
[Kediaman Smith]
Saat ini di ruang tengah tampak ramai dimana Darren sedang berkumpul bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Elzaro dan kelima sahabatnya. Mereka semua berbincang-bincang disana.
"Ren," panggil Dylan.
Darren langsung melihat kearah Dylan yang juga tengah menatap dirinya.
"Iya, ada apa?" tanya Darren.
"Kemarin ketika di markas kakak Ziggy. Kenapa kamu tiba-tiba melepaskan salah satu pemuda desa itu?" tanya Dylan.
Mendengar pertanyaan dari Dylan membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan langsung menatap kearah Darren. Mereka semua ingin tahu alasan Darren melepaskan salah satu pemuda desa itu.
Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari Dylan. Justru Darren saat ini tengah mengotak-atik ponselnya. Sepertinya Darren sedang mencari sesuatu di ponselnya itu.
Setelah mendapatkannya, Darren langsung menyerahkan ponselnya itu kepada Dylan agar sahabat itu bisa melihat sendiri.
"Ini lo lihat sendiri videonya!"
Dylan langsung mengambil ponselnya Darren dan langsung melihat ke layar ponsel milik Darren. Dan dapat dilihat oleh Dylan, terdapat sebuah video disana.
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Dylan atau didekat Dylan.
Mereka menyaksikan video yang berputar di layar ponsel milik Darren tanpa berkedip sedikit pun. Sesekali Dylan, Darel dan Rehan mengumpat bahkan memaki kedelapan pemuda desa tersebut akan perbuatan busuknya terhadap satu pemuda desa.
Setelah selesai melihat video itu, Dylan kembali memberikan ponsel tersebut kepada Darren. Namun ditahan oleh Elzaro.
"Dylan, gue juga mau lihat!" seru Elzaro.
Dylan kemudian memberikan ponsel Darren kepada Elzaro agar Elzaro dan kelima sahabatnya bisa melihat video itu.
Video yang dilihat oleh Dylan, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan adalah video pembicaraan kesembilan pemuda desa. Di dalam video itu terlihat satu pemuda desa begitu marah terhadap delapan pemuda desa lainnya.
Pemuda desa itu marah terhadap kedelapan temannya karena dirinya dikhianati secara diam-diam.
__ADS_1
"Pemuda itu sebenarnya tidak ingin ikut rencana dari kesembilan teman-teman. Berulang kali kesembilan teman-temannya mengajak dirinya. Berulang kali pemuda itu menolaknya. Dan pada akhirnya dua diantara sembilan temannya itu membawa-bawa ibunya yang sedang sakit dan butuh obat. Sementara pemuda itu tidak memiliki uang untuk membeli obat-obat tersebut. Mereka terur membujuk pemuda itu. Bahkan salah satunya mengatakan bahwa ketika mereka dapat uang bayaran, maka lima puluh persen akan diberikan kepadanya, sementara lima puluh persen lagi kesembilan pemuda itu akan membaginya sama rata."
"Intinya, pemuda itu yang akan mendapatkan uang yang lebih banyak. Jadi dengan uang itu pemuda tersebut bisa membeli obat untuk ibunya."
"Jadi...." perkataan Darren terpotong karena Axel langsung bersuara.
"Jadi akhirnya pemuda itu mengikuti rencana kesembilan teman-temannya itu yaitu untuk menggagalkan kegiatan Touring kita dan mentargetkan lo dan Nandito."
"Iya," jawab singkat Darren.
"Seperti yang kalian lihat di video itu dimana pemuda itu menyebut bahwa dia sudah mengetahui kelicikan kesembilan teman-temannya itu dengan cara mengkhianati dia secara diam-diam. Dengan kata lain, pemuda itu tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan saja oleh teman-temannya. Dia ikut dalam rencana busuk itu, sementara dia tidak mendapatkan sepeser pun uang. Kesembilan teman-temannya itu menggunakan uang itu tanpa dirinya. Namun pemuda itu berusaha untuk menahan amarahnya karena dia berpikir ibunya akan mendapatkan obatnya karena kita memang membawa obat-obat itu untuk mereka. Pemuda itu begitu bahagia akan hal itu. Maka dari itulah pemuda itu tidak terlalu marah ketika dia tidak kebagian uang tersebut."
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan menganggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari Darren. Terbukti ketika mendengar ucapan serta kemarahan pemuda itu di dalam video. Begitu juga dengan Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Seketika tangis pemuda itu pecah ketika melihat semua obat-obat tersebut hancur dan rusak akibat ledakan bahan kimia. Pemuda itu baru tersadar jika rencana selanjutnya yang dimaksud oleh kesembilan teman-temannya itu adalah untuk menghancurkan obat-obat tersebut."
"Dari situlah, pemuda itu membalas rasa sakitnya karena dikhianati dengan cara membantu kalian agar kalian bisa menemukanku dan Nandito, walau terlambat beberapa menit sehingga kesembilan teman-temannya berhasil melukaiku dan melukai Nandito."
Darren melihat kearah ketujuh sahabatnya secara bergantian.
"Iya, kami ingat!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.
"Yang menyuruh kedua gadis desa itu adalah pemuda itu."
"Apa?!"
"Benarkah?"
"Hm!" Darren menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Setelah pemuda itu menyuruh dua gadis itu untuk memberitahu kalian. Pemuda itu memberikan jalan untuk kalian agar bisa masuk ke dalam lokasi dimana aku dan Nandito berada."
"Ketika kalian masuk kesana, kalian tidak memperhatikan jalannya sehingga kalian kesulitan untuk keluar dari lokasi itu," ucap Darren.
"Iya! Kau benar, Ren! Ketika kita masuk kesana. Kita tidak memperhatikan jalannya. Jangan perhatikan jalannya, kita juga tidak menandainya untuk keluar nanti," sahut Willy.
"Dia pemuda baik. Dikarenakan keadaan ibunya membuat kesembilan teman-temannya memanfaatkannya," sahut Elzaro.
__ADS_1
"Karena dia pemuda baik, maka Tuhan memberikan bantuan dengan kedatangan kakak Ziggy, kakak Noe, kakak Enzo, kakak Chico dan kakak Devian tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja, pemuda itu pasti mati saat itu juga oleh sosok Rendra!" ucap Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat Willy, Dylan, Jerry dan Rehan terkejut. Begitu juga dengan Elzaro dan kelima sahabatnya. Kemudian mereka melihat kearah Darren. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Ren, jadi...?" Willy langsung bertanya.
"Iya. Rendra telah kembali dalam tubuhku. Dan Rendra yang melakukan semuanya. Bukan aku," jawab Darren.
"Kapan Rendra mengambil alih tubuh kamu?" tanya Dylan.
"Tidak jelas. Kemungkinan saat aku tidak sadarkan diri akibat pukulan di kepalaku. Ketika mereka hendak memukul aku lagi. Saat itu juga keadaan menjadi mengerikan. Mereka bertiga termasuk pemuda yang aku bebaskan itu, tapi dia tidak ikut memukulku. Justru dia berulang kali menghalangi kedua temannya ketika hendak memukulku."
Mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Darren membuat mereka semua akhirnya mengerti dan mengetahui alasan Darren melepaskan pemuda itu.
"Terus kalau aku boleh tahu. Kertas apa yang kamu berikan kepada pemuda itu?" tanya Jerry.
"Sebuah alamat rumah untuk dia, ibunya dan adik perempuannya tempati," jawab Darren.
"Maksudnya?" tanya mereka semua secara bersamaan.
"Pemuda itu memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu. Pemuda itu sudah tidak sudi untuk tinggal disana. Dia kembali ke desa untuk menjemput ibu dan adik perempuannya," jawab Darren.
"Dia pergi sendiri atau...." perkataan Qenan terpotong karena Darren langsung menjawabnya.
"Tidak. Aku meminta beberapa anggota Fito untuk ikut bersamanya ke desa. Aku sangat yakin jika warga desa akan menyerang dia ketika tiba disana."
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua bernafas lega mendengarnya. Mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu terhadap pemuda itu.
"Nanti jika pemuda itu sudah membawa ibu dan adik perempuannya ke kota Hamburg. Aku akan meminta Mama menjadi dokter untuk ibunya," ucap Axel.
Mereka semua menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari Axel.
Ketika mereka semua sedang membahas tentang pemuda-pemuda desa itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ruang tengah.
Dengan kompak Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Elzaro dan kelima sahabatnya langsung melihat keasal suara. Dapat mereka lihat kehadiran Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
__ADS_1