KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ketakutan Connie


__ADS_3

"Sayang. Apa masih sakit, hum?" tanya Erland dengan mengusap lembut kepala putranya.


"Aku udah nggak apa-apa, Papa!" Darren menjawab pertanyaan dari ayahnya itu dengan sedikit senyuman.


Darren menatap semua orang yang ada di dalam kamarnya. Begitu juga dengan mereka semua.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Darren.


"Kamu pingsan, Ren!" itu Dzaky yang menjawabnya.


"Pingsan?" tanya Darren lagi.


Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Saat kamu mau ke kamar. Kamu tuh seketika jatuh tak sadarkan diri," ucap Andra.


Mendengar ucapan dari kakak keduanya membuat Darren ingat terakhir dirinya hendak pamit ke kamarnya.


"Maaf," ucap Darren pelan.


Ucapannya itu terdengar oleh anggota keluarganya, sahabat-sahabatnya dan semua yang ada di dalam kamarnya.


Grep!


Erland langsung memeluk tubuh putranya itu. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya.


"Hiks... Papa, maafkan aku."


"Maaf untuk apa, hum?" tanya Erland yang sudah meneteskan air matanya.


"Seharusnya aku tidak ada di tengah-tengah kalian. Seharusnya aku...," perkataan Darren terhenti karena Darka sudah memotongnya.


"Cukup Darren! Kakak tidak mau dengar apa-apa pun dari mulut kamu itu!" bentak Darka.


Tes!


Air mata Darren mengalir deras membasahi wajahnya ketika mendengar bentakkan dari kakak kesayangannya itu.


Sejujurnya Darren menangis bukan karena bentakkan dari kakaknya itu. Yang membuat Darren menangis adalah mengenai kondisi kesehatannya.


Setiap ada masalah dan setiap dirinya banyak pikiran. Rasa sakit di jantungnya datang mengganggu. Kadang rasa sakitnya hanya sedikit. Kadang kuat sehingga membuat dirinya pingsan.


Darren mengakui bahwa dirinya benar-benar lelah. Rasa sakit yang dirasakannya tak akan pernah hilang.


"Papa," panggil Erica yang kini sudah berada di atas tempat tidur.


Darren melepaskan pelukan ayahnya, lalu menatap kearah putri angkatnya. Dan seketika Darren tersenyum.


"Kemarilah."


Erica langsung mendekati ayah angkatnya itu dan langsung memeluknya.


"Papa."


"Ada apa, hum?"


"Erica sayang sama Papa. Papi sama Mami udah pergi ninggalin Erica untuk selamanya. Suster juga pergi ninggalin Erica demi melindungi Erica. Yang Erica punya sekarang hanya Papa, walau ada orang-orang di sekitar Erica seperti sahabatnya Papa, Opa, Oma, Bibi Brenda dan yang lainnya. Tapi yang paling utama adalah Papa, karena suster menitipkan Erica ke Papa."


Erica melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Erica menatap wajah tampan ayah angkatnya itu.


"Jangan pernah tinggalin Erica. Tetaplah di samping Erica."


Darren tersenyum bahagia mendengar perkataan dari Erica. Dirinya benar-benar bersyukur Tuhan menitipkan gadis kecil seperti Erica kepadanya. Gadis kecil yang masih berusia 6 tahun, tapi cara berbicaranya sudah seperti orang dewasa. Sangat bijak!


"Papa nggak akan pergi kemana-mana."


"Janji."


"Janji."


Darren dan Erica saling mentautkan jari kelingkingnya sebagai ungkapan janji keduanya.


Erica melihat kearah dimana Brenda berdiri. Seketika Erica tersenyum.


"Bibi Brenda."


"Iya, sayang."


"Apa Bibi bersedia menerima Erica jadi putrinya Bibi?"


"Tentu. Bibi sangat senang memiliki putri secantik kamu. Apalagi kamu adalah putri dari laki-laki yang sangat Bibi cintai," jawab Brenda tulus.


"Terima kasih, Bibi! Erica janji, jika kelak Papa dan Bibi menikah nanti. Erica akan jadi putri yang baik untuk kalian berdua. Dan juga akan menjadi kakak perempuan yang baik dan penuh cinta kepada adik-adiknya."


Mendengar ucapan dan janji tulus Erica membuat Darren dan Brenda tersenyum penuh kebahagiaan. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kelak Erica nggak hanya punya orang tua sepasang. Tapi Erica punya orang tua delapan pasang. Kita juga orang tuanya Erica loh," ucap Dylan.


"Erica nggak lupakan kalau kita juga ikut serta dalam menjadikan Erica putri kita?" ucap dan tanya Darel.

__ADS_1


Seketika Erica tersenyum mendengar perkataan dari dua ayah angkatnya.


"Iya, Papa Dy, Papa El. Erica ingat dan Erica nggak lupa. Terima kasih sudah mau menjadikan Erica putri kalian."


"Sama-sama, sayang!" ketujuh sahabatnya Darren menjawab bersamaan.


Ketika mereka semua tengah mengobrol membahas kesehatan Darren sampai membahas Erica, tiba-tiba seorang pelayan perempuan datang memasuki kamar Darren.


"Maaf tuan, nyonya!"


Mereka semua melihat kearah pelayan itu, termasuk Darren. Pelayan itu adalah pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Ada apa, Bibi?" tanya Darren.


"Begini, tuan. Di bawah ada tiga orang tamu mencari tuan."


"Tamu? Siapa?" tanya Darren.


"Salah satu tamu itu menyebut bahwa mereka berasal dari keluarga Noberto."


Mendengar nama keluarga Noberto disebut oleh sang pelayan. Seketika wajah Darren, Brenda dan para sahabatnya berubah tak mengenakkan.


Melihat perubahan wajah dari Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya. Anggota keluarga Darren menatap penuh curiga. Mereka berpikir jika ada sesuatu.


"Sekarang mereka ada dimana?" tanya Darren.


"Masih diluar, tuan!"


"Ya, sudah! Suruh mereka masuk dan menunggu di ruang tamu."


"Baik, tuan."


Setelah itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar Darren.


^^^


Erland, Agneta dan yang lainnya saat ini sudah berada di ruang tamu, kecuali Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya yang masih di kamar.


Darren sebenarnya sudah tahu niat dan tujuan kedatangan Connie bersama kedua orang tuanya.


Tujuan Connie adalah ingin memfitnah Darren dengan mengatakan bahwa Darren telah menghamili Connie.


Alasan Darren tidak ikut keluar bersama dengan yang lainnya adalah Darren ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh keluarganya ketika dirinya difitnah oleh Connie.


Bagaimana pun Darren pernah mengalami kejadian itu. Dirinya tidak ingin hal itu terulang lagi.


Bagaimana pun Darren juga memiliki sedikit trauma akan kejadian itu.


"Kami kesini ingin bertemu dengan Darren. Ada hal yang ingin kami bicarakan kepadanya," jawab Ferdian dengan wajah angkuhnya.


"Maaf sebelumnya. Putra saya sedang tidak enak badan. Dia sedang istirahat di kamar," jawab Erland.


"Alah. Kamu tuh jangan bohong ya. Bilang saja kalau kamu tidak ingin putra kamu itu bertemu dengan kami!" bentak Isabella.


"Jaga cara bicara anda, nyonya! Papa saya sedari tadi berbicara lembut. Tapi nyonya seenaknya membentak ayah saya!" bentak Andra balik.


"Andra," panggil Erland.


Andra langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya, ayahnya yang menggelengkan kepalanya.


Andra yang melihat itu langsung paham.


"Maaf, Papa."


"Lebih baik anda panggilkan putra anda itu. Atau...."


"Atau apa?" tanya Darren yang datang bersama dengan Brenda dan para sahabat-sahabatnya.


Darren menatap nyalang kearah kedua orang tuanya Connie dan juga Connie.


"Syukurlah kamu keluar. Sekarang dengarkan saya. Kamu harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kamu lakukan terhadap putri saya Connie. Kamu harus menikah dengan Connie." Ferdian berbicara dengan penuh penekanan.


"Kenapa aku harus bertanggung jawab dan menikah dengan putrimu yang murahan itu? Dan memangnya kau itu siapa, hah?! Seenaknya saja memerintahku?" Darren berbicara tatapan merendahnya menatap keluarga Noberto.


"Karena putriku sedang hamil. Dan itu semua karena perbuatanmu!" bentak Isabella.


Mendengar penuturan dari Isabella membuat Erland dan yang lainnya terkejut.


"Sayang," panggil Erland lembut.


Darren seketika langsung melihat kearah ayahnya.


Erland menatap tepat di manik hitam putranya itu. Dan dapat Erland lihat ada sebuah kejujuran disana.


Setelah itu, Erland kembali menatap tiga orang yang ada di hadapannya. Seketika Erland tersenyum.


"Apa nyonya pikir saya akan percaya begitu saja dengan perkataan nyonya itu. Jawaban adalah tidak," ucap Erland.


Darren seketika tersenyum ketika mendengar perkataan ayahnya. Dirinya akhirnya bisa lega karena kekuatannya dan penopang hidupnya percaya padanya.

__ADS_1


"Jadi anda lebih percaya kepada putra anda yang brengsek itu, hah?!" tanya Isabella menatap marah Erland.


"Tentu. Bagaimana pun orang yang anda sebut brengsek itu adalah putra kandung saya. Dan saya sebagai ayahnya wajib mempercayainya," jawab Erland.


Mendengar perkataan dari Erland membuat kedua orang tuanya Connie menatap marah kearah Erland.


"Ren, apa begini kelakuan asli kamu. Setelah puas kamu menikmati tubuhku. Kamu membuang begitu saja seperti sampah," ucap Connie dengan air mata buayanya.


Mendengar perkataan dari Connie. Darren hanya bersikap biasa saja. Dirinya hanya ingin melihat sampai dimana usaha ketiga manusia yang ada di hadapannya itu terus memfitnah dirinya.


"Terus, kamu mau apa?" tanya Darren.


"Setidaknya kamu mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat," jawab Connie.


"Begitukah?"


"Iya."


"Apa harus?"


"Kau tidak punya pilihan, Darren!"


"Oo, takut." Darren memperlihatkan ekspresi wajah yang ketakutan didepan keluarga Noberto.


Melihat ekspresi wajah Darren membuat anggota keluarganya, Brenda dan sahabat-sahabatnya tersenyum.


"Tapi maaf, aku tidak bisa menikah dengan perempuan sepertimu."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Connie marah. Begitu juga dengan kedua orang tuanya.


"Apa karena dia sehingga kau tidak ingin menikah denganku?" teriak Connie dengan menunjuk kearah Brenda.


Darren melihat kearah tunjuk Connie. Dan Darren melihat wajah kekasihnya.


Setelah itu, Darren kembali melihat wajah Connie.


"Salah satunya, iya! Dia adalah alasan pertamaku untuk aku tidak menikah denganmu. Dan alasan kedua, ketiga, dan seterusnya adalah karena aku tidak sudi menikah dengan perempuan ****** sepertimu." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan nada dinginnya.


Ferdian mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar Darren yang menghina putrinya.


"Putriku perempuan baik-baik. Dia bukan perempuan ****** seperti yang kau tuduhkan barusan!" bentak Ferdian.


"Jika putrimu perempuan baik-baik dan bukan perempuan ******, maka putrimu tidak akan mengganggu hubunganku dengan kekasihku. Dan dia juga tidak akan menggodaku dengan tubuhnya. Ditambah lagi cara berpakaiannya yang kurang bahan."


"Aku tidak peduli. Kau harus bertanggung jawab terhadap putriku!" bentak Ferdian.


"Jika aku tidak mau. Kau mau apa, hum?"


"Aku akan melakukan ini padamu," jawab Ferdian.


Setelah itu, Ferdian langsung menyerang dengan cara ingin memberikan pukulan kepada Darren.


Duagh!


Seketika Davin memberikan tendangan kuat tepat di perut Ferdian sehingga membuat tubuh Ferdian tersungkur ke belakang.


"Tidak semudah itu kau menyentuh adikku. Langkahi dulu aku, kakak tertuanya." Davin berbicara dengan menatap nyalang Ferdian.


"Ferdian!"


"Papi!"


Isabella dan Connie berteriak ketika melihat tubuh Ferdian tersungkur di lantai dengan darah keluar dari mulutnya.


Darren menatap tajam kearah Connie. "Aku beri saran padamu. Batalkan niat busukmu itu. Jangan diteruskan. Selagi aku masih dalam mode baik, aku akan memaafkanmu."


"Tapi jika kau masih terus melanjutkan niatmu itu, maka jangan salahkan aku jika aku akan melakukan sesuatu yang mengerikan padamu dan juga kedua orang tuamu. Bahkan bisa berimbas kepada seluruh keluarga besar dari kedua orang tuamu itu."


"Beraninya kau mengancam putriku!" bentak Isabella.


"Oh. Jadi nyonya meragukan perkataanku. Baiklah, sekarang aku bertanya pada anda, nyonya? Apakah nyonya berasal dari keluarga Mindez? Nama kedua orang tua nyonya adalah Lionel Mindez dan Azkiya Mindez. Apa aku benar, nyonya Isabella Mindez yang sekarang berubah menjadi Noberto?" Darren berbicara dengan tersenyum menyeringai.


Mendengar penuturan dari Darren membuat Isabella seketika terkejut. Dirinya tidak menyangka bahwa Darren mengetahui nama keluarga dan kedua orang tuanya.


"Apa aku perlu menyebutkan alamat tempat tinggal kedua orang tua Nyonya? Atau nyonya juga ingin aku menyebutkan satu persatu nama anggota keluarga Mindez beserta pekerjaannya," ucap dan tanya Darren.


Isabella lagi-lagi terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan Connie.


"A-apa maumu?" tanya Isabella dengan gugup.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren. Begitu juga dengan anggota keluarganya, Brenda dan para sahabatnya.


"Aku tidak ingin apa-apa dari anda, nyonya! Hanya satu yang aku inginkan. Pergilah menjauh dari kehidupanku dan orang-orang terdekatku. Jangan lagi mengusikku. Apalagi sampai mengusik orang yang ada di sekitarku. Dan soal putrimu yang katanya hamil olehku. Aku sudah tahu rencananya. Putrimu tidak hamil sama sekali. Dia melakukan semua itu hanya untuk mengikatku dan menjadikanku miliknya seutuhnya."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Connie terkejut. Dirinya tidak menyangka jika rencananya di ketahui oleh Darren.


"Da-dari mana kau tahu?" tanya Connie gugup.


"Kau tidak perlu tahu. Satu hal yang harus kau ketahui. Jika kau ingin memfitnah seseorang, maka carilah orang lain untuk kau jadikan korbannya. Jangan aku atau orang-orang terdekatku."

__ADS_1


"Sekarang pergi dan tinggalkan rumahku. Aku berharap, ini adalah yang pertama dan juga terakhir kau mencari masalah denganku. Kalau kau masih nekat, maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu terhadap keluarga dari kedua orang tuamu."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Connie dan kedua orang tuanya. Dan diikuti oleh anggota keluarganya, Brenda dan para sahabat-sahabatnya menuju ruang tengah.


__ADS_2