
Flashback On
Di ruang tengah keluarga besar Smith terlihat Davin dan kelima adiknya tengah berkumpul. Dan salah satunya sedang dalam mood buruk. Siapa lagi kalau bukan Darrendra Smith,
Darren saat ini sedang kesal karena cemilan kesukaannya dimakan sampai habis oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga membuat mood seorang Darren buruk. Akibat cemilan yang dimakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab membuat Darren mogok makan.
"Darren, sayang!" Davin memanggil adiknya dengan lembut.
"Apa!" Darren menjawab dengan nada yang sedikit ketus.
Davin yang mendengar jawaban ketus dari adiknya itu hanya bisa pasrah. Di dalam hatinya 'siapa yang salah dan siapa diketusin?'
"Sabar, Davin! Sabar!" batin Davin.
"Makan yuk," ajak Davin.
"Nggak lapar," jawab Darren dengan wajah super kusutnya.
"Tapi kamu belum makan dari bangun tidur tadi. Dan kamu juga nggak ikut makan siang," ucap Andra yang juga ikut membujuk adiknya itu.
"Memangnya aku peduli?"
"Tapi kita peduli, sayang!" Dzaky berucap.
"Bodoh."
"Hah!"
Mendengar setiap jawaban dari adik bungsunya membuat Davin, Andra, Dzaky dan Adnan hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
Kemudian Davin, Andra, Dzaky, dan Adnan menatap tajam kearah Gilang dan Darka. Mereka meminta pertanggung jawaban dari kedua adiknya itu. Sejak tadi, kedua adiknya itu hanya fokus dengan ponselnya masing-masing tanpa mau ikut membujuk sang adik bungsunya untuk makan. Padahal mereka berdua yang menjadi biang kerok dari sang adik bungsu mogok makan.
"Gilang! Darka!" panggil Davin, Andra, Dzaky, dan Adnan secara bersamaan.
Deg!
Seketika Gilang dan Darka terkejut ketika mendengar panggilan dari keempat kakak laki-lakinya. Dan keduanya langsung melihat wajah keempat kakak laki-lakinya itu.
Seketika Gilang dan Darka menelan ludahnya secara kasar ketika melihat tatapan mata dari keempat kakak laki-lakinya.
"Bujukin Darren tuh!" ucap Andra sembari melirik kearah Darren.
Gilang dan Darka langsung melihat kearah Darren. Dan keduanya membelalakkan matanya ketika melihat wajah kusut dan jelek adik laki-lakinya itu.
"Jelek amat tuh wajah," ledek Darka.
"Lagi dapat ya," ledek Gilang.
Darren seketika menatap wajah Gilang dan Darka dengan bibir yang mengabsen semua penghuni kebun binatang.
Sementara Davin, Andra, Dzaky, dan Adnan menatap tajam kearah Gilang dan Darka. Mereka menyuruh keduanya untuk membujuk Darren, tapi justru keduanya membuat Darren semaki bad mood.
"Gilang, Darka! Kakak menyuruh kalian buat bujukin Darren makan. Bukan membuat mood Darren makin bertambah buruk!" teriak Davin melengking di ruang tengah.
Mendengar teriakkan dari Davin. Mereka semua menutup telinganya masing-masing, termasuk Darren.
Gilang dan Darka melihat kearah Davin. Dapat dilihat oleh keduanya, kakak laki-lakinya itu menatap dirinya dengan tatapan matanya yang menajam.
"Bujukin Darren untuk makan. Satu hari ini belum makan apa-apa," ucap Davin.
"Darren sampai mogok makan itu karena kalian sudah menghabiskan cemilannya," ucap Andra.
"Dan tugas kalian adalah minta maaf dan ajak Darren makan," ucap Dzaky.
"Jika sampai nanti sore Darren belum juga makan. Dan moodnya juga belum kembali membaik. Maka kalian berdua akan kami beri hukuman. Hukumannya adalah kalian akan mencuci piring setelah selesai sarapan pagi, makan siang dan makan malam selama satu bulan," ucap Adnan.
"Hm!" Davin, Andra dan Dzaky menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide dari Adnan.
Mendengar ucapan demi ucapan serta ancaman dari kakak keempatnya membuat Gilang dan Darka seketika membelalakkan matanya.
Sementara Darren diam-diam di dalam hatinya tersenyum penuh kebahagiaan dan kemenangan mendengar ucapan dari keempat kakak laki-laki tertuanya.
Setelah mengatakan itu, Davin dan keempat adik laki-lakinya pergi menuju kamarnya masing-masing. Mereka akan bersiap-siap untuk ke kantor dan ke kampus.
***
Kini Gilang, Darka dan Darren berada di sebuah cafe. Beberapa jam yang lalu, Gilang dan Darka berhasil membujuk adik laki-lakinya untuk mau diajak makan dengan diiming-imingi akan dibelikan beberapa cemilan dan minuman kesukaannya.
Saat ini Gilang, Darka dan Darren tengah memilih makanan dan juga minuman yang ada di buku menu.
Setelah mendapatkannya, ketiganya pun memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun datang. Dan pesanan-pesanan itu ditata di atas meja.
Ketika Darren hendak memulai memakan makanannya. Matanya tak sengaja melihat ada potongan daging di dalam makanan yang dipesannya. Padahal setahu dirinya, dia tidak memesan daging melainkan nasi goreng yang dicampur dengan telur.
"Ini apa?" tanya Darren kepada pelayan itu.
"Itu hati ayam, tuan!" pelayan itu menjawab pertanyaan dari Darren.
"Kamu bisa kerja nggak? Aku tadi mesannya nasi goreng yang telurnya dicampur dengan nasi goreng!" bentak Darren.
"Ma-maafkan saya, tuan!"
Melihat adik laki-lakinya yang tiba-tiba marah dan bahkan membentak pelayan tersebut membuat Gilang dan Darka langsung menenangkan adik laki-lakinya itu.
"Ren, udah ya. Pelayannya nggak sengaja," ucap Darka.
"Kita pesan yang lain saja ya," bujuk Gilang.
"Udah nggak selera," jawab Darren dengan tatapan matanya yang menajam menatap kearah pelayan tersebut.
Pelayan itu hanya bisa menunduk takut akan tatapan mata Darren yang begitu menakutkan. Itu yang dipikirkan oleh pelayan itu.
"Anda boleh pergi," ucap Gilang.
"Terus kamu maunya makan apa?" tanya Darka lembut sambil mengusap kepala adik laki-lakinya penuh sayang.
"Atau kita cari cafe lain. Nanti disana kamu bebas mau milih apa," ucap Gilang yang juga berusaha membujuk adik laki-laki kesayangannya.
Darren menatap wajah kedua kakak laki-lakinya itu. "Terus cemilan sama minuman, kapan jadi beli?"
Mendengar pertanyaan dan melihat wajah memohon adik laki-lakinya itu membuat Gilang dan Darka tersenyum.
"Setelah kita selesai makan," jawab Darka.
"Kamu harus makan nasi dulu," ucap Gilang menambahkan.
"Eemm... Baiklah!"
Mendengar jawaban dari adik laki-lakinya. Gilang dan Darka tersenyum bahagia.
Dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan cafe tersebut untuk mencari cafe yang lain.
Darka dan Gilang seketika menangis ketika mengingat momen-momen kebersamaannya dengan adik laki-laki kesayangannya. Ditambah lagi tatapan mata keduanya menatap nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Ini nasi goreng kesukaan Darren," ucap Darka dengan suara lirihnya.
"Iya, Darka. Kau benar. Adik laki-laki kesayangan kita memang sangat menyukai nasi goreng yang dicampur sama telur," ucap Gilang yang membenarkan apa yang dikatakan oleh Darka.
"Coba kau lihat sambal hati ayam itu." Gilang berucap dengan menatap kearah dimana terhidangnya sambal hati ayam itu.
Darka melihat kearah sambal hati ayam. Dan seketika Darka tersenyum. Ingatan disaat adik laki-lakinya marah kepada pelayan yang salah membawakan pesanannya.
"Aku heran sama Darren. Kenapa Darren begitu benci dengan hati ayam. Padahal hati ayam itu enak loh," ucap Darka.
Air mata Darka makin deras mengalir membasahi wajahnya. Begitu juga dengan Gilang.
"Darren. Kamu dimana, sayang? Kenapa nggak pulang-pulang? Kakak begitu merindukan kamu."
Bukan hanya Gilang dan Darka saja yang menangis. Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian, Evan, Carissa, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin juga ikut menangis. Mereka semua begitu merindukan Darren.
"Darren, sayang!"
"Kakak Darren."
"Ren."
Erland berdiri dari duduknya lalu melangkah menghampiri kedua putranya itu. Hatinya benar-benar hancur mendengar ucapan dan melihat tangisan keduanya.
Setelah Erland berdiri di belakang Gilang dan Darka. Erland langsung memeluk tubuh kedua putranya itu. Dan seketika, tangis Gilang dan Darka pecah.
"Papa... Aku merindukan Darren. Aku merindukan Darren."
Gilang dan Darka menangis terisak. Tangisan mereka tidak bisa ditahan. Kerinduan mereka akan adik laki-laki kesayangannya begitu besar.
"Papa mengerti sayang. Papa juga merindukan adik laki-laki kalian itu. Hati Papa juga hancur setiap hari memikirkanya. Tapi percayalah! Adik laki-laki kalian itu pasti baik-baik saja diluar sana. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya."
"Apa yang dikatakan Papa benar, sayang! Kita berdoa yang terbaik untuk Darren. Semoga Darren baik-baik saja diluar sana dan segera kembali kepada kita semua," ucap Agneta.
Erland melepaskan pelukannya dari kedua putranya. Setelah itu, Erland menatap wajah keduanya dan menghapus air mata putranya itu.
"Jangan sedih lagi, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Dan Darren akan kembali kepada kita. Percayalah!"
__ADS_1
"Kami percaya!" seru Gilang dan Darka bersamaan.
Erland tersenyum mendengar jawaban kompak Gilang dan Darka. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
***
Di kediaman keluarga besar Mendez terlihat seorang gadis cantik yang saat ini tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Gadis itu bernama Chintia Benjamin.
Setelah semuanya selesai, Chintia pun memutuskan untuk turun ke bawah sembari tersenyum bahagia.
Chintia saat ini berada di kediaman keluarga besar Mendez, keluarga dari pihak ibunya.
Ibunya memutuskan menginap dan tinggal beberapa bulan di kediaman keluarganya ketika mendengar kabar buruk yang menimpa sang kakek.
Ketika sampai di kediaman keluarga Mendez, Chintia melihat pemuda yang selama ini dikejar-kejar. Dan dia cintai berada di rumah keluarga Mendez. Melihat pemuda yang begitu dia cintai membuatnya bahagia.
Dan Chintia pun sudah mengetahui alasan kedatangan pemuda yang dia cintai selama ini ke kediaman keluarga Mendez. Mengetahui hal itu membuat Chintia tersenyum licik.
Ketika Chintia hendak melangkah menuju ruang makan, tiba-tiba adik perempuan ibunya datang menghalangi jalannya.
"Bibi ingin mengatakan sesuatu kepada kamu, Chintia!"
"Bibi mau mengatakan apa padaku?" tanya Chintia yang takut akan tatapan mata sang Bibi.
"Bibi tidak tahu apa rencana kamu yang sebenarnya. Tapi Bibi tahu apa yang kamu lakukan selama diluar. Termasuk kalau kamu selama ini tertarik dengan Askara. Dan kamu ingin menjadikan Askara milik kamu."
Deg!
Mendengar ucapan dari Bibinya, seketika membuat Chintia terkejut. Dirinya tidak menyangka jika sang Bibi mengetahui niatnya dan perasaannya selama ini terhadap Askara.
"Apa maksud Bibi? Aku... Aku tidak mengerti."
"Kau bisa membodohi semua orang yang ada di rumah ini termasuk kedua orang tua kamu. Tapi tidak dengan Bibi."
Wanita itu menatap lekat wajah Chintia. Terlihat guratan ketakutan disana.
"Jadilah perempuan baik-baik. Dan jangan menjadi perempuan murahan dengan merebut milik orang lain. Di keluarga Mendez tidak ada perempuan yang seperti itu. Perempuan di keluarga Mendez semuanya perempuan terhormat dan perempuan baik-baik."
Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi meninggalkan Chintia yang berdiri mematung dan syok ketika mendengar perkataannya.
Namun detik kemudian, Chintia tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap punggung sang Bibi yang sudah menjauh.
"Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi, Askara harus menjadi milikku. Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka siapa pun juga tidak akan bisa memilikinya termasuk kekasihnya." Chintia berbicara di dalam hatinya.
Setelah itu, Chintia pun melangkahkan kakinya menyusul sang Bibi menuju ruang makan.
***
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sudah berada di kampus. Saat ini mereka berada di kantin untuk sarapan pagi bersama.
Hari ini adalah hari keenam mereka tanpa Darren. Tapi mereka berusaha untuk kuat dan tidak menangis, walau hati mereka sudah menangis.
"Lan," panggil Axel.
"Iya," jawab Dylan sambil memasukkan mie gorengnya ke dalam mulutnya.
"Bagaimana perusahaan Micro Sinopec? Semuanya aman kan?" tanya Axel.
Mendengar pertanyaan dari Axel. Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Dylan.
"Semuanya aman. Aku sudah mengaktifkan fitur pengaman yang terpasang di ruang penyimpanan data. Semuanya memang sudah dipersiapkan oleh Darren," jawab Dylan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang diincar oleh tiga perusahaan itu?" tanya Jerry.
"Mereka tidak mengincar apapun. Hanya saja mereka ingin membuat seolah-olah perusahaan Micro Sinopec telah melakukan kerja sama dengan mereka.!"
"Tujuan mereka masuk ke ruangan penyimpanan data itu adalah untuk memasukkan berkas-berkas milik mereka dan menggabungkannya dengan berkas-berkas lain yang ada di dalam ruangan itu. Jadi....."
Perkataan Dylan terpotong seketika karena Willy sudah terlebih dulu bersuara.
"Jadi dengan begitu jika sewaktu-waktu perusahaan Micro Sinopec membatalkan kerjasama dengan tiga perusahaan itu secara sepihak, maka tiga perusahaan itu akan meminta kepada perusahaan Micro Sinopec untuk membayar finalti alias ganti rugi. Aku benarkan?"
"Iya. Kau benar, Wil! Itulah tujuan ketiga perusahaan itu," jawab Dylan.
"Dasar licik," ucap Qenan marah.
"Terus apa yang terjadi jika ketiga perusahaan itu membeberkan kepada semua rekan bisnisnya sekaligus rekan bisnis Micro Sinopec juga dan mengatakan bahwa perusahaan Micro Sinopec bermain curang?" tanya Rehan penasaran.
Dylan menatap wajah Rehan lalu tersenyum. "Tanpa aku menjawabnya. Kau pasti sudah bisa menebaknya, Rehan!" seru Dylan.
Mendengar ucapan dari Dylan membuat Rehan menatap lekat wajah Dylan. Begitu juga dengan Dylan. Setelah itu, keduanya tersenyum menyeringai.
__ADS_1