KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Saling Memberikan Ancaman


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan, Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania masih berada di rumah Darren.


Baik Qenan, Willy, Rehan maupun Darel, Axel, Jerry dan Dylan memutuskan untuk menginap di rumah Darren.


Sementara Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania akan pulang sekitar pukul 5 sore.


Saat ini Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan, Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania berada di ruang tengah bersama dengan anggota keluarga Smith.


Ketika mereka semua tengah mengobrol sembari membahas Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.


Tap!


Tap!


Tap!


Mereka semua dengan kompak melihat ke asal suara. Seketika mereka semua tersenyum kala melihat Darren.


Darren melangkah menuruni anak tangga dengan tangan kanannya memegang dada kirinya.


"Apa jantungnya Darren masih sakit?" tanya Adnan ketika melihat adiknya yang memegang dada kirinya.


"Sepertinya masih deh. Kalau tidak. Kenapa Darren memegang dada kirinya?" Dzaky ikut menyela.


Mereka masih terus memperhatikan Darren yang saat ini melangkahkan kakinya menuju dapur.


Darren belum menyadari bahwa ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan juga ketujuh sahabat-sahabat Brenda masih berada di rumahnya.


Darren menuju kearah kulkas bertujuan untuk mengambil minuman kesukaannya.


Darren membuka pintu kulkasnya. Dan keluarlah hawa dingin dari dalam. Darren mengambil satu botol minuman kesukaannya itu. Setelah mendapatkannya, Darren menutup kembali pintu kulkas tersebut.


Darren berjalan kearah meja makan. Dan duduk disana sembari meneguk susu pisang kesukaannya.


Seketika pikiran Darren tertuju pada kejadian kemarin dimana dirinya marah besar terhadap rektornya.


Dan seketika Darren menyadari sesuatu, terutama pada tatapan mata rektornya. Rektornya itu menatapnya sangat dalam.


Setelah Darren mendapatkan petunjuk. Darren beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan meja makan untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Ketika Darren membalikkan badannya, matanya tak sengaja melihat kearah ruang tengah. Dan Darren dapat melihat di ruang tengah berkumpul anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


Melihat tatapan Darren kearah ruang tengah membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, Davian. Serta kelima adiknya tersenyum melihat wajah bingung Darren. Begitu juga dengan Brenda, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


Darren melangkahkan kakinya menghampiri anggota keluarganya yang tengah berkumpul bersama dengan Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda di ruang tengah.


"Kalian disini? Kapan datang?" tanya Darren yang sudah duduk di sofa.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry, Dylan, Brenda, Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania hanya bisa menghela nafasnya.


Melihat kekasihnya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabat kekasihnya yang menghela nafas secara bersamaan membuat Darren bertambah bingung.


"Kenapa sih?"


"Yak, Ren! Apa kau benar-benar amnesia ya?" tanya Axel kesal.


"Amnesia?" tanya Darren balik.


Tak!


"Aw!" Darren mengelus-ngelus keningnya akibat jitakan dari Rehan.


"Kenapa kau menjitak keningku kurus setan?!"


"Berarti kau sehat. Tidak amnesia," pungkas Rehan.


"Yang amnesia itu siapa gila. Aku baik-baik saja. Apa perlu aku sebutkan satu persatu nama gelar kalian, hah?!" ketus Darren.


"Tidak. Terima kasih!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menjawab bersamaan.

__ADS_1


Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum melihat perang mulut antara Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Sekarang jawab pertanyaanku barusan. Sejak kapan kalian disini?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan yang sama dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menatap horor kearah Darren.


Ketika Dylan ingin menjawab pertanyaan dari Darren barusan. Darren dengan seenak jidatnya menghentikannya.


"Kita disini....."


"Sudah. Lupakan!"


Dylan seketika membelalakkan matanya. Dan jangan lupakan bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk sahabat laknatnya itu.


"Darren, sayang!" Erland memanggil putranya.


"Iya, Papa!"


"Bagaimana keadaanmu saat ini? Udah mendingan?"


"Udah Papa. Aku udah merasa baikan."


"Tapi tadi pas kamu turun tangga. Kamu masih memegang dada kiri kamu," ucap Dzaky.


"Itu tadi dadaku sedikit ngilu. Jadi aku mengusap-ngusapnya pelan-pelan," jawab Darren.


"Beneran?" tanya Adnan.


"Iya, beneran."


"Nggak bohong?" tanya Andra.


"Terserah kakak Andra mau percaya atau nggak," jawab Darren dengan mempoutkan bibirnya.


Mendengar jawaban dan melihat wajah cemberut adiknya membuat Andra tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Iya, iya. Kakak Andra percaya kamu," sahut Andra.


"Brenda," panggil Darren.


"Iya, Ren."


"Aku meminta kakak Zoya dan beberapa mafiosonya untuk berjaga-jaga di rumah kamu. Bahkan aku sudah memberikan akses masuk kesana. Kamu nggak keberatankan?"


"Aku sama sekali nggak keberatan, Ren. Justru aku berterima kasih padamu karena kamu sudah bertindak duluan untuk lindungi keluarga aku."


"Baiklah. Lebih baik...." perkataan Darren terpotong karena Brenda terlebih dahulu berbicara.


"Aku sudah memberitahu Mama, kakak Maura, kakak Rangga, kakak Barra, kakak Riana dan Raya tentang kakak Zoya dan anggota mafiosonya."


Melihat kelakuan Brenda membuat Darren mendengus kesal. Sedangkan Brenda hanya memperlihatkan senyuman manisnya.


***


Di kantor polisi keluarga besar Jessica dari dua keluarga berusaha mati-matian untuk membebaskan Jessica dari penjara. Namun usaha kedua keluarga tersebut tidak ada satu pun membuahkan hasil sehingga membuat kedua keluarga itu marah.


"Brengsek kalian. Beraninya kalian menentang kami, hah! Apa kalian tidak takut pada kami?!" bentak ayahnya Jessica.


"Kami hanya menjalankan tugas. Dan satu lagi. Kami tidak pernah takut kepada kalian. Kalian bukan siapa-siapa disini," tantang polisi itu yang berstatus sebagai bawahan Farraz.


"Jika sore ini putriku tidak bebas. Maka aku akan membunuh seluruh anggota keluarga kalian," ucap ayahnya Jessica dengan mengancam seluruh anggota kepolisian.


"Jika anda sampai berani menyentuh keluarga kami. Maka kami juga akan menyentuh keluarga anda. Nyawa dibayar nyawa. Kami pihak kepolisian akan membunuh anda dan semua keluarga anda. Termasuk keluarga dari istri anda." polisi itu balik memberikan ancaman kepada ayahnya Jessica.


"Jangan anda pikir setelah anda membunuh seluruh keluarga kami. Kami akan diam saja. Tentu saja itu tidak akan terjadi. Kami akan melakukan hal yang sama kepada anda dan seluruh keluarga besar anda."


Mendengar penuturan dari dua polisi yang menjabat sebagai Iptu dan Ipda membuat ibunya Jessica dan Bibi nya Jessica ketakutan. Keduanya tidak ingin ada yang mati.


Ibunya Jessica menatap suaminya. Begitu juga dengan Bibinya Jessica. Mereka berdua menatap suaminya sembari memohon.

__ADS_1


"Sayang. Lebih baik kita pulang. Besok lagi aja kita kesini. Apapun caranya besok kita harus bisa membebaskan Jessica. Kita pikirkan cara lain. Kamu jangan pake cara kamu yang tadi."


Mendengar penuturan dan permohonan dari istrinya membuat ayahnya Jessica luluh. Dan pada akhirnya, mereka semua pun pergi meninggalkan kantor polisi.


***


Keesokkan paginya Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya telah berada di meja makan bersama dengan anggota keluarganya.


"Kakak Darren," panggil Melvin.


"Ada apa?" tanya Darren.


"Kakak Darren kan udah jadian sama kakak Brenda?" tanya Melvin.


"Iya, sudah. Terus?" jawab dan tanya Darren.


"Kapan nikahnya?" tanya Melvin.


"Uhuukk."


Seketika Darren tersendak ketika mendengar pertanyaan dari Melvin. Dan detik kemudian, Darren menatap kearah adiknya itu.


"Kamu masih kecil. Ngapain nanya-nanya nikah. Buruan habiskan sarapan kamu dan pergi sana ke sekolah," ucap Darren sewot.


"Ih, sensi amat sih. Kan aku cuma nanya doang," ucap Melvin.


"Pertanyaan kamu itu nggak bermutu sama sekali," jawab Darren.


"Kakak Darren, tapi kata ibu guru aku nggak boleh pacaran lama-lama. Dosa kata ibu guru. Jadi bagi yang sudah pacaran. Harus langsung nikah biar nggak berbuat dosa," celetuk Ivan.


Mendengar penuturan dari Ivan membuat anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya berusaha untuk tidak tertawa. Bahkan tersenyum sekali pun. Mereka semua berusaha untuk menahannya.


"Yak! Kenapa kamu malah ikut-ikutan Melvin, hah?! Buruan habiskan sarapan kalian!" teriak Darren kesal.


"Ivan, Melvin. Kalian tenang saja. Kakak kesayangan kalian ini bakalan nikah kok sama Brenda. Bahkan kakak kesayangan kalian ini bilang udah nggak sabaran untuk memberikan keponakan yang lucu-lucu untuk kalian," sahut Dylan memanas-manasi Ivan dan Melvin.


Mendengar perkataan dari Dylan. Ivan dan Melvin langsung melihat kearah Dylan. Mereka berdua begitu bahagia melihat kearah Dylan.


Sementara Darren menatap dengan seribu sumpah serapah yang keluar dari mulutnya untuk sahabatnya itu.


"Benarkah, kakak Dylan?" tanya Ivan.


"Iya, benar!"


"Kapan kira-kira kakak Darren bakal nikahi kakak Brenda?" tanya Melvin.


"Eeemmm... Setelah lebaran kambing," jawab Dylan asal.


"Hah!"


Ivan dan Melvin saling memberikan tatapan. Dalam hati mereka masing-masing mengatakan 'apa ada lebaran kambing?'


Ivan dan Melvin menatap wajah Dylan. "Emangnya ada ya lebaran kambing?"


"Ada. Kalian aja yang nggak tahu," jawab Dylan.


"Ivan, Melvin. Sejak kapan kalian berubah menjadi sekumpulan orang bodoh, hah?! Kalian disekolahkan untuk menjadi orang pintar. Tapi kenapa kalian justru makin kesini makin bodoh. Sudah cukup aku punya satu sahabat bodoh. Kalian jangan ikut-ikutan bodoh seperti sahabatku itu," sahut Darren dengan menatap kesal Ivan dan Melvin.


Mendengar sindiran dari Darren membuat Dylan mendengus. Dylan mengambil satu potong nugget, lalu melempari kearah Darren. Dan nugget itu tepat mendarat di keningnya.


"Sialan lo. Enak aja lo ngatain gue bodoh. Kalau gue bodoh. Gue nggak bakalan ada di showroom lo," ucap Dylan.


"Bodoh lo itu bodoh kambuhan. Kadang sehat. Kadang stress," jawab Darren.


Ketika Dylan, Ivan dan Melvin ingin mengatakan sesuatu. Darren sudah terlebih dahulu membungkam mulut mereka bertiga.


"Jika masih ada lagi yang bersuara atau bertanya. Maka akan aku pastikan hari ini kalian pergi ke sekolah jalan kaki. Dan untuk si pangeran bodoh akan mendapatkan potongan gaji sebesar 80%," ucap Darren dengan penuh ancaman.


Mendengar ancaman dari Darren membuat Ivan, Melvin dan Dylan seketika membulatkan matanya. Ketiganya langsung menatap wajah Darren yang saat ini tengah menikmati sarapan paginya. Darren sama sekali tidak mempedulikan tatapan dari kedua adiknya dan sahabatnya itu.

__ADS_1


Sedangkan anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum melihat wajah syok Ivan, Melvin dan Dylan.


__ADS_2