
Darren menatap wajah kedua orang tuanya Norris. "Dan untuk kalian. Aku punya kejutan untuk kalian."
"Papa."
Mendengar panggilan dari putranya membuat Erland langsung paham. Dan setelah itu, Erland meminta Ibran sang tangan kanannya untuk membawa Torry dan Norris ke hadapan kedua orang tuanya.
Tak butuh waktu lama, Ibran datang bersama beberapa anggotanya dengan membawa Torry dan Norris.
"Lihatlah kesana tuan dan nyonya!" seru Darren.
Seketika tubuh kedua orang tua Norris dan kedua orang tua Torry menegang dan juga terkejut. Mereka tidak menyangka jika anak-anaknya berada di kediaman keluarga Smith.
"Papa! Mama!" Torry dan Norris menangis memanggil kedua orang tuanya.
Sementara empat polisi yang tersisa yang dibawa oleh keluarga Schiffer dan keluarga Richter menatap bingung kearah dua remaja di hadapannya.
"Apakah tuan-tuan polisi ingin tahu siapa kedua remaja ini?" tanya Andra.
"Mereka adalah anak-anak dari dua pasangan suami istri itu," ucap Dzaky sembari menunjuk kearah kedua orang tua Torry dan Norris.
"Mereka telah berbohong dan membuat pengakuan palsu kepada pihak polisi," ucap Adnan.
"Seperti yang sudah kalian lihat dan kalian dengar sendiri. Mereka berdua adalah anak-anak mereka. Dan keduanya dalam keadaan baik-baik saja," ucap Erland.
"Dikarenakan kalian sudah menerima kasus ini dan kalian juga sudah membuat keributan di rumah keluargaku, maka bersiaplah kalian mendapatkan hukuman dari atasan kalian!"
Setelah Darren mengatakan itu, Darren mengambil ponselnya lalu menghubungi Farraz yang berstatus sebagai kapten kepolisian.
"Hallo kakak Farraz. Aku mau kakak Farraz datang ke rumah keluarga Smith. Mereka sudah bertindak sekarang."
"Baiklah. Kakak akan segera kesana."
Setelah itu, Darren langsung mematikan panggilannya.
Mendengar Darren yang menyebut nama Farraz membuat keempat polisi itu seketika tubuhnya menegang. Mereka tahu bagaimana kinerja seorang Farraz. Dan mereka juga tahu hukuman apa yang akan diberikan oleh atasannya itu.
Darren menatap tajam kearah empat polisi itu. Dan detik kemudian, Darren tersenyum menyeringai. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
__ADS_1
"Tunggu saja apa yang akan menghampiri kalian setelah ini," ucap Darren.
Beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Darren datang juga. Terlihat Jonathan sopir pribadi sekaligus keamanan keluarga Smith datang bersama beberapa polisi.
"Tuan muda Darren, saya kesini mengantarkan tuan Farraz kesini." Jonathan berucap sopan.
"Terima kasih, Paman!"
"Sama-sama tuan muda."
Setelah itu, Jonathan pun pergi meninggalkan semuanya untuk kembali ke depan.
"Aku senang kakak Farraz datang. Coba kakak Farraz lihat mereka," ucap Darren sembari menunjuk kearah dimana dua pasangan suami istri yang berstatus orang tua dari Torry dan Norris serta empat polisi yang saat ini hanya bisa diam membungkam.
Farraz menatap secara intens dan tajam kearah empat polisi yang tak lain adalah anggotanya. Dan tatapan matanya beralih kearah dua pasangan orang tua yang berdiri tak jauh dari empat anggotanya.
"Untuk kalian!" seru Farraz menatap tajam empat anggotanya. "Mulai detik ini tugas kalian hanya di kantor. Kalian dilarang untuk menangani kasus. Jadi, setiap ada laporan dari masyarakat. Kalian dilarang untuk menanganinya. Kalian mengerti!"
"Ba-baik, Kapten! keempat polisi itu langsung menjawabnya.
"Setiap ada masalah atau laporan dari masyarakat. Kalian harus terlebih dulu melaporkannya kepadaku. Jangan langsung bertindak. Sekali lagi kalian melakukan kesalahan, maka kalian akan dipecat dari kepolisian secara tidak terhormat!"
"Sekarang, kembali kalian ke kantor. Masalah ini biarkan aku yang menyelesaikannya!"
"Ba-baik Kapten!"
Setelah itu, empat anggotanya itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith.
Farraz menatap nyalang kearah dua pasangan orang tua yang sudah membuat laporan palsu ke kantor polisi. Dan yang menjadi korbannya adalah dua anggota keluarga Smith.
"Kelakuan kalian sudah sangat keterlaluan, tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Kalian merencanakan semuanya dengan sangat rapi. Mulai dari kalian mendisain mobil yang serupa dengan mobil milik Adrian beserta plat mobilnya, kecelakaan mobil, mobil yang dalam keadaan rusak parah, dua anak yang terluka sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Dan setelah itu, kalian membayar dua dokter dan empat perawat lalu meminta kepada mereka untuk menginformasikan kematian anak-anak kalian. Sementara yang lainnya membawa anak-anak kalian ke tempat yang sudah kalian siapkan. Di tempat itulah anak-anak kalian dirawat. Dan kondisi anak-anak kalian tidak apa-apa. Mereka baik-baik saja."
Mendengar penuturan dari Farraz membuat dua pasangan orang tua itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Farraz mengetahui secara detail rencananya.
"Aku tahu niat kalian melakukan hal keji itu terhadap Adrian dan Mathew. Kalian ingin membalas perlakuan Adrian dan Mathew karena mereka sudah menyakiti anak-anak kalian sehingga terbaring di rumah sakit. Dan kalian juga tidak terima atas perlakuan keluarganya yang sudah mengusir kalian saat kalian mendatangi mereka."
"Kalian seharusnya sadar. Disini yang pertama kali melakukan kesalahan adalah anak-anak kalian. Anak-anak kalian dengan keji menghina kedua orang tua dari Adrian dan Mathew. Awalnya Adrian dan Mathew tidak terlalu mempermasalahkan ketika anak-anak kalian menghina mereka berdua. Tapi anak-anak kalian sudah melewati batasannya dengan menghina kedua orang tuanya. Maka dari itulah kenapa Adrian dan Mathew menghajar anak-anak kalian hingga berakhir masuk rumah sakit."
__ADS_1
Farraz menatap Torry dan Norris. Lalu Farraz memberikan pertanyaan yang akan membuat orang tuanya bungkam.
"Dan untuk kalian. Jawab pertanyaan saya. Apa yang akan kalian lakukan jika ada teman-teman sekolah kalian yang menghina orang tua kalian, terutama ibu kalian? Mereka menghina orang tua kalian begitu kejam."
Torry dan Norris hanya diam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Padahal mereka tahu jawabannya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Torry dan Norris membuat Farraz marah.
"Kalian dengar, tidak?! Jawab pertanyaanku barusan!" bentak Farraz.
"Ka-kami akan melakukan hal yang sama seperti Adrian dan Mathew dengan menghajar orang-orang yang sudah menghina kedua orang tua kami," jawab Norris.
Mendengar jawaban dari Norris membuat Farraz tersenyum. Begitu juga dengan Darren dan yang lainnya.
"Berarti apa yang dilakukan oleh Adrian dan Mathew terhadap kalian beberapa bulan yang lalu, tidak salah kan?"
"Ti-tidak," jawab Torry gugup.
"Berarti kalian sudah tahu letak kesalahan kalian dimana?"
"I-iya, kami sudah tahu!" Torry dan Norris menjawab bersamaan.
"Lalu kenapa orang tua kalian mendatangi keluarga Adrian dan Mathew lalu membuat keributan disana?"
Norris langsung menatap wajah Farraz. "Kami tidak mengetahui hal itu, tuan!"
"Kenapa? Apa kalian tidak memberitahu yang sebenarnya kepada orang tua kalian?"
"Kami sudah memberitahu mereka, tuan. Bahkan kami juga memberitahu alasan kami kenapa kami selalu mengganggu Adrian dan Mathew," ucap Torry.
"Kami tidak menyukai Adrian dan Mathew sejak mereka menjadi murid baru di sekolah kami. Adrian dan Mathew selalu menjadi pusat perhatian teman-teman sekolah dan juga para guru-guru," ucap Norris.
"Dulu sebelum kedatangan Adrian dan Mathew. Aku, Norris, Gege, Riyan dan Nigel yang selalu menjadi pusat perhatian. Salah satunya kami selalu dipilih untuk menjadi wakil setiap ada perlombaan antar sekolah. Kami selalu memberikan nama baik dan mengharumkan nama sekolah. Kami juga tidak pernah kalah dan selalu menang dalam setiap perlombaan. Namun....." perkataan Torry terhenti. Seketika Torry menangis setiap mengingat perlakuan pihak sekolah dan teman-teman sekolahnya.
"Semuanya berubah sejak kedatangan Adrian dan Mathew. Mereka merebut semuanya dari kami. Setiap ada perlombaan, pihak sekolah langsung memilih Adrian dan Mathew. Mereka tidak pernah memilih kami. Bahkan semua teman-teman sekolah juga memberikan dukungan kepada Adrian dan Mathew. Apapun jenis kegiatan dan perlombaan, pihak sekolah melupakan kami. Maka dari itulah kami melampiaskan semua kepada Adrian dan Mathew."
Norris melanjutkan cerita dari Torry sembari menangis mengingat perlakuan pihak sekolah dan teman-teman sekolahnya.
__ADS_1
"Kalian jangan berpikir jika kami melakukan hal buruk itu kepada Adrian dan Mathew saja. Jawabannya tidak. Kami juga melakukan hal yang sama terhadap pihak sekolah. Kami mengeluarkan semua kemarahan dan kekecewaan kami di hadapan semua teman-teman sekolah kami dan juga pihak sekolah. Bahkan kami menghancurkan semua piala-piala yang berhasil kami raih setiap perlombaan itu, termasuk piagam. Kami membakar semuanya. Dan kami juga meminta semua uang kami yang pernah kami sumbangkan untuk keperluan sekolah. Dan kami tidak bodoh. Setiap kali kami menyumbang, kami merekamnya. Kami berpikir jika rekaman tersebut akan berguna."