KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tatapan Khawatir Seorang Ayah


__ADS_3

Darren saat ini sedang berada di ruang tengah. Dirinya saat ini sibuk dengan beberapa tugasnya, salah satunya adalah Darren tengah mengecek hasil rakitan mobil BMW seri terbarunya.


Dua puluh mobil telah selesai dibuat oleh Darren, Jerry, Dylan dan Axel serta para pekerjanya. Kemungkinan satu minggu lagi akan diuji coba.


Disaat Darren tengah fokus dengan pekerjaannya. Tanpa Darren sadari, kedua kakaknya yaitu Davin dan Andra datang.


Niat keduanya ingin mengambil minuman. Namun melihat adiknya di ruang tengah membuat Davin dan Andra memutuskan menghampiri adiknya itu.


"Darren," panggil Davin. Davin dan Andra menduduki pantatnya di sofa.


Mendengar namanya dipanggil, Darren langsung melihat ke asal suara. Dan dapat Darren lihat kedua kakak telah duduk di sofa.


"Kakak Davin, kakak Andra."


Davin dan Andra tersenyum mendengar adiknya menyapanya dengan lembut.


"Sibuk kayaknya, hum?" tanya Andra.


"Nggak kak Andra. Aku hanya mengecek semua mobil-mobil yang sudah dibuat dua minggu yang lalu," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren. Seketika terukir senyuman manis di bibir Davin dan Andra.


"Jadi udah selesai mobil BMW seri terbarunya dibuat?" tanya Davin.


Mendengar pertanyaan dari Davin buat Darren terkejut. Pasalnya Darren tidak pernah mengatakan apapun kepada keluarganya mereka mobil yang akan dibuat.


Melihat wajah terkejut dan wajah bingung adik laki-lakinya membuat Davin dan Andra tersenyum.


"Kakak Davin dan kakak Andra tahu dari ketiga sahabat kamu," ucap Davin.


"Dan dari kamu juga," sela Andra.


"Aku," ucap Darren.


"Iya, kamu. Kamu kan pernah membahas masalah ini sama kita semua. Kamu lupa kali," ucap Andra.


Darren berpikir sejenak...


"Mungkin juga," sahut Darren.


Davin dan Andra kembali tersenyum melihat sifat pelupa adiknya.


"Oh iya, Darren! Kakak ingin menanyakan sesuatu sama kamu!" seru Davin.


"Kakak Davin mau nanya apa?" tanya Darren.


"Ini masalah kakak kamu, Gilang." Davin menjawab pertanyaan Darren.


Darren seketika menghentikan kegiatannya mengecek tugas-tugas di layar laptopnya ketika mendengar pertanyaan dari Davin. Darren kemudian mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya untuk menatap wajah Davin.


"Kakak Davin yakin kamu mengetahui bahwa Gilang menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap Davin.


"Kenapa kakak Davin bisa seyakin itu kalau aku mengetahui bahwa kakak Gilang menyembunyikan sesuatu dari kita?" tanya Darren.


"Dari cara kamu menatap Gilang. Tatapan mata kamu itu mengisyaratkan kecurigaan terhadap Gilang," ucap Davin.


Darren seketika terdiam ketika mendengar jawaban dari Davin. Di dalam hatinya Darren membenarkan apa yang dirasakan oleh kakaknya itu jika dirinya tengah mencurigai Gilang.


"Ayolah, Ren! Jika kamu tahu sesuatu, katakan pada kakak Davin."


"Maafkan aku kakak Davin. Bukan aku tidak mau memberitahu kakak Davin. Kakak Davin benar jika aku mencurigai kakak Gilang. Kakak Davin juga benar bahwa kakak Gilang menyembunyikan sesuatu dari kita. Tapi sungguh! Aku tidak tahu apa itu. Tapi filling aku mengatakan bahwa ini ada hubungannya dengan perempuan itu "


"Maksud kamu perempuan yang menyebrang tak lihat kiri kanan itu?" tanya Andra.


"Iya, kak Andra."


Darren menatap wajah kedua kakaknya itu.


"Kakak Davin, kakak Andra."


"Iya, Ren."


"Kakak Davin dan kakak Andra adalah saudara tertua di dalam keluarga. Aku minta pada kakak Davin dan kakak Andra jika nanti terjadi sesuatu dalam keluarga kita dan penyebabnya adalah salah satu dari adik kalian. Aku minta kepada kalian untuk tidak emosi. Marah boleh, tapi jangan sampai main tangan. Apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang akan menimbulkan masalah besar."


Mendengar permintaan dari adik laki-lakinya dan ditambah lagi melihat tatapan memohon adiknya itu membuat Davin dan Andra langsung menurut.


Baik Davin maupun Andra sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi kakak-kakak yang baik dan bijaksana kepada semua adiknya. Davin dan Andra tidak akan main tangan kepada adiknya jika adiknya melakukan kesalahan. Termasuk berkata yang tak seharusnya dikatakan.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir, Darren. Seperti janji kakak Davin pada kamu dan pada semuanya. Kakak Davin akan menjadi kakak yang baik dan bijaksana untuk semuanya." Davin menjawab dengan kesungguhan hatinya.


"Kakak Andra juga," ucap Andra.


Mendengar jawaban dari kedua kakak laki-lakinya itu membuat Darren tersenyum.


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak mau kembali ke kamar. Dan kamu jangan tidur malam-malam. Kakak nggak mau kamu kelelahan karena kurang tidur," ucap Davin sembari menasehati adiknya.


"Baik, kakak Davin."


Setelah itu, Davin dan disusul Andra langsung pergi meninggalkan Darren di ruang tengah.


Lima menit kepergian kedua kakaknya ke kamar masing-masing. Ponsel Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren melihat ke samping dimana ponselnya berada. Darren melihat di layar ponselnya nama 'Willy'. Tanpa membuang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan dari Willy.


"Hallo, Will."


"Hallo, Ren. Bagaimana besok? Jadi kita ke rumahnya kakak Ziggy?"


"Jadilah. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Kasihan rekan kerja asli kita yang masih disekap oleh mereka."


"Apa kau sudah menghubungi salah satu tangan kanannya kakak Ziggy?"


"Sudah. Aku menghubungi kakak Caleb. Dan aku meminta kakak Caleb untuk mencari dimana ketiga rekan kerja kita itu disekap. Aku sudah memberikan data-data asli dari ketiga rekan kerja kita itu kepada kakak Caleb."


"Bukan itu saja. Aku juga menghubungi kakak Daksa dan meminta kakak Daksa untuk menyelidiki latar belakang dari orang-orang brengsek itu. Dan untuk kelompok yang menyekap ketiga rekan kerja kita itu, kakak Ziggy yang akan turun tangan langsung. Setelah itu, barulah kita bertiga masuk ke dalam permainan tersebut."


"Eemm... Ide yang bagus. Aku suka itu. Kapan kita akan ke rumahnya kakak Ziggy?"


"Setelah urusan di kampus selesai."


"Baiklah."


Setelah itu, baik Darren maupun Willy sama-sama mematikan panggilannya.


Darren melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Pukul 9 malam," ucap Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren pun membereskan pekerjaannya dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


***


"Kalian sarapanlah dulu. Aku akan ke kamar Darren," ucap Agneta.


"Kita akan menunggu Darren. Kita akan sarapan bersama-sama," ucap Erland.


"Baiklah," jawab Agneta.


Setelah itu, Agneta langsung pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju kamar Darren di lantai dua.


^^^


CKLEK!


Agneta membuka pintu kamar Darren berlahan. Setelah pintu terbuka, Agneta pun melangkah masuk ke dalam kamar putranya itu.


Setelah tiba di dalam kamar, Agneta tersenyum melihat gundukan di atas tempat tidur.


"Dasar tukang tidur. Jam segini masih molor," ucap Agneta tersenyum.


Agneta melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur putranya. Setelah berada di samping tempat tidur putranya, Agneta duduk di sampingnya.


Berlahan Agneta menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh putranya itu. Seketika Agneta kembali tersenyum kala melihat wajah putranya itu tertidur. Agneta membelai lembut rambutnya sehingga memperlihatkan kening putih putranya. Dan detik kemudian, Agneta mencium kening itu dengan penuh sayang.


"Sehat terus ya, Nak!"


Seketika Darren membuka kedua matanya ketika merasakan sentuhan dan ciuman di keningnya. Darren melihat kearah ibunya. Dan kemudian Darren tersenyum.


"Selamat pagi, sayangnya Mama!"


"Selamat pagi, Mama!"


"Ya, sudah! Sekarang buruan bangun dan mandi. Semua orang sudah menunggu di meja makan. Tinggal kamu saja yang belum bangun."


"Baiklah."


Darren langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Melihat putranya masuk ke dalam kamar mandi. Agneta membersihkan tempat tidur putranya. Setelah tempat tidur putranya dalam keadaan rapi, Agneta pun pergi meninggalkan kamar putranya menuju lantai bawah.


^^^


Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Dan mereka semua pun memulai sarapan paginya.


Ketika mereka semua tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba seorang security datang menemui mereka. Security itu adalah security yang memang bekerja di rumah Darren.


"Maaf tuan, nyonya, Bos!"


Mereka semua melihat kearah security itu, termasuk Darren.


"Ada apa, Fito?" tanya Darren.


"Saya hanya ingin memberikan ini, Bos!"


Fito menyerahkan sebuah amplop kuning yang masih tersegel rapi kepada Darren. Dan Darren langsung menerimanya.


"Siapa yang mengirimnya?"


"Kurir, Bos!"


"Ya, sudah. Terima kasih."


"Sama-sama, Bos. Kalau begitu saya permisi."


Setelah itu, Fito pun pergi meninggalkan ruang makan untuk kembali ke tempatnya untuk berjaga-jaga.


Ponsel Darren berbunyi. Darren yang mendengar itu langsung mengambilnya. Dan dapat Darren lihat nama 'Andrean' di layar ponselnya. Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Andrean."


"Apa kau sudah menerima kiriman dariku?"


"Sudah. Apakah kiriman kamu amplop warna kuning?"


"Iya, benar! Isi dari amplop itu adalah berkas-berkas dimana ibunya Brenda menandatangani berkas palsu itu. Berkas pengalihan kepemilikan perusahaan dan rumah mewah milik ibunya Brenda."


"Baiklah. Aku akan simpan berkas ini."


"Oh iya, Ren! Aku hanya ingin kasih tahu kamu. Beritahu ibunya Brenda untuk berhati-hati setiap mau menandatangani berkas-berkas. Jangan sampai kecolongan lagi. Aku sangat yakin jika bajingan itu saat ini pasti tengah mengamuk karena ladang kekayaannya hilang. Dan aku juga yakin kalau bajingan itu akan menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan tanda tangan ibunya Brenda kembali."


"Baiklah. Aku akan membicarakan masalah ini kepada keluarganya Brenda."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya."


Tutt!


Tutt!


Darren menatap amplop yang saat ini masih dipegangnya. Berlahan Darren membukanya.


Setelah amplop itu terbuka. Darren mengeluarkan isinya. Terdapat beberapa kertas yang bertuliskan dengan rapi. Dan di bawahnya terdapat tanda tangannya ibunya Brenda.


Darren membaca isi dari berkas itu. Isi berkas itu bertuliskan bahwa perusahaan besar keluarga AMORA beserta rumah mewah milik keluarga AMORA secara resmi telah menjadi milik Charlie Fielder.


Ketika Darren membaca bagian terakhir. Seketika raut wajah Darren berubah tak mengenakkan. Dirinya benar-benar marah atas apa yang telah dilakukan oleh pria bernama Charlie.


"Dasar menjijikkan," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren dan juga melihat wajah tak mengenakkan dari Darren membuat mereka semua berpikir pasti ada masalah yang tengah dihadapi oleh Darren.


"Sayang," panggil Erland.


Darren langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat oleh Darren ayahnya yang menatap dirinya khawatir.


Darren memberikan senyuman termanisnya kepada ayahnya dan juga anggota keluarga lainnya. Darren sangat yakin jika ayahnya dan anggota keluarganya kini tengah khawatir.


"Papa tidak perlu khawatir, oke! Masalah yang aku hadapi ini tidak begitu rumit."


"Kamu nggak bohongkan, Nak?"


"Tidak, Papa! Papa percayakan padaku?"


"Papa percaya," jawab Erland.


"Sebenarnya Papa tidak percaya kamu, Nak! Papa tahu siapa kamu. Kamu itu sangat pintar menyembunyikan masalah kamu," batin Erland yang masih menatap wajah Darren.

__ADS_1


"Tuhan. Apa lagi ini? Masalah apa lagi yang menimpa keluargaku. Masalah apa yang sedang disembunyikan oleh kedua putraku Gilang dan Darren. Aku tahu siapa mereka. Aku tahu watak mereka. Di depanku kedua putraku mengatakan baik-baik saja. Tapi hatiku mengatakan bahwa kedua putraku itu sedang menghadapi masalah masing-masing." Erland berbicara di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap Gilang dan Darren.


"Tuhan, lindungilah semua putra-putraku," batin Erland.


__ADS_2