
Di rumah Darren tampak ramai dan juga heboh dimana semua anggota keluarga sibuk berperang dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang memasak. Dan ada yang sedang bermain ponsel dengan hebohnya di ruang tengah sembari menunggu sarapan pagi selesai dihidangkan.
Sementara Darren saat ini berada di kamarnya. Dirinya tengah bersiap-siap dengan pakaian kantor. Beberapa jam yang lalu Willy sahabatnya menghubungi bahwa akan ada meeting bersama dengan tiga perusahaan dari tiga negara. Dan ketiga perusahaan itu ingin bertemu dengan Darren sebagai pemilik perusahaan Accenture.
Setelah berperang selama satu jam. Akhirnya Agneta dan Carissa selesai dengan pekerjaannya. Dan semua menu sarapan pagi yang mereka buat sudah tertata rapi di atas meja.
"Carissa. Lebih baik kamu panggil yang lainnya dan bilang kalau sarapan pagi sudah disiapkan," pinta Agneta.
"Oke," jawab Carissa.
Dan detik kemudian....
"Wahai semuanya! Sarapan pagi sudah selesai! Ayo, buruan kemari!" teriak Carissa.
Agneta seketika terkejut mendengar teriakan dari Carissa. Dan matanya melotot menatap Carissa.
TAK!
Agneta memukul pelan kepala belakang Carissa menggunakan sendok, karena kesal akan kelakuan Carissa.
Mendapatkan pukulan di kepalanya dari Agneta membuat Carissa menatap horor Agneta.
"Yak, kak Agneta! Kenapa memukul kepalaku?" tanya Carissa.
"Apa? Mau lagi? Sudah salah tapi tidak mau ngaku salah. Kakak menyuruh kamu memanggil mereka semua dengan kamu yang menemui mereka. Bukan kamu yang berteriak disini." Agneta berbicara dengan menatap kesal Carissa.
Sedangkan Carissa yang mendapatkan omelan dari Agneta hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Hehehehe. Lagi mager," jawab Carissa dengan entengnya.
"Huff!" Agneta hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar mendengar jawaban dari Carissa.
Sementara para suami dan anak-anak mereka yang sedari mendengar dan menyaksikan drama pagi mereka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
^^^
Kini semua sudah berkumpul di meja makan termasuk Darren. Mereka sarapan pagi dengan penuh hikmah dan ditambah dengan obrolan-obrolan kecil diantara mereka.
"Kak Gilang, kak Darka." Darren memanggil kedua kakak laki-lakinya.
"Iya, Ren!" jawab keduanya.
"Kemungkinan aku nggak ngampus hari ini. Jadi nanti kak Darka dan kak Gilang gantiin aku mengurus rapat organisasi tentang pembentukan kelompok dan penambahan anggota baru. Data-datanya minta sama Axel, Jerry dan Dylan."
"Baiklah, Ren." Darka dan Gilang langsung menjawab permintaan sekaligus perintah dari adik laki-lakinya itu.
"Emangnya kenapa kamu tidak ngampus, sayang?" tanya Agneta.
"Ada meeting dengan tiga perusahaan dari tiga negara. Masing-masing pemilik perusahaan itu sekarang ini sudah berada di hotel. Mereka datang ke negara ini seminggu yang lalu."
"Kamu tidak sendirian kan, sayang? Papa tidak mau kamu kelelahan," ucap dan tanya Erland.
__ADS_1
"Ya, nggaklah Papa. Qenan dan Willy juga ikut dalam meeting itu. Kan mereka yang bertanggung jawab disana. Mereka juga yang mengurus semuanya. Aku ikut meeting karena ketiga pemilik perusahaan itu ingin bertemu dengan pemilik perusahaan Accenture."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Erland dan yang lainnya merasakan kelegaan di hati masing-masing. Mereka semua tidak ingin Darren kelelahan dan berakhir masuk rumah sakit lagi.
"Oh iya! Kak Gilang, kak Darka. Jangan lupa izinkan aku, Qenan dan Willy."
"Pasti, Ren!" seru Gilang dan Darka bersamaan.
Darren melihat kearah kedua adiknya yaitu Adrian dan Mathew.
"Adrian, Mathew."
Mendengar kakak kesayangannya memanggil namanya. Adrian dan Mathew langsung melihat kearah Darren.
"Iya, kakak Darren."
"Apa kalian berdua masih diganggu oleh para orang tua dari anak-anaknya yang kalian hajar?" tanya Darren.
"Sejak kejadian mereka mendatangi rumah kakak Darren. Sejak itulah mereka nggak nunjukin wajah-wajah mereka ke kita," jawab Adrian.
"Kamu yakin? Coba-coba ingat-ingat lagi," ucap Darren.
Baik Darren, Erland, Agneta maupun anggota keluarga lainnya menatap wajah Adrian dan Mathew.
"Yakin, kakak Darren. Semuanya baik-baik saja. Nggak ada masalah," sahur Mathew.
"Bagaimana dengan teman-teman sekolah kalian?" tanya Davin.
"Mereka ingin melawan, tapi nggak ada keberanian. Ketika melihat aku dan Mathew menghajar mereka. Teman-teman sekolah aku yang selama ini dibully oleh mereka merasakan kebahagiaan. Setidaknya rasa sakit mereka terbalaskan," sahut Adrian.
Mendengar jawaban demi jawaban dari Adrian dan Mathew membuat Darren, Erland, Agneta dan yang lainnya sedikit bernafas lega.
"Walau bagaimana pun. Kakak minta kalian tetap berhati-hati. Jangan terkecoh hanya karena para orang tua dari teman-teman kalian itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa setelah mereka datang ke rumah ini. Bisa jadi mereka tengah merencanakan sesuatu untuk menyakiti kalian berdua."
"Baik, kakak Darren. Kami akan selalu berhati-hati," sahut Adrian dan Mathew.
"Ingat! Jika kalian dalam perjalanan. Dan kalian melihat ada kejadian diluar. Biarkan saja. Kalian jangan ikut campur. Dan jangan keluar dari dalam mobil. Mobil yang kalian pakai itu adalah mobil yang tahan dengan pukulan. Jadi sekeras apapun orang-orang yang ada diluar ingin menghancurkan mobil itu. Usaha mereka hanya sia-sia. Kalian akan tetap aman di dalam mobil. Kalian mengerti!"
"Kami mengerti kakak Darren!"
Ketika Darren sedang memberikan nasehat dan arahan pada kedua adik laki-lakinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Darren yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya. Terlihat nama 'Andrean' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi, Darren pun menjawab panggilan dari Andrean.
"Hallo, Andrean."
"Hallo, Darren. Aku punya kabar gembira untukmu."
Mendengar perkataan dari Andrean. Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Kau tidak percaya padaku?"
"Aku percaya. Sekarang katakan padaku. Apa kabar bahagia itu?"
"Baiklah. Pertama, aku dan anggotaku berhasil merebut kembali perusahaan dan rumah milik keluarga Brenda."
Mendengar perkataan Andrean membuat Darren bingung. Dirinya benar-benar tidak mengerti.
"Maksud kamu?"
"Maksudku itu adalah Charlie Fielder itu berhasil merebut perusahaan milik ibunya Brenda melalui kerja sama. Berkas yang ditandatangani oleh ibunya Brenda ditulis dengan tinta yang bisa hilang. Dan setelah tulisan itu hilang. Charlie merubah isinya. Bukan hanya perusahaan, rumah yang ditempati oleh Brenda dan keluarganya juga sudah menjadi milik Charlie."
"Jadi..."
"Iya. Selamanya ini ibunya Brenda telah ditipu dalam perjanjian kerja sama itu. Berkas yang ditandatangani oleh ibunya Brenda bukan berkas kerja sama melainkan berkas pengalihan kepemilikan perusahaan dan rumah."
Mendengar penjelasan dari Andrean membuat Darren marah. Sementara anggota keluarga yang melihat perubahan wajah Darren bisa menyakini bahwa ada yang tidak beres.
"Kedua, Charlie akan datang menemui ibunya Brenda. Laki-laki itu ingin mengakhiri semuanya. Charlie tidak datang sendiri. Charlie datang bersama istri dan ketiga anak-anaknya. Yang menjadi istrinya Charlie adalah sahabat dari ibunya Brenda."
Darren terkejut ketika mendengar perkataan terakhir dari Andrean yang mengatakan bahwa istri dari Charlie adalah sahabat dari ibunya Brenda.
"Kamu yakin?"
"1000% yakin. Aku akan kirimkan foto sebelum dan sesudah mereka menikah. Dan aku juga akan kirim foto ibunya Brenda bersama sahabatnya itu."
"Baiklah.
"Oh iya. Kau pasti akan terkejut lagi mendengar ini."
"Apa?"
"Selama ini sahabat dari ibunya Brenda itu mencintai ayahnya Brenda. Namun cintanya ditolak karena ayahnya Brenda lebih memilih ibunya Brenda."
"Jangan bilang kalau perempuan itu juga....."
"Yah! Perempuan itu juga ikut andil dalam kecelakaan ayahnya Brenda."
"Pembalasan yang sempurna."
"Kapan mereka akan datang?"
"Setelah bulan ini berakhir."
"Berarti awal bulan. Baiklah."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya. Dan kau bicarakanlah masalah ini dengan keluarga Brenda."
"Baiklah."
Setelah itu, baik Darren maupun Andrean sama-sama mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Tunggu saja kejutan apa yang menanti kalian berdua," batin Darren.