
Darren saat ini sedang berada di ruang tengah rumahnya. Dirinya tidak sendirian, melainkan bersama dengan anggota keluarganya.
Darren saat ini tengah memberitahukan rencana dari satu pengkhianat yang masih berkeliaran di perusahaan ER. Jadi Darren meminta ayah dan kedua kakaknya yaitu Davin dan Andra untuk ikut ke dalam permainan si pengkhianat tersebut sehingga pada permainan terakhir barulah Davin dan Andra akan membongkar kedok dari si pengkhianat tersebut.
Setelah kejahatan dari si pengkhianat itu terbongkar, Davin dan Andra akan bermain-main terlebih dahulu dengan si pengkhianat sebelum membawanya ke kantor polisi.
Untuk keluarga Charly. Darren bersama dengan beberapa orang-orangnya serta 50 anggota mafioso dari Devian yang akan mengurusnya. Darren akan menghancurkan sampai ke titiknya sehingga keluarga itu tidak bisa bangkit lagi.
"Bagaimana? Apa kakak Davin dan kakak Andra mengerti?" tanya Darren.
"Sudah, Ren!" Davin dan Andra menjawab secara bersamaan
"Lalu Papa?"
"Sudah, sayang."
"Ingat! Hati-hati dan selalu waspada."
"Hm."
Ketika Darren dan anggota keluarganya tengah membahas untuk menjebak si pengkhianat di perusahaan ER, tiba-tiba ponsel Darren berbunyi.
Darren yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya. Darren melihat nama 'Axel' di layar ponselnya.
Tanpa pikir panjang lagi Darren langsung menjawab panggilan dari Axel.
"Hallo, Axel."
"Kau dimana Ren?"
"Masih di rumah. Kenapa?"
"Jadikan hari ini uji cobanya?"
"Jadi. Apa mobil-mobilnya sudah diangkut ke mobil pengangkutan?"
"Semua sudah siap. Tinggal nunggu kamu."
"Oke. Aku akan langsung ke serkuit. Kita bertemu disana."
"Baiklah."
Setelah selesai berbicara, baik Darren maupun Axel sama-sama mematikan panggilannya.
"Ren," panggil Darka.
Darren melihat kearah kakak kesayangannya itu. "Iya, kakak Darka."
"Kakak boleh ikut bersama kamu ke serkuit? Kakak pengen sekali melihat uji coba itu," ucap Darka.
"Benar, kakak Darka mau ikut?" tanya Darren.
"Iya. Boleh?"
"Tentu. Kakak Darka boleh ikut."
"Kita-kita juga mau ikut, Ren!"
Para kakak laki-lakinya semuanya berseru ingin ikut ke serkuit.
"Terus, kalian bagaimana?" tanya Darren dengan menatap wajah kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya serta kelima adik laki-lakinya.
"Kalau diizinkan. Kita semua juga mau ikut," jawab Agneta mewakili yang lainnya.
"Ya, sudah. Semua boleh ikut. Jangan lupakan Erica," sahut Darren.
"Oke!" seru mereka semua.
Setelah itu, mereka semua pun bersiap-siap ke kamar masing-masing.
***
__ADS_1
Axel, Dylan dan Jerry sudah berada di serkuit. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan dan Darel.
Sembari menunggu kedatangan Darren. Axel dan yang lainnya kini tengah mempersiapkan semua alat-alat untuk melakukan uji coba mobil-mobil yang sudah dirakit dan dibuat satu bulan yang lalu.
"Bagaimana?" tanya Jerry kepada salah satu anggota timnya.
"Semuanya sudah siap, Bos! Hanya tinggal menunggu Bos Darren saja," jawab anggota timnya itu.
"Baguslah," balas Jerry.
"Kalau kalian bagaimana?" tanya Axel dan Dylan kepada tim anggotanya masing-masing.
"Semuanya sudah siap, Bos!"
Dylan, Axel dan Jerry saling melirik. Setelah itu, mereka mengangguk menandakan bahwa semuanya telah siap.
"Maaf, aku terlambat!" seru Darren yang datang bersama anggota keluarganya.
Mendengar seruan dari Darren. Axel, Dylan, Jerry dan yang lainnya langsung melihat kearah Darren. Dan mereka bisa melihat Darren yang datang bersama dengan anggota keluarganya.
"Kamu nggak terlambat kok, Ren!" Dylan berucap.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Darren.
"Papa," panggil Erica dan langsung berlari menghampiri ketujuh sahabat-sahabat Darren.
Mendengar panggilan dari Erica. Seketika terukir senyuman manis di bibir ketujuh sahabatnya Darren.
"Hei, putri Papa!" seru ketujuh sahabatnya Darren.
Mereka secara bergantian memberikan ciuman di pipi dan juga di kening Erica.
Erica menatap kearah sepuluh mobil merek BMW dengan tatapan kagum.
Erica mendekati Darren. Setelah berdiri di hadapan ayahnya itu, Erica merentangkan tangannya ke atas.
Darren yang mengerti pun langsung menggendong tubuh putrinya itu.
"Kenapa, hum?"
"Iya. Kenapa? Erica suka?"
"Suka. Mobilnya bagus-bagus semua. Papa hebat. Papa yang lain juga hebat," ucap Erica dengan matanya menatap binar kesepuluh mobil-mobil itu.
Baik Darren, ketujuh sahabatnya maupun anggota keluarga Darren tersenyum bahagia mendengar perkataan dari Erica.
Mereka semua bahagia ketika melihat raut bahagia di wajah Erica. Terlihat dari manik coklatnya.
Darren menurunkan Erica dari gendongannya. Setelah itu, Darren memberikan kecupan sayang di kening putri angkatnya itu.
"Erica sama Oma atau sama Paman dulu ya. Papa dan Papa yang lainnya mau bekerja dulu sebentar," ucap Darren lembut.
"Baiklah, Papa!"
"Anak pintar."
Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabatnya pun mulai melakukan uji coba kesepuluh mobil merek BMW itu dengan menggunakan sistem komputer.
Sementara anggota keluarganya menyaksikan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya yang tengah bekerja.
Kenapa semua anggota keluarga Smith tidak pergi ke kantor dan ke sekolah? Itu dikarenakan hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana semua anggota keluarga memutuskan untuk berkumpul bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama.
Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya menatap takjub dengan senyuman mengembang di bibirnya ketika melihat kesepuluh mobil-mobil itu melaju dengan kencang di Arena serkuit hanya dengan menggunakan sistem komputer.
Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya makin tersenyum bahagia ketika melihat jari-jari Darren yang menari-nari di atas keyboard dengan begitu lihainya.
Seketika Erland menangis. Dirinya benar-benar bangga akan kejeniusan yang dimiliki putra bungsunya dari istri pertamanya.
Tangannya kemudian terangkat dan menyentuh kepala putranya itu. Dan perlahan mengusap-ngusapnya.
Darren yang sedari fokus dengan kegiatannya seketika berhenti karena merasakan sentuhan di kepalanya.
Darren melihat kearah belakang. Dan dapat dilihat olehnya ayahnya tersenyum menatapnya.
__ADS_1
Erland yang melihat wajah putranya langsung mencium keningnya.
Mendapatkan ciuman di keningnya. Darren merasakan kehangatan di hatinya.
"Papa bangga sama kamu, sayang!"
"Terima kasih, Papa!"
"Bos, ada sedikit masalah di mobil urutan ketujuh!" seru salah satu anggota tim dari Axel.
Mendengar seruan dari salah satu anggota dari tim Axel. Darren pun langsung melihat ke layar komputernya. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap ke layar komputer.
Terlihat di layar komputer ada tanda silang merah yang muncul berulang kali.
Melihat hal itu, Darren menghentikan laju mobil yang berada di urutan ketujuh itu.
Setelah mobil itu berhenti, empat karyawan yang memang bertugas bagian mesin langsung berlari menuju mobil tersebut.
Namun tiba-tiba Darren berteriak sehingga membuat ketujuh sahabatnya, anggota keluarganya dan para anggota timnya terkejut.
"Berhenti disitu!"
Seketika keempat anggota timnya itu langsung berhenti dan melangkah mundur.
Dan detik kemudian....
Duuaarrr!
Mobil yang ada masalah tersebut seketika meledak dan terbakat dengan kobaran api yang cukup besar.
Melihat apa yang terjadi membuat mereka semua terkejut dan juga syok terutama Darren, Dylan, Axel dan Jerry. Keempatnya menatap tak percaya mobil yang telah mereka buat satu bulan lalu. Bahkan mobil itu adalah mobil yang sudah mereka idam-idamkan dalam pembuatannya.
Darren seketika memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dirinya tidak menyangka jika ada kesalahan dalam pembuatan mobilnya kali ini. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini.
"Kenapa jadi seperti ini? Apa yang salah?" tanya Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland dan yang lainnya menatap khawatir Darren.
Erland yang masih berdiri di belakang tubuh putranya. Tangannya kembali mengusap kepalanya. Dirinya tahu bahwa saat ini putranya sangat hancur melihat salah satu mobil buatannya hangus terbakar dalam ledakan.
Darren kemudian kembali menatap layar komputernya. Matanya menatap kesembilan mobil yang tersisa yang masih dalam kondisi baik-baik saja dan melaju dengan kecepatan penuh di arena serkuit.
Darren menatap jam yang ada di tangan kirinya. Tersisa sepuluh menit lagi uji coba itu berakhir.
Sepuluh menit telah berlalu. Uji coba mobil-mobil itu pun selesai dilakukan. Dari sepuluh mobil hanya satu mengalami masalah.
Ketika kesembilan mobil BMW itu sudah tersusun rapi di hadapan mereka semua. Para tim anggota masing-masing mengecek mesin dari kesembilan mobil BMW itu.
Darren berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kesembilan mobil BMW miliknya itu dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya dan anggota keluarganya.
Beberapa detik kemudian...
"Bos."
"Bagaimana?"
"Kesembilan mobil itu tidak ada masalah apapun, Bos! Semuanya baik," ucap anggota timnya Darren.
Darren maupun ketujuh sahabatnya menatap satu persatu kesembilan mobil BMW itu dengan tatapan sedih. Yang paling sedih disini adalah Darren, Axel, Dylan dan Jerry. Keempatnya sangat terpukul akan hasil akhir yang mereka dapatkan.
"Seharusnya ada sepuluh. Tapi sekarang tersisa sembilan," lirih Darren.
"Aku mengalami kerugian sebesar 250 juta," gumam Darren.
Mendengar gumaman dari Darren membuat mereka semua menatap Darren sedih.
Puk!
Qenan dan Willy menepuk pelan bahu Darren. Keduanya tahu bahwa sahabatnya itu terlihat syok atas apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Detik kemudian, Darren merasakan sesak bagian dada kirinya. Dan tanpa Darren sadari, tangannya meremat kuat dada kirinya itu.
Melihat Darren yang tiba-tiba meremat dada kirinya membuat ketujuh sahabat dan anggota keluarganya menatap khawatir akan dirinya.
__ADS_1
"Darren."
"Sayang."