
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya bersama dengan para kekasihnya kini berada di wisata permainan. Seperti yang sudah mereka rencanakan sepulang dari kampus bahwa mereka akan pergi kencan bersama-sama.
Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya akan menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan kekasih masing-masing.
Saat ini Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya menaiki Roller Coaster.
Mereka begitu menikmati permainan tersebut. Apalagi mereka menikmatinya bersama dengan orang terkasihnya.
"Yuhu! Seru! Yeey!"
Teriakan demi teriakan keluar dari mulut Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Setelah menyelesaikan satu permainan yaitu Roller Coaster. Kini Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya akan menaiki Polercoaster dengan ketinggian 173,7 meter. Dan dengan kecepatan 65 mil perjam.
Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya maupun para kekasihnya sangat menikmati permainan yang satu ini. Tidak ada kata takut dalam diri mereka masing-masing. Bahkan mereka semua berteriak heboh.
Setelah satu setengah jam menaiki Polercoaster. Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya beserta kekasihnya memutuskan untuk mencari makan.
"Aku mau kesana sebentar!" seru Alice.
Mendengar seruan Alice. Willy dan yang lainnya langsung melihat kearah tunjuk Alice.
"Aku temanin ya?" tanya Willy.
"Nggak usah, Wil. Aku bentaran doang. Nggak lama. Kamu disini aja sama yang lainnya," ujar Alice.
"Ya, sudah. Hati-hati. Matanya jangan ngelirik kemana-mana," ucap Willy.
"Aish. Apaan sih," kesal Alice.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum mendengar perkataan Willy.
^^^
Alice saat ini tengah melihat sebuah boneka. Boneka itu sudah dilirik olehnya sejak masuk ke pusat permainan.
"Nah, itu bonekanya!" seru Alice.
Alice melangkah buru-buru mendekati tempat orang yang menyediakan boneka itu.
"Paman, aku mau boneka besar itu."
"Maaf, nona! Boneka itu tidak dijual."
"Tapi aku mau boneka itu."
"Maaf sekali lagi nona. Tapi jika nona mau. Nona bisa mendapatkannya dengan cara bermain."
"Bermain apa, Paman?"
"Nona harus beli ini," ucap Paman itu dengan memberikan sepuluh anak panah kepada Alice. "Nona harus melempar anak panah ini kearah sana," ucap sang Paman dengan menunjuk kearah papan sasaran.
Alice melihat arah tunjuk pria itu. Dan seketika terukir senyuman manis di bibir Alice.
"Itu gampang, Paman!" seru Alice.
"Sekarang cobalah."
"Tapi benaran kan Paman. Jika aku berhasil menancapkan kesepuluh anak panah ini tepat sasaran, maka boneka besar itu untukku?"
"Iya, nona! Boneka besar itu akan menjadi milik nona."
"Baiklah."
Setelah itu, Alice pun mulai melemparkan satu persatu anak panah itu ke papan sasaran.
Tak butuh waktu lama, Alice berhasil menancapkan kesepuluh anak panah itu tepat sasaran.
Pemilik kios dan orang-orang yang melihatnya berdecak kagum akan kelincahan dan kepintaran Alice dalam bermain.
"Paman, aku berhasil. Mana bonekanya!" seru Alice sembari mengulurkan kedua tangannya kearah sang Paman.
Melihat tingkah Alice membuat si pemilik kios dan juga beberapa pengunjung tersenyum gemas.
"Ini bonekanya."
Alice langsung menerima boneka itu dengan senyuman lebarnya.
"Yey! Akhirnya aku mendapatkanmu!" teriak Alice.
Mereka lagi-lagi tersenyum melihat kelakuan Alice.
__ADS_1
Setelah selesai dengan kegiatannya dan setelah mendapatkan apa yang diincarnya. Alice pun kembali menemui kekasih dan sahabat-sahabatnya.
Ketika baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang menarik paksa boneka yang dipeluk olehnya.
Srek!
"Boneka ini milikku," ucap orang itu.
Melihat apa yang dilakukan oleh gadis di hadapannya membuat Alice menatap marah gadis itu.
"Apa-apaan kau, hah?! Balikin boneka itu. Itu milikku!" teriak Alice.
"Enak saja ngaku-ngaku punyamu. Emangnya ada nama kamu di boneka ini, hah?!" bentak gadis itu.
"Aku bilang kembalikan bonekaku!" teriak Alice lagi.
"Kalau aku nggak mau, lalu kau mau apa?"
Alice yang melihat gadis tersebut tidak akan mengembalikan boneka miliknya langsung menghampiri gadis itu.
Setiba Alice di depan gadis itu, Alice langsung menarik boneka itu. Dan berhasil.
Setelah mendapatkan boneka itu, Alice mendorong kuat tubuh gadis itu hingga terhuyung ke belakang.
"Jangan mau yang enaknya saja. Jika ingin sesuatu, berusaha dong. Jangan asal mengambil milik orang lain dan mengklaim milik kita," ucap Alice.
Setelah mengatakan itu, Alice pun pergi meninggalkan gadis itu dengan memeluk bonekanya.
Sementara gadis tersebut ketika mendengar perkataan dan juga perlakuan Alice tak terima.
Dan seketika gadis itu memanggil kekasihnya.
"Sayang," panggil gadis itu.
Tak beberapa lama datanglah sepuluh laki-laki dan salah satunya adalah kekasih dari gadis itu.
"Kenapa, sayang? Ada apa?"
"Gadis itu mengambil boneka milikku," jawab gadis itu sambil menunjuk kearah Alice.
Laki-laki itu melihat kearah tunjuk kekasihnya. Begitu dengan teman-temannya.
"Sayang, ayo ambil kembali bonekaku!"
Setelah itu, laki-laki itu pun mengejar Alice.
Disisi lain di lokasi yang sama dimana Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya beserta para kekasihnya, kecuali Alice tengah memesan makanan.
Dan seketika salah satunya menyadari jika diantara mereka ada yang kurang.
"Kenapa Alice lama sekali ya?" tanya Elsa yang menyadari bahwa Alice belum kembali.
Mendengar pertanyaan dari Alice. Mereka pun melihat ke sekekitarnya, termasuk Willy. Dan benar, Alice tidak bersama mereka.
"Eh, lihatlah disana!" teriak Felisa menunjuk kearah keramaian.
Mereka semua dengan kompak melihat kearah tunjuk Felisa.
"Itu Alice," sahut Milly dan Lenny bersamaan.
Dan tanpa pikir panjang lagi, mereka semua pun berlari menghampiri Alice.
Mereka semua melihat Alice yang tengah dikepung oleh beberapa laki-laki.
Laki-laki dari kekasih gadis yang mengaku boneka Alice adalah miliknya telah berhasil merebut boneka itu.
"Berani sekali kau merebut boneka kekasihku, hah!" bentak laki-laki itu.
"Siapa yang merebut, hah?! Kekasih gilamu itu yang merebut bonekaku," jawab Alice.
"Berani kau melawan padaku. Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" bentak laki-laki itu.
"Kau pikir aku takut," tantang Alice.
"Dasar wanita sialan!"
Laki-laki itu hendak menampar wajah Alice. Namun detik kemudian...
Duagh!
Willy datang dan langsung memberikan tendangan kuat tepat di pinggang laki-laki itu.
__ADS_1
"Tidak akan semudah itu kau menyentuh milikku!" teriak Willy.
Para pengunjung yang sedari tadi menyaksikan kejadian tersebut seketika bergidik ngeri ketika seseorang datang dan langsung menyerah laki-laki yang ingin menyakiti gadis pemilik boneka itu.
"Alice, kamu nggak apa-apa?" tanya Brenda.
"Aku nggak apa-apa, Brenda."
"Benaran?" tanya Tania.
"Kamu nggak bohongkan?" tanya Vania.
"Iya, beneran. Aku nggak bohong," jawab Alice.
Willy dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap tajam kearah laki-laki yang hendak menampar Alice.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ikut campur urusanku?!" bentak laki-laki itu.
"Aku ikut campur karena kau dan teman-temanmu sudah berani mengganggu gadisku," jawab Willy dengan menatap marah kearah laki-laki itu.
Mendengar perkataan dari orang yang ada di hadapannya. Seketika laki-laki itu tertawa remeh.
"Hahahaha. Jadi wanita murahan itu kekasihmu, hah!"
Willy mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar kekasihnya dihina. Begitu juga dengan Darren dan yang lainnya. Mereka semua menatap marah laki-laki itu.
"Jaga ucapanmu, brengsek! Jangan beraninya kau menyebut kekasihku sebagai wanita murahan!" teriak Willy.
"Kalau kau tidak ingin aku menyebut kekasihmu sebagai wanita murahan. Seharusnya kau katakan pada kekasihmu itu untuk tidak mengganggu kekasihku!" teriak laki-laki itu.
Mendengar perkataan dan juga teriakan dari laki-laki itu. Seketika Alice langsung bersuara.
"Aku tidak mengganggu kekasihmu itu. Bahkan aku tidak mengenalnya. Kekasihmu itu yang tiba-tiba datang dan langsung menarik boneka milikku. Dan setelah itu, kekasihmu yang tidak tahu diri itu seenaknya mengklaim bonekaku miliknya!" teriak Alice.
Mendengar perkataan dan juga teriakan dari Alice. Willy dan yang lainnya menatap kearah gadis yang berdiri di samping laki-laki itu.
"Tidak sayang. Itu tidak benar. Boneka itu memang benar milikku. Perempuan itu berbohong sayang."
"Mana ada maling yang mau ngaku," ucap Elsa.
"Diam kau!" bentak gadis itu.
"Jangan membentak kekasihku, brengsek!" bentak Qenan.
Willy menatap marah kearah gadis itu. "Kembalikan boneka itu padaku!" bentak Willy.
"Tidak. Ini boneka milikku."
"Aku katakan sekali lagi. Kembalikan boneka itu!" teriak Willy.
"Brengsek! Beraninya kau membentak kekasihku!" teriak laki-laki itu.
Dan detik kemudian...
"Serang!"
Dan terjadilah perkelahian di wisata permainan tersebut.
Bagh! Bugh!
Dugah!
Melihat apa yang terjadi di hadapannya membuat para pengunjung hanya bisa diam di tempat. Mereka semua saat ini sudah ketakutan.
Alice berjalan menghampiri gadis itu dan diikuti oleh Brenda dan yang lainnya.
Srek!
Alice langsung menarik boneka miliknya yang tengah dipeluk oleh gadis itu.
"Ini milikku," ucap Alice dengan menatap nyalang gadis itu.
Gadis itu tidak terima dan hendak menampar Alice, namun Alice langsung menendang perut gadis itu hingga tubuhnya tersungkur di tanah.
Duagh!
Bruk!
"Rasakan itu," ejek Brenda dan sahabat-sahabatnya.
Selesai urusan Alice dengan gadis itu. Dan selesai juga pekerjaan Willy dan ketujuh sahabat-sahabatnya menghajar kekasih dari gadis itu beserta teman-temannya.
__ADS_1
Kondisi laki-laki itu beserta teman-temannya dalam keadaan wajah yang babak belur. Serta tubuh yang remuk akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Willy dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Setelah itu, Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya memutuskan untuk pulang.