
Axel bersama Jerry dan Dylan berada di Marka Almight Black milik Enzo. Mereka hanya bertiga. Untuk Qenan dan Willy memutuskan untuk ke perusahaan Accenture, Rehan dan Darel ke galeri. Sementara Darren pergi bersama Gilang.
Axel, Jerry dan Dylan sudah berada di ruang penyiksaan. Di dalam ruang penyiksaan itu terlihat empat gadis yang dalam kondisi terikat di kursi.
Beberapa menit yang lalu Axel sudah mengirim pesan kepada para orang tua dari keempat gadis yang sudah membully adik perempuannya untuk datang di sebuah rumah kecil yang telah disewa oleh ayahnya. Di rumah itu nantinya ayahnya dan kedua kakak laki-lakinya akan bertemu dengan orang tua dari keempat gadis itu.
"Bangunkan mereka!" pinta Axel kepada salah satu anggota mafioso yang berjaga di dalam ruangan ini.
"Baik."
Keempat mafioso itu langsung mengambil air yang sudah disiapkan sedari tadi, lalu keempat mafioso itu menyirami keempat gadis itu dari atas kepala.
Byur!
Seketika keempat gadis itu terkejut dan terbangun dari pingsannya.
Setelan keempat sadar, mereka melihat kondisi mereka tengah terikat di kursi, lalu tatapan mereka teralihkan ke depan dimana mereka melihat ada tiga pemuda yang tengah menatapnya.
"Siapa kalian?!" bentak Rachel.
"Lepaskan kami!" bentak Rebeca.
"Biarkan kami pergi dari sini!" bentak Viola.
"Cepat lepaskan kami brengsek!" teriak Laura.
Mendengar teriakan-teriakan dari keempat korbannya membuat Axel, Jerry dan Dylan tersenyum.
Ketiganya melangkahkan kakinya mendekati keempat gadis itu. Setelah berada di hadapan keempat gadis itu, ketiganya menatap tajam para gadis tersebut sehingga membuat Viola, Rebeca, Rachel dan Laura menelan ludahnya kasar.
"Kenapa? Sudah kangen sama rumah? Mau pulang, hum?" tanya Axel dengan menatap wajah Rebeca, gadis yang sudah menjadi otak dalam membully adik perempuannya.
"Kalian tidak akan pernah keluar dari sini sebelum pekerjaan kami selesai," ucap Jerry.
"Jika semua pekerjaan kami selesai, barulah kami akan melepaskan kalian berempat. Tapi kami tidak akan membawa kalian pulang ke rumah. Melainkan ke kantor polisi," ucap Dylan.
Mendengar kata polisi membuat Viola, Laura, Rachel dan Rebeca ketakutan. Mereka tidak ingin berada disana.
"Kalian pikir aku takut dengan kalian, hah?! Aku sama sekali tidak takut dengan kalian. Lebih baik kalian lepaskan aku. Atau....!" perkataan Rebeca terpotong.
"Atau apa, hah?! Mau menghubungi kedua orang tua kamu. Dan menyuruh mereka untuk melepaskan kalian. Begitu?" Axel tersenyum menyeringai.
"Bahkan orang tua kalian saja saat ini tengah berada di suatu tempat," sela Dylan.
"Orang tua kalian tidak akan tahu jika kalian berada disini. Aku dan kedua sahabatku ini sudah mengirim pesan kepada kedua orang tua kalian dan mengatakan kepada mereka bahwa kalian sedang mengadakan kemping," ucap Jerry.
Mendengar ucapan dari Jerry membuat Rebeca, Viola, Rachel dan Laura terkejut.
__ADS_1
"Siapa kalian? Dan kenapa kalian menyekap kami disini?!" bentak Rebeca.
Axel, Jerry dan Dylan tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan menajam menatap Rebeca, Viola, Laura dan Rachel.
"Apa kau mau tahu siapa aku, hah?!" bentak Axel dengan tangannya mencengkram kuat rahang Rebeca.
"Aku Yonantan Axel Immanuel kakak laki-laki dari gadis yang bernama Alie Salsa Immanuel!"
Deg!
Rebeca terkejut ketika mendengar pemuda yang ada di hadapannya ini adalah kakak laki-laki dari teman sekelasnya sekaligus musuhnya. Tak jauh beda dengan Rebeca. Laura, Viola dan Rachel juga terkejut mendengar kenyataan itu.
"Kau dan ketiga temanmu ini sudah berani mengusik adik perempuanku. Bahkan kalian sudah berani menyakitinya. Setiap hari kalian membullynya!" bentak Axel dengan tangannya mencengkram makin kuat rahang Rebeca.
"Aakkhh!" Rebeca berteriak kesakitan.
"Teriakan kesakitanmu ini tidak sebanding dengan teriakan kesakitan adik perempuanku. Aku dan keluargaku tidak memperpanjang masalah ini. Justru kami membiarkanmu, ketiga temanmu dan keluarga kalian bebas!" bentak Axel dengan menatap nyalang gadis di depannya.
Axel melepaskan cengkraman tangannya di rahang Rebeca dengan kasar, lalu Axel sedikit mundur.
"Kalian mau tahu kenapa aku dan keluargaku tidak menuntut kalian dan keluarga kalian?!" tanya Axel dengan suara keras.
"Karena wanita murahan itu takut padaku jika keluarganya sampai melaporkan kami ke polisi. Hahahaha." Rebeca menjawab pertanyaan dari Axel sembari menghina adik perempuannya.
Mendengar hinaan dari Rebeca untuk adik perempuannya membuat Axel emosi.
Plak!
"Berani sekali kau menyebut adik perempuanku sebagai wanita murahan! Yang murahan itu adalah kau. Kau selalu mengejar-ngejar laki-laki yang sama sekali tidak menyukaimu. Jika kau perempuan baik-baik, kau tidak akan tebar pesona kepada laki-laki incaranmu!" Axel berbicara dengan penuh amarah.
Rebeca yang mendengar teriakan dan perkataan laki-laki di depannya seketika terkejut. Dia tidak menyangka jika laki-laki di depannya yang tak lain adalah kakak laki-laki dari musuhnya mengetahui tentang dia yang menyukai Melvin. Bahkan Rebeca juga mulai takut akan tatapan amarah dari laki-laki di depannya. Seketika tubuhnya bergetar.
"Aku dan keluargaku tidak menuntutmu dan ketiga temanmu itu karena permintaan dari sahabatku Darren. Dia mengatakan padaku bahwa dia sudah memberikan hukuman setimpal untukmu dan ketiga temanmu sehingga kalian berakhir masuk rumah sakit dan tak sadarkan diri selama tiga hari. Namun setelah kalian sembuh dan kembali ke sekolah. Kalian justru kembali berbuat ulah. Kalian kembali mengusik adik perempuanku. Tapi sayangnya, adik perempuanku sudah menunjukkan taringnya di hadapan kalian sehingga kalian semua kalah."
Axel menatap satu persatu wajah keempat teman-teman dari adik perempuannya.
"Kau sebagai ketua dalam kelompokmu tak senang karena dikalahkan oleh adik perempuanku. Dan kau berniat membalaskan kekalahanmu itu. Kau membalasnya dengan cara berbeda yaitu memfitnahnya di sebuah toko. Di toko itu menjual beberapa kebutuhan wanita, salah satunya adalah kosmetik."
Mendengar perkataan dari laki-laki di depannya, Rebeca langsung memotongnya.
"Tidak. Itu tidak benar. Kau jangan asal menuduhku. Aku tidak tahu apa-apa masalah itu!" teriak Rebeca.
Axel, Jerry dan Dylan hanya tersenyum mendengar pembelaan yang dilontarkan oleh Rebeca untuk dirinya sendiri.
"Yakin kau dan ketiga temanmu ini tidak melakukan hal yang menjijikkan itu, hum?" tanya Dylan.
"Iya," jawab Rebeca menantang.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kalian bertiga?" tanya Jerry menatap wajah Laura, Rachel dan Viola.
"Kami sama seperti Rebeca. Kami tidak tahu apa-apa," jawab Laura.
"Iya, itu benar!" seru Rachel dan Viola.
Axel, Jerry dan Dylan lagi-lagi tersenyum melihat keempat gadis di hadapannya bersikeras menutupi kesalahannya.
"Bagaimana dengan ini," ucap Axel sembari memperlihatkan sebuah rekaman video kejadian di toko tersebut di hadapan Rebeca, Laura, Rachel dan Viola.
Seketika mata Rebeca, Laura, Rachel dan Viola membelalak sempurna ketika melihat video dimana di dalam video itu mereka memasukkan beberapa barang ke dalam tas Salsa. Setelah itu, mereka berteriak memanggil si pemilik barang-barang tersebut.
Dan detik kemudian, di dalam video itu terekam Rebeca yang ketahuan terekam kamera cctv, lalu berniat untuk menghapus rekaman itu.
Di dalam video itu terlihat Rebeca dan ketiga temannya menemui manager toko dan meminta padanya untuk menghapus rekaman kejadian hari ini setelah memberikan sejumlah uang yang lumayan banyak.
Axel mematikan ponselnya, lalu memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya.
"Bagaimana? Apa masih mau mengelak, hum?" tanya Axel dengan seringainya.
Axel menatap Jerry dan Dylan. Begitu juga dengan keduanya. Mereka saling memberikan tatapan.
Setelah itu, Axel mengalihkan pandangannya kearah beberapa mafioso yang sedang berjaga.
"Kalian!"
"Iya, tuan!"
"Kita mau pulang karena ada hal lain yang ingin kami selesaikan. Kami ingin memberikan tugas kepada kalian!" seru Axel.
"Apa tuan?" tanya salah satunya.
"Tugas kalian adalah berikan sedikit pelajaran kepada tiga gadis itu dengan kalian memberikan tekanan mental. Terserah kalian mau melakukan apa," ucap Jerry.
"Baik tuan!"
"Ingat! Berikan hukuman kepada mereka seperti yang dirasakan oleh Salsa, adik perempuanku," ucap Axel.
"Setelah selesai. Lepaskan mereka dan bawa mereka ke kantor polisi," ucap Dylan.
"Baik tuan!"
Axel, Jerry dan Dylan melihat kearah Rebeca dan ketiga temannya. Kemudian ketiganya tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum menyeringai.
"Selamat menikmati kejutan dariku," ucap Axel.
"Semoga kalian suka," ujar Dylan.
__ADS_1
"Bersenang-senanglah," sahut Jerry.
Setelah mengatakan kata-kata itu di hadapan Rebeca dan ketiga temannya. Axel, Jerry dan Dylan memutuskan untuk pergi meninggalkan markas Almight Black.