KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Trauma


__ADS_3

[Kampus]


Jerry, Dylan dan Axel saat ini berada di kantin. Sedangkan lima sahabatnya yang lainnya belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.


Ketiganya saat ini tengah menikmati sarapan paginya yang kedua setelah sarapan pagi bersama anggota keluarganya.


Ketika Jerry, Dylan dan Axel tengah asyik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba Brenda datang bersama dengan kelima sahabatnya minus Vania dan Elsa datang mengganggu acara makan mereka.


"Wah! Makan enak nih!" seru Brenda dan langsung menduduki pantatnya di bangku dan disusul oleh kelima sahabatnya.


Dylan, Axel dan Jerry hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya.


"Ngapain kemari?" tanya Jerry.


"Pawang lo nggak ada disini," ucap Axel.


"Mending lo jauh-jauh dari kita-kita," ucap Dylan.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Dylan, Jerry dan Axel membuat Brenda mendengus.


Brenda kemudian mencomot satu nugget yang ada di piring Dylan sehingga membuat si pemilik nugget tersebut melotot.


"Yak, Brenda! Nugget gue tinggal satu-satunya dan lo malah mengambilnya," ucap Dylan dengan menatap horor Brenda.


"Yaelah! Pelit amat sama cewek. Cuma satu doang," jawab Brenda.


"Justru tinggal satu itu makanya gue pertahankan. Nah, lo! Datang-datang main comot nugget orang tanpa permisi," jawab Dylan sewot.


"Tumben cuma bertiga? Para species kalian yang lainnya pada kemana?" tanya Alice.


Mendengar pertanyaan dari Alice. Dylan, Axel dan Jerry kompak mengangkat kedua bahunya sembari terus fokus dengan makanannya.


Jerry melirik sekilas kearah Brenda dan kelima sahabatnya. Setelah itu, Jerry kembali fokus pada makanannya.


"Dua dayang kunti kemana? Kok nggak bersama kalian?" tanya Jerry.


"Ntahlah," jawab Brenda, Alice, Tania, Lenny, Milly dan Felisa.


"Jerry," panggil Tania.


Jerry langsung melihat kearah Tania. Dan seketika terukir senyuman di bibir Jerry.


"Ada apa, hum?"


"Ntar malam jalan yuk."


"Mau jalan kemana?" tanya Jerry.


"Terserah kamu mau ngajak aku kemana asal bersama kamu," jawab Tania.


"Hueekk!"


Dylan langsung memperagakan seseorang yang sedang muntah ketika mendengar jawaban dari Tania.


Melihat kelakuan Dylan membuat Tania mendengus. Tania menatap horor Dylan.


"Kalau iri bilang kurus," ucap Tania.


"Siapa yang iri?"


"Kalau nggak iri. Ngapain gitu?"


Ketika Dylan ingin menjawab perkataan dari Tania. Jerry sudah terlebih dahulu bersuara.

__ADS_1


"Udahlah beb. Nggak usah dilayani orang jomblo kayak si kurus itu.  Si kurus itu memang iri sama kita. Tapi ngakunya nggak iri," sahut Jerry sambil memberikan satu suapan nasi goreng kepada Tania.


Mendengar perkataan dari Jerry membuat Dylan mendengus.


Sementara Tania yang mendapatkan suapan dari Jerry membuat dirinya tersenyum bahagia. Tania dengan senang hati menerima suapan dari Jerry.


"Nanti malam kita pergi jalan-jalan. Aku akan jemput kamu sekitar pukul 7," ujar Jerry.


"Baiklah," jawab Tania.


Axel, Brenda, Alice, Lenny, Milly, Felisa menatap kesal Jerry dan Tania yang sengaja memarkan kemesraannya. Begitu juga dengan Dylan. Dirinya yang paling kesal disini.


"Niat banget buat kita-kita disini iri," sahut Axel.


"Iya nih. Nggak punya perasaan banget," ucap Milly.


"Nggak pengertian," ucap Lenny.


"Makanya jadian. Jangan sok jual mahal," sahut Jerry dengan santainya.


Mendengar perkataan dari Jerry membuat Dylan dan Axel mendengus.


"Xel," panggil Brenda.


Axel melihat kearah Brenda. "Ada apa?"


"Memangnya Darren, Darel, Rehan, Qenan dan Willy kemana sih? Udah jam segini mereka belum nyampe dikampus," ucap dan tanya Felisa.


"Darren, Rehan dan Darel ada urusan dengan lima pengusaha yang mau membeli lukisan Darren. Qenan dan Willy beberapa jam yang lalu aku menghubunginya masih dalam perjalanan menuju kampus," jawab Axel.


"Seharusnya udah nyampe dong mereka nya," sela Alice.


"Terus bagaimana dengan Elsa dan Vania? Kenapa mereka berdua belum datang?" tanya Dylan.


"Beberapa menit yang lalu kita hubungi mereka masih di supermarket. Kemungkinan mereka sudah dalam perjalanan menuju kampus," ucap Felisa.


Ketika mereka tengah membicarakan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba ponsel milik Brenda berbunyi.


Brenda yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya.


Setelah ponselnya ada di tangannya, Brenda melihat nama 'Vania' di layar ponselnya.


"Eh, ini Vania menghubungi gue!" seru Brenda.


"Udah angkat," sahut Milly dan Lenny bersamaan.


Setelah itu, Brenda pun menjawab panggilan dari Vania.


"Hallo, Vania. Kamu dimana? Kenapa belum nyampe juga?" tanya Brenda.


"Hallo, Brenda. Kayaknya gue dan Elsa nggak masuk hari ini. Gue sekarang lagi di rumah Elsa."


"Lah kenapa? Bukannya lo...." perkataan Brenda terpotong.


"Selesai gue dan Elsa berbelanja di supermarket. Kita berdua memutuskan langsung ke kampus. Tapi ketika di dalam perjalanan ke kampus, mobil kita di hadang oleh beberapa orang. Dan dua dari orang itu berhasil merusak kaca mobil Elsa. Dan setelah itu, keduanya nyeret kita berdua keluar. Ketika kita berdua diseret dan dipaksa gitu, tiba-tiba Qenan dan Willy datang."


Mendengar berita dari Vania membuat Brenda terkejut dan juga syok. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika dua sahabatnya mengalami kejadian seperti ini.


"Lo sama Elsa nggak apa-apa kan?"


Ketika mendengar pertanyaan dari Brenda membuat Felisa, Alice, Milly, Lenny dan Tania menatap Brenda khawatir.


"Brenda, ada apa?" tanya Tania.

__ADS_1


"Kenapa dengan Vania dan Elsa?" tanya Milly.


Brenda tidak menjawab pertanyaan dari Tania dan Milly, karena Brenda masih terus berbicara dengan Vania.


"Gue dan Elsa nggak apa-apa karena Qenan dan Willy datang tepat waktu. Tapi..."


"Tapi apa, Vania?"


"Elsa sepertinya mengalami trauma."


"Oh, Tuhan! Kasihan Elsa."


"Ya, sudah Brenda! Aku tutup teleponnya. Buruan kamu dan yang lainnya ke rumah Elsa."


"Oke, kita akan kesana."


Setelah saling berbicara Brenda dan Vania pun sama-sama mematikan teleponnya.


Alice, Felisa, Milly, Lenny dan Tania langsung menatap wajah Brenda untuk meminta penjelasan. Begitu juga dengan Axel, Jerry dan Dylan.


"Brenda. Apa yang terjadi dengan Vania dan Elsa?" tanya Tania.


"Dan Elsa kenapa?" tanya Felisa.


Brenda menatap satu persatu wajah sahabatnya dengan tatapan sedih.


"Vania dan Elsa hampir diculik oleh beberapa orang ketika di dalam perjalanan menuju kampus," ucap Brenda.


Mendengar perkataan dari Brenda membuat Felisa, Milly, Lenny, Alice dan Tania terkejut. Begitu juga dengan Axel, Dylan dan Jerry.


"Apa?"


"Lalu bagaimana mereka sekarang, Brenda?" tanya Lenny.


"Mereka baik-baik sajakan?" tanya Milly.


"Mereka baik-baik saja karena Qenan dan Willy datang tepat waktu dan berhasil mencegah orang-orang itu membawa Vania dan Elsa," jawab Brenda.


"Terus dimana mereka sekarang?" tanya Dylan.


"Di rumah Elsa. Vania bilang Elsa mengalami trauma setelah kejadian itu," ucap Brenda.


"Ya, udah! Lebih baik ke rumah Elsa sekarang!" seru Dylan.


Di dalam hati Dylan menyimpan kekhawatiran teramat besar terhadap Vania. Dylan menaruh rasa suka terhadap Vania setelah selama satu minggu Vania kuliah di kampus yang sama dengannya. Namun rasa suka tidak diperlihatkan Dylan didepan Vania maupun didepan sahabat-sahabatnya. Dylan dengan apik menyembunyikannya.


Sementara Jerry, Axel, Brenda, Felisa, Lenny, Milly, Tania dan Alice menatap wajah Dylan tak sabaran untuk ke rumah Elsa.


Di dalam hati mereka masing-masing mengatakan bahwa Dylan saat ini tengah mengkhawatirkan Vania.


"Kenapa kalian menatap gue seperti itu?" tanya Dylan dengan menatap wajah dua sahabatnya, Brenda dan kelima sahabat Brenda.


Bukannya menjawab. Justru mereka masih terus menatap wajah Dylan. Di dalam hati mereka masing-masing kini tengah tersenyum.


Melihat kedua sahabatnya, Brenda dan kelima sahabat Brenda yang masih menatap dirinya tanpa bersuara membuat Dylan mendengus.


"Jadi nggak kita ke rumah Elsa?!" teriak Dylan.


Mendengar teriakan dari Dylan membuat mereka semua terkejut. Dan setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kantin untuk ke kelas mengambil tas masing-masing.


Sebelum pergi meninggalkan kampus. Mereka terlebih dahulu menemui rektor dan meminta izin kepada rektor bahwa mereka ingin ke rumah Elsa, termasuk izin untuk Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy dan Vania. Mereka menceritakan apa yang dialami oleh Vania dan Elsa.


Setelah mendapatkan izin, mereka semua pun langsung pergi meninggalkan kampus.

__ADS_1


Di dalam perjalanan. Jerry menghubungi Darren, Dylan menghubungi Darel dan Axel menghubungi Rehan. Ketiganya memberitahu sahabatnya itu untuk ke rumah Elsa. Bahkan ketiganya juga memberitahu kejadian yang menimpa Vania dan Elsa.


__ADS_2