
"Aku tahu perasaanmu. Tapi tidak seperti ini caranya. Kau menuduhku dan geng motorku yang telah membunuh kakak laki-lakimu. Sementara kau tidak memiliki bukti apapun," ucap Darren.
"Aku memang tidak memiliki bukti. Tapi aku....," perkataan Lino terpotong karena Rehan langsung bersuara.
"Kau mendapatkan informasi itu dari seseorang. Orang itu yang mengatakan padamu bahwa kakak laki-lakimu meninggal karena dibunuh oleh kami," sahut Rehan.
Mendengar ucapan dari Rehan. Membuat Lino terkejut. Begitu juga dengan kelima sahabatnya. Mereka tidak menyangka bahwa Darren dan ketujuh sahabatnya mengetahui hal itu.
"Dari mana kau tahu?" tanya Lino.
"Itu adalah hal mudah bagi kami," ucap Qenan.
"Kami tidak akan diam saja jika ada orang yang mengusik kami. Apalagi sampai memfitnah kami," kata Willy.
"Siapa pun yang mencari masalah dengan kami. Kami langsung bertindak untuk membalasnya. Dan jika ada yang memfitnah kami. Kami langsung mencari bukti untuk membersihkan nama baik kami," sahut Dylan.
"Ingat! Tuhan tidak pernah tidur. Semua apa yang kita lakukan di dunia ini bisa diketahui dan dilihat oleh-Nya. Mungkin selama ini kami selalu berbuat baik dan tidak pernah mengusik orang lain, makanya Tuhan selalu memperlancar segala urusan kami. Salah satunya adalah setiap kami mencari bukti selalu berhasil," tutur Darel.
"Dengarkan aku. Informasi yang diberikan oleh orang itu kepadamu tentang kematian kakak laki-lakimu itu tidak benar. Memang benar kakak laki-lakimu itu meninggal karena dibunuh. Tapi bukan aku dan geng motor Bruiser pelakunya. Kami tidak pernah membunuh ketua kalian!" Darren berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata.
"Tiga hari yang lalu sahabatku Rehan dikeroyok di perjalanan hendak pulang ke rumah. Kalian mau tahu siapa pelaku yang sudah mengeroyok sahabatku Rehan?" ucap dan tanya Darren.
"Siapa?" tanya Lino.
Darren tersenyum di sudut bibirnya. "Geng kalian," jawab Darren.
Darren sengaja mengatakan itu untuk membuat Lino dan kelima sahabatnya itu marah. Jadi setelah itu, Darren akan membalikkan keadaan dengan menyerang tuduhan Lino padanya dan geng motor Bruiser.
Brak!
Lino menggebrak meja dengan keras. Matanya menatap tajam kearah Darren.
"Kau jangan asal menuduh geng motorku yang telah mengeroyok salah satu sahabatmu itu. Kami tidak pernah melakukan hal sekeji itu!" bentak Lino tak terima.
__ADS_1
"Jika kami ingin menyakiti kalian. Kami akan menyerang kalian secara langsung. Kami tidak menyerang secara diam-diam. Atau pengeroyokan yang kalian tuduhkan itu!" bentak Glen.
"Jika kejadianya pengeroyokan itu tiga hari yang lalu. Kalian salah. Bagaimana bisa kami melakukan pengeroyokan terhadap salah satu sahabat kamu. Sementara kami tengah mengadakan acara di suatu tempat. Jadi bagaimana bisa kami melakukan pekerjaan dua sekaligus di hari yang sama." Melky berbicara sembari menjelaskan tentang acara geng motornya tiga hari yang lalu.
Mendengar ucapan demi ucapan dari sahabat Lino membuat Darren dan ketujuh sahabatnya seketika tersenyum. Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya percaya kalau anak-anak Vagos tidak melakukan pengeroyokan itu. Bahkan dari awal Rehan sebagai korban pengeroyokan tersebut juga percaya bahwa anak-anak Vagos tidak bersalah.
"Kalian lucu sekali. Kalian marah ketika dituduh telah mengeroyok salah satu sahabat kami. Sementara ketua kalian seenaknya menuduh ketua kami dan geng motor kami yang telah membunuh ketua pertama kalian. Bahkan dengan seenaknya ketua kalian ingin menuntut balas kepada kami atas kematian ketua pertama kalian." Qenan berbicara dengan menatap satu persatu wajah anak-anak Vagos.
Mendengar ucapan dari Qenan membuat Lino dan kelima sahabatnya langsung terdiam. Di dalam hati mereka membenarkan perkataan Qenan. Mereka menuduh geng motor Bruiser telah membunuh ketua pertama mereka. Tapi mereka tidak terima dituduh telah mengeroyok salah satu sahabat dari ketua geng motor Bruiser
"Kalian pasti penasaran bukan, kenapa sahabatku Darren mengatakan bahwa anak-anak Vagos yang telah mengeroyokku tiga hari yang lalu?" tanya Rehan.
Lino dan kelima sahabatnya langsung melihat kearah Rehan.
"Apa? Katakan padaku," ucap dan tanya Lino.
"Pada saat pengeroyokan itu. Mereka memakai jaket Vagos. Jaket yang serupa dengan jaket milik geng motor kalian," jawab Rehan.
Mendengar jawaban dari Rehan membuat Lino dan kelima sahabatnya terkejut.
"Jika kalian tidak pernah melakukan pengeroyokan terhadap sahabatku Rehan. Bagaimana bisa kalian menuduhku, sahabat-sahabatku dan geng motorku yang telah membunuh ketua pertama kalian hanya karena ucapan seseorang?" ucap dan tanya Darren.
Mendengar ucapan dari Darren, lagi-lagi membuat Lino dan kelima sahabatnya bungkam.
"Aku akan ke intinya langsung. Orang itu sengaja mengatakan padamu bahwa geng motorku yang telah membunuh kakak laki-lakimu. Orang itu juga yang sudah mengeroyok sahabatku Rehan dengan memakai jaket anak Vagos. Tujuannya adalah biar kita saling membunuh," tutur Darren.
"Kita tidak tahu kejadiannya seperti apa? Apa penyebab kematian kakak laki-lakimu, kita juga tidak tahu. Asal kau tahu saja. Bukan hanya kakak laki-lakimu saja yang menjadi korban. Disini ketua pertama dari geng motor Bruiser juga menjadi korban. Jadi, kita sama-sama kehilangan seseorang yang berharga dalam geng motor kita masing-masing. Lo sayang sama dia. Begitu juga dengan gue."
"Jadi aku mohon padamu dan anak-anak Vagos. Hentikan permusuhan ini. Setidaknya, cari dulu kebenaran tentang kejadian yang menimpa ketua pertama kalian empat tahun yang lalu. Aku berbicara seperti ini bukan bermaksud menghakimi kalian dan membenarkan perbuatan kami. Kita disini sama-sama korban dan sama-sama kehilangan seseorang. Tidak ada salahnyakan jika kita bekerja sama untuk mencari bukti tentang semua masalah yang belum terungkap."
"Jangan sampai kalian menyesal nantinya setelah kalian mengetahui kebenarannya. Karena penyesalan itu datang belakangan."
Setelah mengatakan itu, Darren langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya.
__ADS_1
"Pikirkanlah baik-baik, saudara Elzaro Adelino! Setidaknya pikirkan anggotamu. Kau tidak inginkan anggota-anggotamu terluka dan bahkan meninggal hanya karena dendammu? Jika bisa diselesaikan secara baik-baik. Kenapa harus pakai kekerasan?"
Mendengar ucapan dari Darren. Apalagi ketika Darren menyebut nama lengkapnya membuat Lino terkejut. Lino tidak menyangka jika Darren mengetahui namanya. Padahal dirinya tidak pernah menyebutkan namanya di depan Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa dilain waktu."
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan ruangan itu dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya di belakang.
***
Di sebuah ruang kerja seseorang duduk di kursi kebesarannya dengan penuh wibawa. Tatapan tajamnya terfokus pada dokumen yang berada di hadapannya. Hingga tatapan itu beralih pada pintu yang baru saja dibuka oleh putra sulungnya.
"Apa yang membawamu ke sini, boy?" tanya Atalaric pada Danesh.
Pasalnya tidak biasanya putranya yang satu itu ke ruangannya di jam kerja seperti saat ini sehingga membuat Atalaric dibuat keheranan.
Danesh menyerahkan dokumen yang dibawahnya. "Ini data mengenai anak yang Chandra maksud waktu itu."
Dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi. Atalaric membuka dokumen tersebut, membaca dengan teliti setiap informasi yang ada di dalam kertas A4 itu.
Tanda sadar tangan laki-laki tersebut menggenggam erat dokumen yang berada di tangannya saat ini. Dadanya bergemuruh menahan rasa yang selama ini dia tahan belasan tahun lamanya. Menghembuskan napas sejenak. Dia harus dapat mengendalikan diri.
"Ini pemuda yang sama yang Papi lihat di Mini Market. Saat itu Papi haus dan Papi meminta Jordan untuk membelikan Papi air mineral. Dan beberapa detik kemudian, Papi lihat dia keluar dari Mini Market itu."
"Kita harus segera menemuinya, Papi!" ujar Danesh dengan semangat yang menggebu di dadanya.
Namun mimik wajah Danesh berbanding terbalik dengan jiwanya, hanya datar yang terlihat.
"Ya. Siang nanti Papi akan datangi dia. Kau dan yang lain tunggu saja di rumah."
Setelah itu, Danesh pamit undur diri. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu pemuda tersebut.
Atalaric termenung di meja kerjanya. Laki-laki itu menatap figur foto yang ada di atas mejanya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi, sayang! Papi akan membawamu pulang. Setelah kau pulang ke keluarga Radmilo. Papi juga akan membawa pulang saudari kembarmu. Anak buah Papi dan yang lainnya sedang mencari keberadaan saudari kembarmu itu. Sampai saat ini."