
Di sebuah mall yang tampak ramai terlihat seorang gadis tengah memilih beberapa barang. Gadis itu adalah Kathleen Johnson.
Sepulang dari kantor, Kathleen memutuskan untuk pergi jalan-jalan sembari menghibur dirinya.
Kathleen berkeliling memutar toko yang ada di dalam mall itu hanya sekedar untuk mencuci otaknya karena seharian bekerja di kantor.
Disisi lain Darka juga berada di dalam mall yang sama dengan Kathleen. Dia sedang membeli sesuatu untuk diberikan kepada seseorang yang special dalam hidupnya.
Ketika Darka tengah melihat sesuatu yang menarik di depannya. Tatapan matanya tak sengaja melihat sosok cantik yang telah berhasil mencuri hatinya satu bulan ini.
Setelah puas melihat sosok gadis yang begitu cintainya, walau belum resmi. Darka pun memutuskan menghampiri gadis tersebut.
"Hai," sapa Darka.
Kathleen yang fokus melihat dan memilih-milih barang terkejut. Setelah itu, Kathleen langsung melihat kearah orang tersebut.
"Darka," sapa Kathleen.
"Memborong nih," ucap Darka.
Mendengar perkataan Darka. Kathleen tersenyum sebagai jawabannya.
"Tidak juga. Hanya melihat-lihat saja. Jika ada yang cocok langsung dibeli. Jika tidak ada yang cocok cari tempat yang lain," ucap Kathleen.
Mendengar jawaban dari Kathleen membuat Darka tersenyum.
"Kamu juga. Sepertinya kamu tengah mencari sesuatu," ucap Kathleen.
"Iya, nih! Aku ingin mencari sesuatu yang special buat aku berikan untuk seseorang yang special juga," sahut Darka.
"Wah, benarkah? Siapa dia? Pasti dia sangat cantik?"
"Iya. Dia sangat cantik. Bukan hanya cantik saja. Dia juga baik. Saya sangat mencintainya," ucap Darka.
Mendengar perkataan dari Darka. Seketika membuat hati Kathleen tak karuan. Hati Kathleen merasa tak terima ketika mendengar ucapan dari Darka yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai seseorang itu.
"Kathleen, bisakah kau membantuku untuk mencarikan sesuatu yang cocok untuk orang yang aku cintai?" tanya Darka.
"Tentu. Kau maunya seperti apa?" tanya Kathleen.
"Kalau aku boleh tahu. Seandainya kau ulang tahun. Hadiah apa yang kau inginkan?" tanya Darka.
"Jika aku ulang tahun. Hadiah yang aku inginkan adalah kelinci warna putih. Sudah sejak lama aku ingin memelihara seekor kelinci," ujar Kathleen.
Mendengar penuturan dari Kathleen. Seketika terukir senyuman di bibirnya.
Darka menatap wajah cantik Kathleen. "Kathleen," panggil Darka.
"Iya," jawab Kathleen.
"Eem! Maukah kau menemaniku makan siang?" tanya Darka.
"Apa kau belum makan siang?" tanya Kathleen.
"Belum. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Darka.
"Baiklah," jawab Kathleen.
"Kita makan di salah satu cafe favoritku yang ada di mall ini," ucap Darka.
"Baiklah," jawab Kathleen.
Setelah mengatakan itu, Darka dan Kathleen pergi menuju cafe favorit Darka yang ada di dalam mall.
^^^
__ADS_1
Darren memberhentikan motor sportnya di dalam garasi rumah. Setelah itu, Darren bergerak turun dari motornya setelah melepaskan helm dengan keadaan badan basah kuyup.
Ketika Darren hendak berbalik. Entah sejak kapan tujuh orang yang datang tidak diundang sudah berdiri di depan pintu garasi seraya bersedekap dada.
Mereka menatap Darren dengan datar membuat Darren menaikan dua alisnya bingung.
"Muka lo napa, Lan? Pingin gue nistain? " ujar Darren begitu menatap wajah Dylan yang mencoba datar tetapi jatuhnya terlihat konyol.
Dylan mengumpat pelan. " B..ng... Sat!"
"Lo kenapa nggak bisa serius sih, Lan?! Pingin gue gampar rasanya! " seloroh Rehan gemas.
"Ngerusak suasana emang lo anak monyet!" sahut Qenan sinis.
"Kenapa lo pada jadi nyalahin gue, sialan?!"
"KARENA WAJAH LO ITU NGGAK BISA DI AJAK KOMPROMI!!" seru Rehan dan Qenan.
"Monyong lo! Dahlah males. Dasar titisan dakjal!" pungkas Dylan.
Rehan membelalakkan matanya."Lo yang titisan dakjal," balas Rehan.
Ketujuh sahabatnya Darren sengaja mendatangi rumah pribadi Darren. Dan rencana mereka setiba disana, mereka ingin menunjukkan wajah sangar masing-masing di hadapan Darren.
Namun rencana mereka gagal karena ulah dari Dylan. Dylan tidak berhasil memperlihatkan wajah sangarnya di hadapan Darren. Justru Darren melihat wajah Dylan terlihat lucu.
"Enak aja lo! " seru Dylan cepat. "Gue ini titisan bapak Hendy terhormat," ujar Dylan sembari menepuk dadanya bangga.
"Anjrit, muka lo tuh anjrit!" seru Qenan sinis.
"Dikira cakep kali ya," imbuh Rehan.
Willy memegang pundak Dylan, lalu mengelusnya pelan.
"Tabahkan hatimu sobat," ucap Willy.
"Kenapa sih? Kalian selalu tega terhadap gue? Apa salah gue?" tanya Dylan dramatis.
Darren bergerak mendekat, kemudian menyentil dahi Dylan. "Drama banget hidup lo. Najis!" ujar Darren sembari berlalu pergi meninggalkan ketujuh sahabatnya yang sedari tadi sedang memainkan dramanya.
Ketujuh sahabatnya berbalik dan mengikuti langkah kaki Darren yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Oh, Tuhan! tabah hatiku ini. Orang ganteng emang selalu di nistakan," ucap Dylan.
"Emang lo ganteng? " tanya Jerry yang berjalan di depan bersisihan dengan Axel.
"Hahaha... Kasian," sahut Darel, lalu berjalan cepat meninggalkan Dylan di belakang.
"Sialan. Tabahkan hati gue ya Tuhan." Dylan tersenyum kecut.
Saat pandangan sahabat-sahabatnya tidak lagi menatap dirinya tangan Dylan terangkat ke atas seraya terkepal, lalu mengarahkan kepalan tangan itu ke depan, seolah tengah memukul sahabatnya dari belakang.
"Bener-bener titisan dakjal!" ucap Dylan.
Sementara itu Darren yang baru saja berjalan melewati pintu, langkah kakinya harus berhenti begitu mendengar suara seseorang yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Darren langsung melihat kearah suara tersebut. Dan seketika Darren terkejut. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Kakak Gilang, kakak Darka!" seru Darren.
Melihat wajah terkejut adiknya membuat Darka dan Gilang tersenyum.
Kemudian Darka dan Gilang langsung berdiri dan menghampiri adiknya itu.
Kini keduanya sudah berdiri di hadapan adik kesayangannya. Dengan kompaknya, keduanya mengusap lembut kepala Darren.
__ADS_1
"Udah lama?" tanya Darren dengan menatap wajah kedua kakaknya.
"Tidak. Kita sampai baru lima menit yang lalu," jawab Darka.
"Kamu kenapa basah kuyup begini?" tanya Gilang.
"Kehujanan tadi. Nggak sempat berteduh," jawab Darren.
"Kamu ini. Ya, sudah! Sekarang kamu ke kamar bersih-bersih. Setelah itu kita makan siang bersama-sama," ucap Darka.
"Ach, baiklah."
Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan kedua kakaknya dan juga ketujuh sahabatnya di ruang tengah.
Melihat kepergian Darren menuju kamarnya. Gilang dan Darka langsung melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka bersama adiknya dan juga ketujuh sahabat dari adiknya itu.
***
Kediaman Smith, Erland, Agneta dan kesembilan putra-putranya kini duduk di ruang tengah. Sejam yang lalu mereka baru pulang dari tugas masing-masing.
"Apa Darka, Gilang dan Darren sudah pulang dari kampusnya?" tanya Agneta yang sedang memikirkan ketiga putranya.
"Sepertinya sudah. Coba lihat! Waktu saja sudah menunjukkan pukul 4 sore," sahut Dzaky.
Mendengar penuturan dari Dzaky. Baik Erland, Agneta maupun yang lainnya langsung melihat kearah jam dinding. Dan benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Aku akan menghubungi salah satu dari mereka!" seru Andra.
Setelah itu, Andra mengambil ponselnya dari saku celananya. Setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Andra pun langsung menghubungi adiknya yaitu Gilang.
"Hallo, kakak Andra. Ada apa?"
"Hallo, Gil. Kamu dimana?"
"Aku sudah berada di rumah Darren, kakak Andra. Kenapa?"
"Apa hanya kamu?"
"Tidak, kak. Aku pulang bersama Darka sejak pukul 11 siang. Sementara Darren baru pulang pukul 2 sore."
"Disini juga ada ketujuh sahabatnya Darren. Mereka akan menginap disini," ucap Gilang.
"Tapi kamu, Darka dan Darren baik-baik sajakan?" tanya Andra.
"Iya, kakak Andra. Kita baik-baik saja."
"Ach, syukurlah. Kakak dan yang lainnya khawatir jika kalian belum pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Mendengar ucapan dari Andra. Seketika terukir senyuman di bibir Gilang.
"Ya, sudah! Kakak tutup teleponnya. Jaga Darka dan Darren. Diantara kalian bertiga, kau yang lebih tua."
"Baik, kakak Andra."
Setelah selesai berbicara dengan adiknya yaitu Gilang. Andra pun mematikan panggilannya tersebut.
"Bagaimana, Andra?" tanya Erland.
Andra langsung menatap wajah ayahnya, lalu Andra tersenyum.
"Mereka baik-baik saja, Papa! Mereka sudah di rumah. Bahkan disana ada ketujuh sahabatnya Darren. Mereka akan menginap disana," jawab Andra.
Mendengar jawaban dari Andra membuat mereka akhirnya bisa bernafas lega.
Setelah tinggal selama dua minggu di rumah keluarganya. Darren akhirnya kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Dan seperti biasa, Gilang dan Darka juga ikut pulang dan tinggal di rumah Darren dengan alasan ingin menjaga kesayangannya.