KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Merencanakan Peperangan


__ADS_3

Setelah mendengar berita yang mengejutkan dari orang kepercayaan di perusahaan utama keluarga Frederick dan dua tangan kanannya membuat Samuel dan Gustavo murka. Mereka tidak terima akan kekalahan yang diberikan oleh musuh-musuh mereka.


"Darren, aku akan membalasmu. Kali ini aku benar-benar akan menghancurkanmu dan ketujuh sahabatmu. Bahkan anggota keluargamu dan juga anggota keluarga dari sahabat-sahabatmu itu. Tunggu saja," batin Samuel.


"Brengsek! Ini tidak bisa dibiarkan. Darrendra Smith dan ketujuh sahabatnya telah membuat kakak laki-lakiku selalu kalah bersaing dalam dunia bisnis. Kakak-kakak laki-lakiku selalu tersisihkan dan selalu dianggap remeh oleh semua pengusaha-pengusaha terkenal karena selalu gagal. Gara-gara mereka juga kakak laki-lakiku memilih mundur dari bisnis kotor yang digelutinya selama ini dan berakhir aku dan kakak laki-lakiku bertengkar hebat dan berakhir kakak laki-lakiku meninggal."


"Sekarang putra-putra mereka yang berulah. Putra-putra mereka telah berani membakar perusahaan utama milik kakak laki-lakiku. Tunggu saja kejutan dariku dan Samuel. Kalian semua akan hancur. Aku tidak akan membiarkan kalian menang di atas penderitaan kami selama ini," batin Gustavo dengan wajah penuh amarahnya.


"Samuel. Kau memiliki berapa anggota saat ini?" tanya Gustavo.


"Anggotaku sekarang berjumlah 1000 orang," jawab Samuel.


"Bagus. Tambah dengan anggota dari Paman. Jumlah mereka 1500. Jadi jumlah anggota kita semuanya 2500," ucap Gustavo.


"Sekarang dengarkan Paman. Kita harus membalas kekalahan kita kepada mereka. Mereka telah menghancurkan reputasi kita di dunia bisnis. Dan mereka juga telah membakar perusahaan milik keluarga Frederick yang tak lain milik ayahmu," ucap Gustavo dengan menatap lekat Samuel.


"Tentu, Paman! Aku bahkan sudah memikirkan rencana yang begitu sempurna untuk menghabisi mereka sekali jalan," sahut Samuel.


"Apa rencanamu? Katakan pada Paman," pinta Gustavo.


"Aku akan menyerang mereka secara bersamaan," ujar Samuel.


"Maksudmu?" tanya Gustavo.


"Aku akan mengirim orang-orangku untuk menyerang kediaman dari ketujuh sahabat-sahabat Darren. Begitu juga dengan kediaman keluarga Darren. Dengan kita menyerang mereka secara bersamaan, maka mereka tidak akan bisa saling membantu. Dan bisa dipastikan juga mereka semua akan mati." Samuel berucap dengan penuh semangat dan percaya diri.


Mendengar ide dan rencana Samuel. Seketika terukir senyuman di bibir Gustavo. Gustavo membenarkan apa yang disampaikan oleh Samuel.


Selama ini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya saling bantu jika ada salah satu dari mereka yang mendapatkan masalah. Jika dirinya dan Samuel menyerang Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya beserta anggota keluarganya secara bersamaan. Bisa dipastikan, baik Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu tidak akan bisa membantu sahabat-sahabatnya karena mereka fokus menyelamatkan anggota keluarganya masing-masing.


"Rencana yang sangat sempurna. Paman sangat suka dengan rencanamu itu. Dan malam ini adalah malam terakhir untuk mereka." Gustavo berucap dengan penuh amarah.


"Syukurlah jika Paman setuju dengan rencanaku. Sekarang Paman hubungi tangan kanan Paman dan perintahkan tangan kanan Paman itu untuk menyuruh semua anggota Paman berkumpul di markas utama milik kita. Aku juga akan menghubungi tangan kananku dan menyuruhnya membawa semua anggotaku ke markas utama."


"Baiklah."


Setelah itu, baik Gustavo maupun Samuel secara bersamaan menghubungi tangan kanan mereka.


Disisi lain, tanpa diketahui dan disadari oleh Samuel dan Gustavo. Semua pembicaraan dan rencana mereka telah terekam dengan sangat jelas oleh beberapa orang. Setelah mendapatkan informasi penting itu. Orang-orang itu pun pergi untuk melaporkannya kepada ketua mereka masing-masing.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang dimana Darren bersama kedua sahabatnya yaitu Qenan dan Willy. Saat ini ketiganya berada di ruang kerja Darren di perusahaan Accenture.


Darren bersama dengan kedua sahabatnya tengah membicarakan tentang kejadian kemarin dimana beberapa orang ingin membakar perusahaan Accenture.


Suasana perusahaan Accenture tampak lengang. Darren meliburkan karyawannya untuk satu bulan. Namun bukan berarti para karyawan itu libur begitu saja. Mereka tetap bekerja. Hanya saja bedanya mereka bekerja di rumah masing-masing. Jika ada berkas yang ingin di tandatangani, maka berkas itu akan dikirim lewat email dan akan di tandatangani lewat email.


Saat ini yang ada di perusahaan Accenture hanya Darren, Qenan, Willy dan tiga puluh anak buah dari Darren, Qenan dan Willy.


Darren, Qenan dan Willy memberikan perintah kepada masing-masing anak buahnya untuk berjaga-jaga dan mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan. Baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, terutama di luar perusahaan.


Untuk dua laser yang telah dipasang oleh Darren di perusahaannya sampai detik ini masih aktif dan belum di nonaktifkan sama sekali. Kedua laser berbahaya itu akan di nonaktifkan oleh Darren jika keadaan sudah benar-benar aman. Darren tidak ingin kecolongan lagi. Apalagi Darren sangat tahu bagaimana watak seorang Samuel. Samuel tidak akan menyerah begitu saja dan akan terus mengusiknya. Bagaimana pun caranya.


"Apa langkah selanjutnya Ren?" tanya Qenan.


"Aku belum memikirkannya, Qenan. Untuk saat ini yang ada di pikiranku adalah mengamankan Perusahaan Accenture dan Galeri. Aku tidak mau kedua usahaku itu hancur akan perbuatan Samuel." Darren menjawab pertanyaan dari Qenan dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Mendengar jawaban dan suara lirih Darren membuat Qenan dan Willy menjadi tidak tega. Bagaimana pun Willy dan Qenan sangat tahu bagaimana perjuangan Darren selama ini membangun Perusahaan Accenture, Galeri dan Showroom BMWX.


Ketika Darren membangun usahanya itu dimana Darren masih duduk di bangku SMP. Dan tanpa dukungan dari anggota keluarganya. Dengan kata lain, anggota keluarganya tidak mengetahui jika Darren membangun sebuah Perusahaan, Galeri dan Showroom. Anggota keluarganya beranggapan bahwa Darren hanya seorang pelajar SMP yang hanya fokus dengan sekolahnya.


Tiga usahanya itu adalah usaha intinya. Dengan kata lain usaha yang paling utama baginya dari usaha-usaha miliknya yang lain. Menurut Darren, dirinya tidak masalah jika kehilangan usahanya yang lain asal jangan ketiga usaha tersebut. Bagi Darren, ketiga usahanya itu adalah hidupnya dan juga nyawanya. Satu nyawanya telah hilang yaitu Showroom. Sekarang tersisa dua usaha utamanya yaitu Perusahaan Accenture dan Galeri.


PUK!


Willy menepuk pelan bahu Darren dan merangkulnya. "Tidak akan terjadi sesuatu terhadap Perusahaan Accenture dan Galeri. Bukankah kau sudah memasang dan mengaktifkan dua laser itu. Jadi untuk saat ini baik Perusahaan Accenture maupun Galeri sudah aman."

__ADS_1


"Iya. Untuk saat ini aman," ucap Darren.


Willy dan Qenan tersenyum. Mereka berusaha memberikan dukungan untuk Darren. Mereka tahu bahwa saat ini sahabat kelincinya itu dalam mood yang kurang baik.


"Oh iya. Apa kau sudah menghubungi Rehan dan Darel?" tanya Qenan.


Qenan sengaja bertanya tentang kedua sahabatnya itu untuk mengalihkan perhatian dan pikiran Darren.


"Belum," jawab Darren.


"Ya, sudah. Biar aku saja yang menghubungi KRH dan KDL!" seru Qenan.


Willy dan Darren melihat ke arah Qenan dengan tatapan bingungnya. Sementara Qenan tersenyum geli melihat tatapan bingung kedua sahabatnya itu.


"KRH itu si kurus Rehan. Dan KDL si kurus Darel," sahut Qenan dengan senyuman manisnya.


Mendengar perkataan dari Qenan. Darren dan Willy saling lirik. Dan setelah itu, keduanya kembali melihat ke arah Qenan.


Dan detik kemudian....


"Hahahahaha."


Darren, Qenan dan Willy tertawa. Tawa mereka menggelar di ruang kerja milik Darren.


***


Di Galeri lukisan dimana Rehan dan Darel sedang berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut ruangan yang ada di dalam gedung Galeri itu. Keduanya tengah mengawasi keadaan sekitarnya.


Sama halnya dengan keadaan perusahaan Accenture. Suasana Galeri juga lengang. Darren memberikan perintah kepada Rehan dan Darel untuk melibur karyawan. Walaupun begitu, para karyawan tersebut tetap bekerja. Mereka bekerja di rumah masing-masing.


Di Galeri tersebut juga ada beberapa anak buah dari Darren, Rehan dan Darel berjaga-jaga. Baik di dalam maupun di luar.


Ketika Rehan dan Darel sedang melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor dan ruangan di dalam gedung Galeri Lukisan, tiba-tiba ponsel milik Rehan berbunyi.


Rehan yang mendengar ponsel miliknya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.


Darel yang berada di sampingnya sempat melirik ke arah layar ponselnya. Seketika matanya membelalak saat membaca nama di layar ponselnya Rehan.


"Dasar kurus kering lu. Tega bener buat nama gelar si Qenan di kontak elu," ucap Darel.


"Kayak elu gak aja," sindir Rehan.


"Emang gak," jawab Darel.


"Alah. Jangan boong lo kurus sialan. Rata-rata di kontak lo itu nama kita semua lo buat dengan menggunakan gelar kita," sahut Rehan.


"Darren lo buat siluman kelinci, Willy lo buat tiang listrik, Qenan lo buat kedelai hitam, Axel lo buat kutu kupret, Jerry lo buat jangkung, gue lo buat kurus pertama dan Dylan lo buat kurus kedua." Rehan berbicara dengan menatap horor Darel.


Mendengar perkataan dari Rehan. Darel hanya memperlihatkan senyuman manisnya.


"Aish," kesal Rehan.


Setelah itu, Rehan menjawab panggilan dari Qenan.


"Hallo, hitam"


"Yak! Kurus sialan. Setan!"


Qenan berteriak sekencangnya di seberang telepon ketika mendengar jawaban dari Rehan.


"Kenapa kau berteriak sialan?"


"Siapa suruh kau menjawab dengan menyebut kata keramat itu, bangsat?"


"Bukannya itu namamu ya?"


"Rehan!"

__ADS_1


"Oke... Oke! Ada apa menelponku?"


"Bagaimana keadaan Galeri?"


"Aman. Semuanya baik-baik saja."


"Syukurlah."


"Lalu bagaimana dengan Perusahaan Accenture?"


"Sama dengan galeri. Aman dan baik-baik saja."


"Oh iya. Kau dan Darel sedang apa?"


"Kita..."


Rehan menghentikan ucapannya sejenak, lalu menatap ke arah Darel.


Darel yang melihat tatapan Rehan menaruh rasa curiga.


"Apa?"


Darel memberikan tatapan mautnya.


"Aku dan Darel sedang jalan-jalan mengawasi keadaan sekitarnya sembari berkencan."


Mendengar perkataan dari Rehan membuat Darren, Willy dan Qenan di seberang telepon seketika tertawa. Sementara Darel menatap horor Rehan.


TAK!


"Aww." Rehan mengelus-ngelus keningnya.


"Jijik gua kencan sama elu," ucap Darel, lalu pergi meninggalkan Rehan yang masih berbicara dengan Qenan.


"Bukannya kita sudah resmi pacaran satu minggu yang lalu ya!" teriak Rehan yang masih menjahili Darel.


"Dasar gila!" teriak Darel.


Sementara Darren, Willy dan Qenan tertawa ketika mendengar perkataan dari Rehan dan teriakan kesal Darel.


"Hallo, Han. Semuanya amankan?"


"Ach, iya! Semuanya aman. Ya, sudah! Aku tutup teleponnya. Aku mau menyusul kekasihku dulu. Hahahahaha."


TUTT!


TUTT!


***


Samuel dan Gustavo sudah bersama para anak buahnya di markas utama. Seperti yang telah direncanakan oleh keduanya bahwa keduanya akan melakukan pembalasan terhadap musuh-musuhnya. Baik Samuel maupun Gustavo kini sedang mempersiapkan taktik penyerangan.


"Setelah kalian sampai di lokasi. Kalian bunuh mereka semua. Jangan biarkan satu pun selamat." Samuel berbicara sembari menatap para anak buahnya dan para anak buah pamannya.


"Baik, Bos."


"Bagus. Ingat.. kita akan menyerang mereka sekitar pukul 12 malam," ucap Gustavo.


"Persiapkan semua senjata kalian," ucap Samuel.


"Persiapkan semuanya dengan matang." Gustavo menambahkan.


"Baik, Bos."


Para anak buahnya mengangguk secara bersamaan.


"Darren. Tunggu kejutan dariku," batin Samuel.

__ADS_1


__ADS_2