
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berada di kampus. Begitu juga dengan kedua kakaknya Gilang dan Darka. Serta Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah melangkah memasuki perkarangan kampus. Kaki mereka melangkah menuju lapangan. Sementara Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kelas.
Kini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berada di lapangan dimana Darren dan rektornya berdiri. Darren menatap sekitarnya dengan mata bulatnya.
Jerry, Axel dan Dylan yang memperhatikan Darren yang sedari seperti tengah mencari sesuatu.
"Ren," panggil Axel.
"Iya," jawab Darren tanpa menatap wajah Axel. Darren masih terus memperhatikan area sekitarnya.
"Kamu nyari apa sih?" tanya Axel.
"Nyari uang. Uangku hilang dicuri orang," jawab Darren asal.
Darren menundukkan kepalanya. Bahkan sesekali Darren menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya setiap apa yang dilihat dan dilaluinya sehingga membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan makin bingung menatap dirinya.
"Nah, ketemu!" seru Darren.
Mendengar seruan Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan seketika mendekati Darren.
"Mana?" tanya mereka kompak.
"Ini." Darren menunjukkan sebuah dompet dengan posisi sudah terbuka.
Darren mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut, lalu berteriak.
"Dylan, lo maling uang gue!"
Mendengar teriakan Darren. Seketika Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan melihat kearah tangan Darren. Baik Qenan, Willy, Rehan maupun Darel, Axel, Jerry dan Dylan menatap lekat dompet dan uang yang ada di tangan Darren.
Dan detik kemudian...
"Yak, Darren! Itu dompet gue, sialan!" teriak Dylan sembari merampas dompet miliknya dari tangan Darren.
Dylan melihat dompetnya sudah dalam keadaan kosong. Hanya tersisa enam kartu miliknya termasuk black card.
Dylan mendengus menatap wajah tak bersalah Darren, lalu menarik uang yang dipegang oleh Darren.
"Ini uang gue. Gue ambil balik," sahut Dylan dengan wajah kesalnya. Sedangkan Darren hanya tersenyum manis menatap wajah kesal Dylan.
"Maling teriak maling," gerutu Dylan.
Mendengar gerutuan dari Dylan membuat Darren menatap horor Dylan. Sedangkan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry tersenyum.
"Siapa yang maling, hah?" tanya Darren dengan menatap Dylan dengan mata bulatnya.
"Lo lah. Siapa lagi," jawab Dylan.
"Gue nggak maling. Gue...."
"Huuss! Gue nggak mau debat sama siluman kelinci kayak lo. Ribet kalau debat sama lo. Nggak akan kelar-kelar masalahnya." Dylan berbicara sambil jari telunjuknya mengarah di depan wajah Darren.
Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Dylan. Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry langsung tertawa nista.
"Hahahahaha."
Mendengar tawa nista dari Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry. Darren langsung memberikan tatapan tajam kearah Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry.
Mendapatkan tatapan tajam dari Darren. Seketika Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry menghentikan tawanya. Walau mereka berhenti tertawa, sesekali mereka masih tertawa ketika melihat wajah lucu Darren yang sedang kesal.
"Kalian benar-benar menyebalkan."
Setelah itu, Darren kembali pada niat semulanya untuk mencari sesuatu yang mencurigai.
"Dimana kira-kira alat itu dipasang," ucap Darren pelan.
Melihat Darren yang masih mencari sesuatu membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menatap Darren bingung.
"Sekarang serius, Ren! Lo nyari apa sih?" tanya Qenan.
Darren mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu memperlihatkannya kepada ketujuh sahabat-sahabatnya alat itu.
__ADS_1
"Bantu gue cari ini. Ada dua barangnya."
"Kamera pengintai!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
"Berarti alat satunya alat penyadap?" tanya Jerry.
"Iya," jawab Darren.
Setelah itu, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan pun langsung membagi tugas dan memecah diri untuk mencari dua alat itu.
Sementara para mahasiswa dan mahasiswi yang sedari memperhatikan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya yang awalnya tertawa ketika melihat perdebatan antara Darren dan Dylan. Kini para mahasiswa dan mahasiswi tersebut dibuat bingung oleh sikap Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Ren," panggil Darel.
Darren yang dipanggil oleh Darel langsung melihat kearah Darel dan berjalan mendekati Darel.
"Ketemu?" tanya Darren.
"Ini." Darel memberikan apa yang ditemukan olehnya.
Darren mengambil barang yang ada di tangan Darel dan melihat secara teliti.
"Alatnya beda dengan punya kita," sahut Darel.
"Jauh beda," balas Darren.
Darren melihat tombol merah yang ada di samping alat yang dipegangnya.
Dan detik kemudian...
"Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry, Dylan menjauhlah dari tempat kalian!" teriak Darren.
Mendengar teriakan dari Darren. Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan pun berlari. Namun sedikit terlambat sehingga.
Boom!
Bruukk!
Terdengar ledakan kecil sehingga membuat tubuh Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan tersungkur di tanah.
"Aakkhhh!"
"Sial."
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Darren dan Darel khawatir.
"Kami tidak apa-apa Ren, Rel!" seru Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
Sementara para mahasiswa dan mahasiswi yang mendengar ledakan kecil dan juga melihat Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan yang sempat mental akibat ledakan itu membuat mereka khawatir.
Bahkan para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam kelas yang mendengar ledakan itu juga ikut keluar dari kelasnya dan berlari menuju lapangan, termasuk Gilang, Darka, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Para mahasiswa dan mahasiswi kini semuanya menghampiri Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya salah satu mahasiswa yang tak lain mantan anggota organisasi kampus.
Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan langsung melihat kearah semua mahasiswa dan mahasiswi.
"Kami baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir," jawab Willy sebagai perwakilan.
"Darren," panggil Gilang dan Darka.
Gilang dan Darka langsung mengecek tubuh adiknya. Mereka ingin memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
"Aish! Kak Darka, kak Gilang. Aku baik-baik saja," ucap Darren dengan wajah kesalnya.
"Iya nih! Yang terluka siapa? Yang dikhawatirin siapa?" ledek Rehan.
Mendengar ledekan dari Rehan membuat Gilang dan Darka hanya cengengesan.
"Maaf... Maaf! Kalian baik-baik sajakan?" tanya Gilang.
"Dan kalian nggak terlukakan?" tanya Darka.
__ADS_1
Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan tersenyum mendengar pertanyaan dari kedua kakak-kakaknya Darren.
"Kami baik-baik saja kak Darka, kak Gilang."
"Ach, syukurlah." Gilang dan Darka menjawab bersamaan.
"Ren, kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Brenda.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Darren.
"Kalian beneran nggak apa-apa?" tanya Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Felisa dan Tania.
"Kami baik-baik saja," jawab Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
Darka menatap wajah Darren. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ada ledakan?"
"Aku juga nggak tahu. Tapi ini ada hubungannya dengan rektor yang mencabut statusku sebagai ketua organisasi," jawab Darren.
"Apa kamu nggak berniat untuk menanyakan masalah ini ke rektor, Ren?"
"Ini bahaya lo."
"Ini baru ledakan kecil saja. Siapa tahu akan ada ledakan besarnya nanti."
"Kampus kita dalam bahaya saat ini."
"Dan kita nggak bisa diam saja."
"Hari ini Qenan, Willy, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan yang jadi korbannya. Walau mereka baik-baik saja. Besoknya pasti kita. Dan belum tentu kita bakal selamat dan baik-baik saja."
Itulah ucapan demi ucapan dari para mantan anggota organisasi Darren. Dan juga dari mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
Mendengar penuturan dari teman-teman kampusnya membuat Darren menatap iba mereka semua. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan.
"Fix! Ren, aku curiga jika ini pelakunya adalah keluarganya Jessica. Mereka melakukan ini karena nggak terima Jessica masuk penjara. Secarakan Jessica ditangkap ketika berada di lingkungan kampus," ucap Jerry.
"Aku setuju dengan Jerry. Pelakunya pasti keluarga Jessica," sela Rehan.
"Ren, kamu yakin hanya ada dua barangnya. Siapa tahu ada yang lain," sahut Willy.
"Tidak, Will!. Hanya dua. Aku yakin," jawab Darren.
Memang benar apa yang dikatakan Darren jika hanya dua barang yang di pasang. Barang itu sengaja dipasang oleh orang itu untuk mengancam rektor bahwa ucapan dan ancamannya tak main-main jika rektor tidak menuruti keinginan orang itu.
Orang itu meminta rektor untuk mendepak Darren dari jabatannya sebagai ketua organisasi kampus. Jika rektor tidak menurutinya, maka orang itu akan meledakkan kampus tersebut sehingga akan menewaskan semua penghuni kampus.
"Nanti aku akan membahas masalah ini kepada rektor," ucap Darren.
Mendengar penuturan dari Darren. Mereka semua mengangguk. Mereka ini segera selesai.
"Dan aku butuh bantuan kalian," ucap Darren dengan menatap semua mahasiswa dan mahasiswi di hadapannya.
"Apapun itu. Kami semua siap membantumu, Darren!" seru semua mahasiswa dan mahasiswi dengan kompak.
Darren tersenyum mendengar jawaban kompak dari semua mahasiswa dan mahasiswi. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Gilang dan Darka.
"Baiklah. Mulai hari ini dan untuk satu minggu ke depan. Kita akan belajar di ruangan terbuka. Jadi kita nggak belajar dalam kelas."
"Setiap kita akan memulai materi kuliah. Kita akan belajar di lapangan yang ada di sebelah barat. Disana lapangannya lumayan luas. Semisalnya terjadi sesuatu. Kalian dengan mudahnya bisa langsung menyelamatkan diri."
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya. Mereka semua setuju dengan ide yang diberikan oleh Darren. Jika mereka belajar diluar, maka besar kemungkinan mereka semua selamat.
"Dan satu lagi. Pihak luar tidak mengetahui akan lapangan milik kampus kita yang ada di sebelah barat, karena letaknya memang sedikit jauh di belakang kampus. Misalkan orang itu ingin berbuat jahat pada kampus kita. Orang itu tidak tahu jika kalian semua berada diluar area kampus."
"Tapi, Ren....!"
"Tapi apa?" tanya Darren melihat kearah salah satu teman mahasiswinya.
"Jessica dan ketujuh teman-temannya kan juga kuliah disini. Bagaimana jika Jessica memberitahu masalah lapangan itu kepada keluarganya?"
"Masalah itu kalian tidak perlu pikirkan. Masalah lapangan itu nggak ada pengaruhnya sama sekali. Tujuan lapangan itu untuk berjaga jika terjadi sesuatu pada kampus ini. Sekali pun keluarga Jessica maupun keluarga dari teman-teman Jessica tahu masalah lapangan itu. Mereka juga nggak akan bisa masuk kesana. Karena hanya kita yang bisa kesana. Lapangan itukan milik kampus. Bukan milik umum."
"Benar juga!" seru mereka semua.
__ADS_1
"Ya, sudah! Untuk saat ini tetaplah waspada. Jika kalian belum memulai materi kuliahnya. Lebih baik baik kalian diluar saja. Jangan di kelas. Aku, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakak-kakakku akan menemui rektor."
"Baik, Ren!" jawab semua mahasiswa dan mahasiswi.