KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rasa Khawatir Anggota Keluarga


__ADS_3

[PERUSAHAAN ER COMPANY]


Erland berada di ruang kerja. Dirinya sedang berkutat dengan laptop miliknya. Erland saat ini sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan yang kemarin.


Saat Erland tengah fokus sama pekerjaannya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan jatuhnya bingkai foto putra bungsunya.


PRAANG!


Erland melihat ke arah bingkai foto tersebut. Detik kemudian, Erland merasakan perasaan yang tidak enak menjalar di tubuhnya. Seketika terlintas bayangan putra bungsu di kepalanya.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku menjadi tidak karuan seperti ini? Apa terjadi sesuatu pada putra bungsuku?" gumam Erland sambil memungut foto putranya.


"Darren. Semoga kamu baik-baik saja, sayang." Erland berucap lirih.


"Tuhan! Aku mohon padamu. Lindungi putra bungsuku."


CKLEK!


Pintu ruang kerja Erland dibuka. Lalu masuklah dua pemuda tampan ke dalam ruangan tersebut. Kedua pemuda itu adalah Davin dan Andra.


"Loh! Kok Papa tidak ada di ruangannya!" seru Andra saat tidak melihat keberadaan ayahnya.


"Papa," panggil Davin.


Erland yang tengah memikirkan dan mengkhawatirkan Darren, putra bungsunya terkejut saat mendengar putra sulungnya memanggilnya.


"Papa disini, Davin!" seru Erland.


Davin dan Andra pun menghampiri sang Ayah.


"Astaga, Papa!" seru Davin dan Andra bersamaan.


"Ada apa, Papa?" tanya Andra.


"Papa juga tidak tahu Davin, Andra. Saat Papa sedang fokus bekerja, tiba-tiba foto adik bungsu kalian jatuh begitu saja. Seketika bayangan Darren berputar-putar di kepala Papa. Davin...  Andra, Papa benar-benar takut. Papa takut terjadi sesuatu pada adik kalian." Erland berucap dengan suara lirihnya dan matanya menatap Davin dan Andra. Dan jangan lupa air matanya mengalir begitu saja.


"Papa."


GREP!


Davin memeluk Ayahnya. "Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga tidak terjadi sesuatu pada Darren. Dan semoga Tuhan melindungi Darren," ucap Davin menghibur Ayahnya.


Davin berusaha untuk tetap tenang, walau hati kecilnya juga takut saat mendengar ucapan dari Ayahnya.


"Aku baru ingat. Bukankah hari ini Darren dan ketujuh sahabatnya sedang ada di serkuit balapan!" seru Andra.


Mendengar ucapan dari Andra. Erland melepaskan pelukannya Davin. Baik Erland mau pun Davin melihat kearah Andra.


"Serkuit balapan?" ulang Davin dan Erland bersamaan.


"Iya. Kan hari ini jadwal uji coba mobil-mobilnya Darren," ucap Andra.


"Apa kalian lupa saat Darren di rumah sakit. Darren mengatakan bahwa besok akan melakukan uji coba mobil-mobilnya. Darren keluar dari rumah sakit hari senin dan sekarang hari selasa. Berarti hari ini jadwalnya," ucap Andra lagi.


"Davin. Perasaan Papa benar-benar tidak enak. Pasti terjadi sesuatu terhadap Darren."


"Pa! Papa jangan berpikiran seperti itu. Kita berdoa aja semoga Darren baik-baik saja," sela Andra.


"Andra benar, Pa! Kita berdoa saja. Semoga Darren baik-baik saja."


"Lebih baik kita pulang, oke!"

__ADS_1


Davin dan Andra membantu Ayahnya berdiri. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Percuma saja mereka ada di kantor jika pikiran mereka tertuju pada Darren.


***


[KAMPUS]


Darka dan Gilang berada di Perpustakaan. Sepuluh menit lagi mereka berdua akan pulang. Sebelum itu, mereka harus mengambil barang-barang mereka di rumah orang tuanya. Setelah itu mereka akan kembali ke rumah adik kesayangan mereka.


"Gil. Aku sudah selesai!" seru Darka.


"Iya, ini aku juga sedikit lagi hampir selesai," jawab Gilang.


Darka dan Gilang sedang mengerjakan tugas kuliah. Seharusnya tugas tersebut dikerjakan di rumah, namun Gilang dan Darka memilih mengerjakannya di kampus. Jika tugas mereka selesai, mereka bisa menghabiskan waktu bersama adik kecil mereka.


"Selesai juga!" seru Gilang.


Gilang merenggangkan otot-ototnya dan menarik kedua tangannya ke atas.


"Ayo, Gil! Kita harus segera pulang biar kita gak telat pulang ke rumahnya Darren!" seru Darka.


"Yak, Darka! Sabar kenapa sih! Sekali pun kita pulang ke rumah Papa buru-buru, lalu setelah itu kita langsung pulang ke rumahnya Darren. Aku rasa Darren juga tidak ada di rumah saat ini," sahut Gilang.


"Apa maksudmu, Gil?" Darka masih belum menyadari sesuatu.


"Apa kau lupa jika hari ini Darren dan ketujuh sahabatnya akan melakukan uji coba mobil-mobilnya di arena serkuit balapan," ucap Gilang mengingatkan.


Mendengar penuturan dari Gilang. Seketika Darka teringat akan ucapan adiknya saat di rumah sakit.


"Bibi Celsea. Izinkan aku pulang, ya. Ini sudah dua hari aku di rumah sakit. Besok adalah uji coba mobil-mobilku dan aku harus ikut dalam pengujian itu."


Setelah Darka mengingatnya. Seketika rasa takut menggerayangi pikirannya.


"Gilang," lirih Darka.


"Gil. Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak gini? Apalagi saat kau mengatakan jika hari ini Darren berada di arena sirkuit balapan untuk melakukan uji coba mobil-mobilnya," ucap Darka dengan nada bergetarnya.


GREP!


Gilang memeluk tubuh Darka. Dan tangannya mengusap-usap lembut punggungnya. "Semoga semuanya baik-baik saja, Darka! Semoga tidak terjadi apa-apa pada adik kita."


"Darren, sayang. Kakak Gilang mohon. Kamu jangan sampai terluka. Kakak Gilang harap kamu baik-baik saja," batin Gilang.


"Tuhan. Lindungilah adikku," batin Darka.


Gilang melepaskan pelukannya. "Ya, sudah. Sekarang kita pulang."


Lalu Darka dan Gilang mengemasi buku-bukunya.


***


[SIRKUIT INTERNASIONAL JERMAN]


Jerry, Qenan, Willy, Rehan, Axel, Dylan, dan Darel menangis saat melihat mobil yang dikendarai oleh Darren hangus terbakar akibat ledakan yang cukup keras. Mereka semua, termasuk beberapa karyawan yang ikut menatap sedih kearah kobaran api itu.


"Darreeenn!" teriak Axel dan Qenan.


"Kenapa bisa jadi begini? Seharusnya tidak ada kesalahan sama sekali dengan mobil itu. Walau pun ada kesalahan, kesalahan itu akan langsung diketahui saat melakukan pengecekan melalui komputer," ucap Dylan.


"Padahal kita sudah berulang kali mengecek semua mobil-mobil itu sebelum diuji coba. Dan semuanya dalam kondisi baik dan tidak ada masalah sama sekali," sela Axel disela tangisannya.


"Tujuan uji coba ini hanya semata-mata untuk mengetes layak atau tidaknya mobil-mobil tersebut untuk dibawah ke jalan raya," ucap Jerry.

__ADS_1


BRUUKK!


Jerry jatuh terduduk bersimpuh di aspal. Air matanya berlomba-lomba jatuh membasahi wajah tampannya.


"Ren. Apa ini rencanamu? Apa kau memiliki firasat tidak baik dengan mobil itu sehingga kau minta tukaran denganku," ucap Jerry lirih.


"Jerry," lirih Willy dan Darel. Mereka berdua merangkul Jerry.


"Ren," isak tangis mereka.


^^^


Disisi lain dan dilokasi yang sama, Darren tengah berjalan tertatih sembari memegang tangan kirinya. Matanya menatap ke arah kobaran api yang begitu besar.


"Brengs*k! Pasti ada yang tidak beres. Tidak mungkin mobil itu meledak begitu saja. Jika pun ada kesalahan, kesalahan tersebut akan langsung diketahui saat melakukan pengecekan," ucap Darren.


"Aku harus menyelidiki masalah ini. Aku harus kembali ke Shoowroom dan mengecek kamera pengintai," ucap Darren lagi.


Darren terus melangkah untuk menuju kearah sahabat-sahabatnya. Ketika Darren tengah melangkah, tiba-tiba salah satu karyawan bagian komputer melihat sosok Darren.


"Itu Bos Darren!" teriak karyawan itu sembari menunjuk kearah Darren.


Sontak ketujuh sahabatnya langsung melihat kearah Darren.


Mereka yang melihat Darren langsung berlari menghampiri Darren yang sedang kesusahan berjalan.


"Darreenn!" teriak mereka.


GREP!


Mereka semua memeluk Darren dan menangis disana.


"Ren," isak mereka semua.


"Yak, lepaskan! Apa kalian benar-benar ingin membunuhku, hah?! Aku sudah bersusah payah lolos dari ledakan itu. Jika aku mati hanya gara-gara dipeluk terlalu kuat oleh kalian itukan gak lucu!" teriak Darren kesal.


Mereka yang mendengar teriakan kekesalan Darren langsung melepaskan pelukannya. Mereka semua tersenyum bahagia bisa melihat wajah kesal, wajah manis dan wajah tampan sahabat kelinci nakal mereka.


"Maaf, Ren! Kami terlalu bahagia dan bersyukur karena kau berhasil selamat dari ledakan itu!" seru Qenan.


Darren tersenyum. "Kita kembali ke Shoowroom, sekarang!" seru Darren dingin.


Setelah itu, Darren langsung melangkah pergi mendahului sahabat-sahabatnya. Sementara sahabat-sahabatnya mengikutinya dari belakang.


"Ren. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Darel.


"Tidak. Aku baru keluar dari rumah sakit kemarin dan aku tidak mau kembali lagi kesana," jawab Darren yang terus melangkah.


"Tapi, Ren....," sela Dylan.


"Aku baik....." belum selesai Darren menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya langsung ambruk.


BRUUKK!


Darren jatuh tidak sadarkan diri.


"Darrreennn!" teriak mereka semua.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Rehan.


Willy, Qenan dan Jerry mengangkat tubuh Darren dan membawanya ke mobil. Setelah itu mereka pun pergi membawa Darren ke rumah sakit.

__ADS_1


Sementara beberapa karyawan kembali ke Shoowroom dengan membawa mobil-mobil tersebut.


__ADS_2