
Pagi harinya keluarga Smith tengah berkumpul di ruang tengah. Setelah beberapa menit yang lalu mereka telah selesai melaksanakan sarapan pagi bersama.
"Apa kamu sudah beritahu sahabat-sahabat kamu, sayang?" tanya Erland kepada Darren, putranya.
"Sudah Papa. Ketika aku selesai menghancurkan kedua keluarga busuk itu, Armando dan istrinya Carlita. Aku langsung menghubungi Rehan."
Erland sudah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan oleh putranya dari tangan kanannya yang bernama Marcoz setelah pulang dari perusahaan.
Marcoz, tangan kanannya itu menghubungi Erland sejam setelah Erland berada di rumah.
Mendapatkan informasi dari tangan kanannya membuat Erland begitu bahagia. Dirinya benar-benar bersyukur tangan kanannya itu bisa diandalkan.
Dalam hati Erland saat itu, kenapa tidak dari dulu saja dirinya meminta dua tangan kanannya untuk mencari informasi mengenai orang-orang yang selalu mengusik keluarganya. Dan kenapa dirinya hanya menugaskan dua tangan kanannya itu fokus pada dua perusahaan miliknya, salah satunya adalah perusahaan utama.
"Apa rencana kamu selanjutnya, sayang?" tanya Agneta.
"Yang jelas aku akan menunggu dia menghubungiku," jawab Darren.
"Dia siapa?" tanya Adnan.
"Ketua baru dari geng motor Vagos itu. Dua hari yang lalu aku dan ketujuh sahabat-sahabatku bertemu dengan anak-anak Vagos di jalanan. Kita sama-sama naik motor. Aku dan ketujuh sahabatku tidak tahu berapa jumlah mereka sekarang," tutur Darren.
"Kalau kakak Dzaky boleh tahu. Apa alasan orang itu kembali dan ingin menuntut balas padamu dan sahabat-sahabat kamu? Memang apa yang sudah terjadi? Dan kenapa kamu bisa jadi ketua dari geng motor Bruiser. Sejak kapan?"
Dzaky menatap penuh harap wajah tampan adik kesayangannya. Begitu juga dengan Erland, Agneta, Davin, Andra, Adnan, Gilang dan Darka.
Baik Dzaky mau yang lainnya berharap adiknya itu mau menceritakannya.
Sedangkan Darren yang mendapatkan pertanyaan dari kakak ketiganya seputar dirinya menjadi ketua geng motor Bruiser dan juga berdirinya geng tersebut.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dapat Darren lihat terpampang jelas wajah memohon dari ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Bahkan yang paling memohon seperti pengemis adalah kelima adiknya.
"Aku akan cerita. Tapi dengan satu syarat," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren. Mereka semua tidak keberatan akan persyaratan tersebut.
"Syaratnya apa?" tanya Andra.
"Eemm! Kan itu butuh energi dan asupan ketika nanti aku cerita. Mulai mulut aku, suara aku dan otak aku. Jadi ketiga-tiganya harus dapat asupan biar ceritanya nggak ngegantung," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua langsung paham. Kesayangan mereka butuh cemilan dan susu kesukaannya.
"Baiklah. Kakak akan delivery makanan dan minuman kesukaanmu," sahut Davin.
__ADS_1
"Dan kakak juga akan membeli cemilan kesukaan kamu sebanyak-banyaknya," ujar Andra menambahkan.
Mendengar perkataan dari kedua kakak tertuanya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya Darren.
"Be-benarkah kakak Davin, kakak Andra?" tanya Darren.
"Hm." Davin dan Andra langsung mengangguk.
"Eemm! Apa aku boleh ajak sahabat-sahabat aku, Brenda dan para kekasih dari sahabat-sahabat aku?" tanya Darren.
"Tentu. Pokoknya khusus hari ini adalah hari special buat kamu. Kamu bebas meminta apa saja," jawab Davin.
"Apapun?" tanya Darren dengan menatap wajah keenam kakak-kakaknya.
"Apapun," jawab Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
Mendengar jawaban kompak dari keenam kakak-kakaknya membuat Darren merasakan kebahagiaan di hatinya.
Apa yang dirasakannya sekarang sama seperti yang dirasakannya dulu sebelum kejadian itu. Darren kembali mengenang momen-momen dirinya yang sangat disayang dan juga dimanja oleh keenam kakak-kakaknya.
Sedangkan Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum menatap wajah bahagia Darren.
Baik Erland, Agneta maupun putra-putranya berpikir bahwa saat ini Darren tengah membayangkan momen kebersamaan dirinya dengan mereka semua.
"Ayo, lagi mikirin apa? Kakak Darka tahu. Pasti lagi bayangin bagaimana rasanya menikah dengan Brenda dan punya anak," ucap Darka sembari menggoda adiknya itu.
Mendengar perkataan dari Darka. Seketika Darren melototkan matanya kearah Darka. Dan jangan lupa bibirnya yang bergerak-gerak mengabsen satu persatu penghuni kebun binatang.
"Ini nih kalau punya kakak yang otaknya udah tumpul dan nggak pernah diasah. Yang ada di otaknya cuma negatif doang. Nggak ada positifnya sama sekali," sahut Darren.
"Hahahahahaha."
Mereka semua tertawa keras ketika mendengar perkataan kejam dari Darren. Mereka menertawakan nasib Darka kalau sudah berperang mulut dengan Darren. Bagi mereka semua, tidak ada yang bisa mengalahkan perkataan kejam dari seorang Darren.
Bugh!
Darka melempari Darren dengan bantal sofa.
"Dasar adek laknat," ucap Darka kesal.
"Dasar kakak mesum," balas Darren.
"Siluman kelinci busuk."
__ADS_1
"Alien jelek, buluk dan bau ketek."
"Bodoh."
"Tolol"
"Monyet."
"Gorilla."
Melihat pertengkaran kecil dan mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Darka dan Darren membuat mereka hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Bahkan mereka secara bersamaan mengusap kasar wajahnya.
***
Kathleen saat ini berada di kamarnya dirinya tengah mengerjakan sebuah laporan keuangan untuk besok.
Ketika Kathleen tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka secara paksa oleh seseorang sehingga membuat Kathleen terkejut.
Kathleen melihat kearah pintu. Dan dapat Kathleen lihat sepupu laki-lakinya berdiri di depan pintu sembari menatap tajam kearahnya.
"Ngapain? Bisa nggak kalau buka pintu kamar orang itu yang sopan," ucap Kathleen kesal.
"Jangan sok jadi tuan putri disini. Kau itu harus sadar diri. Jika bukan kedua orang tuaku yang menerimamu tinggal disini. Sudah dipastikan kau akan menjadi gembel diluar sana," ucap pemuda itu.
Mendengar perkataan dari sepupunya itu, Kathleen tertawa mengejek. "Dan asal kau tahu satu hal. Aku tinggal disini bersamamu dan orang tuamu juga tidak gratis. Kau tidak lupakan kalau sewa rumah ini aku bayar setiap bulan. Bahkan aku jua memberikan uang bulanan untuk makan sehari-hari kepada ibumu. Jadi, enyahkan otak kotormu itu tentangku. Aku adalah sumber penghasilan kalian. Jadi, bersikap sopanlah padaku."
Setelah mengatakan itu, Kathleen kembali menatap layar laptopnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa menit.
Sementara pemuda itu menatap marah akan perkataan dari Kathleen. Namun pemuda itu tidak bisa pungkiri bahwa memang Kathleen yang selama ini memberikan uang kepadanya dan kedua orang tuanya.
Setelah itu, pemuda itu kembali ke bawah untuk menemui ibu dan ayahnya.
Melihat sepupunya itu sudah pergi. Kathleen menghentikan sejenak kegiatannya.
Kathleen memikirkan kata-kata yang selalu diucapkan oleh Pamannya yang mengatakan bahwa dirinya dibuang oleh kedua orang tua kandungnya. Bahkan Pamannya itu mengatakan kepadanya bahwa kedua orang tuanya itu tidak mengakuinya sebagai anaknya.
"Aku harus menyelidiki masalah ini. Dan membuktikan apakah perkataan Paman itu benar atau hanya karangan semata," ucap Kathleen.
"Dan untuk kalian. Jika kalian terbukti berbohong. Aku bersumpah akan membalas kalian. Dan aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Dan aku pastikan akan membuat kalian mendekam dalam penjara seumur hidup," batin Kathleen.
Setelah memikirkan semua itu, Kathleen pun kembali menyelesaikan pekerjaannya sampai selesai.
Kathleen mengerjakan pekerjaannya itu dengan sangat hati-hati. Dirinya tidak ingin ada kesalahan dalam pekerjaannya tersebut.
__ADS_1