
Keesokan harinya di rumah Darren. Seperti biasa, keadaan rumah Darren tampak ramai dimana semuanya berkumpul disana. Bahkan mereka semua menginap di rumah Darren hanya untuk membantu melindungi Erica.
"Ren," panggil Axel.
"Iya, Xel."
"Apa lo udah nanya sama Erica soal kertas gulungan itu? Dia dapat dari mana?"
Ketika Darren hendak menjawab pertanyaan dari Axel, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi.
Darren mengambil ponselnya di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darren melihat 'nomor tak dikenal' di layar ponselnya.
Darren mengernyitkan keningnya menatap nomor telepon tak dikenal tertera di layar ponselnya.
Sementara anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya dan yang lainnya menatap penasaran kearah Darren. Mereka semua meyakini jika yang menghubungi Darren sama sekali tidak dikenal oleh Darren.
"Angkat saja, Ren! Siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu dari sipenelpon itu!" seru Devian.
"Dan jangan lupa loudspeaker panggilannya biar kita semua bisa mendengarnya," sela David, ayahnya Willy.
Darren menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Setelah itu, Darren menjawab panggilan tersebut dan tak lupa meloudspeaker panggilannya itu.
"Hallo."
"Hallo, Darren."
Mereka mendengar begitu jelas suara seseorang di seberang telepon. Dari suaranya, mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa seseorang itu adalah seorang pria paruh baya.
"Siapa kau?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas saat ini aku tahu tentangmu dan semua orang-orang terdekatmu. Dan aku juga tahu bahwa beberapa dari orang-orangmu berusaha untuk melindungi putri angkatmu dengan cara mengirimnya ke suatu tempat."
Mendengar ucapan dari orang itu membuat mereka semua kecuali Darren, ketujuh sahabatnya, Ziggy dan Chico terkejut.
"Kau dengar aku baik-baik. Apapun yang kau dan orang-orang terdekatmu lakukan. Aku bisa mengetahuinya. Hahahaha."
"Hallo delapan pemuda-pemuda bodoh. Aku menunggu kabar dari kalian. Aku menunggu kalian mengatakan 'aku menyerah'."
Mendengar ucapan dari seseorang yang berbeda di seberang telepon membuat mereka semua marah. Mereka tidak terima putra/adik laki-lakinya dihina.
Setelah mengatakan itu, panggilan pun terputus. Semua terdiam. Tidak ada satu pun bersuara. Mereka semua berusaha mencerna setiap perkataan dari pria pertama.
Untuk pria kedua, mereka semua sudah tahu. Pria kedua itu adalah Rolando Santa.
"Disini aku benar-benar bingung. Dari mana pria itu tahu tentang rencana kita yang akan membawa Erica pergi?!" seru Aldez tiba-tiba.
"Aku juga bingung. Dari mana pria itu bisa mengetahuinya. Padahal saat kita membahasnya masalah Erica, hanya ada kita saja. Sementara para tangan kanan dan para anggota semuanya berada di luar!" Atalaric juga ikut bersuara.
Baik Atalaric maupun anggota keluarganya yang laki-laki juga membawa dua tangan kanannya dan beberapa anggotanya untuk membantu memberikan perlindungan kepada Erica.
Mereka semua berusaha berpikir tentang orang yang sudah membocorkan rencananya kepada sipelaku itu.
Namun ketika mereka tengah memikirkan orang yang sudah membocorkan rencananya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan panggilan Erica.
"Papa," panggil Erica tiba-tiba.
Darren langsung melihat kearah Erica yang saat ini tengah menatap dirinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Erica saat ini tengah berada di pangkuan ayahnya Axel yaitu Dario.
"Ada apa, sayang?"
"Yang bicara sama Papa barusan adalah Paman Nicko. Dia yang saat itu ada di rumah ketika Mommy dan Daddy dibunuh. Erica masih ingat dengan suaranya, Papa!" sahut Erica langsung.
Mendengar ucapan dari Erica membuat mereka semua marah dan juga dendam.
"Erica yakin jika dia adalah Pamannya Erica?" tanya Dario.
"Iya, kakek. Erica sangat yakin. Sebelum Erika pergi bersama suster. Erica sempat melihat wajah dan juga mendengarsuara Paman Nicko. Saat itu, Paman Nicko tengah... Tengah.... "
Seketika Erica menangis kala berusaha mengingat kejadian yang dialami oleh kedua orang tua kandungnya.
Dario langsung memeluk tubuh cucunya dengan erat. Dan seketika isak tangis Erica pecah.
"Kakek, Erica takut." Erica berucap sembari terisak.
Mendengar isak tangisnya dan ucapan dari Erica membuat mereka semua menatap sedih Erica.
"Erica tidak perlu takut, oke! Tidak akan terjadi apapun terhadap Erica. Ada Kakek, Nenek, kedelapan Papanya Erica, Paman-pamannya Erica dan semuanya. Erica akan baik-baik saja," hibur Dario.
"Tapi Erica tidak ingin kalian terluka hanya demi melindungi seorang anak yatim piatu seperti Erica," ucap Erica dengan isakannya.
Deg!
Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Erica. Mereka semua tidak menyangka jika Erica akan berbicara seperti itu.
Darren tiba-tiba berdiri dari duduknya. Dan jangan lupa ekspresi wajahnya yang tak mengenakkan.
"Darren!" seru mereka semua.
Mereka semua menatap kearah Darren. Dapat mereka lihat tatapan mata Darren yang sulit diartikan ketika menatap wajah Erica yang juga melihat kearah Darren.
"Papa," lirih Erica.
Darren tiba-tiba pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya di lantai dua.
Melihat kepergian Darren membuat mereka berpikir bahwa Darren marah akan perkataan Erica. Padahal tidak sama sekali.
Darren pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya karena ingin melihat dan membuktikan sesuatu akan kecurigaannya.
"Papa."
Seketika Erica berteriak histeris memanggil Darren. Erica berpikir bahwa ayah angkatnya itu marah padanya akan perkataannya barusan.
__ADS_1
"Erica!"
Mereka semua khawatir akan kondisi Erica. Apalagi ketika melihat dan mendengar teriakkan histeris Erica ketika memanggil Darren.
Dario makin mengeratkan pelukannya terhadap Erica. Hatinya benar-benar sakit melihat kondisi cucunya saat ini.
Celsea yang duduk di samping suaminya juga ikut memeluk tubuh Erica.
"Papa marah sama Erica," ucap Erica terisak.
"Tidak, sayang! Papanya Erica tidak marah sama Erica, sayang. Jangan salah paham dulu ya," bujuk Agneta.
"Iya, sayang. Erica jangan salah paham dulu sama Papa, ya? Mungkin saja Papanya Erica tengah melakukan sesuatu, makanya Papa Erica pergi meninggalkan kita disini!" Carissa juga ikut menenangkan cucunya.
Carissa sangat yakin jika keponakannya itu tidak marah sama sekali terhadap Erica. Justru Carissa yakin jika keponakannya itu tengah memikirkan sesuatu, lalu pergi menuju kamarnya untuk melakukan sesuatu yang menjadi buah pikirannya itu.
Beberapa menit kemudian...
Axel dan Jerry melihat sosok Darren dengan wajah yang tak mengenakkan. Ditambah dengan sesuatu benda yang panjang dan tajam di tangan kanannya.
"Darren," panggil Axel dan Jerry. Keduanya seketika berdiri.
Mereka semua ikut berdiri dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
"Darren," panggil anggota keluarga Smith.
Sedangkan Darren sama sekali tidak mempedulikan panggilan dari anggota keluarga maupun yang lainnya.
Darren terus melangkah menuju pintu utama dengan tangan kanannya menggenggam kuat katananya. Dan tatapan matanya yang kentara dengan amarah dan dendam.
Melihat Darren yang pergi menuju pintu utama dengan membawa katana miliknya membuat mereka semua berpikir, jika Darren sudah mendapatkan sebuah petunjuk.
Mereka semua memutuskan untuk menyusul Darren keluar. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren. Dan mereka juga ingin tahu apa yang sudah Darren dapatkan.
^^^
Darren sudah berada diluar. Ketika Darren tiba diluar dengan membawa senjata kesayangannya membuat Fito dan anggotanya seketika menelan ludahnya secara kasar. Baik Fito maupun para anggotanya berpikir bahwa Bos nya sudah mendapatkan petunjuk. Dan sebentar lagi akan terjadi malapetaka besar dengan mereka.
"Fito," panggil Darren.
"Iya, Bo-bos!"
"Kumpulkan semua anggotamu!"
"Baik, Bos!"
Tak butuh waktu lama, Fito sudah mengumpulkan semua anggotanya. Kini semua anggota dibawah kepemimpinan Fito sudah berbaris di depan Darren dengan Fito yang berdiri di sampingnya.
Sementara anggota keluarganya dan yang lainnya berdiri tak jauh dari Darren saat ini. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh Darren.
Darren menatap dua pemuda yang kebetulan berdiri di baris depan dengan tatapan mata yang menajam.
"Kalian!" tunjuk Darren dengan menggunakan katana miliknya. "Maju dan berdiri disini!"
"Yang lainnya minggir!"
Mereka semua langsung menepi dan berdiri di pinggir halaman rumah Darren.
"Fito."
"Iya, Bos!"
"Sudah berapa lama mereka berkerja jadi anggota kamu?"
"Enam bulan, Bos."
"Apa alasan kamu menjadikan mereka anggota kamu?"
"Mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka butuh pekerjaan, Bos!"
"Kau langsung mempercayai mereka berdua?"
"Tentu tidak, Bos! Saya menerima mereka sesuai dengan aturan yang ada di markas. Saya juga memberikan beberapa ujian kepada mereka berdua. Dan selama menjadi anggota saya. Saya tidak pernah melihat mereka melakukan kesalahan," ucap Fito.
"Bagaimana dengan anggota-anggota kamu yang berjaga di kediaman ketujuh sahabatku?"
"Semuanya aman, Bos!"
Darren sangat mempercayai Fito dan tangan kanannya yang lain. Tidak ada sedikit pun kecurigaan yang Darren berikan kepada para tangan kanannya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Aku ada pekerjaan untukmu. Apa kau mau melakukannya?"
"Apapun pekerjaan yang Bos berikan kepada saya. Saya akan melakukannya," jawab Fito.
"Yakin?"
"Yakin, Bos! Karena itu tujuan saya bekerja untuk Bos dan untuk ketujuh sahabatnya Bos."
Darren tersenyum ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Fito. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Apa yang akan kau lakukan jika ada anggotamu berkhianat?"
"Prinsipku, cara kerjaku dan kepemimpinanku mengikutimu, Bos! Jika Bos memberikan hukuman mati kepada orang yang telah berkhianat, maka saya juga akan melakukan hal yang sama."
Darren benar-benar puas mendengar jawaban yang diberikan oleh Fito. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang lihatlah ini. Dan setelah itu, lakukan tugasmu."
Darren berbicara sembari memberikan ponselnya kepada Fito dimana di ponselnya itu sudah ada sebuah video pengkhianatan yang dilakukan oleh dua anggota baru tersebut.
Fito mengambil ponsel milik Darren lalu melihat apa yang ada di ponsel milik Bos nya itu.
Dan detik kemudian....
__ADS_1
Fito menatap tajam kearah dua anggotanya yang baru menjadi anggotanya selama enam bulan.
"Ini, lakukan tugasmu. Sekarang!"
Darren memberikan katana miliknya kepada Fito. Dan Fito langsung mengambilnya.
"Sisakan satu untukku."
Fito masih menatap kearah dua anggotanya itu. Dia tidak menyangka jika kedua anggotanya itu berani mengkhianatinya sehingga membuat dia malu di hadapan Bos nya. Tapi Fito bersyukur karena Bos nya itu memiliki hati yang baik. Bos nya itu tidak menyalakan dirinya. Jika orang lain yang menjadi Bos nya, maka sudah dipastikan nyawanya sudah hilang hari ini juga.
"Aku tidak menyangka jika kalian selama enam bulan ini telah menipuku. Aku sudah berbaik hati memberikan kalian pekerjaan. Tapi apa balasan dari kalian berdua. Kalian mengkhianatiku."
Mendengar ucapan dari Fito membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika musuh-musuh mereka telah bertindak sejauh ini dengan mengirim mata-mata. Bahkan membayar orang-orang yang bekerja dengan mereka.
"Apa maksud, Bos? Kami tidak mengerti," ucap pemuda pertama.
"Iya, Bos. Kami tidak pernah mengkhianati Bos," ucap pemuda kedua.
"Jadi maksud kalian bahwa Bos Darren berbohong kepadaku, hah?!" bentak Fito.
"Bukan...."
Srek!
Fito langsung menebas tubuh pemuda pertama ketika pemuda itu hendak mengajukan komentar.
Darren tersenyum puas ketika melihat Fito yang menebas tubuh anggotanya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel termasuk kelima kakak-kakak mafianya.
Sementara para anggotanya yang melihat kejadian itu seketika ketakutan. Di dalam hati mereka masing-masing berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan mereka tidak akan mengkhianati Bos nya dan tuannya.
"Apa alasanmu menjadi mata-mata di kelompokku?" tanya Darren.
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan dari Darren. Kepalanya menunduk dan tidak berani menatap wajah Darren.
"Apa kau tuli?! Jawab pertanyaan dari sahabatku itu!' teriak Dylan.
"Berapa pria itu membayarmu? Apakah gaji yang aku berikan. Bahkan gaji yang diberikan oleh ketujuh sahabat-sahabatku kurang?"
Darren melirik sekilas kearah Fito, lalu kembali menatap wajah pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Fito, ambil ponsel bajingan itu dan juga ponsel rekannya itu," perintah Darren dengan melihat kearah jenazah anggotanya.
"Baik, Bos!"
Fito mengambil paksa ponsel milik anggotanya dan anggotanya yang sudah tewas.
"Kau harus selalu standby dengan dua ponsel itu. Setiap ada pesan masuk kau harus melapor kepadaku atau ketujuh sahabatku. Jika itu panggilan masuk. Kau jangan langsung menjawabnya. Kau matikan, lalu kirim pesan. Kau harus bisa menggantikan tugas kedua anggotamu itu dengan mengorek informasi dari musuh-musuh kita."
"Baik, Bos. Saya mengerti!"
"Bawa dua anggotamu untuk membantu pekerjaanmu."
"Baik, Bos."
"Kalian berdua. Seret bajingan ini dan bawa ke gudang. Ikat dia. Aku masih membutuhkan dia."
"Baik, tuan!"
Setelah itu, kedua anggota Fito menyeret sang pengkhianat untuk dibawa ke gudang.
"Kau ingin berperang denganku, bukan? Baiklah aku layani. Kau akan mendapatkan kejutan dari mata-matamu yang kau masukkan ke dalam kelompokku," batin Darren.
Setelah mengatakan itu di dalam hatinya, Darren melangkah memasuki rumahnya sembari berkata, "Kita akan memulai permainan kita dan membalas permainan yang telah dijalankan oleh musuh-musuh kita!"
"Apa rencana kamu, Darren?" tanya Ettan, kakak laki-laki tertuanya Dylan.
"Biarkan rencana yang dimana Erica akan tinggal sementara waktu di markas Paman Ibra. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Erica tetap bersama kita. Kita akan gunakan dua pengkhianat itu dan juga Lusiana Migael untuk memberikan informasi dari kita dan mengorek informasi dari sekutu mereka."
Mendengar usulan dan sekaligus ide dari Darren membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kakak Enzo, aku butuh bantuanmu!"
"Katakan!"
"Cari tahu siapa saja anggota keluarga dari anggota Fito yang berkhianat itu. Cari tahu semua tentang keluarganya. Buatkan sebuah video."
"Baik," jawab Enzo.
"Sebenarnya untuk apa, Ren?" tanya Elzaro.
"Untuk jaga-jaga saja jika bajingan itu menolak kerjasama dengan kita. Kita bisa memaafkan keluarganya. Sejahat apapun sifat manusia, mereka masih memiliki sisi baik. Dan sisi baik itu untuk keluarganya."
"Pertama, Samuel. Samuel begitu menyayangi ibu dan kedua adik perempuannya. Kedua, Rolando Santa. Dia juga sama seperti Samuel. Dan aku yakin anggotanya Fito juga sama seperti Samuel dan Rolando Santa. Begitu juga dengan Lusiana. Kelemahan Lusiana hanya satu, ibunya Carol Migael. Kita bisa ancam Lusiana lewat ibunya."
"Ide yang bagus. Kakak Davin setuju!" seru Davin.
"Kami juga setuju!" seru yang lainnya.
"Kakak akan memata-matai aktifitas Carol Migael, ibunya Lusiana. Video itu nantinya akan kita perlihatkan kepada Lusiana," ucap Devian.
"Lalu bagaimana dengan Lani?
"Untuk Lani... Eemm...! Cukup kita ancam dengan mengatakan kita akan membunuhnya. Dengan begitu dia pasti akan ketakutan. Bukankah selama ini dia sudah tahu bagaimana sifat asli kita? Jadi, dengan kita mengancam akan membunuhnya. Dia akan langsung percaya, karena dia percaya bahwa apa yang kita ucapkan akan langsung dibuktikan."
"Baiklah. Dikarenakan kita sudah tahu seperti apa musuh-musuh kita. Sudah saatnya kita berperang!" seru Eric.
"Darren," panggil Ziggy.
"Iya, kakak Ziggy."
"Kau fokus saja dengan Rolando Santa. Urusan Nicko Dilbara, biarkan kakak yang menghadapinya."
"Baiklah."
__ADS_1