
Axel, Brenda dan Raya sudah berada di rumah sakit. Mereka tengah menunggu di depan ruang Unit Gawat Darurat. Axel sedari tadi mondar mandir dan sesekali matanya melirik kearah pintu tersebut.
Ketika Axel, Brenda dan Raya tiba di rumah sakit. Yang membantu Salsa adalah dokter lain. Bukan ibunya. Ibunya sedang berada di ruang operasi.
"Salsa, sayang. Kakak harap kamu baik-baik saja," batin Axel.
Brenda yang melihat kekhawatiran di wajah Axel menjadi tidak tega.
"Xel, tenanglah. Semoga Salsa di dalam baik-baik saja. Sekarang duduklah," ucap Brenda menghibur Axel.
Mendengar perkataan Brenda. Axel pun langsung menduduki pantatnya di bangku yang ada di depan ruang Unit Gawat Darurat.
Puk!
Brenda menepuk pelan bahu Axel untuk sekedar menenangkannya.
"Salsa akan baik-baik. Percayalah!"
"Kamu udah kabari orang rumah?" tanya Brenda.
"Aku belum sempat mengabari mereka," jawab Axel.
"Ya, udah! Sekarang kamu hubungi Papa kamu dan kedua kakak kamu," ucap Brenda.
Axel langsung mematuhi apa yang dikatakan oleh Brenda dengan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah mendapatkan ponselnya, Axel langsung menghubungi ayahnya.
Panggilan tersambung...
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Axel. Ada apa, sayang?"
"Hallo, Papa! Aku... Aku sekarang di rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit sayang? Apa Darren? Apa jantungnya kambuh lagi?"
"Bukan Darren, Papa! Tapi...."
"Tapi apa, sayang? Jangan buat Papa khawatir dan juga takut."
"Salsa, Papa!"
"Apa? Salsa? Apa yang terjadi, Axel?"
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi terhadap Salsa. Yang aku tahu ketika aku sampai di sekolahnya Salsa. Aku melihat Salsa di gendong oleh Darren dalam keadaan tak baik-baik saja."
"Tunggu dulu. Kenapa kamu berada di sekolahnya Salsa? Bukannya seharusnya kakak kamu, Radeva?"
"Iya, Papa. Seharusnya kakak Radeva yang datang ke sekolahnya Salsa. Tapi kakak Radeva nggak bisa datang karena ada orang yang buat keributan di perusahaannya dengan memukuli dua karyawannya. Maka dari itu kakak Radeva menghubungi aku dan memintaku untuk menggantikannya di acara sekolahnya Salsa."
"Apa Mama kamu sudah tahu?"
"Belum, Papa. Aku diberitahu oleh salah satu perawat. Katanya Mama lagi di ruang operasi."
"Baiklah, sayang. Kamu tenang, oke! Semoga Salsa baik-baik saja. Papa akan segera ke rumah sakit bersama kedua kakak kamu."
__ADS_1
"Baik, Papa."
Setelah berbicara dengan ayahnya, Axel pun langsung mematikan panggilannya.
Ketika Axel, Brenda dan Raya dalam pikiran yang sedang memikirkan keadaan Salsa, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dan disertai dengan suara panggilan.
"Axel."
Baik Axel maupun Brenda dan Raya langsung melihat ke asal suara. Dapat mereka lihat para sahabat mereka datang dalam keadaan yang khawatir.
"Bagaimana Salsa?" tanya Qenan dan Willy bersamaan.
"Salsa masih di dalam ruang Unit Gawat Darurat," jawab Axel.
"Kamu tenang, ya. Semoga Salsa baik-baik saja," ucap Dylan.
"Darren mana?" tanya Jerry.
"Mungkin Darren masih di sekolahnya Salsa, Raya, Ivan dan Melvin." Brenda yang menjawab pertanyaan dari Jerry.
"Apa yang terjadi? Kenapa Salsa bisa masuk rumah sakit?" tanya Darel.
Baik Axel maupun Brenda dan Raya sama-sama menggelengkan kepalanya. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi kepada Salsa.
"Kemungkinan kakak Darren tahu. Karena pada saat itu kakak Darren yang menggendong Salsa dalam keadaan pingsan," sahut Raya.
Ketika mereka tengah memikirkan keadaan Salsa yang masih berada di dalam ruang unit gawat darurat, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari beberapa orang.
"Axel," panggil Dario, Radeva dan Anshel.
"Papa, kakak Radeva, kakak Anshel."
"Bagaimana?" tanya Dario, Radeva dan Anshel.
"Salsa masih di dalan ruang Unit Gawat Darurat," jawab Axel.
Mendengar jawaban dari Axel. Dario, Radeva dan Anshel langsung melihat ke pintu Unit Gawat Darurat.
Cklek!
Seketika pintu ruang Unit Gawat Darurat dibuka. Setelah terbuka, keluarlah seorang Dokter dari dalam.
Dario langsung menghampiri Dokter tersebut diikuti oleh Radeva, Anshel dan Axel. Mereka menatap khawatir kearah Dokter itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Brenda dan Raya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" tanya Dario.
"Untuk saat ini keadaan putri tuan baik-baik saja. Tapi saya belum bisa memastikan apakah keadaan benar-benar baik atau malah justru sebaliknya. Kita tunggu hasil Ct-scan nya keluar."
"Kapan hasilnya keluar, Dok?" tanya Anshel.
"Pukul 2 siang."
"Baiklah," jawab Dario, Radeva, Anshel dan Axel bersamaan.
"Kalian bisa melihatnya setelah pasien dipindahkan ke ruang rawatnya."
"Terima kasih, Dok!"
__ADS_1
^^^
"Dokter, Suster. Tolong putri kami!" teriak seorang wanita paruh baya ketika telah sampai di rumah sakit.
Wanita paruh baya itu tidak sendirian, melainkan bersama dengan suami dan kedua putranya.
Di depan rumah sakit itu juga terlihat anggota keluarga dari sahabat anak perempuan dari wanita paruh baya tersebut.
Mereka adalah Rebeca, Viola, Laura dan Rachel beserta keluarganya.
Setelah kepergian Darren dan kedua adik laki-lakinya meninggalkan sekolah. Keempat kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Viola dan Rachel menghubungi anggota keluarga masing-masing dan meminta mereka datang ke rumah sakit.
Baik kakak laki-laki Rebeca maupun kakak laki-laki dari ketiga sahabatnya Rebeca mengatakan bahwa adik perempuannya masuk ke rumah sakit
Mendengar suara teriakan dari seorang wanita paruh baya, datanglah beberapa perawat sembari mendorong beberapa brankar.
Melihat itu, keluarga dari Rebeca, Laura, Viola dan Rachel langsung membaringkan putri/adik perempuannya mereka masing-masing di atas brankar itu.
Setelah keempatnya sudah dibaringkan di atas brankar itu, para perawat itu pun langsung mendorong masuk ke dalam rumah sakit untuk menuju ruang Unit Gawat Darurat.
Bersamaan dengan itu, Darren dan kedua adiknya yaitu Ivan dan Melvin juga melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu dan tak sengaja berpapasan dengan anggota keluarga dari Rebeca, Laura, Viola dan Rachel.
Keempat laki-laki yang berstatus kakak laki-laki dari Rebeca, Viola, Laura dan Rachel menatap tajam Darren.
"Papa, Mama. Dia yang sudah menyakiti Viola," adu Brandy, kakak laki-laki Viola.
"Begitu juga dengan Laura dan Rachel," sela Bastian dan Frankie bersamaan.
Ayahnya Rebeca menatap wajah putra ketiganya yaitu Andrew yang hanya diam.
"Andrew. Apa pemuda ini juga menyakiti adik perempuanmu?"
Mendapatkan pertanyaan dari ayahnya membuat Andrew pun menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
"Iya."
Mendengar penuturan dari Frankie, Bastian, Brandy dan Andrew membuat kedua orang tuanya seketika marah.
Baik kedua orang tua dari Rebeca maupun orang tua dari Laura, Viola dan Rachel menatap nyalang kearah Darren.
"Jadi kau yang sudah menyakiti putriku, hah?!" bentak ayah dari Rebeca yaitu Gilmer.
"Iya, aku yang sudah menyakiti putri anda yang murahan itu. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya. Terus anda dan kalian semua mau apa? Mau menyerangku? Mau memukulku? Mau mengeroyokku? Mau melakukan pembalasan terhadap apa yang dialami oleh putri kalian itu? Coba saja kalau berani. Jangan salahkan aku jika semua perbuatan putri kalian selama ini tersebar luas kemasyarakat luar melalui internet.
"Bahkan aku juga akan memperlihatkan sebuah video perbuatan putri kalian yang suka membully teman satu sekolahnya ke polisi. Dalam video itu putri kalian menyiksa teman-teman sekolahnya dengan sangat tak manusiawi."
Darren berbicara sambil menatap tajam satu persatu anggota keluarga dari orang yang sudah membully Salsa.
"Apa jadinya jika video itu terlihat oleh polisi? Dan apa jadinya juga jika video itu terlihat oleh para orang tua dari anak-anaknya yang pernah menjadi korban bully putri kalian."
Darren tersenyum menyeringai kala mengatakan kata itu di hadapan keluarga Rebeca, Viola, Laura dan Rachel.
Mendengar ucapan demi ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat kedua orang tua Rebeca, Laura, Viola dan Rachel bungkam. Begitu juga dengan para kakak laki-lakinya.
"Kalau aku jadi kalian dan berada di posisi kalian. Aku akan memilih diam dan mencari aman, karena berada di pihak yang salah."
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan keluarga Rebeca, Viola, Laura dan Rachel untuk menemui Axel, Brenda, Raya dan Salsa. Dan diikuti oleh Ivan dan Melvin berjalan di samping kiri dan kanan Darren.
__ADS_1