KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rasa Bersalah Elsa


__ADS_3

[Kantin Kampus]


Darren dan Brenda saat ini berada di kantin. Hanya mereka berdua. Sementara para sahabat-sahabat mereka untuk sementara diusir ke planet pluto.


Darren dan Brenda saat ini tengah menikmati makan siang dengan tiga menu dan dua minuman dingin.


"Jadi bagaimana? Kamu mau bergabung dalam kelompok organisasi kampus?" tanya Darren sembari memasukkan nasi goreng seafood ke dalam mulutnya.


"Baiklah. Aku mau gabung. Aku gabung demi kamu. Aku nggak mau kamu kembali drop karena tugas-tugas kamu yang numpuk," jawab Brenda dengan menyeruput es jeruknya.


"Terima kasih ya."


"Sama-sama."


"Aku ngajak kamu dan juga ketujuh sahabat kamu untuk gabung dalam kelompok organisasi kampus karena kamu dan juga sahabat-sahabat kamu itu pernah ikut serta dalam kegiatan OSIS di SMP dan di SMA dulu."


"Tapi itu sudah lama. Dan sekarang aku nggak pernah ikut lagi. Dan ini aku kembali gabung karena kamu yang minta."


"Aku yakin kamu bisa. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kamu."


"Ya, semoga."


"Jangan lupa bujukin sahabat-sahabat kamu itu. Nanti jika mereka setuju. Hubungi aku. Setelah semuanya beres, aku akan adakan rapat untuk membentukkan kelompok baru dan penambahan anggota."


"Baiklah."


TING!


Terdengar suara notifikasi masuk ke ponsel milik Darren. Darren yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darren melihat dua pesan dari Qenan dan Jerry.


Darren langsung membuka pesan itu dan membacanya.


TO : Jerry


Semua formulir pendaftaran anggota baru untuk mahasiswa sudah selesai disebarkan.


TO : Qenan


Tugas beres. Para mahasiswi semuanya sudah menerima selebaran formulir pendaftaran anggota baru.


Darren tersenyum ketika membaca pesan dari Qenan dan Jerry. Sahabat-sahabatnya itu bisa diandalkan.


"Dari siapa?" tanya Brenda.


"Dari Qenan dan Jerry," jawab Darren.


^^^


"Bagaimana? Udah selesai?" tanya Axel kepada Qenan dan Jerry yang datang memasuki kelas komputer.


"Sudah."


"Beres."


Qenan dan Jerry menjawab secara bersamaan sembari langsung menduduki pantatnya di kursi dan langsung menghidupkan komputer.


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel saat ini sedang mengerjakan data pengelompokkan untuk kelompok baru.


Baik Qenan, Willy, Rehan maupun Darel, Jerry, Dylan dan Axel sudah mendapatkan bocoran dari Darren bahwa akan ada lima kelompok yang akan dibentuk oleh Darren.


Ketika Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel sedang fokus menatap layar komputer, tiba-tiba ada yang membuka pintu ruang komputer.


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung melihat kearah pintu.


"Maaf kalau kita ganggu!" seru Alice, Elsa, Felisa, Vania, Tania, Lenny dan Milly.


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel menatap dengan wajah bleng. Dalam hati mereka 'tumben pada kalem semua. Kesambet apa nih tujuh curut'.


"Ach, iya! Nggak apa-apa. Ada apa?" tanya Axel.

__ADS_1


"Masalah kemarin," sahut Elsa.


"Yang mana?" tanya Qenan tanpa melihat lawan bicaranya.


"Yak! Dasar hitam sialan. Bisa tidak sekali saja tidak cari ribut dengan gue!" sungut Elsa.


"Ogah," jawab Qenan.


Elsa menatap kesal kearah Qenan dengan kedua tangan sudah berbentuk tinju melayang-layang ke udara.


"Kalau ngomong yang jelas," ucap Qenan lagi.


Elsa menatap kesal berlipat-lipat kearah Qenan. Kemudian Elsa melangkah mendekati Qenan yang masih menatap layar komputer.


Dan detik kemudian...


"Aakkhh!" teriak Qenan merasakan rambutnya ditarik oleh Elsa.


"Yak! Bebek sialan, lepaskan rambut!" teriak Qenan.


"Rasain. Siapa suruh nyari ribut dengan gue," ucap Elsa makin menarik rambut Qenan.


"Yak, Elsa!" teriak Alice, Vania, Tania, Lenny, Milly dan Felisa. Mereka langsung menghampiri Elsa.


Alice, Vania, Tania, Lenny, Milly dan Felisa melepaskan tangan Elsa dari rambut Qenan. Begitu juga dengan Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.


"Lepaskan gue, bebek sialan!" teriak Qenan.


Dan pada akhirnya, Elsa pun melepaskan tarikannya dari rambut Qenan. Elsa masih menatap kesal Qenan.


"Gila lo. Apa lo ingin buat kepala gue botak, hah?!" teriak Qenan.


"Kalau iya, lo mau apa?" tantang Elsa.


Qenan menatap super kesal kearah Elsa. Dirinya ingin membalas apa yang telah dilakukan oleh Elsa barusan kepadanya.


Ketika Qenan mengangkat tangannya hendak membalas Elsa. Willy dan Axel yang berdiri di samping langsung memeluk Qenan dan membawanya menjauh dari Elsa.


"Qenan, jangan!" seru Willy dan Axel.


"Qenan. Elsa itu cewek loh. Nggak sepantasnya kamu balas apa yang Elsa lakuin tadi," ucap Axel.


"Tapi ini yang pertama kalinya gue diginiin sama cewek, Xel! Seumur-umur gue nggak pernah diginiin," jawab Qenan.


"Iya, gue tahu. Tapi lo juga salah disini. Elsa dan yang lainnya nanya baik-baik. Nah, lo jawabnya bikin Elsa kesal." Willy ikut buka suara.


"Kesal ya kesal. Tapi nggak pake narik rambut segala," ucap Qenan.


"Lagian nih cewek juga sering buat gue kesal. Tapi gue nggak pernah kasar ama dia," ucap Qenan lagi.


Sementara Elsa menatap Qenan dengan menyesal. Dirinya juga tidak tahu kenapa bisa dirinya melakukan itu kepada Qenan. Padahal ini bukan pertama kalinya Qenan buat dirinya kesal. Bahkan ini bukanlah pertama kalinya dirinya dan Qenan selalu ribut setiap bertemu. Kenapa dirinya jadi seperti ini.


"Ach, bodo!"


Qenan langsung pergi meninggalkan ruang komputer dengan wajah masamnya.


"Lo mau kemana, Nan?!" teriak Willy.


"Cari angin. Kalau masih tetap disini. Bisa mati anak perempuan orang!" teriak Qenan.


Ketika Qenan melangkah keluar, Qenan berhadapan dengan Darren dan Brenda.


Dikarenakan dirinya sedang kesal. Dirinya melampiaskan kekesalannya itu ke Brenda ketika Brenda menyapa dirinya.


"Qenan," sapa Brenda.


"Nggak dengar," jawab Qenan.


Qenan melongos gitu aja melewati Darren dan Brenda. Sedangkan Darren dan Brenda melihat sikap Qenan seketika membelalakkan matanya.


"Kenapa tuh anak?" batin Darren.

__ADS_1


Darren kemudian melangkah masuk ke dalam bersama Brenda.


Ketika tiba di dalam, baik Darren maupun Brenda menatap sahabat-sahabatnya yang hanya diam di tempat.


"Ada apa dengan kalian? Terus si hitam kenapa kayak setrikaan panas ketika melihat gue dan Brenda?" tanya Darren.


Brenda melihat kearah Elsa. Dan seketika Brenda terkejut. "Elsa, lo nangis?"


Darren langsung melihat kearah Elsa. Dan benar, Elsa dalan keadaan menangis.


"Ada apa?" tanya Darren.


"Kalian berantem?" tanya Brenda.


"Maafin gue, Brenda. Gue salah," sahut Elsa.


"Memang kenapa? Lo salah apa?" tanya Brenda yang masih bingung.


"Gue... Gue tadi habis narik rambutnya Qenan," jawab Elsa. Elsa makin menundukkan kepalanya.


"Apa?!" teriak Darren dan Brenda bersamaan.


"Oh. Jadi lo sama Qenan habis perang ya? Siapa yang menang? Berapa ronde tadi?" tanya Brenda.


Mendengar pertanyaan dari Brenda membuat Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan,Axel, Alice, Vania, Tania, Lenny, Milly dan Felisa menatap horor Brenda. Termasuk Darren.


TAK!


"Aakkhh!"


Darren menjitak kening Brenda sehingga membuat Brenda meringis.


"Kenapa kamu jitak kening aku sih?" tanya Brenda dengan menatap kesal Darren.


"Apa? Mau lagi?" tanya Darren dengan mengangkat tangannya ke atas hendak memberikan jitakan kedua di kening Brenda.


Mendengar dan melihat Darren yang ingin kembali menjitak keningnya, Brenda langsung menggelengkan kepalanya cepat.


Brenda mengalihkan perhatiannya menatap Elsa. "Jadi itu benar? Lo beneran narik rambutnya Qenan, Sa?" tanya Brenda untuk meyakinkan pendengarannya bahwa Elsa menarik rambut Qenan.


"Iya. Aku beneran narik rambutnya Qenan," jawab Elsa.


"Tapi kenapa, Sa?" tanya Brenda.


"Gue kesal sama sikap Qenan yang selalu buat gue kesal."


"Lah, bukannya Qenan memang seperti itu sama lo. Ini bukan pertama kalinya, Sa! Sejak kita di SMP dan di SMA dulu. Kalian berdua memang sering ributkan? Bahkan bukan lo dan Qenan saja. Bahkan kalian juga." Brenda berbicara sembari menatap satu persatu sahabat-sahabatnya dan juga sahabat-sahabatnya Darren.


"Dan kalian ributnya juga nggak kasar-kasar amat. Ribut kalian itu hanya keributan kecil doang. Tapi sekarang kok malah main narik rambut segala," ucap Brenda.


"Gua nggak sadar saat ngelakuin itu, Brenda! Gue... Gue reflek aja. Gue beneran nggak tahu kenapa?" ujar Elsa.


"Sudahlah, Brenda! Jangan dipermasalahkan lagi. Aku yakin Elsa beneran nggak sadar melakukan itu," sahut Darren.


Elsa menatap wajah Darren. "Terus bagaimana dengan Qenan, Ren?" tanya Elsa.


"Lo nggak perlu khawatir. Qenan itu sahabat gue. Dan gue tahu seperti apa wataknya dia. Gue udah kenal Qenan selama 15 tahun. Qenan kalau lagi kesal atau marah, dia bakal pergi gitu aja ninggalin kita semua. Nanti jika dia sudah merasa bosan. Qenan bakal balik dengan sendirinya." Darren berbicara sembari menenangkan Elsa.


"Itulah cara kita buat nenangin salah satu dari kita yang sedang emosi. Kita bakal biarkan orang itu nenangin dirinya sendiri. Kita kasih waktu satu jam. Lewat dari itu, kita susul dia. Bersama-sama atau salah satu dari kita," ucap Jerry.


"Tapi bagaimana kalau...." perkataan Elsa terpotong.


"Lo nggak perlu khawatir. Qenan nggak beneran marah sama lo," sahut Jerry.


"Tapi kalau misalnya Qenan beneran marah sama gue, gimana?" tanya Elsa sembari menatap wajah Darren, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.


"Ya kalau memang Qenan beneran marah sama lo. Itu udah nasib lo. Dan lo harus nerima dengan lapang dada. Lagian lo juga yang salah pake narik rambut Qenan segala. Kan jadi marah tu anak," ucap Dylan seenak jidatnya.


Mendengar perkataan seenak jidat dari Dylan. Darren, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel menatap tajam kearah Dylan.


Dylan yang sadar dirinya ditatap oleh keenam sahabatnya. Bahkan tatapan keenam sahabatnya itu seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup hanya bersikap acuh dan tak peduli.

__ADS_1


"Gue tahu kalau gue ini pria yang tampan. Jadi jangan tatap gue seperti itu," sahut Dylan dengan gaya cool nya.


"Hah!" Darren, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel langsung menghela nafas pasrahnya melihat kelakuan Dylan.


__ADS_2