KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Asal Mula Kejadian Kecelakaan Pesawat


__ADS_3

Thomas dan beberapa anak buahnya saat ini berada di bandara. Dia dan anak buahnya tengah mengawasi empat orang yang diduga sebagai penanggung jawab setiap para penumpang yang akan berangkat.


"Bos, apa tidak sebaiknya kita bertindak sekarang?"


"Nanti saja. Kita tunggu Darren datang dulu. Bagaimana pun dia dan keluarganya yang berhak melakukan itu."


"Baik, Bos. Saya mengerti."


Thomas dan para anak buahnya masih terus mengawasi pergerakan dari keempat orang-orang itu.


Ketika Thomas dan para anak buahnya sedang mengawasi keempat orang-orang itu, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi.


Thomas langsung mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Setelah mengetahuinya, Thomas langsung menjawab panggilan dari orang itu.


"Hallo, Ren. Kau sudah tiba dimana?"


"Aku sudah tiba di Bandara."


"Langsung saja ke bagian pembelian tiket. Aku dan anak buahku ada disana."


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya dan segera menuju tempat dimana Thomas dan anak buahnya berada.


^^^


Darren, ketujuh sahabatnya, Ziggy dan kedua kakaknya yaitu Davin dan Andra melangkah buru-buru menyusuri luasnya Bandara. Tatapan mata mereka menatap sekitarnya sehingga mereka menjadi pusat perhatian.


Aktivitas di Bandara saat ini dihentikan. Pencarian para korban masih berlanjut hingga sekarang. Anggota keluarga dari para korban kecelakaan pesawat Air Berlin Boeing 737-780 terus mendatangi bahkan sampai tertidur di Bandara hanya untuk mendapatkan dan mendengar informasi terbaru mengenai anggota keluarga mereka.


"Ren, itu Thomas!" seru Rehan sembari menunjuk kearah Thomas dan beberapa anggotanya.


Baik Darren, Ziggy, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel, Davin dan Andra langsung melihat kearah tunjuk Rehan.


Setelah itu, mereka mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat Thomas.


Kini Darren sudah bersama dengan Thomas dan para anggotanya. Mereka sudah berada di tempat yang sama.


"Ada apa, Thomas? Kenapa kau memintaku untuk segera datang ke Bandara?" tanya Darren.


Thomas tidak langsung menjawab pertanyaan dari Darren. Justru Thomas memperlihatkan sebuah rekaman yang berhasil diambil oleh tangan kanannya.


"Ini! Kau lihat dan dengarkan!"


Darren mengambil ponsel yang ada di tangan Thomas, lalu menatap ke layar ponsel itu. Terlihat sebuah video.


Dengan sekali klik, video itu pun berputar dan memperlihatkan tontonan dan adegan di dalamnya.


[Bagaimana? Apa semuanya beres?]


[Semuanya beres. Tapi apa tindakan kita ini tidak membahayakan penumpang?]


[Bagaimana pun keselamatan para penumpang adalah nomor satu yang diterapkan oleh pemilik Bandara ini dan juga penanggung jawab di Bandara ini?]


[Iya, saya tahu akan hal itu. Tapi coba pikirkan bagaimana kecewanya para penumpang jika kita memberitahu mereka bahwa keberangkatan mereka ditunda beberapa hari karena pesawat yang akan mereka tumpangi masih berada di negara Singapura. Seharusnya pilot pesawat Air Berlin Boeing 737-800 sudah mendarat di disini sehari sebelum keberangkatan para penumpang. Tapi pesawat itu belum mendarat disini. Sampai sekarang]


[Dan aku dengar pesawat itu tengah dibooking oleh keluarga kaya disana. Maka dari itulah kenapa aku mengganti pesawatnya menjadi pesawat Air Berlin Boeing 737-780. Jadi pesawat itu yang berangkat membawa penumpang]


[Tapi, Bos! Pesawat Air Berlin Boeing 737-780 itu belum pernah melakukan perjalanan. Bahkan pesawat itu dalam masa perbaikan sistem dan struktur mesinnya. Pesawat ini boleh dipergunakan dan diperkenalkan ke dunia luar empat bulan lagi. Hal itu sudah ditetapkan oleh manajemen perusahaan]


[Sudahlah. Kalian tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Pesawat itu akan membawa para penumpang dengan selamat sampai di negara Singapura. Kalau perlu kita majukan keberangkatan mereka]


[Dengan kita melakukan ini, kita akan mendapatkan keuntungan besar. Kita akan meminta tambahan bayaran dari setiap penumpang karena kita mempercepat keberangkatan mereka]


Darren, Davin dan Andra mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar rentetan obrolan para penanggung jawab keberangkatan para penumpang. Ketiga tampak marah, terutama Darren.


Bukan hanya Darren, Davin dan Andra saja yang marah menonton video itu. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel dan Ziggy juga terlihat sangat marah atas apa yang dilakukan oleh keempat pria itu.


"Brengsek! Mereka benar-benar menjijikkan." Darren berucap dengan penuh amarah.

__ADS_1


Darren menatap Thomas. "Thomas, perintahkan anak buahmu untuk menyeret mereka semua ke hadapan semua para anggota keluarga dari korban yang hadir di Bandara ini. Aku akan memberikan sedikit hadiah kepada mereka tepat di hadapan semua anggota keluarga para korban."


"Baiklah."


Setelah itu, Thomas melakukan tugasnya yang seharusnya sudah sejak tadi ingin dilakukan oleh para anak buahnya.


"Kakak Ziggy."


"Iya, Ren."


"Hubungi kakak Farraz. Katakan kepada kakak Farraz bahwa ada tindakan kejahatan yang terjadi di Bandara sehingga mengakibatkan pesawat yang ditumpangi para penumpang mengalami kecelakaan."


"Baiklah, kakak akan menghubungi kakak Farraz," jawab Ziggy.


Sejujurnya Ziggy juga tidak terima akan perbuatan keempat pria itu. Mereka dengan sengaja melakukan hal tersebut hanya untuk mendapatkan pujian, keuntungan dan kesuksesan tanpa memikirkan keselamatan para penumpang.


"Hallo, Ziggy. Ada apa kamu menghubungi kakak?"


"Aku, Darren dan ketujuh sahabatnya beserta kedua kakaknya Darren saat ini berada di Bandara, kakak Farraz."


"Apa kalian sudah mendapatkan informasi mengenai korban kecelakaan pesawat Air Berlin Boeing 737-780?"


"Ini lebih ke asal mula terjadinya kecelakaan itu, kakak Farraz."


"Maksud kamu. Kamu sudah tahu penyebab terjadinya kecelakaan pesawat itu?"


"Iya, kakak Farraz. Maka dari itu, aku mau kakak Farraz dan beberapa anggota kakak Farraz datang ke Bandara. Sekarang juga!"


"Baiklah."


Setelah itu, baik Ziggy maupun Farraz sama-sama mematikan panggilannya.


^^^


Darren, ketujuh sahabatnya, Davin, Andra dan Ziggy sudah berada di tengah-tengah keramaian di dalam Bandara itu. Begitu juga dengan Thomas.


Beberapa menit kemudian, para anggota Thomas datang dengan menyeret keempat pria bersama mereka.


Semua orang-orang yang ada di Bandara mulai mengerubungi dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.


Darren, Davin dan Andra menatap penuh amarah keempat pria itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel dan Ziggy.


"Thomas," panggil Darren.


"Iya, Ren. Kau membutuhkan sesuatu?"


"Seret semua para pekerja yang ada di Bandara ini. Siapa pun itu. Semuanya!"


"Baiklah, Ren!"


"Kalian! Lakukan sekarang!"


"Baik, Bos!"


Setelah itu, para anggotanya langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh bosnya.


Darren menatap tajam keempat pria itu. Tatapan matanya kali ini benar-benar mengisyaratkan kemarahan yang begitu besar dan mengerikan.


"Kalian tahu kenapa kalian dibawa kemari secara paksa?" tanya Darren.


Keempat pria itu saling memberikan tatapan. Ada ketakutan di tatapan mata itu.


Setelah itu, keempat pria itu kembali menatap wajah Darren.


"Ka-kami tidak mengerti maksud anda, tuan."


Mendengar jawaban dari salah satu pria itu. Seketika Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan Darel, Ziggy, Davin dan Andra tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Thomas dan para anak buahnya.


Sementara para anggota keluarga dari para korban pesawat Air Berlin Boeing 737-780 menatap bingung dan juga penasaran apa yang sedang mereka lihat dan mereka dengar.


"Tidak tahu. Apa pura-pura tidak mengetahuinya?" sindir Andra.

__ADS_1


"Ka-kami benar-benar tidak mengerti, tuan!" pria kedua berucap gugup.


Darren kemudian berjalan mendekati keempat pria itu. Darren menatap tajam pria yang menjadi otak dalam kecelakaan pesawat itu sehingga membuat ayahnya ikut menjadi korban.


Dan detik kemudian...


Duagh!


"Aakkhhh!"


Pria itu berteriak kesakitan sembari memegang perutnya akibat mendapatkan tendangan tak main-main dari Darren. Tubuh pria itu langsung tersungkur ke lantai.


Melihat kejadian itu membuat semua yang ada di dalam Bandara itu terkejut dan juga syok.


"Kalian benar-benar menjijikkan. Demi uang, demi ketenaran, demi mendapatkan pujian, demi memajukan Bandara dan demi menutupi kesalahan dari penumpang. Kalian rela melakukan hal yang menjijikkan itu sehingga mengakibatkan nyawa para penumpang menjadi korban!" teriak Darren.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Darren membuat para anggota keluarga dari para korban pesawat Air Berlin Boeing 737-780 terkejut.


Sementara keempat pria itu mulai ketakutan ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Kalian lihat video ini. Dan dengarkan!" seru Thomas dengan memperlihatkan sebuah video di dalam ponsel kepada keempat pria itu.


Dan detik kemudian..


Keempat pria itu terkejut ketika melihat video itu.


"Tuan," panggil seorang wanita.


Thomas dan yang lainnya melihat kearah wanita itu.


"Boleh saya melihat video itu?"


"Kami juga ingin melihat video itu!" seru yang lainnya secara bersamaan.


Thomas berdiri di tengah-tengah, lalu mengarahkan ponsel itu ke hadapan semua para anggota keluarga dari para korban pesawat Air Berlin Boeing 737-780.


Ketika melihat video itu membuat semua anggota keluarga dari pihak korban pesawat terkejut dan juga marah. Mereka semua tidak menyangka jika keempat pria itu tega berbuat seperti itu.


"Kalian benar-benar menjijikkan. Kalian tega melakukan hal itu terhadap suami saya. Bagaimana jika suami saya meninggal dan tidak selamat. Bagaimana nasib saya dan kedua anak-anak saya?! Kalian tidak pantas disebut manusia!" teriak wanita itu.


Wanita itu datang bersama keluarganya. Baik dari keluarganya sendiri maupun keluarga dari pihak suaminya.


Darren menatap tajam kearah pemilik sekaligus yang bertanggung jawab akan Bandara tersebut.


"Aku minta kepada anda dan seluruh anak buah anda. Bahkan semua karyawan anda untuk terus mencari para korban pesawat Air Berlin Boeing 737-780. Aku tidak peduli bagaimana cara kalian menemukan mereka. Yang aku mau, anda dan semua antek-antek anda tetap terus mencari para korban pesawat itu tanpa berhenti."


"Jika aku mendapatkan informasi anda dan para antek-antek anda menghentikan pencarian para korban pesawat. Sedangkan kejadian tersebut murni kesalahan pihak kalian. Maka aku Darrendra Smith akan melakukan sesuatu kepada dan semua antek-antek anda."


"Kalian sudah merebut satu anggota keluarga kami. Berarti kalian juga harus siap kehilangan satu anggota keluarga kalian!" Davin berucap penuh penekanan dan ancaman.


"Nyawa dibayar nyawa. Kecuali kecelakaan tersebut memang murni kecelakaan. Maka kami tidak mempermasalahkannya.


"Apa kakak datang terlambat?" tanya Farraz yang telah datang bersama beberapa anggotanya.


"Tidak. Permainan baru dimulai lima menit yang lalu," jawab Ziggy.


"Darren," panggil Farraz


Darren langsung melihat kearah Farraz. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Kebetulan kakak Farraz sudah datang. Aku mau kakak Farraz bawa keempat pria busuk itu ke kantor polisi. Setelah itu, masukkan mereka ke dalam penjara. Jangan bebaskan mereka sebelum mendapatkan kabar mengenai Papa dan para korban lainnya."


"Baiklah. Bisa kakak bawa mereka sekarang?"


"Oh, tentu!" jawab Darren.


Setelah itu, Farraz memerintahkan anggotanya untuk membawa keempat pria itu ke kantor polisi.


Darren menatap tajam wajah pemimpin itu dan juga wajah para karyawan yang bekerja di Bandara itu


"Ingat! Tetap terus mencari para korban pesawat Air Berlin Boeing 737-780. Dan jangan coba-coba untuk menghentikan pencariannya. Jika kalian berani melakukan hal itu, maka ucapkan selamat tinggal dengan salah satu anggota keluarga kalian. Aku tidak main-main dengan perkataanmu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan orang-orang itu. Dan diikuti oleh Thomas dan anak buahnya, Ziggy, Davin, Andra, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


__ADS_2