KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kabar Mengejutkan Dari Darel


__ADS_3

Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy sudah selesai dengan kelasnya mereka dua menit yang lalu. Mereka saat ini berada di kantin untuk mengisi perutnya karena sejak tadi perut mereka berdisko-disko minta diisi.


Di kantin tersebut juga ada Brenda dan ketujuh sahabatnya. Mereka bergabung dengan Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy.


Baik Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy maupun Brenda dan ketujuh sahabatnya memesan beberapa makanan dan minuman. Dua diantara mereka memesan dua makanan sekaligus. Keduanya itu adalah Elsa dan Vania.


"Elsa, Felisa. Kalian berdua nggak salah makan sebanyak itu?" tanya Milly yang menatap dengan mata melotot kedua sahabatnya.


"Nggak," jawab Felisa dan Elsa secara bersamaan.


"Nggak takut gemuk lo berdua?" tanya Dylan.


"Nggak," jawab Felisa dan Elsa lagi kompak.


"Ntar diputusin pacar kalau kalian sampai gemuk," celetuk Axel bermaksud menjahili Felisa dan Elsa.


"Para cowok itu nggak suka cewek gemuk," ucap Jerry menjahili Elsa dan Felisa.


Felisa menatap Jerry dan Axel dengan mulut menggembung.


Setelah makanan yang ada di dalam mulutnya ditelan. Felisa pun menjawab, "Kalau kita berdua sampai diputusin hanya gara-gara kita makan banyak, lalu kita berdua jadi gemuk. Itu cowoknya aja yang udah bosan. Dan pengen cari yang baru."


"Atau cowoknya aja yang hanya mencari kesenangan sama para cewek. Jika ceweknya cantik, imut, kurus dan langsing. Cowok itu bakal suka. Tapi kalau ceweknya gemuk, walah wajahnya cantik. Berarti cowoknya nggak tulus cinta sama tuh cewek. Cowoknya itu hanya cinta fisiknya aja." Elsa menambahkan.


Mendengar jawaban-jawaban dari Elsa dan Felisa membuat mereka tersenyum.


"Kalau misalnya kalian beneran diputusin sama cowok kalian karena gemuk, bagaimana?" tanya Brenda yang juga ikut menjahili Felisa dan Elsa.


Mendengar pertanyaan dari Brenda. Felisa dan Elsa saling melirik. Setelah itu, keduanya fokus pada makanannya masing-masing.


"Tinggal cari yang baru!" seru Felisa dan Elsa.


Mereka semua membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari Elsa dan Felisa.


Ketika mereka sedang makan bersama sembari menjahili Felisa dan Elsa. Ponsel milik Felisa tiba-tiba berbunyi.


Felisa yang mendengar bunyi ponselnya seketika berhenti dari acara makannya. Felisa mengambil ponselnya dari saku almamaternya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Felisa melihat nama 'Darel' di layar ponselnya.


"Darel," ucap Felisa.


Mendengar Felisa menyebut nama Darel. Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy melihat kearah Felisa. Begitu juga dengan Brenda, Tania, Milly, Lenny, Elsa, Vania dan Alice.


Mereka semua memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan Felisa yang berbicara dengan Darel.


"Hallo, Rel!"


"Fel, kamu dimana?"


"Aku kebetulan di kantin. Ini sudah jam istirahat. Kenapa Rel?"


"Apa kamu bersama dengan yang lainnya?"


"Iya. Kita semuanya di kantin. Cuma kamu, Darren dan Rehan yang nggak ikut gabung. Apa nggak balik ke kampus lagi setelah bertemu dengan pembeli lukisan-lukisan itu?"


Hening..

__ADS_1


Tidak ada jawaban atau balasan dari Darel. Dan hal itu sukses membuat Felisa khawatir.


"Rel," panggil Felisa.


Namun yang dipanggil tetap tak ada jawaban.


"Darel, apa kamu masih disitu?" tanya Felisa yang sudah khawatir.


Bukan hanya Felisa. Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy juga khawatir. Apalagi melihat gurat kekhawatiran dari wajah Felisa. Begitu juga dengan Brenda, Tania, Milly, Lenny, Elsa, Vania dan Alice.


Seketika Felisa dikejutkan dengan suara isak tangis Darel. Felisa seketika membelalakkan matanya mendengar Darel yang menangis.


"Rel, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?"


Deg!


Jerry, Dylan, Axel, Qenan, Willy, Brenda, Tania, Milly, Lenny, Elsa, Vania dan Alice terkejut ketika mendengar Felisa yang mengatakan bahwa Darel menangis.


"Rel, jawab!"


"Da-darren," lirih Darel.


Felisa dapat mendengar dengan jelas suara lirih dan bergetar nya Darel ketika menyebut nama Darren. Hati Felisa makin tambah tak karuan.


"Kenapa dengan Darren, Rel?"


"Da-darren... Darren tertembak."


Seketika tangis Darel pecah ketika mengatakan kondisi Darren kepada Felisa.


Mata Felisa membelalak sempurna. Matanya memerah menahan tangis ketika mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Darel. Felisa seketika berdiri dari duduknya.


"Ka-kamu lagi sedang tidak bercanda kan? Disini aku dan Elsa habis dijahili oleh Jerry dan Axel. Bahkan sahabat-sahabat aku juga ikutan."


Darel masih menangis terisak. "Aku nggak akan pernah bercanda dengan membawa-bawa nyawa sahabat-sahabatku, Fel! Aku nggak akan pernah melakukan itu."


"Ja-jadi itu benar?"


Dan pada akhirnya, air mata yang sejak tadi ditahan oleh Felisa jatuh membasahi wajah cantiknya.


"Fel," ucap Elsa yang mengusap punggung Felisa.


"Apa kamu sudah kasih tahu Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy?"


Mendengar ucapan Felisa dengan menyebut namanya. Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy menatap wajah Felisa lekat.


Felisa yang sadar jika dia ditatap oleh Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy langsung balik menatap mereka.


"Cek ponsel kalian masing-masing," pinta Felisa.


Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy langsung mengambil ponselnya masing-masing.


"Fel, kasih tahu yang lainnya tentang kondisi Darren. Darren ada di rumah sakit milik Bibi Celsea."


"Baiklah. Aku dan yang lainnya akan kesana."


Setelah mengatakan itu, baik Felisa maupun Darel sama-sama mematikan panggilannya.

__ADS_1


Sementara Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy memeriksa ponselnya masing-masing.


"Beberapa jam yang lalu Mama menghubungiku. Dan lima belas menit yang lalu Rehan juga menghubungiku!" seru Jerry.


"Aku juga! Darel menghubungi dua puluh menit yang lalu," sela Qenan.


"Rehan dan Darel juga menghubungi kita beberapa menit yang lalu!" seru Dylan, Axel dan Willy bersamaan.


"Mereka menghubungi kita semua disaat kita masih mengikuti kelas," ucap Willy.


Axel menatap kearah Felisa. Dia sudah memiliki perasaan yang tak enak ketika Darel menghubunginya.


"Fel. Katakan pada kami. Apa yang dikatakan Darel? Dan kenapa kamu menangis?" tanya Axel.


"Da-darren tertembak. Dan sekarang berada di rumah sakit milik Mama kamu," jawab Felisa.


Jerry, Dylan, Axel, Qenan dan Willy seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Felisa. Begitu juga dengan Brenda, Tania, Milly, Lenny, Elsa, Vania dan Alice.


"A-apa? Fel, ka-kamu..." Brenda menangis ketika mendengar jika Darren tertembak. Tubuhnya bergetar.


Tania dan Alice yang kebetulan duduk di dekatnya langsung memeluk tubuh Brenda.


"Seperti itulah yang dikatakan oleh Darel. Darel nggak mungkin berbohong atau hanya sekedar bercanda kan?" ucap dan tanya Felisa.


Jerry menghubungi ibunya. Dia penasaran kenapa ibunya menghubunginya ketika dia masih mengikuti kelas. Yang Jerry tahu kalau ibunya itu tidak pernah menghubunginya jika tidak ada hal yang penting.


Jika pun ada hal yang sangat penting. Kedua orang tuanya akan menyuruh salah satu sopir atau orang kepercayaannya untuk datang ke kampus.


Terdengar suara seorang wanita di seberang telepon. Jerry bisa mendengar suara itu. Itu suara ibunya. Suara ibunya terdengar berbeda. Jerry bisa yakini bahwa ibunya sedang menangis.


"Mama dimana?"


"Ma-mama di rumah sakit milik Celsea, ibunya Axel. Disini juga ada kakakmu, Dendra."


"Apa yang terjadi? A-aku... Aku dengar dari Felisa itu pun juga dari Darel yang memberitahu Felisa bahwa Darren tertembak. Apa itu benar?"


Yocelyn makin terisak ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya.


"Mama, katakan. Apa itu benar?"


"Iya, sayang! Darren tertembak."


"Ke-kenapa? Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya ketika Mama menghubungiku beberapa jam yang lalu. Maafkan aku. Saat Mama menghubungiku, aku masih mengikuti kelas. Ponselku berada di mode hening. Begitu juga dengan yang lainnya."


"Mama tidak bisa menjelaskannya lewat telepon, Nak! Kamu dan yang lainnya buruan kemari. Kasihan Rehan dan Darel. Mereka butuh kalian."


"Baiklah, Mama! Kami akan segera kesana. Oh iya! Apa keluarga Darren sudah diberitahu?"


"Belum sayang. Kami nggak kepikiran kesitu. Yang ada di pikiran kami saat ini hanya Darren."


"Baiklah. Biarkan aku atau yang lainnya yang menghubungi keluarga Darren."


Pip..


Jerry langsung mematikan panggilannya. Jerry menatap satu persatu wajah yaitu Dylan, Axel, Qenan dan Willy. Setelah itu, Jerry menatap wajah Brenda dan ketujuh sahabatnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang! Rehan dan Darel butuh kita," ucap Jerry.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi keluarga Darren!" seru Willy.


__ADS_2