KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pertemuan Erland Dan Ketujuh Sahabatnya


__ADS_3

Namun tiba-tiba langkah Darren terhenti. Begitu juga dengan anggota keluarganya dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya ketika mendengar Ramoz berteriak.


"Dasar anak tidak tahu diri!" teriak Ramoz.


Mereka yang mendengar mengepal kuat tangannya masing-masing terutama Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka marah ketika mendengar adik bungsunya dihina.


Mereka semua dengan kompak membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Ramoz, kecuali Darren.


"Kelakuanmu tidak jauh beda dengan ibu kandungmu!" teriak Ramoz lagi.


Mendengar perkataan Ramoz membuat Darren mengepalkan tangannya kuat. Dirinya benar-benar marah saat ini.


"Cukup. Apa yang kau inginkan sebenarnya? Sedari tadi kami perhatikan, kau yang terlebih dahulu memulai keributan ini." Dzaky menatap Ramoz dengan tatapan marahnya.


"Kami sudah berusaha sabar mendengar ocehan yang tak penting dari mulutmu itu!" bentak Adnan.


Darren membalikkan badannya dan menatap tajam kearah pria itu.


"Apa maksudmu, hah?!" teriak Darren.


"Darren. Lebih baik kita pulang saja ya! Jangan didengar ucapan pria itu," ucap Andra.


Andra berusaha menyakini Darren agar tidak terpancing akan ucapan pria gila itu.


"Memangnya kau itu siapa? Kau tidak berhak mengatur hidupku," sahut Darren ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari Ramoz.


Andra yang mendengar ucapan dari Darren merasakan sakit di dadanya.


"Apa maksud perkataanmu itu, hah?!" teriak Darren dengan menatap tajam dan penuh amarah kearah Ramoz.


"Apa kau yakin ingin tahu, hum?" tanya Ramoz remeh.


"Katakan saja tidak perlu bertele-tele, brengsek!" bentak Darren.


"Hahahaha. Apa kau tahu jika keluargamu selama ini telah membohongimu? Perempuan yang berdiri di samping Ayahmu itu," tunjuk Ramoz kearah Agneta.


Darren melihat kearah Agneta, lalu kembali melihat kearah Ramoz.


"Perempuan itu bukanlah ibu kandungmu," ucap Ramoz.


Darren yang mendengarnya hanya diam saja. Tidak ada ekspresi sama sekali. Sementara anggota keluarganya sudah merasakan ketakutan dalam dirinya mereka masing-masing, terutama Erland, Agneta dan para kakak-kakaknya.


"Jadi kau hanya ingin mengatakan hal yang tidak penting seperti ini padaku? Cih! Menjijikkan!" jawab Darren menatap remeh Ramoz.


"Kenapa? Seharusnya kau marah pada keluargamu," ucap Ramoz.


"Bukan urusanmu!" bentak Darren.


"Hahaha. Kau memang laki-laki bodoh. Sudah dibohongi, tapi kau masih saja bersikap seperti ini pada mereka. Kalau aku berada diposisimu aku akan membenci mereka seumur hidupku," ucap Ramoz yang masih berusaha membuat Darren terpancing.


"Sudah aku katakan itu bukan urusanmu," jawab Darren.


"Kau tahu kenapa ibu kandungmu meninggal? Ibumu itu seorang wanita panggilan. Dengan kata lain dia adalah seorang wanita murahan!" teriak Ramoz.


Mendengar penuturan dari Ramoz membuat Erland dan anggota keluarganya tak terima jika orang yang mereka sayangi dihina, terutama Darren.


Darren menatap nyalang kearah Ramoz. Dirinya tak terima jika ibu kandungnya dihina. Bagi Darren, ibu kandungnya itu adalah malaikatnya. Ibu kandungnya itu sudah berjuang melahirkan dirinya ke dunia ini. Bahkan ibu kandungnya berjuang melawan penyakitnya demi bisa terus menjaga dan merawatnya, walau pada akhirnya ibu kandungnya memilih menyerah. Dan sebelum pergi, ibu kandungnya telah memberikan hadiah untuknya yaitu sosok ibu pengganti untuk dirinya yang tak lain adalah adik perempuannya sendiri.


"Jangan beraninya anda menghina kakak perempuanku. Kakak perempuan itu adalah perempuan baik-baik dan terhormat!" teriak Agneta.


"Hahaha. Kau dengar itu, Darrendra Smith! Berarti aku tidak bohongkan mengatakan bahwa perempuan itu bukan ibu kandungmu," ucap Ramoz.

__ADS_1


Darren berjalan mendekati Ramoz. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan, tuan Ramoz? Kau masih aku beri kesempatan untuk berbicara. Setelah itu, aku bisa pastikan kau tidak akan bisa bicara lagi," ucap Darren dengan penuh penekanan.


"Kau mengancamku, hah?!" tanya Ramoz dengan menatap tajam Darren. "Aku tidak pernah takut pada bocah sepertimu. Ibu kandungmu itu seorang wanita murahan. Dia menggoda Ayahmu sehingga akhirnya mereka menikah. Setelah mereka menikah, ibumu masih saja seperti dulu yaitu menjual tubuhnya. Ibumu tidak pernah benar-benar mencintai Ayahmu. Maka dari itu, Ayahmu membunuh ibumu dan menikah dengan adik iparnya yaitu Agneta." Ramoz berbicara dengan santainya dan tatapan matanya menatap remeh Darren.


Kedua tangan Darren mengepal kuat. Tanpa diketahui siapa pun. Darren menyembunyikan sesuatu di balik lengan bajunya.


Disaat Ramoz ingin mengatakan hal lainnya, Darren pun langsung bertindak.


JLEB!


"Aaakkkkhhhh." Ramoz berteriak kencang saat merasakan sesuatu menusuk perutnya.


Mendengar teriakan Ramoz membuat semua yang melihatnya menjadi terkejut, terutama anggota keluarganya.


Darren menekan kuat pisau itu sehingga pisau itu menusuk hingga dalam. Bahkan Darren menarik pisau itu ke bawah bermaksud untuk membuat luka itu melebar.


Setelah puas, Darren mencabut pisau itu. Kemudian melangkah mundur sembari masih memegang pisau tersebut dengan darah yang menetes.


Semua orang yang melihatnya membelalakkan matanya. Mereka tampak syok dan juga terkejut atas apa yang mereka lihat.


"Papa!" teriak Helena.


Helena berlari mendekati Ayahnya. Seketika tubuh Ramoz jatuh ke lantai.


BRUUKK!


"Papa," lirih Helena.


"Aku sudah katakan padamu, kau masih aku beri kesempatan untuk berbicara. Setelah itu, aku bisa pastikan kau tidak akan bisa bicara lagi," ucap Darren menatap tajam kearah Ramoz. 


"Anggap saja itu hukuman untukmu."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi begitu saja meninggalkan tempat acara Pameran itu dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya di belakang. Mereka saat ini benar-benar mengkhawatirkan kondisi Darren.


"Erland," panggil seseorang.


Erland melihat kearah orang yang memanggilnya. Dapat dilihat olehnya, ada tujuh pria yang saat ini melangkah menuju kearahnya.


^^^


Kini mereka berdiri di tempat yang sama. Erland masih menatap bingung ketujuh pria yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan anggota keluarga masing-masing.


"Erland. Ini aku Aldez William. Kita bersahabat sejak SMP hingga kuliah," sahut Aldez.


Erland berpikir sejenak dan mengingat saat dirinya duduk di bangku SMP dulu.


Flasback On


"Yak! Erland sialan. Awas kau ya!" Aldez terus mengejar Erland. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua mengejar Erland.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan jika berhasil mendapatkanku, hah?!" tanya Erland dengan nada mengejeknya.


"Jangan kepedean dulu kau Erland. Kau hanya sendirian. Sementara kita bertujuh!" teriak David.


"Iya. Dan kita pasti akan bisa mendapatkanmu. Awas saja nanti," sahut Dellano.


"Jika kami berhasil. Kami akan menghukummu, Erland!" teriak Valeo.


"Persiapkan dirimu, Erland Faith Smith!" teriak Eric, Hendy dan Dario bersamaan.


"Tidak usah banyak bacot, deh! Ayo, kejar aku jika kalian mampu! Hahahaha," ejek Erland.

__ADS_1


Flasback Off


Seketika air mata Erland menetes begitu saja saat dirinya sudah mengingat momen-momen kebersamaannya dengan para sahabat-sahabatnya.


"Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy, Dario!" Erland menyebut satu persatu nama ketujuh sahabat-sahabatnya.


Mereka yang melihat Erland menangis dan mendengar nama mereka disebut, tersenyum bahagia.


"Akhirnya kau mengingat kami, Erland!" seru Dario.


Dan tanpa pikir panjang lagi mereka semua pun berpelukan untuk sekedar melepaskan rasa rindu mereka selama ini.


Sementara anggota keluarga yang melihatnya turut bahagia melihat momen-momen pertemuan delapan sahabat yang sudah lama terpisah.


Setelah puas berpelukan, mereka pun akhirnya melepaskan pelukannya.


"Aku tidak menyangka jika bisa bertemu kalian lagi," sahut Erland.


"Begitu juga dengan kami," jawab Eric dan diangguki oleh yang lainnya.


"Oh iya. Perkenalkan ini para istri-istri kami dan putra pertama dan kedua kami."


Dan mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan.


"Aku benar-benar tidak menyangka. Yang aku tahu hanya putra-putra bungsu kita saja yang bersahabat. Tapi ternyata para suami kita juga bersahabat," sahut Celsea.


"Iya, Aku juga. Ini seperti mimpi saja," sela Sophia Dominic istri David Dominic, ibunya Willy.


"Kami para istri sekaligus para ibu sering berkumpul. Kami sering membahas tentang putra-putra kami, terutama para putra-putra bungsu kita," ucap Emma William istri Aldez William, ibunya Qenan.


"Kalian saja yang tidak pernah bertemu. Apalagi berkumpul," ledek Yocelyn Antonius istri Eric Antonius,  ibunya Jerry.


"Iya, benar itu!" seru Bella, Revina, Evelyn dan Celsea bersamaan


"Aish! kalian ini!" seru para suami, kecuali Erland.


"Hahahaha." mereka tertawa.


"Jadi, ketujuh sahabat-sahabat putra bungsuku itu adalah putra-putra kalian?" tanya Erland.


"Iya," jawab mereka kompak.


"Bahkan aku adalah Dokter pribadi dari putra bungsumu, tuan Erland!" sela Celsea.


"Jadi..." ucapan Erland terpotong.


"Iya. Aku juga tahu jika putra bungsumu sedang sakit, terutama jantungnya." Celsea berucap lirih jika sudah membahas masalah kesehatan Darren.


Di saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.


"Mama!"


Mereka semua pun melihat keasal suara.


"Axel!" seru Dario dan Celsea.


"Ada apa, sayang?" tanya Celsea.


"Ikut aku, Ma!"


Axel langsung menarik tangan Ibunya dan mau tidak mau Celsea pun pasrah dirinya ditarik oleh putra ketiganya itu.

__ADS_1


Sementara yang lainnya mengikuti dari belakang.


__ADS_2