KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sudah Terlambat. Ucapkan Selamat Tinggal


__ADS_3

Bugh.. Bugh..


Duagh..


"Aakkhhh!' teriak pemuda desa itu.


Rendra masih terus memberikan pukulan serta tendangan terhadap pemuda desa itu sehingga membuat pemuda tersebut dalam kondisi tak baik-baik saja.


Sementara pemuda satunya yang mana beberapa menit yang lalu juga mendapatkan pukulan serta tendangan dari Darel. Kini pemuda tersebut dalam keadaan duduk dengan posisi bersujud dengan tatapan matanya menatap kearah temannya.


"Dimana Nandito?!" teriak Rendra dengan menatap nyalang kearah pemuda yang kondisinya sudah sangat buruk.


Axel, Qenan dan Darel hanya berdiri di posisi mereka masing-masing. Ingin mencegah Darren, namun mereka tidak berani. Saat ini Darren dikuasai oleh Rendra. Bahkan kekejaman Rendra sekarang ini makin meningkat dari yang biasanya.


Axel, Qenan dan Darel saling memberikan tatapan. Setelah itu, ketiganya kembali menatap kearah Darren.


"Apa susahnya kalian tinggal mengatakan dimana teman kami. Jangan hanya diam saja," sahut Qenan.


"Apa kalian tidak sayang dengan nyawa kalian!" bentak Darel.


Sementara kedua pemuda desa tersebut masih tetap bungkam. Tidak ada diantara keduanya untuk buka mulut memberitahu keberadaan Nandito.


Rendra menatap penuh amarah pemuda yang saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja dengan wajah yang sudah babak belur dan luka-luka plus bermandikan darah.


Rendra kemudian melihat kearah lain. Tatapan matanya tengah mencari sesuatu. Dan detik kemudian, tatapan matanya berhenti ke satu arah. Seketika terukir senyuman di bibirnya ketika mendapatkan apa yang dia inginkan.


Rendra kemudian berjalan menghampiri benda tersebut. Sedangkan Axel, Qenan dan Darel menatap bingung kearah Rendra yang pergi begitu saja.


Namun beberapa detik kemudian, Rendra kembali dengan membawa sesuatu di tangannya sehingga membuat kedua pemuda desa itu ketakutan.


"Rendra! Jangan!" teriak Qenan, Darel dan Axel bersamaan.


^^^


"Bagaimana?" tanya Ziggy kepada Caleb dan Rubi.


"Kami menemukan lokasi dimana Nandito berada," jawab Caleb.


"Disana juga ada Willy, Dylan, Jerry dan Rehan!" ucap Rubi.


"Kondisi Nandito tidak bisa dikatakan baik-baik saja," sahut Caleb.


"Apa yang terjadi?" tanya Enzo.


"Seseorang memukul kepala Nandito dari belakang sehingga membuat kepalanya terluka dan banyak mengeluarkan darah. Kemungkinan Nandito sudah banyak kehilangan darah," jawab Rubi.


"Brengsek!"

__ADS_1


"Kami sudah memerintahkan sekitar 10 orang untuk membawa Nandito langsung ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan. Begitu juga dengan Willy, Rehan, Jerry dan Dylan. Mereka juga mengalami luka-luka, walau hanya luka-luka kecil," sahut Caleb.


"Kerja bagus," balas Ziggy.


"Sekarang tinggal mencari keberadaan Darren, Axel, Qenan dan Darel!" seru Devian.


Ketika mereka sedang memikirkan untuk mencari lokasi kedua dimana lokasi tersebut Darren, Axel, Darel dan Qenan berada.


Ketika kelima ketua mafia, kepala desa dan beberapa warga desa tengah berusaha mencari titik rute lokasi kedua, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan seseorang.


"Tolong! Tolong!"


Baik Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico maupun yang lainnya langsung melihat kearah seseorang yang berteriak minta tolong. Dan dapat mereka lihat seorang pemuda yang berlari ketakutan dengan wajah yang penuh luka.


Brukk..


Pemuda itu terjatuh tepat di hadapan kelima ketua mafia dan kepala desa.


Ziggy dan Chico melihat kearah dimana pemuda tersebut keluar dan berlari hingga terjatuh di hadapannya.


Ziggy menatap kearah Chico. Begitu juga dengan Chico yang juga menatap kearah Ziggy. Setelah itu, Ziggy dan Chico menatap kearah pemuda itu.


"Ada apa?" tanya Chico.


"Itu... Itu disana!" pemuda itu menjawab pertanyaan dari Chico sembari menunjuk kearah dimana dia keluar.


"Pak kepala desa. Itu... pemuda-pemuda kota itu, mereka semua iblis. Mereka bukan manusia!"


Mendengar ucapan dari pemuda tersebut membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico mengepal kuat tangannya dan menatap tajam kearah pemuda itu.


"Apa maksudmu, hah?!" bentak Enzo.


"Itu di lokasi bagian barat terjadi pembunuhan. Pemuda itu begitu kejam ketika membunuh temanku," jawab pemuda itu.


Mendengar jawaban dari pemuda itu membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico saling memberikan lirikan.


Setelah itu, Noe langsung menarik baju pemuda itu sehingga membuat pemuda itu langsung tertarik berdiri.


"Bawa kami kesana, buruan!" bentak Noe dengan tatapan tajamnya.


Setelah itu, Noe mendorong kuat tubuh pemuda itu. Dan mereka semua pun pergi untuk menuju lokasi tersebut.


^^^


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Bugh.. Bugh..

__ADS_1


"Rendra, hentikan! Cukup! Dia sudah tidak bernyawa lagi," Axel berusaha untuk menghentikan Rendra.


"Dia harus mati. Dia harus mati!" Rendra berucap sembari terus memukuli kayu balok itu ke kepala pemuda tersebut yang sudah tidak berbentuk lagi. Dengan kata lain sudah hancur.


Bugh.. Bugh..


Bugh..


Sementara pemuda yang satunya saat ini sudah menangis dan ketakutan. Dirinya tidak ingin mati seperti temannya itu.


"Ma-maafkan aku.. Ja-jangan bunuh aku. Aku.. Aku dan ju-juga teman-temanku ha-hanya menjalankan perintah. Jika bukan karena dibayar dengan jumlah uang yang lumayan besar. Aku.. Aku dan teman-temanku tidak akan mau melakukan hal ini." pemuda desa itu pada akhirnya mengaku atas perbuatannya bersama dengan kesembilan temannya.


Mendengar ucapan serta pengakuan dari pemuda desa tersebut membuat Qenan, Axel dan Darel seketika terkejut. Mereka tidak menyangka jika pemuda tersebut rela melakukan hal keji itu demi uang.


"Siapa yang nyuruh kamu?!" bentak Axel.


"Aku tidak tahu namanya siapa karena dia tidak menyebutkan namanya. Bahkan ketika kami bertemu, orang itu pakai topi dan masker serta kaca mata. Tapi...."


"Tapi apa?!" bentak Darel.


"Orang itu berasal dari kampus yang sama dengan kalian," jawab pemuda itu.


Deg..


Qenan, Axel dan Darel saling memberikan tatapan ketika mendengar ucapan dari pemuda tersebut. Setelah itu, ketiganya kembali menatap kearah pemuda desa itu.


"Apa kau yakin orang itu satu kampus dengan kita?" tanya Qenan.


"Aku yakin. Untuk kali ini aku tidak berbohong. Aku berkata jujur," sahut pemuda itu.


"Sudah terlambat!" Rendra seketika berseru sembari mengangkat kayu balok itu tinggi-tinggi.


Deg..


Qenan, Axel dan Darel terkejut ketika mendengar ucapan dari Rendra. Begitu juga dengan pemuda desa itu.


"Saya mohon, jangan bunuh saya. Saya mengaku salah. Tolong hukum saya dengan cara lain, tapi jangan bunuh saya."


"Hahahahahaha." Rendra seketika tertawa keras ketika mendengar musuhnya ketakutan padanya.


"Aku sejak tadi memintamu untuk mengatakan dimana Nandito, tapi kau tidak mau mengatakan apapun padaku. Melihat temanmu mati, barulah kau mau mengaku akan perbuatan busukmu itu." Rendra menatap makin mengerikan kearah pemuda desa itu.


"Tapi sayangnya usahamu itu sia-sia. Waktumu sudah habis. Sekarang ucapkan selamat tinggal pada dunia ini."


Setelah mengatakan itu, Rendra melayangkan kayu balok itu kearah kepala pemuda desa itu.


Namun detik kemudian, gerakan tangannya terhenti karena seseorang menahan kayu balok tersebut dari arah belakang.

__ADS_1


Qenan, Axel dan Darel langsung melihat kearah orang yang menahan kayu balok tersebut. Detik kemudian, terukir senyuman di bibir ketiganya. Senyuman kelegaan.


__ADS_2