
[Di Kelas]
Gilang dan Darka menatap tajam kelima orang yang saat ini tengah mengganggunya. Bahkan empat diantaranya dengan sangat kejamnya merobek semua kertas-kertas yang berisi data dan juga jadwal kegiatan kampus untuk dua minggu ini.
Gilang dan Darka menatap tajam keempat orang yang sudah dengan kejamnya merobek hasil kerjanya.
"Apa-apaan kalian, hah?!" teriak Darka dengan mendorong kuat tubuh Rico.
Rico adalah ketua dari kelompok pembuat rusuh di Kampus. Tidak ada yang berani melawab Rico setiap Rico dan kelompoknya membully para mahasiswa dan mahasisiwi. Apalago jika mahasiswa dan mahasiswi itu dari kalangan miskin yang berkuliah dengan jalur prestasi.
Rico berasal dari keluarga kaya nomor 15 di dunia dan di Jerman. Kampus tempat dirinya berkuliah saat ini adalah milik pamannya. Pamannya itu adalah adik laki-laki dari ibunya.
Sekali pun Rico itu adalah keponakan dari pemilik Kampus. Si pemilik Kampus itu tidak pernah membelanya jika dirinya terbukti bersalah. Si pemilik Kampus itu akan memberikan hukuman kepada Rico dan kelompoknya sesuai aturan yang berlaku di Kampus.
Maka dari itulah, kenapa para mahasiswa dan mahasiswi tidak ada yang berani mengadukan kelakuan Rico dan kelompoknya kepada Pamannya. Mereka akan mendapatkan balasan berkali-kali lipat dari Rico dan kelompoknya jika sampai Rico dan kelompoknya mendapatkan hukuman dari Pamannya.
"Kertas-kertas yang kalian robek itu semuanya adalah data mahasiswa dan mahasiswi. Dan juga data semua kegiatan di Kampus ini untuk dua minggu ini!" teriak Gilang.
"Gua gak peduli. Itu derita lo berdua," jawab Rico.
"Hahahahaha."
Mereka semua tertawa dengan menatap meremehkan kearah Gilang dan Darka.
Gilang dan Darka menatap penuh amarah Rico dan kelompoknya. Keduanya sudah berusaha menahan kesabarannya dan juga menahan emosinya. Namun Rico dan kelompoknya tidak bisa diajak bicara baik-baik.
DUUAAGGHH!
Darka memberikan tendangan kuat ke salah satu temannya Rico sehingga temannya Rico tersebut terhuyung ke belakang disertai memuncratkan darah dari mulutnya.
"Aldi!" teriak Rico dan teman-temannya.
"Brengsek!" teriak Rico.
Dan pada akhirnya terjadi perkelahian antara Gilang dan Darka melawan Rico dan kelompoknya.
^^^
Darren, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya masih berada di lapangan.
Baik Darren maupun Brenda masih terus menjahili ketujuh sahabat-sahabatnya dengan menjodohkan sahabat-sahabatnya itu. Dan berakhir perang mulut antara Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan, Darel dan Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa.
"Hahahaha."
Darren dan Brenda tertawa melihat pertengkaran kecil dari sahabat-sahabatnya itu.
"Kalian kayak anak kecil aja," ucap Brenda.
"Bodo," jawab Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan, Darel dan Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa bersamaan.
"Hahahaha."
Darren dan Brenda kembali tertawa ketika mendengar jawaban kompak dari para sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Ketika Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya tengah asyik dengan dunia mereka, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara panggilan dari salah satu mahasiswi.
"Darren."
Mendengar nama Darren yang dipanggil. Baik Darren, Brenda maupun para sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah mahasiswi itu.
"Ada apa?" tanya Darren dengan menatap kearah mahasiswi itu.
"Itu... Kedua kakak lo."
Darren langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel. Diikuti oleh Brenda, Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania dan Felisa.
"Rico dan kelompoknya berulah lagi. Kini yang jadi sasarannya kedua kakak lo. Mereka di kelas sekarang," jawab mahasiswi.
Mendengar perkataan dari mahasiswi itu, Darren langsung berlari menuju kelas kedua kakaknya itu. Dan disusul oleh Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel.
"Sebenarnya apa yang terjadi? tanya Brenda.
"Rico dan kelompoknya merusak bahkan merobek semua hasil kerjanya kedua kakaknya Darren. Yang lebih parahnya lagi adalah semua tugas-tugas yang dirobek oleh Rico dan kelompoknya itu adalah data-data dan juga jadwal kegiatan kampus untuk dua minggu ini."
"Ma-maksud kamu semua kegiatan kita selama dua minggu ini termasuk kegiatan kita ke desa terpencil itu?"
"Iya."
"Brengsek. Kasihan kak Gilang dan kak Darka. Mereka sengaja menyelesaikan semuanya agar mereka tidak mengganggu tugas Darren yang lain. Ditambah lagi kak Gilang dan kak Darka tidak ingin Darren kelelahan dengan statusnya sebagai ketua organisasi," ucap Brenda.
Setelah itu, Brenda pun pergi menyusul Darren dan yang lainnya. Dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya, termasuk mahasiswi itu.
^^^
Darka dan Gilang melawan Rico dan kelompoknya. Dua lawan empat belas. Itu yang dihadapi oleh Darka dan Gilang.
Baik Darka dan Gilang maupun Rico dan kelompoknya saling memberikan pukulan dan juga tendangan. Darka dan Gilang beberapa kali mendapatkan pukulan dan juga tendangan. Namun itu tak seberapa dengan apa yang dirasakan oleh Rico dan kelompoknya.
Jika Gilang dan Darka mendapatkan tiga pukulan dan tendangan. Sementara Rico dan kelompoknya mendapatkan lebih dari tiga pukulan dan tendangan dari Gilang dan Darka.
Ketika Gilang dan Darka tengah fokus pada perkelahiannya. Tanpa diketahui oleh Darka dan Gilang salah satu dari temannya Rico diam-diam ingin menyerang Darka dengan menggunakan kursi.
Ketika temannya Rico sedikit lagi menghantam kursi itu ke tubuh Darka. Darren datang dengan membawa pemukul bisball dan langsung memukul tepat di kepala temannya Rico yang hendak menyakiti kakaknya.
BUGH!
Sekali pukulan keras di kepala temannya Rico membuat temannya Rico jatuh tergelatak di lantai bersamaan dengan kursi yang terlepas dari tangannya. Dan jangan lupakan darah yang merembes dari kepalanya.
Melihat apa yang telah dilakukan oleh Darren membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang sedari melihat perkelahian itu terkejut. Bahkan tubuh mereka seketika merinding atas apa yang mereka lihat barusan.
Tak jauh beda dengan Gilang dan Darka. Baik Gilang maupun Darka langsung melihat kearah temannya Rico yang sudah tergeletak di lantai dengan memandikan darah.
Setelah itu, Gilang dan Darka melihat kearah adiknya terutama Darka. Darka tahu jika adiknya itu melakukan itu karena menyelamatkan dirinya. Jika adiknya tidak datang tepat waktu. Maka dirinya yang berada di lantai itu.
Darren menatap tajam kearah Rico dan kelompoknya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel.
"Jika masih ada diantara kalian yang meneruskan perkelahian ini, maka jangan salahkan aku kalau akan ada korban lagi." Darren berbicara dengan menunjuk Rico dan kelompoknya dengan menggunakan tongkat bisball.
__ADS_1
Mendengar perkataan dan juga ancaman dari Darren membuat teman-temannya Rico berlahan mundur dan menjauh dari Gilang dan Darka.
Rehan melihat kearah lantai dimana terlihat banyak kertas yang berserakan.
Setelah itu, Rehan melihat kearah Gilang dan Darka.
"Kak Darka, kak Gilang. Itu semua kertas apa?" tanya Rehan sembari menunjuk kearah kertas yang berserakan.
Mendengar pertanyaan dari Rehan. Darren pun langsung melihat kearah lantai dimana terlihat kertas-kertas yang berserekan. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel.
Darren, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan dan Darel melihat kearah Gilang dan Darka.
"Kertas-kertas itu adalah data-data dan juga jadwal kegiatan kampus kita untuk dua minggu ini, Han!" Gilang yang menjawabnya.
Mendengar jawaban dari Gilang membuat Darren, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel terkejut.
"Apa itu juga termasuk kegiatan kita yang akan pergi mengunjungi desa terpencil?" tanya Darren.
"Iya, Ren. Pokoknya semua data-data dan jadwal kegiatan kampus kita untuk dua minggu ini ada di kertas-kertas itu," sahut Darka.
"Apa kakak Darka dan kakak Gilang sudah menyimpan salinannya di flashdisk?" tanya Axel.
Gilang dan Darka langsung menggelengkan kepalanya.
Mendapatkan jawaban yang tak memuaskan dari kedua kakaknya membuat Darren menatap penuh amarah kearah Rico dan kelompoknya.
"Kami belum sempat menyimpannya ke flashdisk karena kami mau memperlihatkannya terlebih dahulu kepada kami selaku ketua. Nanti jika hasilnya sudah sesuai barulah kami akan salin ke flashdisk. Dan harusnya hari ini kami akan memperlihatkan kertas-kertas itu sembari kembali membahas kegiatan untuk lusa besok." Gilang menjelaskan kepada adiknya dan juga kepada ketujuh sahabat adik laki-lakinya mengenai isi kertas-kertas itu.
Mendengar penjelasan dari Gilang. Darren benar-benar marah.
"Lo benar-benar keterlaluan, kak Rico! Lo tega menghancurkan kerja mereka. Dimana otak lo, hah!" teriak Darren.
"Jangan sok jadi pahlawan lo, Ren! Emangnya mereka itu siapanya lo?! Nggak usah ikut campur deh lo!" teriak Rico.
Darren menatap nyalang Rico. Dan detik kemudian, Darren mengangkat tongkat bisball nya hendak memukul kepala Rico.
Melihat apa yang akan dilakukan Darren. Darka dan Gilang langsung menghampiri adiknya dan kemudian Darka langsung menahan tongkat tersebut. Sementara Gilang mengusap-ngusap lembut bahu adiknya.
"Ren, jangan!" Darka berucap sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo udah keterlaluan, kak Rico! Lo sama sekali nggak ngehargain kerja keras kami sebagai anggota organisasi kampus. Gue udah sabar selama ini akan sikap lo. Gue nggak pernah maksa lo dan kelompok lo buat ikut partisipasi setiap kegiatan yang ada di kampus ini. Bahkan kami juga nggak pernh minta sumbangan ke lo dan kelompok lo. Tapi setidaknya hargai kami!" teriak Darren.
"Dan lu barusan bilang kalau kak Gilang dan kak Darka itu bukan siapanya Darren, hah?! Sekarang gua kasih tahu lu. Kak Gilang dan kak Darka itu adalah kedua kak kandungnya Darren." Qenan berbicara dengan menatap nyalang Rico dan kelompoknya.
Mendengar perkataan dari Qenan membuat Rico dan kelompoknya terkejut. Selama ini Rico dan kelompoknya tidak tahu jika kedua teman kelasnya itu adalah kedua kakak kandungnya Darren.
"Gue nggak mau tahu. Gue kasih waktu tiga hari untuk lo dan kelompok lo untuk ngerjain apa yang sudah dikerjain sama kedua kakak gue. Apa yang ada di dalam kertas-kertas itu semuanya harus ada di dalam kertas-kertas yang kalian kerjakan. Setelah tugas kalian selesai. Langsung serahin tugas-tugas kalian itu ke gue."
"Jika dalam waktu tiga hari gue nggak nerima tugas-tugas dari kalian. Maka gue akan buat laporan ke rektor akan sikap lo dan kelompok lo hari ini. Lo tahukan bagaimana sikap rektor ke gue dan ke sahabat-sahabat gue. Rektor hanya mau dengar jika kita yang berbicara. Bahkan rektor sudah memberikan tanggung jawab sepenuhnya akan kampus ini ke gue dan ke sahabat-sahabat gue."
"Satu lagi, lo boleh aja mengancam semua mahasiswa dan mahasiswi untuk tidak melaporkan kelakuan buruk lo ke mereka. Tapi tidak dengan gue dan sahabat-sahabat gue. Dan gue juga tahu apa yang telah lo lakuin di kampus-kampus sebelumnya. Jadi jangan macam-macam lo sama gue."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan kelas kedua kakaknya. Dan diikuti oleh Gilang, Darka, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel.
__ADS_1