KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perang Besar 2


__ADS_3

Agneta berusaha untuk kuat dan dirinya tidak ingin lemah. Bagaimana pun Agneta adalah tuan rumah. Dan dirinya ingin melindungi tamu-tamunya. Agneta ingin meringankan pekerjaan suami dan putra-putranya dengan cara memberikan bantuan kepada para orang tua dari sahabat putra bungsunya yaitu Darren.


"Sophia, lebih baik kamu duduk disini. Jangan lagi lihat keluar." Agneta membantu Sophia untuk duduk di sofa membelakangi kaca depan. "Kalian juga. Duduklah dan tutup gordennya. Kalian tidak perlu lagi melihat apa yang terjadi diluar."


Mendengar perkataan dari Agneta. Emma, Bella, Revina, Yocelyn, Evelyn dan Celsea langsung menurut apa yang dikatakan oleh Agneta. Mereka pun menduduki kembali tubuh mereka di sofa.


Sementara Adrian dan keempat adiknya langsung menutup semua gorden agar mereka tidak lagi melihat keluar.


Di rumah utama keluarga Darren sudah banyak mayat para musuh tumbang akibat pukulan, tendangan, tembakan, sayatan dan tebasan yang diberikan oleh Darren, Qenan, Willy, Rehan, Dylan, Darel, Jerry, Axel, para ayah mereka, para kakak laki-laki mereka, kelima kakak-kakak mafia mereka, para tangan kanan kelima kakak-kakak mafia mereka dan para anggota mafianya.


Kondisi tubuh dari para musuh yang telah tumbang itu dalam keadaan tidak utuh alias terpotong-potong.


BUGH! DUAGH!


CETAS!


SREETT! JLEB!


Erland, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario. Serta Evan melawan masing-masing sekitar 100 orang dengan sangat brutal.


Mereka memukul, menendang, menusuk-nusukkan pisau ke tubuh musuh-musuhnya. Bahkan mereka juga menebas dengan sangat kejamnya tubuh para musuh dengan sekali tebas sehingga tubuh para musuhnya itu terpotong menjadi dua.


Jika para orang tua melawan dan membunuh dengan sadis para musuh-musuhnya. Lebih sadis lagi anak-anak mereka yaitu Aaron dan Raka (kedua kakaknya Qenan), Angga dan Danar (kedua kakaknya Willy), Ardy dan Rama (kedua kakaknya Darel), Cakra dan Rendy (kedua kakaknya Rehan), Dendra dan Satria (kedua kakaknya Jerry), Ettan dan Daniel (kedua kakaknya Dylan), Radeva dan Anshel (kedua kakaknya Axel), Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka (keenam kakaknya Darren), Daffa, Tristan dan Davian (ketiga kakak sepupu laki-laki Darren).


Mereka semua menghajar para musuhnya dengan cara menebas bagian kepalanya. Mereka tidak ingin banyak mengeluarkan tenaganya hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan. Dengan sekali tebas saja. Para musuhnya langsung tumbang.


Beda cara bertarung para orang tuanya, para kakak-kakaknya. Beda lagi dengan cara bertarung Darren, Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Darel dan Rehan.


Darren, Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel melawan dan menghajar para musuhnya dengan cara berbeda dari ayah dan kakak-kakak mereka.


Baik Darren, Axel, Dylan maupun Qenan, Rehan, Willy, Jerry dan Darel melakukan dua gerakan secara bersamaan. Menendang dan menebas.


DUAGH!


CTASS!


Mereka memberikan satu tendangan tepat di perut para musuhnya. Dan bertepatan dengan itu, mereka langsung menebas tubuh para musuh mereka itu.


Disisi lain, para kakak-kakak mafia mereka juga bertarung menghajar para pasukan Samuel dan Gustavo di bagian luar rumah. Mereka semua ingin memastikan semua pasukan yang dibawa oleh Samuel dan Gustavo yang berada diluar dalam keadaan tak bernyawa. Mereka tidak ingin kecolongan.


Setelah merasa aman di bagian luar. Barulah mereka akan masuk ke dalam rumah untuk membantu Darren dan yang lainnya.


"Periksa semuanya. Jangan ada yang terlewatkan," perintah Caleb kepada anak buahnya.


"Baik, prince!"


"Kalian juga. Periksa bagian sana," perintah Justin kepada anak buahnya.


"Siap, prince."

__ADS_1


"Lapor, prince." anak buah dari Daksa datang melapor.


"Ada apa?" tanya Daksa.


"Di belakang rumah ini ada paviliun. Dan terlihat ada sekitar 300 orang yang berusaha ingin menerobos masuk ke paviliun tersebut.


Mendengar laporan dari salah satu anak buah Daksa membuat Zaky dan Razky saling lirik. Kemudian mereka berdua melihat ke arah Caleb, Mark, Ruby, Justin, Tommy, Daksa, Marcel, Dorris dan Marco.


Mereka yang ditatap oleh Zaky dan Razky langsung mengerti dengan anggukkan kepala.


Mereka langsung berlari ke arah Paviliun dimana para ibu dan adik-adik dari Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel berada. 


Setiba disana mereka semua langsung menyerang secara brutal para pasukan dari Samuel dan Gustavo tanpa memberikan kesempatan untuk para musuh melawan.


DOR!


JLEB!


Mereka memberikan tembakkan secara bertubi-tubi di seluruh tubuh para musuh-musuh mereka.


Tembakkan mereka bukan saja berupa peluru melainkan berupa senjata tajam berbentuk pisau. Pisau itu mereka pasang di ujung senapan mereka, lalu mereka tembakkan tepat di kepala dan jantung para musuh tersebut.


"GAME OVER!"


Mereka semua berseru ketika berhasil mengalahkan dan membunuh semua pasukan dari Samuel dan Gustavo yang berjumlah 300 orang itu.


"Bagaimana? Apakah semuanya aman?" tanya Dorris ketika melihat anak buahnya datang setelah diberikan perintah untuk memeriksa sekeliling rumah keluarga Darren di bagian luar.


"Yakin?"


"Yakin, prince."


"Bagus," jawab Dorris.


Ketika salah satu anak buah dari Marcel ingin mendekati pintu Paviliun, seketika Zaky dan Razky berteriak.


"Berhenti disitu!"


Anak buahnya Marcel langsung berhenti. Kemudian memundurkan langkahnya menjauh dari Paviliun itu.


"Zaky, Razky. Kenapa?" tanya Daksa.


"Paviliun itu sudah dipasang banyak laser mematikan. Jika laser itu menyentuh sedikit saja kulit atau tubuh kita. Maka tubuh kita akan terpotong-potong." Razky menjawab pertanyaan dari Daksa.


Mendengar jawaban dari Razky membuat para mafioso mereka terkejut dan juga syok.


Zaky memperlihatkan bentuk laser-laser yang terpasang di sekeliling Paviliun itu kepada rekan-rekannya.


Melihat bentuk dan warna laser-laser itu membuat Caleb, Ruby, Mark, Justin, Tommy, Daksa, Marcel, Dorris dan Marco menatap takjub dan juga kagum.

__ADS_1


"Waw!" Justin berdecak kagum.


"Siapa yang memasang semua ini?" tanya Marcel.


"Menurut kalian?" tanya Zaky dan Razky balik.


"Darren!" Caleb, Ruby, Mark, Justin, Tommy, Daksa, Marcel, Dorris dan Marco menjawab bersamaan.


^^^


Di dalam rumah mayat-mayat sudah tergeletak dimana-mana. Bau anyir sudah tercium di setiap sudut rumah. Namun pertarungan masih tetap berlanjut.


Saat ini baik Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel maupun para ayah-ayah mereka, para kakak-kakak mereka dan kelima kakak-kakak mafia mereka masih bertarung dengan musuh mereka masing-masing.


Darren melawan sekitar 50 orang. Sedangkan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel melawan sekitar 200 orang.


Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya menggunakan dua senjata di kedua tangannya. Senjata itu adalah pisau.


Darren memegang kuat kedua pisau tersebut. Matanya menatap nyalang ke 50 orang yang kini mengepungnya.


Darren menyerang ke 50 anak buahnya Samuel dengan membabi buta.


SREET! DUAGH!


Darren menyerang semua musuh-musuhnya dengan cara menendang, lalu menyayatkan dan menusukkan kedua pisaunya itu secara bersamaan ke leher dan ke perut lawan sehingga membuat lawan-lawannya tumbang.


DUAGH!


JLEB!


Darren menendang bagian punggung lawannya, lalu menusukkan ke dua pisau itu ke punggung lawan. Kemudian Darren menarik ke dua pisau itu sampai ke bawah sehingga kulit punggung lawannya itu mengelupas.


BRUUKK!


Tubuh para lawan-lawannya itu jatuh terkapar dengan memandikan cairan merah di lantai.


Darren masih terus menghajar dan menyerang semua musuhnya yang saat ini sangat antusias ingin menghabisinya. Dan dengan senang hati Darren melayani semuanya.


Tak butuh waktu lama, Darren berhasil menghabisi semua musuh-musuh dengan sangat mengerikan. Semua musuh-musuhnya mati dengan keadaan tubuh hiasan indah buatannya.


Darren memperhatikan sekelilingnya. Dan dapat di lihat olehnya ketujuh sahabatnya, ayah dan para ayah dari ketujuh sahabatnya, keenam kakak-kakaknya, para kakak-kakak dari ketujuh sahabatnya kini tengah bertarung dengan anak buahnya Samuel dan Gustavo.


Sementara kelima kakak-kakak mafianya kini tengah melawan Gustavo, pamannya Samuel. Gustavo dibantu oleh dua tangan kanannya dan 30 anak buahnya melawan kelima kakak-kakak mafia Darren.


DOR!


PRANG!


Mendengar dua suara tembakan yang berasal dari ruang tengah membuat ketujuh sahabatnya, para orang tua, para kakak-kakaknya, kelima kakak-kakak mafianya dan para tangan kanan semua melihat ke asal suara tembakan itu. Dan sontak mereka semua terkejut.

__ADS_1


"Darren!"


__ADS_2