
Mendengar cerita dari Torry dan Norris membuat Farraz terkejut dan seketika berubah menjadi sedih dan iba. Begitu juga dengan Darren serta orang-orang yang ada di ruang tengah itu. Mereka semua tidak menyangka ketika mengetahui alasan kebencian mereka terhadap Adrian dan Mathew.
"Jujur kami sebenarnya tidak ingin mencari masalah dengan Adrian dan Mathew. Dan kami juga tahu bahwa mereka tidak salah. Tapi Adrian dan Mathew selalu saja menerima setiap pihak sekolah menunjuk mereka. Bukan mereka tidak tahu siapa kami. Aku dan keempat sahabatku yakin jika Adrian dan Mathew tahu siapa kami karena disekolah itu selalu saja ada berita-berita yang cepat menyebar. Tapi Adrian dan Mathew tidak......"
"Kami memang tahu siapa kalian di sekolah!"
Tiba-tiba Adrian dan Mathew datang dan menghampiri Torry dan Norris bersama Daffa, Tristan dan Davian.
Adrian dan Mathew menatap kearah Torry dan Norris. Keduanya menatap Torry dan Norris dengan tatapan bersahabat.
"Kami memang tahu siapa kalian dan sahabat-sahabat kalian. Dan aku salut dan bangga terhadap kalian yang selalu memenangkan perlombaan," ucap Mathew.
"Jika kau dan sahabat-sahabatmu marah karena aku dan saudaraku sudah berebut semuanya dari kalian. Aku dan saudaraku minta maaf. Satu hal yang harus kalian ketahui bahwa kami sengaja melakukan hal tersebut kepada kalian, termasuk pihak sekolah dan semua teman-teman sekolah." Adrian berucap sambil menatap wajah Torry dan Norris bergantian.
"Apa maksud kalian?" tanya Norris dan Torry bersamaan.
"Ada yang tidak senang dengan kalian. Mereka marah melihat kalian selalu menang. Dan mereka berencana ingin melakukan hal buruk terhadap kalian berlima. Dan lebih parahnya, mereka ingin membunuh kalian," ucap Mathew.
Mendengar ucapan dari Mathew membuat Norris dan Torry terkejut. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka masing-masing. Bahkan Farraz, Darren dan yang lainnya juga terkejut.
"Jika kalian mati, maka mereka akan dengan mudahnya memenangkan perlombaan tersebut. Maka dari itulah kenapa pihak sekolah dan semua teman-teman sekolah tidak memilih kalian lagi dan lebih memilih kami berdua," ucap Adrian.
"Kalian tahu kenapa pihak sekolah memilih kami? Dan kenapa orang-orang yang niatnya ingin membunuh kalian tapi tidak berani menyentuh kami?" tanya Mathew.
"Kenapa?" tanya Torry dan Norris bersamaan.
"Itu semua karena kakak Darren. Disaat kakak Darren mendaftarkan kami ke sekolah kalian. Kakak Darren menceritakan siapa dirinya dan orang-orang yang ada di belakangnya kepada kepala sekolah. Hal itulah yang membuat kepala sekolah melindungi nyawa kalian dengan cara mengorbankan perasaan kalian dengan tidak memberikan perlombaan apapun kepada kalian. Dan beralih memberikannya kepada kami!" jawab Adrian.
"Perlombaan yang diberikan kepada kami itu berhubungan dengan perlombaan antar sekolah. Namun jika sesama kita, pihak sekolah masih tetap menunjuk kalian," ucap Mathew.
"Jadi intinya pihak sekolah dan teman-teman sekolah kita tidak pernah melupakan kalian. Mereka selalu mengingat bagaimana perjuangan kalian berlima dalam mengharumkan nama sekolah," ucap Adrian sembari tersenyum menatap wajah Torry dan Norris.
__ADS_1
"Jika semua itu adalah alasanya. Kenapa tidak ada yang memberitahu kami? Kenapa semuanya diam seolah-olah kami ini hanya pecundang? Bahkan kami sudah seperti penjahat di sekolah dengan menghancurkan semuanya. Dan kami juga sudah menyakiti kalian dengan menghina kedua orang tua kalian," ucap dan tanya Norris yang sudah sejak tadi menangis.
"Dan kalian berdua sudah tahu akan hal ini. Kenapa tidak memberitahu kami?" tanya Torry.
Adrian dan Mathew seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari Torry.
"Jangan salahkan kami. Saat itu kami ingin mengatakan alasan pihak sekolah menunjuk kami. Tapi kami urungkan karena kami melihat wajah kalian yang tak mengenakkan. Bahkan terlihat seperti ikan asin," ucap Adrian.
"Dari pada nantinya terjadi perang dunia kelima antara aku, kakak Adrian dan kalian berlima. Akhirnya kami memutuskan untuk tutup mulut," ucap Mathew menambahkan.
Sementara untuk kedua orang tua dari Norris dan Torry saat ini hanya diam dengan tatapan matanya menatap anak-anaknya serta menatap Adrian dan Mathew. Di dalam hati mereka masing-masing merutuki kebodohannya karena telah mengikuti ego untuk membalas Adrian dan Mathew yang nyatanya telah menyelamatkan nyawa anak-anaknya.
"Terima kasih," ucap Torry.
"Maafkan kesalahan kami yang telah menyakiti kalian, terutama untuk orang tua kalian." Norris berucap tulus.
Adrian dan Mathew langsung melihat kearah kakak laki-laki kesayangannya. Mereka berharap masalah ini selesai sampai disini dan tidak diperpanjang lagi.
"Apa?" Darren menatap lekat wajah kedua adik laki-lakinya itu.
"Maafkan kesalahan orang tuanya Torry dan Norris ya, kakak Darren!" mohon Mathew.
"Selesaikan masalahnya sampai disini saja ya, kakak Darren! Jangan diperpanjang lagi." Adrian berbicara sambil memohon kepada kakak laki-lakinya itu.
Darren menatap kearah ayahnya untuk meminta persetujuannya. Erland yang melihat putranya itu menatap dirinya langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Darren kembali menatap wajah kedua adik laki-lakinya yang saat ini masih setia menatap wajahnya.
Melihat wajah-wajah memohon Adrian dan Mathew. Dan melihat Darren yang hanya menatap wajah memohon kedua adik laki-lakinya membuat mereka semua tersenyum geli.
"Sudahlah, Ren! Mau sampai kapan lo menatap wajah memohon Adrian dan Mathew. Apa lo nggak kasihan melihat mereka. Ntar patah tuh leher mereka karena terlalu lama melihat wajah jelek lo itu!" seru Dylan.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Dylan membuat Darren mendengus. Sementara yang lainnya tersenyum ketika mendengar perkataan dari Dylan dan melihat wajah kesal Darren.
"Baiklah. Kakak Darren maafkan kesalahan mereka. Dan masalahnya selesai sampai disini," sahut Darren.
Mendengar ucapan dari sang kakak laki-lakinya membuat Adrian dan Mathew tersenyum bahagia.
Grep!
Adrian dan Mathew langsung menerjang tubuh ramping kakak laki-lakinya dan memeluknya erat.
"Terima kasih, kakak Darren!"
"Kakak Darren yang terbaik."
Mendengar ucapan dari Darren membuat kedua pasangan orang tua itu menangis. Mereka menangis bahagia dan bersyukur karena terhindar dari jeratan hukum dari keluarga Smith.
Di dalam hati mereka masing-masing berjanji untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Baik kepada anggota keluarga Smith maupun kepada orang lain. Mereka akan menjadikan masalah hari ini sebagai pembelajaran.
"Adrian, Mathew. Terima kasih. Sekali lagi maafkan kami atas kelakuan buruk kami selama ini," ucap Torry dan Norris bersamaan.
"Kita lupakan saja semuanya. Kita mulai awal lagi dari nol," sahut Adrian.
"Bagaimana kalau kita menjalin hubungan persahabatan," tawar Mathew sembari mengulurkan tangannya. Begitu juga dengan Adrian.
"Kami mau!" seru Torry dan Norris dengan langsung menyambut uluran tangan Adrian dan Mathew.
"Besok di sekolah, kita juga akan ajak Gege, Riyan dan Nigel untuk bergabung dengan kita. Bahkan kita juga akan menceritakan semuanya kepada mereka," sahut Mathew.
"Baik," jawab Torry dan Norris.
Dan pada akhirnya, semua permasalahan antara Adrian, Mathew, Torry dan Norris selesai. Dan permalasahan antara mereka hanya sebuah kesalahpahaman saja.
__ADS_1
Sementara untuk kedua orang dari Torry dan Norris dengan tulus meminta maaf dengan semua anggota keluarga Smith, terutama dengan Agneta dan Darren.