satu mobil Darren hancur dalam ledakan itu. Bahkan Darren dan juga Jerry hampir kehilangan nyawa mereka," tutur Dzaky.


"Bukan itu saja, Darren juga mengalami kerugian besar, kak! Ditambah lagi tanggung jawab Darren kepada Dua Perusahaan yang memesan mobil pada perusahaan Darren. Empat mobil dalam keadaan rusak dan satunya sudah hancur. Darren beserta timnya harus mengulang dari awal lagi. Seharusnya kak Davin memikirkan hal itu." Adnan berbicara dengan nada yang kesal. Adnan benar-benar kesal akan pemikiran kakak tertuanya itu.


"Kak Davin seharusnya tahu bagaimana posisi Darren dan kondisi Darren saat ini. Kak Davin seharusnya tahu bagaimana kerja kerasnya Darren selama ini, tapi yang Darren dapatkan adalah sebuah pengkhianatan. Kak Davin jangan melihat dari bagaimana Darren memberikan hukuman pada keempat karyawan-karyawannya. Tapi lihatlah bagaimana Darren menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana." Dzaky berbicara sembari menatap wajah kakak tertuanya itu.


"Jika saja kesalahan keempat karyawannya itu tidak fatal, aku yakin Darren tidak akan melakukan hal sekejam itu. Aku juga yakin Darren akan mengampuni mereka dan memberikan kesempatan kedua kepada mereka," kata Adnan.


"Kalau masalah itu kakak sangat paham sekali Adnan, Dzaky. Tapikan Darren bisa memberikan hukuman lain, tidak harus membunuh." Davin menyela perkataan Adnan dan Dzaky.


"Memang benar apa yang dikatakan Darka dan Gilang. Kak Davin itu hanya memikirkan apa yang kak Davin pikirkan. Kak Davin memaksakan kehendak Kak Davin pada orang lain. Baik menurut Kak Davin, tapi belum tentu baik untuk orang lain. Benar menurut Kak Davin, belum tentu benar menurut orang lain. Jelek menurut kak Davin, tapi belum tentu jelek menurut orang lain. Begitu juga dengan Darren. Darren pasti sudah memikirkannya sebelum bertindak!" seru Dzaky.


"Aku tidak peduli jika Darren menjadi pembunuh. Di dalam situasi ini, Darren tidak salah. Darren hanya ingin memberikan hukuman untuk orang-orang yang berkhianat padanya. Kalau aku diposisi Darren, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren!" seru Adnan.


"Kalau bukan mereka yang mati ditangan Darren. Pasti Darren yang akan mati ditangan orang itu. Jika Darren memberikan ampunan pada keempat karyawannya, jika Darren memberikan kesempatan kedua pada keempat karyawannya. Bisa saja mereka melaporkannya kepada orang yang menyuruh mereka. Jika saja orang itu tahu bahwa Darren dan sahabat-sahabatnya selamat. Kemungkinan besar orang itu akan melakukannya lagi. Apa itu yang kak Davin inginkan? Apa Kak Davin ingin Darren mati?" ucap dan tanya Dzaky dengan nada yang sedikit tinggi.


Setelah mengatakan hal itu, Dzaky langsung pergi meninggalkan ruang tengah. Dzaky ingin langsung pergi menuju kantor miliknya.


"Aku kecewa dengan kak Davin. Aku tidak habis pikir dengan pemikiran kakak itu. Darren itu adik kandungmu. Apapun yang dilakukan Darren. Seharusnya kita tetap mendukungnya, tetap di sampingnya, tetap ada untuknya. Aku sangat yakin, jika Darren tidak menginginkan hal ini. Tapi Darren terpaksa melakukannya karena ini sudah menyangkut nyawa dan juga merugikan Perusahaan," sahut Adnan dengan nada kecewanya.


Setelah itu, Adnan beranjak dari duduknya. Adnan pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap ke Kantor. Jika Adnan lama-lama berada di ruang tengah dan berlama-lama menatap wajah Kakak tertuanya itu, kemungkinan akan terjadi keributan besar.


Kini tinggal Davin dan Andra. Keduanya hanya diam.


Lalu beberapa detik kemudian, Davin pun bersuara.


"Andra."


"Hm."


"Apa kakak salah, Dra?" tanya Davin lirih.


Andra melihat wajah kakaknya itu. "Aku tidak tahu apa kak Davin salah atau tidak. Tapi saat mendengar ucapan demi ucapan dari Dzaky dan Adnan. Aku menjadi mengerti. Darren berhak melakukan hal itu pada keempat karyawan-karyawannya. Bagaimana pun Darren dan juga sahabat-sahabatnya hampir kehilangan nyawa akan ulah mereka."


"Kak Davin. Kita sudah banyak salah kepada Darren. Jangan melakukan kesalahan lagi. Inilah saatnya kita memperbaikinya agar kita mendapatkan maaf dari Darren. Dalam sebuah keluarga tidak ada pandang bulu. Baik buruknya, kita tetap keluarga. Begitu juga dengan Darren. Apapun yang dilakukan Darren. Darren tetap adik kita kak Davin. Adik kandung kita."

__ADS_1


Davin yang mendengar penuturan dari Andra seketika meneteskan air matanya. Davin benar-benar menyesal karena berpikir terlalu dangkal akan adik bungsunya.


Davin seperti ini karena Davin tidak ingin adiknya sampai berurusan dengan polisi. Davin masih ingat saat polisi datang ingin menangkap adiknya saat di rumah sakit atas penusukan yang dilakukan adiknya. Davin tidak ingin hal itu terulang lagi. Davin tidak ingin adiknya itu masuk penjara.


"Darren. Maafkan Kakak. Maafkan kakak. Kakak janji apapun yang terjadi, kak Davin akan selalu ada untuk kamu. Kali ini kakak akan buktikan," batin Davin.


***


[SHOOWROOM BMWX]


Darren dan ketiga sahabatnya yaitu Jerry, Axel dan Dylan berada di aula. Bukan mereka saja, tapi juga ada dua karyawan yang berkhianat disana.


Yah! Hari ini adalah hari kedua uji coba mobil-mobilnya. Namun hanya tiga saja. Mobil yang akan dipakai adalah mobil yang sudah disabotase oleh karyawannya itu.


Darren, Axel, Jerry dan Dylan menatap tajam kearah Dicky dan Bobby.


Axel melihat kearah Darren. "Bagaimana, Ren?"


"Beres. Aku sudah merubah mesinnya dan juga pintunya. Jadi saat para penghianat ini sudah berada di dalam mobil. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa karena mobil tersebut yang akan mengambil alih pengemudi. Dan mereka juga tidak akan bisa keluar karena pintu mobilnya sudah terpasang kuat. Pintu mobil itu hanya bisa dibuka dari luar," jawab Darren.


"Luar biasa. Aku semakin tidak sabaran melihat tubuh mereka hangus terbakar!" seru Jerry.


Darren, Jerry, Axel dan Dylan tersenyum bak iblis dengan tatapan tajam kearah Derry dan Bobby.


Sementara Dicky dan Bobby, mereka sudah ketakutan. Tubuh mereka bergetar. Mereka merutuki kebodohan mereka yang mau dibayar mahal untuk mengkhianati Bos mereka yang baik dan suka menolong.


"Bawa mereka ke Serkuit!" seru Dylan dengan lantangnya.


"Baik, Bos." empat anggotanya menjawab bersamaan.


Lalu keempat anggota Dylan menarik paksa tubuh Dicky dan Bobby.


"Bos.. Bos.. maafkan kami. Tolong jangan lakukan itu pada kami. Kami akan melakukan apapun, asal Bos mau mengganti hukumannya!" teriak Bobby.


"Iya, Bos. Kami mohon. Jangan bunuh kami!" teriak Dicky.


"Apa kalian yakin?" tanya Darren.


"Kami yakin, Bos!" jawab keduanya.


DEG!


Dicky dan Bobby terkejut.


"Ma-maksud Bos?" tanya Dicky gugup.


"Maksudku adalah kalian bebas dari hukuman, tapi sebagai gantinya seluruh anggota keluarga kalian akan aku bunuh sebagai ganti kerugian Perusahaanku," jawab Darren.


"Apa kalian setuju?" tanya Axel.


Dicky dan Bobby terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.


Melihat Dicky dan Bobby terdiam. Darren, Jerry, Dylan dan Axel tersenyum meremehkan.


"Baiklah. Sekarang bawa mereka dan juga dua mobil itu ke Sirkuit. Pastikan kalian melakukannya dengan baik tanpa ada kesalahan sama sekali. Mengerti!" perintah Jerry.


"Baik, Bos."


Lalu mereka pun pergi dengan membawa Dicky dan Bobby ke Sirkuit. Sementara dua mobil itu dibawa menggunakan truk pengangkut mobil.


"Lalu satu mobil itu untuk apa, Ren?" tanya Axel.


Darren tersenyum sembari menatap ketiga wajah sahabat-sahabatnya itu.


"Untuk kekasihku."


Setelah mengatakan hal itu, Darren pergi menuju ruang kerjanya. Di ruang itu Darren akan menonton pertunjukan balapan.


"Yak, Ren!" teriak Jerry, Axel dan Dylan. Mereka pun pergi menyusul Darren.


^^^


Kini mereka semua sudah berada di ruang kerja Darren. Mereka menatap sebuah komputer dimana di layar komputer itu menayangkan sebuah aksi dari anggotanya yang sedang menarik paksa kedua pengkhianat untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disabotase oleh mereka sendiri. Kedua penghianat itu telah masuk dalam mobil, dan dapat didengar suara-suara teriakan dari keduanya saat mobil itu melaju dengan cepat.

__ADS_1


"Inilah akibat jika berani mengkhianatiku," batin Darren.


Tak jauh beda dengan Dylan, Jerry dan Axel. Mereka sangat puas hasil kerja anggota-anggotanya.


"Jika kalian tidak berkhianat. Sudah dipastikan hidup kalian akan terjamin. Begitu juga dengan anggota keluarga kalian," batin Dylan.


"Tapi sayangnya. Kalian lebih memilih untuk berkhianat hanya demi uang," batin Jerry.


"Dan sekarang terima akibatnya," batin Axel.


"Ren," panggil Axel.


"Hm." Darren berdehem.


"Apa maksud dari perkataanmu barusan?" tanya Axel.


"Yang mana?" tanya Darren balik.


"Jangan pura belagu dan bodoh, Darrendra!" seru Jerry, Dylan dan Axel dengan menyebut nama panjang Darren.


Darren mengalih pandangannya dan menatap ketiga sahabatnya yang kini menatap kesal padanya.


"Kalian tahu maksud dari perkataanku tadi," sahut Darren.


"Helena Orlando!" seru ketiganya.


"Ahaa." Darren menjentikkan jarinya.


"Jadi....?" perkataan Dylan terpotong.


"Hei, siapa juga yang akan balik dengan wanita sialan itu. Ini hanya rencanaku saja untuk membalasnya," ucap Darren yang tahu apa yang akan dikatakan oleh Dylan.


Melihat kebingungan di wajah ketiganya. Darren tersenyum gemas.


"Oke. Aku akan jelaskan. Helena ikut andil dalam mensabotase mobil-mobil itu. Wanita itu ingin membalas dendam padaku atas penusukan yang aku lakukan pada Ayahnya," ucap Darren.


"Apa?" teriak mereka terkejut.


"Brengs*k!" umpat Jerry.


"Mereka berpikir kalau kalian tewas saat melakukan uji coba itu. Lalu aku menangis akan kematian kalian."


"Lalu rencana apa yang sedang kau susun, Ren?" tanya Axel.


"Sesuai yang mereka pikirkan. Aku sudah memberitahu Qenan, Willy, Rehan dan Darel. Aku menyuruh mereka untuk tetap di rumah dan jangan keluar sebelum aku menyuruh mereka keluar. Bahkan aku sudah memesan beberapa karangan bunga dan bunga-bunga itu sudah terpajang di depan Perusahaan ACCENTURE dan GALERI." Darren berbicara sambil menatap wajah ketiga sahabatnya.


"Dan tersisa kalian," ucap Darren lagi.


Jerry, Dylan dan Axel mengangguk mengerti.


"Lalu?" tanya Axel.


"Wanita murahan itu akan datang menemui Darren dan berusaha mengambil hati Darren kembali dengan cara memberikan dukungan dan perhatian pada Darren. Begitukan, Ren?" ucap dan tanya Dylan.


"Seratus persen untukmu, Dylan Afred Carlo," ucap Darren tersenyum.


"Rencana yang bagus," ujar Axel.


"Aku akan menghadiahkan mobil itu padanya. Dengan mobil tersebut, wanita itu akan mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan bagian anggota tubuhnya lumpuh total, salah satunya adalah kedua kakinya. Aku tidak akan membunuhnya langsung. Aku ingin melihat jeritan kesakitannya, tangisannya dan juga aku ingin melihat wanita itu memohon ampun padaku," pungkas Darren.


"Baiklah, Ren! Kami suka caramu," ujar Dylan.


"Aku sudah tidak sabaran melihat wanita itu menderita," kata Axel.


"Hm. Aku juga," sela Jerry.


Saat mereka sedang membahas rencana untuk membalas Helena. Tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan di layar komputer. Dua ledakan secara beruntun.


DUUAARRRR!


DUUAARRRR!


Mereka pun langsung melihat kearah layar komputer. Seketika terukir senyuman kebahagiaan di bibir mereka masing-masing.

__ADS_1


"GAME OVER!" seru mereka bersamaan.


__ADS_2